
Arya terduduk lemas di ruangannya. Karir dan jabatan yang selama ini ia bangun dan dapatkan akhirnya berakhir sia-sia.
''Kenapa ini semua terjadi? Seharusnya perusahaan bisa bersikap profesional. Itu kan urusan pribadi. Seandainya Aruna tidak mau bercerai, aku tidak akan kehilangan pekerjaan. Aku sudah memberikan banyak kontribusi untuk perusahaan tapi hanya masalah itu, mereka mendepakku. Sungguh tidak profesional.'' Bukannya introspeksi diri tapi Arya malah menyalahkan Aruna.
''Sebaiknya aku coba cari lowongan kerja dulu. Mungkin teman-teman SMA ku bisa membantuku. Apa ini campur tangan Sky Group si Tuan Daniel itu. Apa diam-diam dia menyukai Aruna lalu dia berniat menghancurkanku, membalaskan dendan untuk Aruna. Sepertinya itu alasan yang masuk akal. Pasti dia menyukai Aruna.'' Gumamnya dengan kesal.
Tiba-tiba ponsel Arya berdering, satu panggilan masuk dari Aruna. Arya merasa bahagia saat mendapat telepon dari Aruna.
''Halo Aruna, ada apa?''
''Mas, kamu bisa kan nanti menjemput Zidane. Aku sepertinya hari ini tidak bisa menjemputnya. Aku sangat sibuk, Mas.''
''Iya, nanti aku akan menjemputnya. Kamu sudah makan siang?''
''Kebetulan belum Mas, sepertinya jam makan siangku akan mundur karena kesibukan ku ini. Baiklah Mas, terima kasih sudah mau menjemput Zidane.''
''Zidane juga anakku Aruna jadi kamu tidak perlu berterima kasih.''
''Iya Mas. Ya sudah ya, Mas. Selamat siang.'' Aruna mengakhiri panggilannya begitu saja. Arya menghela nafas panjang, kini ia mencoba berpikir kembali, tentang kebodohan yang sudah ia perbuat. Tiba-tiba satu panggilan lagi masuk dari Shella.
''Halo Shella, ada apa sayang?''
''Mas, aku sudah selesai pemotretan, kamu jemput aku ya. Sekalian antar aku belanja untuk syukuran rumah baru kita besok.''
''Iya Shella. Tunggu tiga puluh menit lagi.''
''Oke Mas, aku tunggu ya. I love you.''
''I love you too.'' Panggilan pun berakhir.
''Kasihan juga Shella. Dia juga sedang mengandung, bagaimana caraku bilang pada Shella kalau aku ini di pecat? Aku khawatir kalau ini membuatnya sedih. Besok juga kita syukur rumah baru. Belum lagi biaya operasional rumah baru itu akan semakin besar. Belum sisa pembayaran yang harus aku cicil tiap bulan. Sebaiknya nanti saja aku ceritakan pada Shella dan aku pikirkan jalan keluarnya nanti. Aku juga punya kemampuan, jadi pasti banyak perusahaan yang menginginkanku.'' Pikiran Arya kini semakin gamang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jika pekerjaannya berakhir.
...****************...
''Tuan ini proposalnya.'' Ucap Aruna.
''Terima kasih Aruna. Oh ya kamu tidak menjemput Zidane?''
''Aku sudah meminta Mas Arya untuk menjemputnya.''
''Oh begitu. Kamu bisa makan siang dulu Aruna karena nanti malam kita akan lembur lagi. Oh ya sekalian belikan aku makanan juga ya. Di dekat kantor ada restoran, jadi tolong belikan.''
''Baik Tuan. Tapi uangnya mana?'' tanya Aruna.
__ADS_1
Daniel mendengus. ''Astaga, kamu ini benar-benar perhitungan sekali. Nanti juga aku ganti.''
''Maaf Tuan, sekalian saja uangnya ya. Uang ku juga pas-pasan, bagaimana kalau nanti kurang uangnya?'' Aruna masih tetap kekeh ingin meminta uang pada Daniel. Daniel yang kesal lalu mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan.
''Apa ini cukup?''
''Sepertinya cukup. Tinggal Tuan ingin di belikan apa.'' Jawab Aruna sambil meringis.
''Belikan aku nasi goreng seafood, ayam pop, minumnya jus alpukat dan salad buah untuk makanan penutupnya.''
''Baik Tuan.''
''Ya sudah, pergi sana!" kata Daniel. Disaat yang bersamaan, Fero masuk ke ruangan Daniel. Fero menyapa Aruna.
''Aruna, mau kemana?''
''Mau makan siang, sekalian Tuan menitip makanan.''
''Kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita makan siang sama-sama? Aku akan mentarktirmu.'' Kata Fero.
''Mmmm boleh juga Fer, kebetulan aku juga sendiran.''
''Daniel, gue kesini cuma mau bilang, file demo yang elo minta, udah gue kirim ke email ya. Gue cabut dulu makan siang.'' Ucap Fero seraya berlalu meninggalkan ruangan Daniel bersama Aruna.
-
''Mas, aku lelah sekali.'' Kata Shella sambil memeluk manja lengan Arya, begitu Arya sampai di lokasi pemotretannya.
''Kamu seharusnya istirahat saja dan tidak usah ambil job lagi.''
''Ya ini kan demi membantu kamu, Mas. Untung saja baby kita tidak rewel sama sekali, Mas. Nanti kalau perutku sudah semakin buncit, aku juga akan berhenti.''
