Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 - Bab 21


__ADS_3

Pagi hari yang cerah namun tak secerah suasana hati Aruna saat ini. Pesan yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal semalam di ponselnya itu sukses membuatnya resah.


Pagi ini, seperti biasa, Papa Danu sudah terlihat rapi. Entah kemana tujuannya kali ini, hingga membuat Bram semakin penasaran. Sebelum Papa Danu melangkah keluar rumah, Bram sudah lebih dulu mencegahnya.


"Papa ..." panggil Bram seraya menghampiri Papa Danu yang sudah berada di ambang pintu.


"Ada apa Bram?"


"Sudah rapi begini, Papa mau kemana?"


"Papa mau ke kantor. Papa hanya ingin melihat - lihat keadaan kantor saja. Sudah lama Papa tidak kesana."


"Kita berangkat sama - sama saja. Tinggal menunggu Aruna lagi ganti baju."


"Papa duluan saja sama Bambang. Papa juga perginya cuma sebentar kok. Ya sudah, Papa duluan ya?" kemudian segera keluar dan langsung masuk ke mobilnya yang sudah siap menunggu.


Bram pun hanya bisa memandangi kepergian Papa Danu.


Memang hari ini Papa Danu berniat pergi ke TRF. Bukan untuk sekedar melihat - lihat, namun untuk memastikan keadaan Rama. Papa Danu begitu cemas, saat Rama tiba - tiba sering bertanya tentang Dicko yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Bukan tidak mungkin, ingatan Rama akan kembali suatu hari nanti. Untuk itu, dia ingin memastikan sendiri, jika Rama belum mengingat apapun.


Jika ingatan Rama sudah kembali, mungkin keadaan takkan lagi sama seperti dulu. Tanpa sadar, apa yang sudah dilakukannya ini, justru akan menyakiti banyak orang. Terlebih Bram, Aruna, dan Rama sendiri.


_____


Entah kehebohan apa yang terjadi pagi ini, hingga di depan gedung TRF ada begitu banyak wartawan.


Begitu Bram tiba dan turun dari mobilnya, para wartawan itu datang menghambur ke arahnya. Ada begitu banyak pertanyaan yang mereka lontarkan hingga membuat Bram bingung dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Apa anda yang bernama Bram?"


"Katanya anda adalah kekasihnya Mona. Apa benar?"


"Apa anda tau kalau Mona adalah artis muda yang sering terlibat skandal?"


Bram tidak menghiraukan pertanyaan - pertanyaan itu. Dengan tetap bersikap tenang, dia meraih tangan Aruna dan menuntunnya berjalan bersama memasuki gedung itu.


Dan para wartawan itu pun tidak menyerah. Mereka mengekor di belakang Bram. Dan terus melontarkan pertanyaan - pertanyaan yang Bram enggan untuk menjawabnya.


"Apa wanita ini adalah istri anda?"


"Jadi Mona itu adalah selingkuhan anda. Apa istri anda tau soal perselingkuhan anda ini?"


Pertanyaan terakhir itu mengusik kesabaran Bram.


"Cukup! Silahkan kalian pergi dari sini. Dan aku tekankan sekali lagi, di antara aku dan Mona tidak ada hubungan apapun. Pergi kalian."


Kemudian Bram kembali melangkah masuk. Dengan menggandeng tangan Aruna. Namun ada seorang wartawan yang kembali melontarkan sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang membuat kuping Bram panas seketika.


"Katanya istri anda ini dulunya hanya seorang Cleaning Service. Apa benar begitu? Banyak netizen yang menyayangkan. Padahal ada begitu banyak wanita cantik yang lebih cocok bersanding dengan anda."


Bram hendak menghampiri wartawan itu dengan amarahnya yang berapi - api. Namun seseorang telah lebih dulu menghampiri wartawan itu dan mencengkeram kerahnya dengan kuat. Hingga membuat wartawan itu menengadah dengan kaki menjinjit. Dan mulai ketakutan.


Rama.


Sejak tadi dia sudah memperhatikan Bram dan Aruna yang di kerumuni wartawan itu. Yang dikhawatirkannya adalah Aruna. Sebab wanita itu belum terbiasa dengan situasi seperti ini.

__ADS_1


"Sayang sekali jika wajah mulusmu ini harus babak belur. Aku peringatkan ... wanita itu ..." sambil melirik Aruna, "jangan pernah merendahkannya. Jika aku mendengar hal buruk tentangnya, aku pastikan, kamu tidak akan ada di dunia ini lagi." Ancam Rama setengah berbisik namun penuh penekanan.


Si wartawan hanya bisa menelan salivanya susah payah. Wajahnya pun mulai memucat.


"Ma_maaf. Maafkan saya."


"Pergi dari sini. Ajak semua teman - teman kamu. Jika kamu masih sayang dengan nyawamu. Cepat pergi."


"Baik ... Baik."


Rama pun melepaskan tangannya dari kerah wartawan itu. Dan wartawan itu pun langsung bergegas pergi dari tempat itu di ikuti rekan - rekannya yang lain.


Melihat Bram dan Aruna memandanginya keheranan, Rama pun perlahan menghampirinya. Dengan tatapan terfokus pada Aruna. Tatapan yang sering diberikannya pada Aruna dulu. Dan Aruna tau seperti apa cara Rama menatapnya. Tatapan yang lembut namun menggetarkan hati.


Dan Aruna tertegun saat menatap sorot mata Rama. Cara Rama menatapnya sungguh mengingatkannya pada seseorang.


Dicko.


