Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 28 R.I.P Baby Zio


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Daniel hanya bisa diam di dalam mobil. Semua kejadian yang ia alami hari ini membuatnya syok, teringat luka lama yang sudah terkubur dalam. Fero sesekali melihat kearah sahabatnya itu, tampak Daniel memejamkan matanya namun ia tidak sedang tidur. Melihat kemeja Daniel bersimbah darah, membuat Fero kagum dengan apa yang di lakukan oleh Daniel.


''Niel, hari ini gue kagum sama elo. Elo bener-bener super hero. Hari ini gue bisa lihat Daniel yang lebih dewasa.''


''Siapapun kalau berada di posisi gue, pasti nolongin lah, apalagi kita kenal orang itu. Gue ngrasa dejavu, Fer. Kecelakaan yang menimpa Nyonya Aruna, ngingetin gue sama kejadian 12 tahun lalu. Ya meskipun tuh Nyonya galak nyebelin, anaknya juga ngeselin tapi ngelihat itu semua bikin gue ingat dulu. Gue sama sekali nggak bisa nyelamatin Mama. Dan apa yang gue lakuin sekarang, hanya membantu seorang anak kecil supaya tidak kehilangan Ibunya. Jujur gue syok dan lemes banget, kejadian ini justru bikin gue mengorek luka lama.''


''Iya gue ngerti perasaan elo. Tapi apapun itu gue bangga banget sama elo, Niel. Tapi anehnya kenapa elo ada di saat Nyonya Aruna sedang dalam kondisi genting? Apa elo sebelumnya kenal dia? Kayaknya usianya juga nggak beda jauh sama kita juga.''


''Kenal darimana? Kenal di supermarket waktu itu kali. Ah, sudahlah gue capek.''


''Kasihan juga Nyonya Aruna. Benar-benar pria tidak berperasaan, istri hamil tapi malah bersama wanita lain. Pasti masalah tadi yang membuat Nyonya Aruna sampai kecelekaan. Eh tapi kenapa juga gue pikirin itu.'' Gumamnya dalam hati.


Sementara di rumah sakit, Arya dengan segudang rasa khawatir dan cemas, menunggu Dokter keluar dari ruang operasi. Arya berharap kalau anaknya juga masih bisa diselamatkan.


''Papi, Zidane harap setelah Mami sembuh, Papi akan selalu bersama Mami. Dan Papi tidak akan berpisah dengan Mami.'' Gumam Zidane dalam hati.


Dokter akhirnya keluar dari ruang operasi. Arua segera beranjak dari duduknya.


''Dokter bagaimana keadaan istri dan anak saya?''


''Operasinya berjalan lancar Tuan tapi kaki kanan Nyonya Aruna mengalami keretakan. Di tambah gegar otak yang cukup serius jadi belum memungkinkan Nyonya Aruna untuk sadar dalam waktu dekat. Dan kami juga tidak bisa menyelamatkan bayi anda yang berjenis kelamin laki-laki. Kami tadi sudah berusaha menyelamatkan putra anda. Tapi benturan dan guncangan yang dahsyat, membuat putra anda tidak bisa terselamatkan. Dia hanya bisa bisa bertahan dalam hitungan detik saja, maafkan kami Tuan. Untuk selanjutnya kami akan terus memantau keadaan Nyonya Aruna.'' Jelas Dokter. Tubuh Arya terasa lemas mendengar semua penjelasan Dokter.


''Lalu kapan istri saya bisa sadar Dokter?'' tanya Arya.


''Kami belum bisa memastikan. Bisa cepat atau lambat. Biasa hitungan hari, minggu, bulan bahkan tahun. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin. Jenazah putra anda juga sudah disucikan dan Nyonya akan segera di pindahkan di ruang rawat inap yang lebih intensif. Sabar ya Tuan, kami pasti akan berusaha dan yang paling penting adalah doa dari kalian semua.''


''Iya Dokter, terima kasih.'' Ucap Arya. Dokter kemudian pergi.

__ADS_1


''Cucuku, menantuku, Ya Allah kenapa semua ini terjadi?'' tangis Nyonya Galuh dalam pelukan suaminya.


