
Ting tung! Ting tung! Suara bel pintu rumah Aruna berbunyi.
''Mungkin itu Gita, Bi. Biar saya saja yang buka pintu, Bibi siapkan saja makan malam untuk Zidane. ''
''Iya Nyonya. ''
Aruna lalu melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
''Tuan Daniel!'' seru Aruna. Dan tubuh Daniel mendadak kaku, lidahnya pun terasa kelu. Ia terpesona dengan kecantikan Aruna malam itu.
''SEMPURNA!" satu kata itu meluncur begitu saja dari bibir Daniel. Aruna mengernyitkan dahinya, tidak mengerti maksud ucapan Daniel.
''Maksudnya apa Tuan?''
Daniel salah tingkah. ''Oh maksudnya penampilanmu sempurna dan setidaknya tidak membuatku malu saat di acara gala dinner nanti. Apalagi kamu datang sebagai sekretaris seorang Daniel, tentu jangan sampai memalukan. Begitu maksudku.'' Daniel berusaha keras meralat ucapannya tadi. Walaupun sebenarnya malam itu ia terbius dengan kecantikan Aruna.
''Oh begitu. Kalau memang ini kurang cocok, saya akan ganti. Karena sejujurnya saya juga gugup. Sudah lama sekali saya tidak berinteraksi dengan dunia luar apalagi dunia bisnis ini.''
''Penampilanmu cukup bagus jadi tidak usah ganti.''
''Kalau begitu silahkan masuk. Saya ingin berpamitan pada Zidane.''
''Iya.'' Aruna lalu mempersilahkan Daniel untuk duduk di ruang tamu.
Saat Aruna hendak naik ke lantai atas, tampak Zidane sudah turun bersama Mbak Lasmi.
''Zidane, Mami berangkat dulu ya.''
''Om Daniel sudah sampai ya Mah?''
''Iya sayang.''
''Zidane boleh menemuinya?''
''Iya boleh. Mama ambil tas dulu.''
''Iya Mah.'' Zidane kemudian berlari kecil menuju ruang tamu.
''Hai, Om! " sapa Zidane.
''Hai Zidane. Kamu sudah makan?''
''Baru mau makan, Om. Om mau pergi sama Mami?''
''Iya tapi untuk urusan pekerjaan. Maaf ya kalau Om harus mengajak Mami kamu.''
''Tapi jaga Mami ya, Om. Pastikan Mami baik-baik saja dan pulang dengan selamat.''
''Tenang saja. Om ada supir kok yang mengantar.''
''Janji Om?'' Zidane mengulurkan jari kelingkingnya pada Daniel. Daniel tersenyum, ia lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada Zidane.
''Iya janji.''
''Baiklah Om kalau begitu aku masuk dulu ya. Nanti kalau Mami tahu bisa marah.'' Zidane kemudian berlari kembali menuju ruang makan.
Sesaat kemudian, Aruna turun dari kamarnya. Ia menghampiri Zidane lagi untuk berpamitan.
__ADS_1
''Zidane, sebentar lagi Tante Gita akan kemari. Kamu makannya di temani Bi Tuti sama Mbak Lasmi dulu ya.''
''Iya Mami. Mami hati-hati ya. ''
''Iya sayang.'' Aruna kemudian memeluk putranya itu.
''Bi Tuti, Mbak Lasmi, saya pergi dulu ya. Tolong jaga Zidane. Kalau ada apa-apa segera telepon ya.''
''Baik Nyonya. Memangnya tadi bukan Nona Gita, Nyonya?''
''Bukan Bi. Ternyata itu atasan saya. Saya pergi dulu ya.''
''Iya Nyonya. Hati-hati ya Nyonya.''
''Iya Bi.''
Aruna kemudian berjalan menuju ruang tamu menghampiri Daniel.
''Mari Tuan! "
''Oh iya, ayo! " Daniel lalu beranjak dari duduknya dan keluar bersama Aruna. Daniel juga membukakan pintu mobil untuk Aruna.
Dari dalam rumah, Zidane, Bi Tuti dan Mbak Lasmi kompak mengintip.
''Lho Bi, itu bukannya Tuan tampan yang ada di rumah sakit itu ya?'' kata Mbak Lasmi yang mengingat wajah Daniel.
''Iya Lasmi, aku baru ingat.''
''Itu namanya Om Daniel, Bi-Mbak. Mami bekerja di perusahaan Om Daniel.'' Jelas Zidane.
''Wah, kok bisa kebetulan ya Den.'' Kata Mbak Lasmi.
''Tapi Tuan tampan itu sudah menikah belum ya?'' tanya Mbak Lasmi.
''Memangnya kalau sudah menikah dan belum menikah, apa urusan kamu Lasmi? Kamu pasti bukan tipenya,'' sahut Bi Tuti.
''Bukan untukku, Bi. Tapi untuk Nyonya. Nyonya harus bisa mendapatkan yang lebih dari Tuan Arya karena Nyonya berhak bahagia.''
