Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 39 Sekretaris Aruna


__ADS_3


Keesokan harinya, Aruna mencoba tersenyum menyapa mentari pagi yang sinarnya menerpa wajah cantiknya itu.


''Selamat pagi, Aruna! Tersenyumlah dan berbahagialah untuk hari ini dan seterusnya.'' Ucap Aruna yang berusaha menyemangati dirinya sendiri. Aruna lalu beranjak dari tempat tidurnya dan segera pergi untuk mandi. Selesai mandi, Aruna duduk di depan meja riasnya. Ia mulai menyapukan berbagai jenis kuas di wajahnya. Hari ini Aruna telah siap untuk pergi bekerja. Setidaknya di hari pertamanya bekerja, ia harus memberikan penampilan terbaiknya. Lipstik warna pink peach, membuat Aruna lebih segar dan tampak lebih muda.


''Ayo Aruna, semangat! Singkirkan semua kesedihanmu.'' Ucap Aruna. Setelah semuanya siap, Aruna segera turun menuju meja makan.


''Mami, you're so beautiful!" Puji Zidane dengan mulut penuh makanan.


''Thank you, Zidane. And you're so handsome today.''


''Harus Mami! Mulai hari ini kita harus happy. Zidane janji akan menjadi anak yang baik, yang bisa membuat Mami bangga.''


''Terima kasih sayang. Baiklah sekarang habiskan sarapanmu, setelah itu kita berangkat.''


''Mami tidak sarapan?'' tanya Zidane.


''Mmmm Mami makan buah saja ya.'' Jawab Aruna. Setidaknya di hadapan Zidane, Aruna harus tersenyum. Meskipun di sudut hatinya, ia sangat rapuh.


Setelah selesai sarapan, Aruna lalu mengantar Zidane menuju sekolah.


''Kamu baik-baik ya sayang di sekolah.''


''Iya Mami. Mami semangat ya kerjanya.''


''Pasti sayang.'' Aruna dan Zidane kemudian saling berpelukan. Setelah mengantar Zidane kesekolah, Aruna segera pergi menuju kantor.


Ruangan yang pertama kali ia kunjungi adalah ruangan Tuan Hutama selaku CEO Sky Group.


''Tok tok tok tok!" suara Aruna mengetuk pintu ruangan Tuan Hutama.


''Masuk!" sahut Tuan Hutama.


''Selamat pagi, Tuan.'' Sapa Aruna.


''Selamat pagi Aruna, senang sekali melihatmu berada di perusahaan ini.'' Tuan Hutama menyambut Aruna dengan sangat ramah.


''Terima kasih Tuan atas segala kebaikan anda.''


''Ayo silahkan duduk.''


''Baik Tuan.''


''Oh ya Aruna, langsung saja ya, aku akan memberimu tugas sebagai sekretaris. Tapi bukan sekretaris ku, melainkan sekretaris pribadi putraku yang saat ini menjabat sebagai direktur.'' Jelas Tuan Hutama.


''Apapun posisinya, saya akan bekerja semaksimal mungkin, Tuan.'' Ucap Aruna dengan sikap optimisnya. Tuan Hutama lalu menyambungkan telepon pada Gino.

__ADS_1


''Gino, panggil anak itu ke ruanganku.''


''Baik Tuan.'' Jawab Gino dari ruangannya.


''Aku harap kamu bisa membantunya untuk mengurus perusahaan ini, Aruna. Karena nantinya dia juga akan menggantikan posisiku. Aku sendiri sudah tua jadi sudah waktunya aku untuk istirahat.''


''Tuan, jangan bicara seperti itu. Tuan pasti akan selalu sehat dan panjang umur.''


Tuan Hutama tersenyum. ''Kamu selalu bisa menghiburku Aruna.''


''Pah, ada apa memanggilku?'' kata Daniel yang masuk begitu saja keruangan Tuan Hutama. Mendengar suara yang tidak asing itu, Aruna menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya Aruna melihat Daniel ada disana, begitu pula dengan Daniel.


''Nyo-nya Aruna! Eh maksudku, Aruna. Sedang apa disini?'' tanya Daniel.


''Daniel, kamu sudah mengenal Aruna?'' tanya Tuan Hutama.


''Sudah Pah. Tapi ceritanya panjang.''


''Wah, kebetulan sekali kalau kalian sudah saling mengenal.''


''Memang ada apa sih Pah? Papa mengangguku saja.''


''Memang apa yang kamu lakukan di ruanganmu? Pekerjaanmu hanya main-main saja.'' Kesal Tuan Hutama. Aruna menahan senyumnya melihat wajah lucu Daniel yang di marahi Tuan Hutama.


''Jadi Daniel ini putra Tuan Hutama? Dan aku akan menjadi sekretarisnya? Oh Tuhan, cobaan apalagi ini.'' Gumam Aruna dalam hati.


