Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 53 My Hero


__ADS_3

''Kamu ngapain sih tadi peluk-peluk dia? Kamu sama sekali tidak menjaga perasaanku.'' Shella cemburu dan kesal dengan sikap Arya tadi.


''Shella, kamu tahu kan kalau aku masih sangat mencintai Aruna. Bahkan aku sebenarnya tidak mau bercerai dengannya. Aku juga belum menjatuhkan talak padanya. Tapi dia yang bersikeras ingin bercerai.''


''Kamu jangan egois dong, Mas. Kamu tidak memikirkan perasaan aku apa. Aku sudah menjual mobil untuk kita membeli rumah, tabungan aku bahkan beberapa perhiasan ku. Sedangkan Aruna tidak perlu mengorbankan apapun untuk mendapatkan sesuatu. Karena kamu sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk dia. Kita butuh uang banyak tapi kamu malah membayar hutang 50 jutanya. Ditambah tadi kamu belanja banyak sekali untuk Zidane dan Aruna.''


''Shella, mereka masih tanggung jawabku. Tentu saja aku berusaha memenuhinya. Aruna bahkan sudah mengalah untuk kebahagiaan kita. Membiarkan aku memilihmu tanpa pernah dia menganggumu ataupun aku. Kamu seharusnya mengerti dan bisa bersikap seperti Aruna.''


''Mas! Kamu mulai membandingkan aku dengan Aruna? Kamu sendiri yang mengetuk pintu hatiku, sekarang kamu malah membandingkan aku dengan Aruna. Sebaiknya kita juga bercerai, Mas. Daripada aku hidup bersama kamu.'' Shella sangat marah dan tersinggung dengan ucapa Arya. Arya sendiri juga terpancing amarah dengan sikap Shella yang sama sekali tidak pengertian.


Arya kemudian menghela nafasnya. Ia lalu menggenggam tangan Shella.


''Maaf sayang, aku tidak bermaksud seperti itu. Kamu seharusnya mengerti keadaanku, kalau aku dan Aruna belum resmi bercerai. Jadi sebelum kita resmi bercerai, dia tetap menjadi tanggung jawab aku. Dan lagi, dia istri pertamaku.''


''Lalu apa yang kamu lakukan saat sidang besok? Apa kamu akan meminta mediasi dan melanjutkan kembali hubunganmu dengan Aruna?''


''Sejujurnya aku ingin memiliki kamu dan juga Aruna. Aku janji akan bersikap adil dan menjaga kalian dengan sepenuh hati. Tapi Aruna bersikeras ingin bercerai.''


''Tapi kamu tidak bisa egois, Mas. Kamu harus bisa memilih.''


''Kenapa sekarang kamu memberiku pilihan? Padahal sebelumnya kamu sudah siap menjadi istri keduaku.''


''Mas, aku juga ingin merasakan kasih sayang kamu seutuhnya. Aku ingin bersama kamu selamanya. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Kalau kamu pergi meninggalkan aku, aku lebih baik mati bersama anak kita ini. Aku hidup pun sudah tidak ada gunanya, Mas. Jadi lebih baik aku mati. Aku iri dengan Aruna karena dia memiliki orang tua yang lengkap, keluarga yang menyayanginya. Sementara aku, hanya sebatang kara di dunia ini. Aku cuma punya kamu, Mas.''


Arya merasa iba dengan Shella. Memang benar saat ini yang Shella punya hanya dirinya. Arya juga tidak bisa kehilangan Shella untuk kedua kalinya. Arya lalu memberikan pelukan untuk Shella.


''Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Tapi aku juga merasa bersalah pada Aruna.''


''Mas, aku juga merasa bersalah karena diam-diam kita menjalin hubungan ini. Kalau saja dari awal kita jujur, mungkin Aruna tidak marah dan meminta cerai. Kamu juga jangan salahkan diri kamu terus. Aruna sendiri yang minta pisah. Poligami sebenarnya juga di perbolehkan tapi Aruna memilih mundur. Sedangkan aku sama sekali tidak masalah menjadi istri keduamu, asalkan aku tidak sendirian Mas. Aku rela menjadi yang kedua asal ada kamu yang selalu menjaga aku. Aku cuma butuh satu teman hidup yaitu kamu, Mas. Aku rela menjatuhkan harga diriku demi bersama mu.'' Shella pun menangis dalam pelukan Arya.

