
Saat jam makan siang, Daniel menemui Aruna di ruangannya.
''Aruna, ayo ikut denganku! " ajak Daniel tanpa basa-basi. Aruna jelas terkejut dengan bosnya yang tiba-tiba bicara seperti itu.
''Ikut kemana Tuan?'' tanya Aruna tergagap.
''Belanja. Sesuai dengan ucapanku tadi.''
''Belanja? Tapi aku harus menjemput Zidane.''
''Kita jemput Zidane setelah itu kita ke supermarket temani aku belanja. Karena aku tidak tahu bahan-bahan dapur.''
Aruna mengernyitkan alisnya. ''Ba-baiklah!"
Aruna kemudian beranjak dari duduknya dan mengekor Daniel dari belakang. Daniel segera masuk ke dalam mobilnya di ikuti oleh Aruna.
''Kalau boleh tahu, selama ini Tuan makan dengan membeli?'' tanya Aruna.
''Iya. Biasanya aku memanfaatkan para kekasihku untuk memasak untukku. Jadi mulai hari Senin sampai Minggu, mereka bergiliran memasak untukku. Entah itu beli atau memasak sendiri aku tidak peduli. Tapi rata-rata mereka bilang masak sendiri padahal nyatanya beli.'' Cerita Daniel dengan tawanya.
''Ya ampun, Tuan jahat sekali ya. Sudah mengencani mereka sekaligus eh di manfaatin pula. Taubat Tuan!"
''Mereka memanfaatkan ku jadi ya aku manfaatkan balik lah. Toh hanya meminta makanan saja. Memang ada yang salah?''
''Terus kenapa sekarang tidak meminta kekasihmu untuk memasak? Malah meminta padaku, '' ketus Aruna.
''Aku sudah bilang padamu, aku tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun. Sejak kamu menjadi sekretarisku dan membuatku sibuk, mereka semua pada mengoceh minta di perhatikan. Daripada aku pusing mereka semua menuntut di perhatikan, ya aku putuskan saja mereka. Sudah pusing mengurus pekerjaan, malah mereka pada mengoceh.''
''Huft, sepertinya anda bangga sekali ya memiliki banyak kekasih? Makanya satu saja Tuan, supaya tidak pusing. Anda terlalu serakah dan maruk, sampai dari hari Senin sampai Minggu full berkencan. Apa tidak capek? Tidak takut terkena penyakit kelamin apa?'' ceplos Aruna tanpa tedeng aling-aling.
"Wah-Wah, ucapanmu sangat frontal sekali ya. Kamu pikir aku main celap-celup begitu saja apa? Sekalipun mereka menyodorkannya, aku tidak pernah tergoda ya. Karena aku tahu tujuan utama mereka apa. Aku hanya bersenang-senang biasa." Kata Daniel dengan suara meninggi.
"Ya, terserah Tuan sih. Aku tidak peduli juga. Mau di celupin kek, mau tidak, mau bagaimana juga terserah. Itu urusan Tuan. Bagi aku, semua laki-laki di mataku sama. Sama-sama brengsek!" kesal Aruna.
"Tidak semua kali. Kamu bicara seperti itu karena kamu punya pengalaman buruk dengan mantan suami mu. Jadi jangan lampiaskan amarahmu pada pria lain."
"Memang begitu kenyataannya kan."
"Sepertinya sangat sulit untuk menaklukkan Aruna. Papa sih enak tinggal ngomong doang. Aruna sudah pasti trauma lah.'' Gumam Daniel dalam hati.
Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di sekolah Zidane. Tampak Zidane sudah menunggu di pos satpam.
''Zidane! " panggil Aruna. Mendengar suara Mamanya, wajah Zidane pun langsung sumringah.
__ADS_1
''Mami! " Zidane berlari menghambur ke pelukan Maminya.
''Senang sekali karena Mami yang menjemput Zidane.''
''Iya karena hari ini pekerjaan tidak terlalu banyak sayang.''
''Lho itu, bukannya mobil Om Daniel ya? Mami sama Om Daniel?'' tanya Zidane saat pandangannya tertuju pada mobil Daniel.
''Iya sayang. Karena kamu mengundangnya makan malam di rumah, jadi Om Daniel ingin mengajak ke supermarket.''
''Yeay! Asyik! " sorak Zidane sambil melompat. Aruna lalu mengajak Zidane masuk ke dalam mobil.
''Hai Om! " sapa Zidane.
''Hai Zidane! Bagaimana sekolahmu?''
''Semuanga baik-baik saja, Om.''
''Baiklah sekarang kita pergi ke supermarket ya? Karena Mami mu akan marah kalau Om cuma menumpang makan gratis.''
''Hehehe oke, Om! " jawab Zidane penuh dengan semangat.
''Iya lah marah. Tuan punya banyak uang masa iya minta makan gratisan. Kalau Tuan fakir miskin tidak apa-apa.'' Gerutu Aruna.
''Mami-Om Daniel, Zidane pusing deh melihat kalian berdebat. Kapan mobilnya jalan kalau berdebat terus?'' sahut Zidane.
''Maafkan Mami, sayang.''
''Maafkan Om juga ya Zidane.'' Daniel kemudian melajukan mobilnya.
Sesampainya di supermarket, Aruna langsung mengambil troli belanja.
''Mau beli apa Tuan?'' tanya Aruna.