''Mah, kita harus kuat untuk Aruna ya. Yang Papa takutkan saat Aruna sadar, dia akan mencari anaknya. Kita harus menguatkannya.'' Ucap Tuan Wira yang juga berusaha tegar. Nyonya Ratih dan Tuan Jodi pun tak kalah sedih.


''Bi Tuti, Mbak Lasmi, kalian ajak Zidane pulang ya. Dia saja masih belum ganti baju. Juga bawakan beberapa baju ganti untuk Nyonya.'' Kata Arya pada Bi Tuti dan Mbak Lasmi.


''Iya Tuan.'' Jawab Bi Tuti.


''Papi, tapi Zidane ingin menemani Mami.'' Rengek Zidane.


''Iya tapi Zidane pulang dulu ya. Zidane harus ganti baju dulu. Zidane juga harus makan dulu. Kalau Mami tahu, nanti Mami bisa marah.''


''Baiklah kalau begitu.'' Jawab Zidane pasrah.


''Dinda-Gita, tolong antar mereka pulang ya.'' Pinta Arya pada kedua sahabat Aruna.


''Iya Mas Arya.'' Jawab Gita. Dinda dan Gita berusaha menahan semua amarahnya saat melihat Arya. Mereka kemudian mengantar Zidane, Bi Tuti dan Mbak Lasmi untuk pulang. Dinda dan Gita hanya bisa saling diam. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana setelah Aruna sadar dan mencari anaknya.


Arya kemudian menuju ruang administrasi untuk membayar semua biaya rumah sakit.


''Pasien atas nama Nyonya Aruna, semua pembayaran sudah lunas.''


''Sudah lunas, suster? Si-siapa yang melunasi?'' Arya sangat terkejut mendengar itu.


''Orangnya tidak mau di sebut namanya, Tuan. Tapi ini sudah lunas.''


''Kalau boleh tahu, perempuan atau laki-laki?'' Arya semakin penasaran.

__ADS_1


''Seorang laki-laki Tuan.''


''Kalau boleh tahu lagi, apa seorang bapak-bapak? Mungkin mertua saya?''


''Tidak Tuan. Laki-laki itu masih muda.''


''Kalau begitu saya ingin meminta rincian pembayaran dan tanda tangannya. Karena saya suaminya jadi saya akan berterima kasih pada orang itu.''


''Baik Tuan. Tolong tunggu sebentar.'' Ucap pegawai administrasi tersebut. Tak sampai lima menit, apa yang di minta Arta sudah ada di tangannya.


''Terima kasih, Mbak.''


''Sama-sama Tuan.''


Kini pertanyaan baru tumbuh di kepala Arya.


''Siapa laki-laki itu? Kenapa dia melunasi semua biaya Aruna? Seolah dia tahu, akan habis berapa biaya disini. Atau mungkin dia yang sudah menabrak Aruna? Atau bagaimana?'' gumam Arya penuh tanda tanya.


-


Semua orang kini sudah berada di pemakaman. Suasana haru dan sendu mengiringi kepergian Zio, putra kedua Arya dan Aruna. Hancur dan terpukul, itulah yang di rasakan oleh Arya. Begitu juga dengan orang tua Arya dan Aruna.


''Seharusnya kamu bisa bertahan, Nak. Kasihan Mami, Mami pasti kehilangan kamu. Maafkan Papi yang tidak bisa menjaga kamu. Maafkan Papi.'' Batin Arya dengan isak tangisnya.


''Semoga setelah ini Mas Arya benar-benar taubat dan meninggalkan wanita itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Aruna nanti. Dia pasti yang lebih hancur.'' Gumam Dinda dalam hati.


''Zio, tenang disana ya sayang. Semoga Mami kamu diberi kekuatan untuk mengikhlaskan kamu. Dan semoga dengan semua musibah ini, Papi kamu kembali ke jalan yang benar.'' Batin Gita dalam kesedihannya.

__ADS_1


''Adik Zio, seharusnya kamu bisa bertahan supaya kita bisa sama-sama menjaga Mami. Mami pasti sedih karena kamu pergi. Tapi aku disini pasti akan menjaga Mami kita.'' Kata Zidane dalam hati sambil terisak dalam dekapan Papinya.


Bersambung.... Yukkk like, komen dan vote yang banyak yaa, makasih 🙏❤️


__ADS_2