__ADS_1


''Iya, maafkan aku ya. Aku mencintaimu Shella. Kamu jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi ya.''


''Aku akan tetap bertahan asalkan kamu terus memperjuangkan aku.''


''Itu pasti akan aku lakukan, Shella.''


''Mas, aku ingin kamu besok tidak usah hadir supaya proses perceraianmu dengan Aruna cepat selesai. Kalau keduanya hadir, akan lebih sulit. Lagi pula besok aku masih ada pemotretan. Aku ingin bekerja sebelum perutku mulai membesar. Lumayan bisa untuk tambahan membeli rumah. Aku juga sudah tidak ada mobil.''


''Iya baiklah, besok aku akan menemani kamu. Aku akan mengabari Aruna.''


''Kasihan juga Shella, seharusnya aku bisa membahagiakannya tapi dia malah menjual asetnya untuk bisa membeli rumah impiannya. Apalagi kondisi hamil, dia masih mau bekerja. Dia masih mau berjuang seperti dulu. Bahkan kesuciannya begitu ia jaga demi aku. Aruna sudah mempunyai segalanya, keluarga yang lengkap dan beberapa aset yang aku berikan untuknya. Sepertinya aku memang harus fokus pada Shella saja. Kasihan dia, apalagi dia sedang mengandung anakku juga. Aku harus merelakan Aruna dan mulai membahagiakan Shella.'' Gumam Arya dalam hati.


...****************...


''Selamat siang Tuan Daniel!" suara Zidane membuyarkan konsentrasi Daniel.


''Maaf Tuan, Zidane ingin sekali bertemu dengan anda. Jadi aku membawanya kemari.''


''Bukannya tadi dia bersama Papinya?''


''Iya tapi dia memaksa kemari. Tidak apa-apa kan?''


''Iya tidak masalah.'' Ucap Daniel seraya beranjak dari duduknya. Daniel lalu menghampiri Zidane.


''Tuan, ada yang ingin aku berikan padamu.'' Kata Zidane sambil memberikan sebuah paperbag ditangannya.


''Tuan? Kenapa memanggilku Tuan?''


''Karena ini di kantor.''

__ADS_1


''Panggil Om saja, Zidane. Panggil sepertia biasa saja. Tapi apa ini?''


''Buka saja, Om.'' Ucap Zidane. Daniel dengan senang hati membuka hadiah dari Zidane. Daniel terkejut melihat isi hadiah itu.


''My Hero, Super D.'' Daniel membaca tulisan Zidane.


''Maksudnya apa Zidane? Kenapa kamu memberiku ini?'' Daniel masih tidak mengerti dengan gambar yang diberikan oleh Zidane.


''Om adalah my hero. Super D dan D itu adalah Daniel. Terima kasih ya Om sudah menolong Mami dengan tepat waktu. Kalau saja tidak ada Om disana, mungkin aku sudah tidak bisa melihat Mami. Meskipun awal bertemu, aku sangat benci dan kesal pada Om. Tapi hari itu aku melihat Om begitu baik padaku dan Mami. Padahal kita baru mengenal beberapa hari. Maaf Om karena hanya itu yang bisa aku berikan pada Om. Karena Om sudah kaya dan punya segalanya, jadi aku beri itu saja. Apalagi aku masih sekolah dan belum bisa menghasilkan uang jadi aku tidak bisa membeli apapun untuk Om.'' Kata Zidane dengan polosnya. Daniel tidak bisa berkata apa-apa. Ketulusan seorang anak kecil mampu menyentuh relung hati Daniel.


''Terima kasih Zidane. Om akan memajangnya di ruangan Om ini. Gambar kamu bagus sekali. Terima kasih ya.'' Daniel kemudian memberikan pelukan untuk Daniel.


''Ternyata si playboy ini punya hati lembut juga,'' gumam Aruna dalam hati.


''Baiklah Zidane, ayo sekarang kita keluar. Hadiahnya sudah sampai di tangan Tuan Daniel. Mami antar kamu pulang ya.''


''Zidane tunggu Mami saja disini.''


''Tapi Zidane, Mami sedang bekerja.''


''Tidak apa-apa Aruna. Bawa saja Zidane keruanganmu.''


''Zidane janji tidak akan nakal, Mami. Kasihan Mami kalau harus bolak-balik.''


''Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya Tuan untuk ijinnya.''


''Iya.'' Singkat Daniel. Aruna dan Zidane kemudian pergi meninggalkan ruangan Daniel.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2