
Keesokan harinya, Aruna bangun pagi-pagi sekali menyiapkan sarapan dibantu oleh Bi Tuti.
''Nyonya, Tuan Arya dan Nyonya Shella beneran ada disini?'' tanya Bi Tuti sambil berbisik.
''Iya Bi. Biarkan saja mereka mau memasak apa. Tugas Bibi dan Mbak Lasmi hanya untuk melayani aku dan Zidane saja.''
''Siap Nyonya! Oh ya ini untuk Tuan tampan ya?''
''Iya Bi. Aku sudah dibayar untuk membuatkannya sarapan.''
''Sepertinya Tuan tampan itu sangat menyayangi den Zidane dan Nyonya juga cocok dengan Tuan tampan.''
''Ah sudahlah, Bi. Hubungan kami hanya sebatas rekan kerja saja.'' Kata Aruna.
''Kita tidak tahu rahasia kedepan bagaimana Nyonya.''
''Bi, sudah ya jangan mulai.'' Gurau Aruna.
''Bibi hanya ingin melihat Nyonya bahagia.''
''Aku sudah bahagia bersama Zidane, Bi.'' Kata Aruna.
Sementara itu, Zidane yang baru saja terkejut melihat Arya sudah berada di kamarnya.
''Papi!"
''Zidane, ini Papi, nak.'' Arya langsung memeluk putranya.
''Untuk apa Papi kemari?'' tanya Zidane.
''Selama satu minggu ke depan, Papi akan tinggal disini. Papi juga akan antar jemput kamu.''
''Pasti Papi bersama Tante itu.''
''Iya Zidane. Namanya Tante Shella. Kamu akan punya adik dari Tante Shella.''
''Maaf Pi, tapi aku tidak mau punya adik dari Tante itu.''
''Sebaiknya Papi bantu kamu bersiap ya. Papi yang akan mengantarkanmu ke sekolah.'' Arya mencoba mengalihkan obrolan.
''Iya Pi.''
Sementara itu Shella baru saja bangun tidurnya.
''Oh nyaman sekali. Rasa lelahku hilang juga.'' Gumamnya sambil meregangkan otot-ototnya.
__ADS_1
''Dimana Mas Arya? Apa dia menggoda Aruna lagi?'' gumamnya seraya beranjak dari tempat tidur.
''Aruna, mana suamiku?'' tanya Shella pada Aruna yang sedang sibuk di dapur.
''Aku tidak melihatnya, bukankah dia tidur denganmu? Kenapa malah tanya padaku?'' jawab Aruna tak kalah ketus.
''Oh ya, aku ingat kan ya? Karena kamu disini menumpang, jadi silahkan masak sendiri dan cuci juga peralatan masaknya. Bibi dan Mbak Lasmi hanya berkerja untukku karena aku yang menggajinya. Jadi pahami posisimu disini atau aku usir kamu.'' Ucap Aruna dengan tatapan mata penuh kemarahan.
''Pagi Mami!" suara Zidane, menurunkan amarah Aruna. Shella merasa lega karena ternyata Arya bersama Zidane.
''Pagi sayang. Ayo sarapan dulu. Mami sudah menyiapkan sarapan untukmu.'' Aruna menghampiri Zidane, lalu mengajaknya menuju meja makan.
''Mmm Aruna, hanya ini sarapan paginya?'' tanya Arya yang hanya melihat dua porsi makanan di atas meja.
''Iya Mas. Ini untukku dan Zidane. Kamu disini kan menumpang, jadi kamu masak sendiri saja ya. Aku membebaskanmu untuk makan apa saja disini tapi ingat, jangan meminta bantuan pada Bibi atau Mbak Lasmi karena mereka hanya bekerja untukku.'' Ucap Aruna dengan tegas.
''Iya, terima kasih. Maaf kalau aku menyusahkanmu. Oh ya, selama satu minggu ini biar aku yang mengurus Zidane. Dan untuk outbond bagaimana?''
''Mas, aku tidak mengijinkanmu pergi. Aku sedang hamil dan tidak mau di rumah sendirian.'' Sahut Shella.
''Kamu sudah mendengar jawaban istrimu kan, Mas? Lagi pula aku dan Zidane akan tetap berangkat sekalipun tanpa kamu. Dan terima kasih sudah mau mengurus Zidane.'' Ucap Aruna.
''Zidane, nanti kamu berangkat dan pulang sekolah sama Papi ya. Mama harus kerja dulu. Tidak apa-apa kan?''
''Iya Mami, aku tidak apa-apa. Sampaikan salam ku untuk Om Daniel ya. Katakan kalau aku ingin mendengar kelanjutan gadis kupu-kupu itu.''
''Oh, sekarang kamu dekat dengan atasanmu itu?''
