Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 74 Gadis Pemilik Jepit Kupu-Kupu


__ADS_3

Perlahan Daniel membuka pintu kamar Zidane. Ia melihat Zidane menangis sambil memeluk kakinya di sudut kamar. Daniel mendekat lalu ikut duduk di lantai, di samping Zidane.


''Hei, kenapa menangis? Kamu marah sama Papi kamu?''


Zidane hanya mengangguk mendengar pertanyaan Daniel.


''Papi kamu kan memang sibuk, dia sedang bekerja.''


''Tapi dia tidak sayang padaku, Om.''


''Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, Zidane. Kamu tahu Papanya Om kan? Dia juga galak dengan Om. Sukanya marah-marah dan memukul kalau Om bandel. Bahkan kami saja tidak tinggal satu rumah tapi sebenarnya kami saling menyayangi.''


''Tapi kan beda cerita, Om. Papi meninggalkan aku karena Tante itu.''


''Oke baiklah, Om mengerti. Tapi Om juga pernah merasa kehilangan. Kita sama-sama pernah kehilangan. Bedanya, kamu masih bisa bertemu dengan Papi kamu. Saat kamu rindu, kamu masih bisa memeluk dan menyapanya. Tapi Om tidak bisa melakukan itu saat sedang rindu. Om kehilangan seorang Ibu, tepat di mata Om sendiri. Rasanya sangat sakit, bahkan sampai detik ini luka itu masih belum kering. Zidane, mungkin kamu terluka dengan sikap Papi kamu tapi disisi lain, kamu masih memiliki seorang Mami yang sangat baik dan sayang sekali denganmu. Lalu, ada opa dan oma juga yang begitu menyayangi kamu. Kenapa kamu tidak fokus dengan mereka yang peduli dan sayang kamu, daripada berlarut dalam kesedihan seperti itu. Om tahu kamu marah, kamu bahkan berhak marah tapi ingat ada banyak orang yang peduli dan sayang sama kamu.''


Zidane kemudian memeluk Daniel. ''Om, jangan sedih ya. Ternyata Om lebih terluka jika dibandingkan aku karena Mama Om, pergi meninggalkan Om untuk selamanya. Aku memang marah sekali pada Papi. Marahku karena aku sayang sama Mami. Aku sering sekali melihat Mami diam-diam menangis di malam hari. Tapi akhir-akhir ini aku sudah jarang melihatnya menangis. Maafkan aku ya Om, kalau sikapku tadi tidak sopan.''


''Tidak apa-apa. Kamu berhak marah bahkan menangis tapi jangan sampai kamu lepas kendali. Mami pasti sedih melihatmu memecahkan piring tadi.''


''Iya Om, nanti aku akan minta maaf pada Mami.'' Daniel dan Zidane pun saling memeluk. Zidane merasa nyaman sekali, seperti sedang di peluk Papinya.


''Sudahlah jangan menangis. Tunjukkan pada semuanya bahwa kamu kuat. Terutama di depan Mami kamu. Kalau kamu mau, Om mau menemani kamu outbond.''


Mata sembab Zidane seketika berubah berbinar saat mendengar ucapan Daniel.


''Om serius? Om yakin mau menemani aku?''


''Iya. Hari Sabtu kantor juga libur. Terus hari minggunya, kamu mau tidak kalau kita pergi memancing?''


''Memancing?''


''Iya. Kamu sudah pernah pergi memancing?''


''Belum pernah, Om. Tapi aku mau.'' Jawab Zidane dengan penuh semangat.


''Baiklah, besok minggu kita pergi memancing.'' Mereka berdua lalu saling melepaskan pelukan. Daniel lalu menyeka air mata Zidane. Dari balik celah pintu, rupanya Aruna melihat dialog antara Daniel dan Zidane.


''Tuan Daniel, bisa lembut juga. Mengingat pertemuan pertama mereka adalah pertemuan yang menyebalkan. Tapi ku juga tidak menyangka kalau Tuan Daniel menyimpan luka sepahit itu. Melihat Mamanya kecelakaan didepan matanya sendiri. Aku jadi merasa bersalah dengan ucapanku tadi.'' Gumam Aruna dalam hati. Melihat Zidane yang sudah tenang dan tersenyum di tangan Daniel, Aruna lalu kembali ke bawah.


''Baiklah, ayo kita sekarang ke sekolah. Om akan mengantarmu.'' Ucap Daniel dengan penuh semangat.


''Iya Om.'' Mereka berdua lalu berdiri dan keluar namun tiba-tiba langkah Daniel terhenti saat melihat sebuah foto di rak sudut kamar. Foto gadis kecil yang mengenakan jepit kupu-kupu.

