Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 49 Spekulasi Buruk


__ADS_3

Sedangkan hari itu, Arya dengan rasa cemburu membawasebuah koper berisi uang lima puluh juta untuk membayar hutangnya pada Daniel.


''Oh kamu rupanya? Ada apa?'' Daniel menatap sinis Arya. Arya lalu menyodorkan koper hitam itu pada Daniel.


''Apa ini?'' Daniel menaikkan sebelah alisnya.


''Ini adalah uang untuk membayar hutang saya. Terima kasih karena anda telah melunasi biaya rumah sakit istri saya.''


''Sekalipun kamu membayarnya, Aruna tetap akan bekerja disini. Dia tidak bisa berhenti bekerja karena sudah terikat kontrak. Kalau dia melanggar kontrak, dia bisa kena hukuman pidana dan juga denda 10 Milyar.''


Arya mendecih. ''Aturan macam apa itu Tuan?''


''Perusahaanku memang mempunyai peraturan yang ketat. Sebaiknya ambil saja uangmu, urusanku dengan Aruna.''


''Tapi aku suaminya, aku hanya berusaha menunjukkan bahwa aku mampu membiayai perawatan istriku. Meskipun kami akan berpisah, setidaknya kami masih sah menjadi suami istri.''


''Baiklah, aku terima uangmu dan aku anggap lunas.''


''Jadi aku mohon, pekerjakan Aruna sesuai jam kerjanya. Jangan seenaknya mengajak Aruna keluar malam. Apalagi Aruna ada anak di rumah.''


''Aku tidak butuh nasihatmu! Kamu tidak ada hak untuk menasihatiku karena aku bosnya. Sebaiknya kamu silahkan pergi karena urusan kita selesai.''


Arya hanya bisa mengepalkan tangannya. Menahan geram dengan sikap Daniel yang begitu arogan.


''Permisi!" kata Arya seraya undur diri. Daniel hanya mengangguk dengan senyum miringnya.


Daniel membuka isi koper itu dan uangnya kembali. Namun Daniel berniat ingin memberikan uang itu pada Aruna.


''Oh ya, bagaimana kabar Aruna? Apa dia baik-baik saja?'' gumamnya.


Daniel lalu memutuskan untuk menelepon Aruna. Aruna sendiri masih berada di kamarnya, kini Dinda sudah bergabung dengan mereka.

__ADS_1


''Eh sebentar ya, atasan ku telepon.'' Kata Aruna.


''Cieee.... si Tuan tampan,'' goda Dinda dan Gita dengan kompaknya.


''Sudah, jangan mulai lagi. Aku bukan anak muda lagi.'' Kata Aruna menahan senyumnya. Aruna lalu menerima telepon dari Daniel.


''Halo Tuan?''


''Aruna, bagaimana kabarmu? Apa masih pusing dan pengar?''


''Aku sudah membaik, Tuan. Maafkan aku karena aku bangun kesiangan, Tuan. Sampai aku tidak mengabari anda. Dan maaf juga karena aku sudah membuat baju Tuan kotor.''


''Tidak masalah walaupun itu sangat menjijikkan. Syukurlah kalau kamu sudah baik-baik saja. Besok sudah bisa masukkan?''


''Sudah Tuan. Tapi lusa aku ijin untuk menghadiri sidang perdanaku, Tuan. Maaf kalau baru masuk kerja, aku sudah banyak ijin.''


Daniel menghela. ''Oke, tidak masalah. Selesaikan saja dulu urusanmu.''


''Sekali lagi terima kasih dan maaf untuk semuanya.''


''Iya Tuan, terima kasih.'' Panggilan berakhir.


''Eh jangan-jangan Tuan Hutama nerima elo karena elo mau di jodohin lagi si Tuan tampan,'' celetuk Dinda.


''Nah, bener tuh. Pasti itu, Run!" timpal Gita.


''Dinda, Gita, udah berhenti aneh-aneh. Kalian ini mikirnya kejauhan. Tuan Hutama nerima gue ya karena emang gue punya prestasi dan Tuan Hutama berusaha memenuhi janjinya. Jadi kalian jangan aneh-aneh deh. Lagian ya Tuan Daniel itu super badboy, playboy dan player abis. Jelas tipenya bukan janda lah. Masih banyak cewek seksi di luar sana. Udah, jangan mikir aneh-aneh.''


Dinda dan Gita hanya bisa tertawa mendengar ocehan Aruna.


...****************...

__ADS_1


''Mas, kamu darimana tadi? Di telepon kok tidak bisa,'' kesal Shella saat suaminya baru saja pulang kantor.


''Maaf ya Shella, ponselku mati. Aku tadi mencari pembeli apartemen kita.''


''Kamu ini membuatku cemas saja. Terus sudah dapat belum?''


''Sudah, besok mereka akan melihatnya.'' Kata Arya. Shella memperhatikan wajah Arya tampak suntuk.


''Kamu kenapa Mas? Sepertinya kamu sedang ada dalam masalah.''


''Bukan apa-apa. Aku hanya kesal saja.''


''Kesal kenapa?''


''Aku sudah menemukan siapa yang membayar biaya rumah sakit Aruna. Dan ternyata orang itu adalah atasan Aruna.''


''Lho kok bisa? Atasannya masih muda atau sudah paruh baya?''


''Masih muda.''


''Fix, itu pasti simpanan Aruna.''


''Jaga ucapan kamu, Shella. Aruna bukan wanita seperti itu.''


''Sekarang aku tanya, darimana Aruna bisa mengenal atasannya itu? Tidak mungkin kan orang baru kenal, membayar biaya rumah sakit begitu saja kalau tidak ada cerita di belakang itu semua. Kamu pikir saja, Mas? Memang semua itu logis?'' Shella terus mendesak, berusaha menghasut Arya. Arya mencoba mencerna apa yang di ucapkan oleh Shella.


''Apa yang di ucapkan Shella masuk akal juga. Tapi Aruna tidak mungkin seperti itu.'' Batin Arya masih berusaha menolak ucapan Shella.


''Atau jangan-jangan ini rencana Aruna dan atasannya itu ya Mas, supaya mereka bisa bersatu. Jadi mereka mencari tahu tentang kita terus mereka jadikan semua ini kesempatan untuk meresmikan hubungan mereka. Bisa jadi mereka sudah duluan selingkuh di banding kita. Pasti itu hanya modus dengan status Aruna sebagai seorang sekretaris. Apalagi jabatan dan kedudukannya lebih segalanya dibanding kamu. Kalau di pikir-pikir, kenapa bisa bersamaan seperti ini. Iya kan? Atau bisa jadi anak yang di kandung Aruna adalah anak atasannya.'' Shella terus berspekulasi buruk tentang Aruna. Mencuci otak Arya untuk membenci Aruna dan segera menyelesaikan perceraiannya.


''Kamu jangan menduga-duga, Shella. Aku setelah ini akan pergi ke rumah Aruna untuk membicarakan masalah Zidane dan kebenaran ini.''

__ADS_1


''Aku ikut ya Mas kalau begitu. Aku tidak mau sendirian di sini.''


''Iya boleh.''


__ADS_2