
Aruna lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil semua pakaiannya. Setelah semalam Arya bilang akan membuat pengakuan, malam itu juga Aruna mengemasi semua pakaiannya dan juga Zidane dengan di bantu oleh Bi Tuti dan Mbak Lasmi. Aruna sudah menyusun rencana untuk pergi dari rumah dan memulai hidup baru bersama dengan Zidane.
Arya sangat terkejut, melihat Aruna membawa banyak koper yang dibantu oleh Bi Tuti dan Mbak Lasmi.
''Aruna, kamu mau kemana membawa koper sebanyak ini?''
''Aku akan pergi dari rumah ini, Mas.''
''Ini rumah kamu, Aruna. Kamu tidak usah pergi dari rumah ini. Biarkan aku saja yang pergi dari sini. Apa yang ada di rumah ini, semua milik kamu.''
''Iya Aruna, kamu jangan pergi dari rumah ini. Ini rumah kamu dan Zidane. Mama tidak ikhlas kalau rumah ini diambil alih oleh wanita murahan itu.'' Ketus Nyonya Ratih sambil menatap tajam kearah Shella.
''Mah, stop mengatai Shella murahan. Dia juga menantu Mama.''
''Menantu Mama hanya Aruna! Hanya ARUNA!" Nyonya Ratih semakin mempertegas ucapannya.
''Sudahlah Mas, kita pergi saja dari sini. Kita sudah berusaha jujur tapi orang tua kamu bersikap seperti itu pada kita. Toh aku juga tidak masalah menjadi istri kedua. Aku juga tidak memaksamu menceraikan Aruna kan, Mas? Aku juga tidak pernah memintamu untuk berpisah dengan Aruna kan? Aku hanya butuh kamu saja, Mas. Karena saat ini yang aku punya cuka kamu. Aku muak karena terlalu banyak drama disini. Tanpa kamu, aku juga tetap bisa mengurus anakku ini. Aku bukan wanita cengeng dan manja!" kata Shella yang menyindir halus Aruna.
''Jaga ucapanmu, Shella! Kamu yang tidak tahu diri, sudah merebut tapi bersikap seolah kamu adalah korban.'' Bantah Nyonya Ratih.
__ADS_1
''Tante sudah mengenalku sangat lama dan hubungan kita sangat dekat. Tinggal merestui hubungan kami apa susahnya Tante? Aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh kok. Selama ini Aruna sendiri kan yang memaksa ingin bercerai. Jangan-jangan Aruna sendiri yang diam-diam memiliki kekasih.'' Sindir Shella.
PLAK! Nyonya Ratih melayangkan tamparan ke wajah Shella.
''Mama! CUKUP!" Bentak Arya.
''Kamu berani membentak Mama, Arya? Durhaka kamu!'' sahut Tuan Jodi dengan suara meninggi.
''Biarkan saja Pah. Justru karena sudah mengenalmu Shella, Tante kecewa karena kamu tega menyakiti hati Aruna. Kalau kamu wanita baik-baik, kamu tidak akan melakukan itu pada Aruna.'' Tegas Nyonya Ratih.
''Aruna, Mama dukung kamu berpisah dengan Arya. Cari kebahagiaanmu di luar sana, Nak. Restu Mama bersama kamu dan Zidane. Tapi kamu jangan pernah meninggalkan rumah ini. Biarkan Arya yang pergi dari rumah ini.''
''Baiklah kalau begitu, Arya akan pergi dari rumah ini. Papa dan Mama tenang saja, Arya tidak akan menuntut harta gono-gini pada Aruna. Pantang bagi seorang pria keluar rumah dengan membawa harta bendanya. Arya hanya ingin meminta restu saja dari kalian.''
''Mama Galuh, Papa Wira, sekali lagi Arya tekankan disini, Arya tidak pernah mau menceraikan Aruna. Arya tidak bisa meninggalkan Shella, apalagi Shella sedang mengandung anak Arya. Arya semakin egois jika Arya meninggalkan Shella begitu saja. Arya juga tidak mau berpisah dengan Aruna karena Arya juga masih mencintai Aruna. Tapi hari ini Arya akan mengabulkan keinginan Aruna untuk berpisah. Arya tidak akan menuntut apapun dari Aruna, apalagi harta gono-gini. Arya juga tetap akan bertanggung jawab pada Zidane dan juga Aruna. Maafkan Arya, jika Arya harus melakukan semua ini. Ini permintaan Aruna sendiri, Arya selalu menolaknya tapi Aruna tetap ingin berpisah. Sekali lagi maafkan kesalahan Arya, Pah-Mah. Maafkan Arya yang tidak bisa menepati janji Arya pada Papa dan Mama. Meskipun perpisahan ini juga terasa sangat berat bagi Arya.''