__ADS_1


''Zidane, ini foto siapa?'' tanya Daniel.


''Itu foto masa kecil, Mami. Sepertinya itu saat Mami masih 12 tahun.''


''Kenapa ada di kamar kamu?''


''Tadinya di rak itu ada foto masa kecil Papi tapi aku membuangnya. Jadi sekarang hanya ada foto masa kecilku dan Mami saja.''


''Jadi Aruna adalah gadis itu? Gadis dengan jepit kupu-kupu itu Aruna? Aku ingat sekali dengan wajah dan senyumnya. Aruna, sungguh itu kamu?'' gumam Daniel dalam hati yang tertegun menatap foto masa kecil Aruna.


''Om Daniel! Ayo berangkat!'' panggil Zidane.


Daniel tercekat. ''Eh i-iya. Ayo kita berangkat!" Daniel kemudian menyempatkan memotret foto masa kecil Aruna sebelum meninggalkan kamar Zidane.


Begitu sampai di ruang makan, Zidane menghambur kepelukan Maminya.


''Iam sorry, Mom.''


''Tidak apa-apa. Mami tidak marah.''


''Opa-Oma, maafkan Zidane.''


''Tidak sayang, kamu tidak salah.'' Oma dan Opa bergantian memeluk Zidane.


''Sama-sama Tuan Daniel. Sering-sering ya mampir.'' Kata Nyonya Galuh.


''Opa-Oma, Zidane ke sekolah dulu ya.''


''Tidak jadi mogok sekolah?'' goda Tuan Wira dengan tawanya.


''Tidak Opa! Zidane tadi hanya marah saja.''


''Baiklah anak pintar, baik-baik ya disekolah.'' Pesan Opa dan Oma.


''Pasti! " jawab Zidane yang kini bisa tersenyum lebar.


''Pah-Mah, Aruna pergi dulu ya.''


''Iya sayang, kamu hati-hati ya.'' Kata Nyonya Galuh.


''Om-Tante, aku permisi.''


''Iya Tuan Daniel. Hati-hati ya menyetirnya.''

__ADS_1


''Iya, pasti.''


Di dalam mobil...


''Mami, aku sudah menemukan pengganti Papi untuk outbond sabtu nanti.''


''Si-siapa memangnya?''


''Itu Om Daniel.''


''Hah? Apa? Lalu nanti bagaimana dengan guru-guru dan para orang tua murid kalau melihat Tuan Daniel? Mami harus bicara apa?'' kesal Aruna.


''Tenang Aruna, aku akan mengaku sebagai saudara sepupumu. Aku tahu apa yang kamu pikirkan.''


''Tapi...., ''


''Mami, please! Jangan menolak. Demi aku, Mami.'' Mohon Zidane sambil mengatupkan tangannya.


Aruna menghela. ''Baiklah.''


Sesampainya di sekolah, Zidane memberikan kecupan untuk Daniel sebelum Zidane turun dari mobil.


''Om, terima kasih ya sudah mengantarku. Aku ingin mengundang Om makan malam di rumah.''


''Wah, dengan senang hati Om akan datang.''


''Zidane, kamu jangan berlebihan. Mama saja nanti pasti lembur.''


''Khusus hari ini tidak akan lembur, Aruna. Dan aku ingin malam ini kamu yang memasak.''


''Aku? Tidak mau. Aku nanti pulang kerja mau langsung tidur.''


''Kamu tenang saja, Aruna. Aku akan membayarnya. Aku juga akan mengisi penuh kulkas dirumahmu dengan bahan makanan. Kamu tidak perlu berhemat. Jadi kalau suatu saat aku ingin makan di rumahmu, kamu tidak boleh jutek lagi.''


''Baiklah, kalau ada uang dan bahan makanannya, aku bersedia.''


''Huft, memang dasar emak-emak ya.''


''Itu realistis. Anda kan bosnya, masa iya mau minta makan gratis sama karyawan. Yang ada tekor dong aku, sedangkan Tuan makin kaya karena tidak mengeluarkan uang sedikitpun.''


''Iya, aku mengerti Nyonya galak!" ketus Daniel.


''Mami sama Om Daniel kok malah bertengkar? Jangan buat Zidane sedih dengan pertengkaran kalian. Zidane turun dulu ya.''

__ADS_1


''Ayo sayang, Mami antar masuk.'' Aruna dan Zidane lalu turun dari mobil. Setelah mengantar Zidane pada gurunya, Aruna segera kembali naik mobil. Tanpa banyak bicara, Daniel melajukan kembali mobilnya menuju kantor.


__ADS_2