''Ssssttttt ngawur kamu. Selama belum ada putusan, Nyonya masih istri Tuan Arya.'' Kata Bi Tuti. Mendengar obrolan Bi Tuti dan Mbak Lasmi, Zidane terdiam. Ia harus menerima kenyataan kalau Mami dan Papinya akan berpisah. Zidane dalam diamnya berlalu begitu saja menuju ruang makan. Melihat sikap Zidane, Bi Tuti menyikut Mbak Lasmi.
''Lasmi, kita salah ngomong. Den Zidane sedih.''
''Aduh iya, Bi. Aku terlalu antusias ingin melihat Nyonya bahagia. Ya sudah, kita sebaiknya hibur Den Zidane.''
''Iya-iya ayo! Aduh, nih mulut ya.'' Bi Tuti menepuk-nepuk bibirnya sendiri.
...***************...
Selama perjalanan, Aruna hanya terdiam. Karena ia benar-benar merasa sangat gugup. Wajah gugup Aruna sudah terbaca oleh Daniel.
''Kamu beneran gugup?''
''I-iya Tuan.''
''Ini hanya gala dinner biasa, Aruna. Santai sajalah.''
''I-iya Tuan.''
Daniel kemudian memberikan sebuah lolipop untuk Aruna.
__ADS_1
''Makanlah ini. Ini bisa menenangkanmu.''
Aruna tersenyum miring. ''Saya bukan anak kecil, Tuan.''
''Iya aku tahu. Setidaknya netralkan rasa gugupmu dengan memakan ini. Dulu saat aku masih SD, aku ikut lomba menyanyi. Aku sangat gugup sampai aku sakit perut. Dan Mama memberikan aku lolipop untuk menetralkan rasa gugup ini.''
''Lalu apa rasa gugup Tuan hilang?''
''Hilang sih tapi saat permennya habis, aku gugup lagi dan akhirnya aku pingsan karena demam panggung.'' Cerita Daniel dengan gelak tawanya. Aruna pun ikut tertawa mendengar cerita masa kecil Daniel.
''Jadi terimalah ini,'' kata Daniel. Aruna lalu menerima lolipop dari Daniel.
''Sebaiknya aku tidak memakan lolipop ini. Aku akan menyimpannya di tasku sebagai jimat. Karena aku khawatir saat lolipop ini habis, aku akan pingsan seperti anda Tuan.'' Aruna terkekeh, di ikuti tawa kecil Daniel. Setidaknya cerita memalukan Daniel, sedikit membantu rasa gugup Aruna.
Akhirnya Aruna dan Daniel sampai juga di hotel setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit.
Daniel kemudian mengulurkan tangannya mengulurkan lengannya.
''Aruna..., ''
''Iya Tuan. Ada apa?''
Daniel mengarahkan pandangannya pada lengannya.
''Lingkarkan tanganmu di lenganku.''
''Jangan Tuan! Saya tidak enak. Nanti penggemar anda bisa marah.''
''Hahahaha abaikan penggemarku. Kita disini profesional saja.''
''Ba-baiklah Tuan.'' Dengan ragu-ragu Aruna melingkarkan tangannya pada lengan Daniel.
Dan suasana pesta malam itu sangat megah dan mewah.
''Wah, ini mewah sekali!" Aruna dibuat takjub dengan pesta malam itu.
''Bahagia sekali ya Tuan Christopher bisa mencapai pernikahan perak.'' Sambung Aruna. Daniel hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Aruna.
''Ayo, aku ajak menemui Tuan Christoper.''
''Ah, iya Tuan.''
''Halo Tuan Christopher. How are you?''
''Halo Tuan Casanova. I'm fine. Who is this woman? Is your lover?''
''Oh No! No! She is my secretary.''
''Hello Mr. Chirstopher. My name is Aruna. I am Mr. Daniel's secretary. Congratulations on your silver wedding anniversary. And I'm very happy to meet you.''
''ARUNA. Beautiful name. As beautiful as the person.'' Puji Tuan Christoper. Aruna tersipu mendapat pujian dari Tuan Christoper.
''Thank you, Mr.''
''Oh ya, dimana Nyonya Christoper?'' tanya Daniel.
''Dia sedang bersama menemui teman-temannya. Nona Aruna, anda adalah sekretaris wanita pertama Tuan cassanova ini. Anda harus hati-hati, pastikan anda tidak terjebak dengan rayuannya,'' gurau Tuan Christoper dengan tawanya.
''Tenang saja, Tuan. Saya pastikan tidak akan terjebak. Justru sebenarnya saya malam ini merasa khawatir datang bersama Tuan Daniel. Saya khawatir bertemu dengan para penggemarnya, setelah itu saya dikeroyok mereka. Karena mereka mengira saya adalah kekasihnya.'' Ucap Aruna diiringi tawa lebar Tuan Christoper. Daniel hanya tertawa saja mendengar apa yang Aruna ucapkan. Karena kenyataannya Daniel memang cassanova penjerat hati wanita.
__ADS_1
Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih🙏❤