''Bagaimana kalau snack kentang?'' ucap Daniel dan Zidane dengan bersamaan. Aruna terkejut melihat kekompakan Daniel dan Zidane.
''Om masih ingat kan? Saat itu kita rebutan snack kentang.''
Daniel tertawa. ''Iya, Om tentu masih ingat. Bagaimana kalau beli satu supermarket ini?''
''Tuan Daniel, jangan mengajari sesuatu yang berlebihan seperti itu. Secukupnya saja, meskipun supermarket ini bisa anda beli.'' Sahut Aruna mengingatkan.
''Iya Om, betul kata Mami. Kalau beli banyak untuk dibagi-bagikan itu lebih baik.''
__ADS_1
''Oke baiklah. Kita beli snack yang banyak lalu kita bagikan sama anak-anak jalanan tadi. Bagaimana?'' usul Daniel.
''Setuju Om! "
''Bagaimana Mami? Boleh kan?'' tanya Daniel pada Aruna.
''Aku bukan Mami-mu! " ketus Aruna seraya berlalu. Daniel terkekeh melihat reaksi Aruna barusan.
''Sini Mami, biar aku dan Zidane yang membawa trolinya. Mami silahkan pilih-pilih sayuran dulu ya.'' Goda Daniel.
''Jangan panggil aku Mami!'' kesal Aruna.
''Aku hanya menirukan Zidane saja.'' Ucap Daniel terkekeh yang senang sekali menggoda Aruna. Zidane pun ikut tertawa melihat ekspresi kesal Aruna.
''Ayo Zidane, kita membeli banyak snack dan penuhi trolinya.''
''Oke Om.''
''Oh ya Aruna, kamu bisa mengambil troli lagi ya.'' Kata Daniel seraya berlalu. Daniel dan Zidane kompak menuju rak snack. Daniel mengambil snack tanpa pikir panjang. Zidane hanya bisa menganga dan terpaku melihat Daniel mengambil sesuatu tanpa pikir panjang.
''Zidane, kenapa diam saja? Katanya kita mau bagi-bagi makanan, bantu Om, dong.'' Kata Daniel.
''I-iya Om.''
Sementara Aruna masih bingung ingin mengambil apa. Apalagi harga daging mahal, ia belum gajian juga. Semua stok di rumah menepis, mulai dari kebutuhan dapur, kebutuhan untuk mandi dan juga sehari-sehari, belum juga membayar gaji untuk Bi Tuti dan Mbak Lasmi bulan ini. Di tambah biaya air dan listrik. Aruna hanya bisa diam dan terpaku di depan kulkas daging dan deretan rak sayuran. Pikirannya melayang, setelah gajian, semua uangnya terpakai untuk kebutuhannya. Karena semenjak menikah, Aruna dan Arya sama sekali tidak mau merepotkan kedua orang tuanya. Orang tua Aruna sendiri memiliki peternakan kambing. Memang tidak terlalu besar tapi setidaknya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bisa menyekolahkan Aruna hingga perguruan tinggi. Sementara mertuanya sendiri juga memiliki peternak ikan lele dan nila.
''Mami!" seruan suara Zidane membuyarkan lamunan Aruna.
''Zidane, nanti kamu jatuh.'' Ucap Aruna yang melihat Zidane berada diatas troli yang penuh dengan snack.
''Tenang Mami! Om Daniel menjagaku.'' Kata Zidane. Daniel mengernyitkan dahinya melihat keranjang belanja Aruna masih kosong.
''Aruna, kamu belum beli apapun?''
''Eee belum Tuan. Bingung mau beli apa.'' Kata Aruna dengan gugup. Daniel kemudian mengambil troli yang besar. Tanpa pikir panjang, Daniel mengambil berbagai jenis daging yang ada di kulkas. Bukan hanya itu aja, Daniel juga membeli ikan segar dan seafood. Daniel lalu mendorong trolinya menuju rak sayuran. Daniel juga mengambil semua sayuran di hadapannya. Dengan tangannya, Daniel mengambil beberapa karung kemasan 5 kg. Aruna benar-benar terpaku melihat apa yang di lakukan oleh Daniel. Matanya hanya mengedar mengikuti kemana arah Daniel berjalan. Sampai akhirnya belanjaan mereka sampai lima troli.
''Tu-tuan, sebanyak ini? Memangnya Tuan mau setiap hari makan di rumahku?''
''Iya. Tenang saja aku akan menaikkan gajimu. Semua bahan makanan juga aku yang akan membelikannya. Bagaimana?''
Aruna masih terdiam dan terpaku. Daniel tahu kalau sebenarnya Aruna mengalami masalah keuangan. Saat itu, Daniel masuk keruangan Aruna untuk mengambil berkas di meja Aruna namun Daniel tidak sengaja melihat agenda milik Aruna yang berisi semua rincian pengeluarannya. Apalagi di dalam rincian pengeluarannya ada sebuah tulisan. Tulisan betapa berat berjuang seorang diri.
Ya Tuhan, semoga aku bisa melewati semua ini. Aku harus semangat dan kuat untuk Zidane. Kasihan juga Bi Tuti dan Mbak Lasmi kalau aku memberhentikan mereka. Sedangkan aku juga butuh mereka untuk menjaga Zidane. Tidak apalah jika gajiku nanti langsung habis untuk memenuhi semua kebutuhan. Ayo semangat Aruna!!! Jangan banyak mengeluh!!!
__ADS_1
...-Bersambung-...