
''Zidane, kita ke supermarket dulu ya. Stok dapur dan kebutuhan rumah sudah banyak yang kosong.''
''Snack kentang ku juga habis, Mi. Aku boleh membelinya kan?''
''Tentu saja sayang.'' Jawab Aruna sambil mengusap kepala putranya itu.
Sesampainya di supermarket Zidane meminta ijin kepada Maminya untuk pergi ke rak snack.
''Mami, Zidane ijin ke rak snack ya.''
''Iya sayang, ambil saja yang kamu butuhkan. Mami tunggu disini ya, mau pilih sayur dan buah dulu.''
''Oke Mami.'' Zidane kemudian dengan langkah kecilnya berlari menuju rak snack. Zidane tak lupa mengambil keripik singkong kesukaan Papinya. Ya, mereka berdua selalu menghabiskan waktu menonton televisi sembari menikmati camilan. Zidane kemudian menuju ke deretan rak keripik kentang kesukaannya. Kesukaannya adalah rasa barbeque. Namun sayang, rak itu terlalu tinggi untuk Zidane raih. Zidane kemudian berusaha berjinjit untuk meraih snack itu. Karena rasa barbeque adalah rasa kesukaannya. Di tambah rasa barbeque tinggal satu saja. Lalu tiba-tiba tangan orang dewasa mengambil keripik kentang itu. Zidane tersenyum karena merasa di bantu. Ia lalu menoleh dan mendongak kearah orang itu yang tak lain adalah Daniel.
''Terima kasih, Om.'' Ucap Zidane dengan senyum sumringahnya.
Daniel menaikkan satu alisnya. ''Terima kasih? Siapa yang mengambilkan ini untukmu? Aku mengambilnya untuk diriku sendiri. Kamu tahu anak kecil, ini adalah keripiki kentang barbeque kesukaanku.''
''Om tapi aku yang mengambilnya duluan.'' Bantah Zidane.
''Mengambil? Tanganmu saja tidak sampai, bagaimana kamu mengambilnya?'' kata Daniel dengan nada mengejek.
''Om sungguh tidak mau mengalah pada anak kecil?'' Zidane mulai kesal.
''Mengalah untuk apa? Ini kesukaan ku dan aku yang mengambilnya, jadi ini milikku. Kamu ambil saja yang lain.'' Ketus Zidane.
''Ini juga kesukaanku! Aku tidak mau yang lain.'' Zidane yang kesal, merebut snack itu dari tangan Daniel. Daniel mendesis kesal dan merebut kembali snack dari tangan Zidane. Dan terjadilah aksi saling merebut. Keduanya tidak mau mengalah. Seharusnya Daniel yang harus mengalah namun Daniel bersikeras merebut snack itu. Apalagi Zidane yang hanya seorang anak kecil, tentu saja dia juga tidak mau mengalah.
''Hei bocah nakal, lepaskan tanganmu dari snack itu.''
''Aku tidak mau! Aku akan memanggil Mamiku.''
Daniel tertawa mengejek mendengar ucapan Zidane. ''Panggil saja Mami mu sana. Dasar anak manja, tukang ngadu.'' Ledek Daniel. Kini Zidane benar-benar marah. Zidane lalu menginjak kaki Daniel dengan kerasnya. Daniel mengaduh sambil mengangkat kakinya, membuat tangannya melepaskan snack itu.
''Lihat, aku yang menang. Dasar Om-Om menyebalkan, wekk." Zidane meledek sambil menjulurkan lidahnya.
''Hei tunggu bocah! Pertarungan belum selesai.'' Ucap Daniel dengan kesalnya. Zidane kemudian berlari meninggalkan Daniel, namun Daniel justru mengejar Zidane.
''Mami!" Zidane berteriak memanggil Maminya karena Daniel mengejarnya. Aruna mendengar suara Zidane yang berteriak memanggilnya.
''Zidane,'' gumam Aruna sambul celingak celinguk.
__ADS_1
''Mami!" seru Zidane sambil terus berlari menghindari kejaran Daniel. Hingga akhirnya Zidane sampai juga pada Aruna.
''Zidane kamu kenapa?'' tanya Aruna dengan khawatir.
''Ada orang gila mengejarku, Mami.'' Jawab Zidane dengan nafas terengah sambil menunjuk kearah Daniel. Daniel pun di buat terengah-engah oleh Zidane.
''Hei bocah, larimu cepat sekali.'' Ucap Daniel.
''Ini Mah orang gila yang mengejar Zidane.'' Kata Zidane.
Daniel mengernyit. ''Apa? Orang gila? Wah, anak kecil jaga sopan santunmu.''
Aruna menatap Zidane dari ujung kepala sampai ujung kaki. ''Tidak seperti orang gila,'' gumam Aruna dalam dalam hati.
''Maaf Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?'' tanya Aruna.