''Memangnya kenapa Mas? Ada masalah? Dia juga single, bukan milik orang lain. Jadi aku harap kamu tidak perlu tahu urusanku dan jangan mencampuri urusanku. Urus saja urusan masing-masing.'' Tegas Aruna. Arya hanya bisa diam mendengar ucapan Aruna.
''Paling-paling mereka aslinya selingkuh duluan, Mas.'' Sahut Shella.
''Shella, sebaiknya kamu pergi dari sini daripada kamu tidak bisa menjaga ucapanmu. Sudah dikasih tumpangan, nyolot saja.'' Ucap Aruna dengan suara meninggi.
''Iya, aku juga tidak suka Tante disini. Tante sudah menyakiti Mami, jadi sebaiknya Tante pergi dari sini. Kami tidak butuh kalian.'' Sahut Zidane. Sudah cukup bagi Zidane menyaksikan Maminya disakiti oleh mereka berdua.
''Shella, sebaiknya kamu ke kamar. Jangan membuat masalah. Aku akan membuat sarapan.'' Arya berusaha untuk menenangkan Shella supaya tidak membuat masalah lagi. Shella dengan kesal pergi ke kamar, sedangkan Arya membuat roti panggang untuk sarapannya dan Shella.
Sembari membuat roti panggang, Arya mengajak Aruna mengobrol.
''Kamu membeli mobil baru Aruna? Sepertinya kehidupanmu menjadi lebih baik.''
''Aku mendapat fasilitas dari kantor. Aku berusaha membuat hidupku jauh lebih baik setelah kamu pergi meninggalkan kami.'' Ucap Aruna dengan tegas. Arya tertampar dengan ucapan Aruna.
''Sayang, habiskan makananmu ya. Kamu berangkat sama Papi ya.''
__ADS_1
''Mami bolehkah aku pergi denganmu saja?''
''Oke, tidak masalah sayang. Ambil tasmu ya.''
''Tapi Zidane, Papi akan mengantarmu.''
''Papi masih sibuk menyiapkan sarapan. Nanti aku bisa terlambat.''
''Baiklah, nanti pulangnya Papi jemput ya.'' Kata Arya yang tidak mendapat jawaban dari Zidane.
Setelah mengantar Zidane ke sekolah, Aruna bergegas menuju kantor. Sesampainya di kantor, Aruna langsung menuju ruangan Daniel. Aruna meletakkan sarapan dan makan siang yang sudah ia siapkan di atas meja. Saat Aruna keluar dari ruangan Daniel, Daniel pun baru saja tiba dan mereka berpapasan.
''Tuan,'' Aruna sedikit kaget.
''Apa semuanya baik-baik saja?''
''Iya. Tapi maaf kalau makanan yang Tuan beli harus aku bagi dengan mereka.''
''Tidak masalah. Apa kamu membawa sarapan untukku?''
''Iya. Aku sudah meletakkan sarapan dan makan siang diatas meja anda.''
''Bisakah kamu menemani aku sarapan? Aku bosan kalau harus makan sendiri.'' Ucap Daniel. Aruna mengangguk. Daniel kemudian duduk di sofa dan Aruna menyiapkan sarapan untuk Daniel.
''Duduklah! Jangan berdiri terus.'' Ucap Daniel.
''I-iya.''
''Jangan canggung, Aruna. Sebaiknya kita menjadi teman saja. Supaya kita bisa bekerja dengan santai. Lagi pula sebelumnya kita juga bertemu bukan? Aku mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menolongku saat itu. Aku benar-benar takut kehilangan Mama. Meskipun pada akhirnya aku benar-benar kehilangan dia untuk selamanya.''
''Semua yang hidup pasti akan meninggal, Tuan. Kita hanya sedang menunggu waktu saja kapan giliran kita. Aku sendiri juga pernah merasakan kehilangan dan itu memang menyakitkan. Kita hanya bisa berdoa untuk mereka yang sudah pergi. Sementara kita harus tetap melanjutkan hidup untuk mereka yang masih hidup juga.''
''Apa yang kamu katakan benar juga.'' Ucap Daniel sambil menyantap makanan di hadapannya.
''Oh ya Tuan, bagaimana rencana outbond besok?''
''Aku akan datang pagi-pagi kerumahmu.''
''Tapi bagaimana dengan...''
''Kenapa kamu masih memikirkan itu? Dia sudah menjadi mantan suamimu.''
''Bukan itu yang aku pikirkan. Aku hanya tidak mau anda terlibat.''
''Itu pekara kecil Aruna. Tidak usah memikirkan aku. Mereka tidak berhak ikut campur urusanmu. Lagi pula aku sudah janji pada Zidane. Aku tidak mau mengecewakannya.''
__ADS_1
''Terima kasih.''
''Ya, sama-sama.''