Sangat mirip dengan cara Dicko menatapnya dulu. Tatapan yang penuh cinta. Tatapan itu seketika membuat hatinya berdebar. Tanpa sadar matanya terus menatap Rama dan melupakan Bram. Serta melupakan perkataan wartawan tadi yang membuat harga dirinya tersakiti.


Sementara Bram, yang berdiri di sampingnya, mulai menampakkan kilatan amarahnya. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat. Matanya menatap tajam Rama yang saling menatap dengan Aruna.


"Ini aku, Aruna. Aku bahagia akhirnya kamu bisa melihat lagi." Batin Rama sambil terus menatap Aruna.


Jika tidak ada Bram, mungkin air matanya sudah jatuh berderai saat ini. Ingin sekali Rama memeluknya erat. Menumpahkan kerinduannya yang teramat dalam. Namun sebisa mungkin Rama mengendalikan hatinya yang terasa pilu. Wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang membuatnya mampu bertahan hidup hingga detik ini. Telah menjadi milik orang lain.


Entah kenapa rasanya Aruna ingin menangis saat ini. Tiba - tiba saja, hatinya terasa sakit saat menatap Rama. Hatinya merasa seolah yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Dicko. Aruna sungguh merindukannya.


Akhirnya, sebab merasa tidak tahan lagi, dengan cepat tangan Bram menarik lengan Aruna. Lalu menyeretnya meninggalkan tempat itu, menjauhi Rama. Kasar. Bram sangat marah.


Bram terbakar cemburu melihat istrinya saling memandang dengan pria lain. Namun dia berusaha menahan gejolak amarahnya.


"Maksud kamu apa?" alih - alih menjawab, Aruna malah balik bertanya.


"Aruna, dari cara kamu menatap Rama, sangat jelas kamu menaruh harapan padanya. Apa kamu berharap kalau dia itu benar - benar Kak Dicko? Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi?"


"Kamu salah Bram. Aku tidak berharap seperti itu."


"Aku tidak suka cara kamu menatapnya. Aku benar - benar tidak suka." Kemudian lebih mendekat pada Aruna yang berdiri dengan wajah tertunduk.


"Apapun gosip yang terjadi di luar sana, jangan terlalu dipikirkan." Bram mengalihkan pembicaraan.


"Mereka memang benar. Di luar sana, ada banyak wanita cantik yang lebih pantas bersanding dengan kamu. Dibanding aku, mantan Cleaning Service."


Akh. Mantan Cleaning Service. Seketika Aruna merasa tertampar. Membuat ingatannya sesaat kembali ke masa lalu. Dan anehnya, justru kenangan Dicko yang memutar kembali dalam memorinya. Saat pertama kali bertemu Dicko. Satu per satu kenangan bersamanya tergambar jelas dalam memorinya.


Astaga. Apa yang terjadi dengan hatimu Aruna. Hadirnya Rama benar - benar mengacaukan hati dan pikirannya. Jika Aruna masih mengharapkan Dicko, lalu bagaimana dengan Bram? Bukankah Aruna sudah sangat keterlaluan?


Perlahan Bram menyentuh dagu Aruna dan mengangkat wajahnya. Mata Aruna mulai berkaca - kaca. Terasa bagai ada yang menusuk hatinya. Entah kenangannya Dicko ataukah perkataan wartawan itu.


"Sejak dulu, aku tidak pernah mempermasalahkan siapa dirimu. Aku mencintaimu tulus."


"Aku tau."


"Aku tidak suka melihatmu memandang pria lain seperti itu. Siapapun dia, aku tidak suka." Bram kembali teringat saat Aruna menatap Rama.

__ADS_1


"Maaf Bram, aku mau ke ruanganku dulu. Kepalaku terasa agak pening."


"Sebaiknya kamu pulang dan istirahat saja di rumah."


"Baiklah. Mungkin memang sebaiknya aku pulang."


"Aku antar kamu pulang."


"Tidak usah. Aku pesan taksi saja."


"Ya sudah. Hati - hati ya?"


Aruna menganggukkan kepalanya. Kemudian keluar dari ruangan Bram setelah mendapat kecupan hangat di keningnya.


___


Aruna sedikit membangkang perintah Bram, yang memintanya untuk pulang ke rumah. Yang ada, dia justru pergi ke makam Dicko. Entah kenapa, hari ini dia begitu merindukannya lebih dari hari - hari sebelumnya.


Dengan berjongkok, Aruna mulai menaburkan kelopak bunga yang sempat di belinya dari toko bunga tidak jauh dari pekuburan itu. Tanpa sadar, air matanya mulai jatuh bercucuran. Entah kenapa, rasa rindunya hari ini terasa begitu menyesakkan dada.


Andai Dicko masih ada.


Andai Dicko masih ada.


Namun kenyataannya, Aruna hanya bisa berandai - andai. Orang itu takkan pernah kembali lagi.


Setelah merasa cukup menumpahkan kerinduannya, Aruna pun lalu bangkit. Kakinya mulai melangkah meninggalkan makam itu. Saat tiba - tiba terdengar suara yang familiar, dan membuat langkahnya terhenti.


"Kamu sangat merindukannya?"


Sontak Aruna pun langsung berbalik. Menghadap si pemilik suara yang familiar itu.


Rama.


Pria itu tersenyum lembut menatapnya.


Buru - buru Aruna menghapus sisa air mata yang masih membasahi wajahnya.


"Betapapun aku merindukannya, dia tidak akan pernah kembali lagi. Dia sudah pergi meninggalkan aku. Bahkan tanpa mengatakan apapun. Dia pergi begitu saja."


"Bagaimana jika dia benar - benar telah kembali."


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Thankyou so much udah setia nunggu updateannya.


Saranghae ❤️


Otor Kawe

__ADS_1


__ADS_2