''Dia mengambil snack milikku. Dia menginjak kaki ku lalu dia lari membawa snack itu.''
Aruna lalu menatap kearah Zidane yang membawa snack di tangannya.
''Zidane, apa itu benar? Kamu melakukannya?''
''Wah, kamu pandai sekali berbicara,'' kesal Daniel.
''Tuan, kenapa anda melakukan itu pada anak kecil? Anda ini sudah dewasa. Kenapa bukannya membantu tapi malah merebut?'' Aruna pun mulai tampak kesal.
''Tapi aku duluan yang mengambil. Apalagi snack itu tinggal satu dan itu kesukaanku. Apa yang aku inginkan, harus menjadi milikku!"
Aruna tersenyum miring. ''Sungguh kekanakan sekali, anda. Seharusnya anda bisa membantu anak kecil yang kesulitan, bukan malah mengganggunya seperti itu. Hanya masalah snack saja, anda sampai mengejarnya seperti itu. Dia bukan maling yang harus di kejar-kejar.''
''Aku tidak peduli itu, Nyonya. Apa yang seharusnya menjadi milikku, harus tetap menjadi milikku.''
''Wah, bahkan anda tega sekali ya membuat ibu hamil ini marah.'' Aruna benar-benar kesal, membuatnya mengeratkan rahangnya.
''Makanya Nyonya, kembalikan saja. Masih banyak rasa yang lain. Aku malas berdebat denganmu, Nyonya.''
''Anda yang seharusnya mengalah, dasar orang aneh! Ayo Zidane, kita pergi saja.'' Ajak Aruna.
''Ayo Mi!" jawab Zidane. Namun Daniel justru mengcengkeram pergelangan tangan Aruna.
''Eits, berikan dulu snacknya Nyonya.'' Kata Daniel yang masih tetap tidak mau mengalah. Kali ini kemarahan Aruna tidak bisa di bendung. Aruna menatap tajam Daniel, dengan jurus karate yang masih ia kuasai saat jaman sekolah, membuat Aruna menelintir tangan Daniel kebelakang. Daniel berteriak kesakitan.
__ADS_1
''Aduh, sakit Nyonya! Wah, suamimu pasti habis kalau sampai dia macam-macam denganmu.'' Celoteh Daniel sambil menahan sakit. Zidane tertawa melihat ekspresi kesakitan Daniel.
''Jangan meremehkan Ibu hamil, Tuan. Anda pikir aku lemah. Dasar!"
''Fero, selamatin gue!" teriak Daniel saat melihat Fero dari kejauhan. Kebetulan Fero memang sedang mencari Daniel karena mereka harus segera kembali ke kantor. Melihat Daniel, Fero segera mendekat kearah Daniel.
Fero melotot, melihat Daniel yang diserang oleh Ibu hamil. ''Ada apa ini Nyonya?'' tanya Fero tergagap. Aruna lalu melepaskan tangan Fero dan mendorong Daniel ke arah Fero.
''Tanyakan saja pada dia. Orang dewasa yang sangat kekana-kanakan.'' Ketus Aruna. Aruna lalu mengajak Zidane pergi.
''Maafkan teman saya Nyonya.'' Kata Fero dengan perasaan tidak enak. Fero lalu memukul lengan Daniel dengan keras.
''Apa yang elo lakuin sama ibu hamil tadi, Daniel? Elo godain juga.''
''Hei, jaga mulut elo! Siapa yang godain? Masa iya godain ibu hamil. Seperti tidak ada wanita lain saja.''
''Lalu apa yang terjadi?''
''Gue rebutan snack sama anaknya.''
Fero menepuk jidatnya, mendengar ucapan Daniel.
''Astaga Daniel, pekara snack elo sampai ribut sama anak kecil segala. Gila ya elo!"
''Kan gue dulu yang ngambil. Otomatis itu milik gue. Apa yang gue mau, harus jadi milik gue.''
''Iya tapi lawan elo bukan anak kecil. Sumpah, heran deh gue sama elo, bisa-bisanya berantem sama bocah. Kira harus balik ke kantor, Tuan Hutama sudah ngomel-ngomel.''
''Kalau itu hobi Papa emang, suka ngomel-ngomel. Apapun yang gue lakuin selalu salah.''
''Itu karena pekerjaan elo nggak pernah bener. Gimana perusahaan mau maju, kalau pemimpinnya kayak elo Daniel?''
''Halah itu urusan kecil. Terus snacknya gimana?''
''Kita cari di tempat lain, masih aja mikirin itu.''
''Itu kan snack favorit gue dari kecil, Fer.''
''Udah jangan banyak cing-cong, kita balik! Sebelum gue kena semprot juga.'' Ucap Fero dengan kesal. Akhirnya Daniel dan Fero pun segera kembali ke kantor.
Bersambung...
__ADS_1