''APA?!?'' Mata Daniel membulat tidak percaya.


''Lalu bagaimana dengan Fero? Papa mau menggeser posisi Fero?''


''Tidak! Fero tetap bersamamu. Papa butuh seseorang yang berani melawan kenakalanmu, Daniel. Selama ini kamu selalu meremehkan dan bergantung pada Fero bahkan sampai urusan pribadimu. Aku hanya membantu meringankan pekerjaan Fero.''


''Papa nggak seru ah. Aku sudah cocok dengan Fero, Pah. Untuk apa Papa mencari sekretaris baru untukku. Aku tidak butuh Pah.''


''Kalau kamu membantah, Papa benar-benar akan mencoret nama kamu dari daftar utama warisan keluarga. Kamu sudah dewasa jadi saatnya serius mengurus perusahaan, paham kamu?"


''Ya terserah Papa.'' Pasrah Daniel.


''Aruna, sekarang kamu ikut Daniel ke ruangannya. Aku memberimu kuasa penuh untuk melawannya jika dia salah.''


''Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi.'' Ucap Aruna seraya mengikuti Daniel.


''Kali ini Papa mengirimkan mata-mata untukku. Karena Fero sudah pasti ada di pihakku. Pasti si Aruna ini bakal jadi tukang ngadu nih. Apalagi dia ini emak-emak, pasti jiwa ghibahnya menggebu.'' Gumam Daniel dalam hati.


Sesampainya di ruangannya, Daniel dengan kuasanya duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tak di pungkiri Aruna hari ini sangat cantik.


''Aruna, bagaimana kamu bisa mengenal Tuan Hutama alias Papaku?''

__ADS_1


''Kebetulan aku dulu pernah bekerja dengan beliau sebelum aku menikah.''


''Oh begitu tapi aku tidak peduli juga. Lalu kenapa kamu bekerja? Bukankah jabatan suamimu di perusahaan sangat tinggi?'' selidik Daniel. Meskipun Daniel tahu kalau suami Aruna telah mendua.


''Tentu saja kamu sudah tahu kalau aku sudah kehilangan anakku jadi aku ingin menyibukkan diri untuk melupakan kesedihan itu.''


''Begitu? Yakin hanya itu?''


''Maaf Tuan Daniel, aku disini untuk bekerja bukan untuk wawancara urusan pribadi ku.'' Tegas Aruna.


''Oh-oh, mulai deh keluar judesnya si emak-emak ini.'' Celetuk Daniel.


''Oke, panggil aku Tuan Daniel. Dan ingat ya, kamu masih punya hutang padaku.'' Sambung Daniel.


''Iya Tuan, tentu saja aku tidak akan lupa itu. Aku bahkan ingat semua kebaikan anda. Jadi aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk anda dan perusahaan.''


''Bagus-bagus. Kamu cantik juga ya ternyata.''


''Ingat Tuan! Aku bukan gadis lagi, tapi aku ini sudah memiliki anak. Aku tidak segan-segan melawan anda, kalau anda bersikap kurang ajar.''


Daniel lalu tertawa. ''Tenang saja, Aruna. Aku tidak akan macam-macam denganmu. Aku lebih suka bermain dengan wanita single. Baiklah, aku akan memanggil Fero ke ruanganku. Silahkan duduk.''


''Kurang ajar sekali anak ini. Sabar Aruna, demi Zidane.'' Batin Aruna.


''Fero, cepet keruangan gue, sekaligus bawa civi sekretaris gue di ruangan Papa.''


''Oke bos.'' Jawab Fero, panggilan berakhir. Aruna merasa tidak nyaman karena Daniel terus memperhatikannya. Apalagi Aruna tahu kalau Daniel itu buaya darat.


''Tok tok tok!"


''Masuk!" sahut Daniel.


''Niel, ini data yang elo minta.''


''Thanks you.''


Fero sangat terkejut saat melihat Aruna di ruangan Daniel.


''Nyonya Aruna!" seru Fero.


''Fero, jangan panggil dia Nyonya lagi. Dia akan bergabung bersama kita. Aruna akan menjadi sekretarisku.''


''Apa? Sekretaris? Lalu gimana sama gue?''


''Elo tetap sama gue lah. Udah lah nurut aja sama Papa daripada mendadak miskin.'' Celetuk Daniel.


''Tuhan, kenapa aku harus berhadapan dengan orang seperti ini? Oke dia baik mau menolongku tapi setelah tahu tabiatnya, aku merasa muak. Tapi aku harus bekerja demi membayar hutangnya dan juga demi Zidane.'' Ucap Aruna dalam hati.

__ADS_1


Bersambung... Maaf ya judulnya ganti, tapi isi cerita masih sama kok,hehehe


__ADS_2