''Aruna, kamu dan Zidane tetaplah tinggal disini. Saat aku membeli rumah ini, dari awal sudah atas nama dirimu. Begitu juga dengan mobil yang setiap hari kamu pakai, aku tidak akan mengambilnya. Setidaknya aku masih bisa bertanggung jawab untuk memberikan tumpangan dan hunian yang layak untuk kamu dan Zidane. Itu menunjukkan bahwa aku tidak pernah menelantarkan kamu dan juga Zidane.'' Arya lalu menggandeng tangan Shella dan mengajaknya pergi dari rumah itu.
Aruna terduduk lemas di lantai, Aruna tidak menyangka bahwa Arya benar-benar lebih memilih wanita itu daripada dirinya dan juga Zidane. Nyonya Ratih dan Nyonya Galuh dengan kompak memeluk Aruna.
__ADS_1
''Maafkan Mama, Aruna. Maafkan Mama yang tidak bisa mendidik Arya menjadi pria yang setia.'' Ucap Nyonya Ratih dengan segala penyesalannya.
''Maafkan Papa juga Aruna, Papa malu.'' Kata Tuan Jodi.
''Pak Wira, Jeng Galuh, kami pasrah jika kalian akan membenci Arya, memakainya atau bahkan memukulnya sekalipun. Arya pantas mendapatkan itu. Sebagai orang tua, kami sungguh malu dengan kalian. Kami merasa gagal sebagai orang tua. Maafkan kami.'' Ucap Tuan Jodi sambil mengatupkan kedua tangannya.
''Iya Jeng Galuh, maafkan kami ya. Kami tidak bisa mendidik Arya. Silahkan benci kami, kami ikhlas menerimanya. Namun satu hal yang harus kalian tahu, kami sungguh menyayangi Aruna dengan tulus. Kamu juga tidak akan mendukung bahkan merestui pernikahan Arya dengan Shella. Bagi kami, menantu kami hanyalah Aruna.'' Kata Nyonya Ratih dengan tangis penuh sesal.
''Sebagai orang tua, tentu saja kami sangat marah dan sakit hati dengan sikap nak Arya. Tapi bagaimana munkin kami bisa membenci nak Arya. Walau bagaimana pun dia adalah Ayah kandung dari cucu kami.'' Nyonya Galuh berusaha bijak menyikapi semua itu, meskipun hatinya kini teriris melihat nasib putri semata wayangnya itu. Dan akhirnya, Aruna mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah. Arya pergi dari rumah juga tidak membawa apapun selain mobil yang biasa ia pakai.
''Pah, Mah, maafkan Aruna jika Aruna banyak salah ya selama menjadi menantu.''
''Kamu tidak perlu meminta maaf, Aruna.''
''Kamu justru terlalu baik dan terlalu sempurna untuk Arya yang begitu bodoh. Jika Arya bisa bahagia dengan mudahnya, maka kamu juga harus bahagia, Aruna. Jika suatu saat nanti ada pria yang akan mempersuntingmu, kamu jangan ragu-ragu ya. Apapun itu asal kamu bahagia, Mama akan mendukung kamu. Anggap saja kami orang tua kedua kamu ya, Nak.'' Ucap Nyonya Ratih sambil mengelus kepala menantunya.
Hari itu adalah hari terberat untuk Aruna. Melihat suami yang dicintainya pergi meninggalkan rumah demi untuk bersama perempuan lain. Bahkan Arya dengan mudahnya membela perempuan lain di hadapannya. Arya sama sekali tidak peduli dengan perasaan Aruna dan Zidane. Aruna menyesalkan sikap Arya yang terlalu egois tanpa memikirkan perasaannya dan juga anaknya.
Nyonya Ratih dan Tuan Jodi, sudah tidak punya muka lagi di hadapan orang tua Aruna. Namun orang tua Aruna berusaha bersikap bijak menghadapi ini semua, sekalipun itu sangat menyakitkan. Saat ini yang ada dalam benak orang tua Aruna hanyalah mendukung Aruna dan tidak mau terlalu jauh mengusik Arya. Biar Arya menjadi tanggung jawab orang tuanya sendiri. Orang tua Aruna tidak ingin memperkeruh suasana yang justru akan semakin menyakiti hati Aruna.
__ADS_1
Bersambung....