Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 8 Bad or Good?


__ADS_3

Sementara itu Arya sedang duduk di kejauhan dengan segala penyamarannya sibuk menemani Shella pemotretan di sebuah taman kota. Arya mengenakan topi, kacamata hitam, kumis palsu dan jambang palsu pula. Ia tidak ingin ketahuan oleh siapapun. Shella tetap fokus melakukan pemotretan yang memang bernuansa alam itu. Setelah pemotretan selesai, Shella celingak-celinguk mencari keberadaan Arya namun tidak menemukannya. Shella mengambil ponsel di dalam tasnya dan menekan nama Arya.


''Arya, kamu dimana? Kamu tidak datang?''


''Lihat kearah jam 3.'' Ucap Arya. Shella tersenyum melihat Arya yang ternyata menepati janjinya.


''Jadi pria berjenggot itu kamu?''


Arya tertawa kecil. ''Iya Shella. Dengan menyamar seperti ini, aku tidak akan ketahuan.''


''Dasar kamu ya, gila memang!" Shella terkekeh.


''Kamu yang membuatku gila, Shella. Sudah selesai belum?''


''Sudah tinggal beres-beres aja.''


''Ya sudah aku tunggu kamu di mobil, setelah itu kita langsung ke apartemen ya.''


''Oke honey. Karena aku sudah sangat merindukan kamu. I love you.''


''I love you too.'' Balas Arya.


Setelah selesai, Shella dan Arya segera pergi ke apartemen milik Shella. Apartemen yang di belikan oleh Arya tentunya. Begitu sampai di dalam apartemen, Shella langsung menggoda Arya dengan memberinya ciuman. Keduanya berciuman dengan panasnya, melebur rindu setelah beberapa hari tidak bertemu.


Setelah puas berciuman, Shella melepaskan pagutannya.

__ADS_1


''Aku membeli makan siang untuk kita berdua. Kamu tolong siapkan ya? Aku lapar sekali.'' Kata Arya.


''Iya sayangku. Kamu ingin minum apa?''


''Es teh manis saja.''


''Oke.'' Jawab Shella sambil mengedipkan matanya. Setelah menyelesaikan makan siangnya. Arya dan Shella kembali bermesraan dan bercumbu yang berakhir permainan panas di atas ranjang.


Bahkan Arya mengabaikan ponselnya yang bergetar diatas nakas. Mengabaikan panggilan telepon dari istrinya. Sesampainya di rumah, Aruna menyiapkan makan siang, ia menelepon Arya, berharap Arya mau menyempatkan waktu luang untuk makan siang bersama di rumah. Namun panggilan Aruna benar-benar diabaikan. Akhirnya Aruna menyerah dan meladeni Zidane untuk makan siang.


-


''Daniel, darimana saja kamu? Tidak tahu apa ada meeting?'' bentak Tuan Hutama. Daniel dan Fero sudah berdiri di hadapan pria setengah baya itu. Suaranya begitu tegas dan menakutkan.


''Sampai kapan kamu mau main-main seperti ini? Hah? Proyek yang kamu tangani di luar negeri, gagal semua. Klien penting membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita. Kamu ini penerus Papa, tapi kenapa kamu tidak bisa serius Daniel?''


''Pah, mereka itu terlalu menganggap remeh kita jadi ya aku tolak saja. Bukan mereka yang menolak tapi aku yang menolaknya, Pah! Enak saja meminta harga murah. Kalau mereka tidak bisa memenuhinya ya untuk apa kerja sama di lanjutkan. Aku sudah benar kan Pah?'' jelas Daniel dengan tawa lebarnya. Mendengar ucapan putranya, Tuan Hutama menggeram, mengepalkan tangannya dan ingin sekali menampar putranya itu.


''Daniel, kamu ini keterlaluan sekali. Kamu tidak tahu kerugian kita menolak proyek itu. Pikir pakai otak Daniel! Jangan hanya menghabiskan uang, main perempuan dan mabuk-mabukkan. Kalau sampai kamu tidak bisa serius mengerus perusahaan, Papa akan cabut semua fasilitas kamu dan Papa turunkan jabatan kamu menjadi office boy. Termasuk Fero juga.''


Mendengar namanya disebut, Fero tercekat.


''Sa-saya juga, Om?'' Fero tergagap.


''Iya kamu juga! Karena kamu tidak bisa menasihati Daniel. Sekarang kalian pergi dan keluar sana. Kepalaku rasanya mau pecah, punya anak tidak bisa di andalkan.''

__ADS_1


''Oke Pah, Daniel pergi. Kenapa nggak dari tadi sih Pah? Pusing denger Papa ngomel.''


Amarah Tuan Hutama semakin tersulut mendengar ucapan putranya itu. ''DANIEL!" Teriak Tuan Hutama menggelegar memenuhi ruangan. Daniel meringis sembari berlalu meninggalkan ruangan Papanya tanpa rasa bersalah. Tuan Hutama mencoba menghela nafas pelan-pelan, berusaha mengatur amarahnya.


''Anak itu benar-benar keterlaluan. Tapi salah ku juga karena dulu memanjakannya. Dan sekarang dia malah seperti itu. Padahal yang aku lakukan hanya berusaha membuang rasa traumanya.'' Gumam Tuan Hutama.


Daniel kemudian kembali ke ruangannya.


''Niel, gue nggak mau ya ikut-ikutan di cabut fasilitas apalagi di pecat.'' Kata Fero.


''Ya udahlah santai aja. Bokap nggak bakalan tega sama gue. Gue malah sumpek kalau harus fokus sama kerjaan. Lagian gue nggak salah nolak kerja sama itu. Asal elo tahu, Fer. Cara mereka kerja itu nggak bener. Jadi gue pakai alasan harganya terlalu murah, padahal mereka aja yang nggak bener. Gue heran deh kenapa Papa bisa kerja sama dengan mereka? Kalau sampai perusahaan dan nama Papa jadi taruhannya kan habis semuanya, Fer.''


''Emang elo yakin kalau mereka kerjanya gitu?'' tanya Fero.


''Fer, gue nggak sebodoh itu kali. Ya udahlah biarin Papa marah, nanti kalau tahu siapa mereka juga bakal minta maaf sama gue. Gue itu bete kalau cuma duduk dan lihatin tumpukan dokumen ini. Gimana kalau kita ke klub lagi?''


''Ogah! Mending gue kerja. Gue nggak mau lah kalau sampai gue di pecat cuma gara-gara ikutin kemauan elo. Mending elo juga kerja, kerjaan selesai baru kita happy-happy.'' Kata Fero.


''Halah sok bijak elo, Fer.''


''Tapi kali ini gue memang harus sok bijak. Oke, gue keruangan gue dulu. Kalau mau ke klub berangkat sono.'' Ucap Fero seraya berlalu meninggalkan ruangan Daniel. Daniel mendecih mendengar ucapan sahabatnya itu.


Akhirnya hari itu mau tidak mau, Daniel memeriksa tumpukan dokumen diatas mejanya. Daniel sangat benci berdiam diri saja, karena itu membuatnya bosan dan membuatnya teringat kecelakaan itu. Ia bahkan tidak peduli dengan ocehan Papanya karena Daniel berusaha membunuh rasa sepi dan sakitnya sendiri. Baginya tidak mudah melupakan hari itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2