''Ya sudah, ayo kita pergi. Tapi aku jemput Zidane dulu.''
''Zidane? Kenapa jemput Zidane lagi sih Mas? Memangnya kemana sih Ibunya?'' kesal Shella.
''Aruna sibuk dan tidak bisa menjemputnya. Zidane kan juga anak aku, Shel. Jadi wajarlah kalau kita saling bergantian dan saling bantu.''
''Ya bukannya begitu, Mas. Nanti pengeluaran kita jadi bertambah kalau kita ajak Zidane.''
''Shella, aku mohon jangan bersikap seperti itu kalau kamu tidak ingin aku marah. Zidane darah dagingku jadi jangan bicara seperti itu lagi, paham kamu!" kata Arya dengan suara meninggi.
''Kamu sekarang galak ya, Mas. Padahal dulu kamu tidak pernah membentak aku. Apalagi bicara dengan suara meninggi.''
__ADS_1
Arya menghela. ''Oke maaf Shella. Ya sudah, ayo kita jemput Zidane. Maafkan aku. Aku hanya sedang banyak pekerjaan.''
''Tapi jangan lampiaskan padaku, Mas. Wajarlah aku cemburu kalau kamu memperhatikan Zidane. Aku takut kalau kamu tidak adil pada anakku juga.''
''Ya ampun Shella, kenapa pikiran kamu sejauh itu? Namanya anak tidak akan aku beda-bedakan.''
''Namanya juga hamil Mas, pasti perasaanku lebih sensitif. Seharusnya kamu memahami itu.''
''Oke maaf. Sudah ya jangan berdebat lagi.''
Arya dan Shella kemudian pergi menuju sekolah Zidane.
''Kenapa Papi yang jemput?'' tanya Zidane begitu melihat Arya yang menjemputnya. Sedangkan Shella memilih untuk tetap di dalam mobil.
''Mami sibuk, Zidane. Tadi Mami menelepon Papi, meminta Papi untuk menjemput kamu.''
''Baiklah.'' Zidane hanya bisa pasrah karena kali ini Papinya yang menjemput. Zidane semakin kesal, bahkan selalu kesal setiap melihat Shella. Zidane langsung duduk di bangku belakang tanpa menyapa Shella. Shella juga enggan menyapa Zidane. Dan Arya pun segera melajukan mobilnya.
''Oh ya Pi, tadi ada surat pemberitahuan dari sekolah.''
''Surat apa Zidane?''
''Kata Bu Guru itu info pemberitahuan kalau hari Sabtu depan ada outbond di puncak, Pi. Orang tua juga harus ikut. Papi ikut ya. Karena ada games kekompakan orang tua dan anak. Sudah lama juga kita tidak liburan.''
''Baiklah, akan Papi usahakan.''
''Tapi Zidane, sekarang Papi kamu itu suami Tante. Kalau kamu dan Mami kamu pergi bersama suami Tante, Tante bagaimana? Papi kan sudah bukan suami Mami kamu.'' Sahut Shella dengan ketus.
''Shella, jaga ucapanmu.'' Sahut Arya.
''Itu juga karena Tante yang merebut Papi. Coba saja Tante tidak ada, kami akan menjadi keluarga yang bahagia. Tante tidak sadar, kalau Tante yang merebut Papi dariku dan juga Mami. Sekarang Tante bisa bicara bagaimana dengan diri Tante? Lalu bagaimana dengan Mami? Bagaimana sedih dan sakitnya hati Mami karena Tante telah merebut Papi? Seharusnya Tante sadar diri, sudah tahu Papi milikku dan Mami tapi masih saja mau. Apa tidak ada laki-laki lain di dunia ini? Sebelum bicara, seharusnya Tante bercermin.'' Semua kalimat itu muncul begitu saja dari mulut Zidane. Mungkin ucapan itu terlalu dewasa untuk dikatakan anak seusianya. Tapi itulah yang ada di hati Zidane.
Shella menahan amarahnya, ia benar-benar geram mendengar ucapan Zidane.
''Ajari anak kamu sopan santun, Mas. Apa yang dia katakan tidak sesuai dengan usianya.'' Marah Shella.
''Apa yang dikatakan Zidane benar, Shella. Jadi aku tidak akan menegurnya. Aku juga salah karena telah menghancurkan perasaannya. Aku bahkan siap mendengar semua amarahnya.'' Ucap Arya. Shella semakin geram dan kesal mendengar ucapan Arya.
''Papi, kalau istri Papi ikut, sebaiknya tidak usah menjemputku. Biar aku meminta mami untuk mengirim taksi onile saja.'' Ucap Zidane dengan menahan kesalnya.
''Maafkan Papi, Zidane. Maafkan ucapan Tante Shella juga ya. Tante Shella sedang hamil jadi pasti sensitif.''
''Apapun alasannya, aku tidak peduli Pi.'' Tegas Zidane. Hati anak mana yang tidak sakit, satu mobil dengan wanita yang sudah menyakiti hati Ibunya, bahkan sampai membuat Ibunya menangis dan juga membuatnya kehilangan adiknya. Mungkin Zidane masih bisa menghargai Arya sebagai Papinya, itu semua pun karena Aruna yang selalu menasihati Zidane kalau Arya tetaplah Ayahnya, bagaimanapun keadaannya.
__ADS_1
Bersambung....