Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 - Bab 22


__ADS_3

"Betapapun aku merindukannya, dia tidak akan pernah kembali lagi. Dia sudah pergi meninggalkan aku. Bahkan tanpa mengatakan apapun. Dia pergi begitu saja."


"Bagaimana jika dia benar - benar telah kembali."


Rama kembali mengulum senyum lembutnya seraya menatap Aruna lekat.


Apa kamu pikir orang yang sedang bersamamu itu adalah orang yang berbeda? Kamu yakin dia bukan orang yang kamu kenal?


Seketika Aruna teringat kembali isi pesan itu. Tapi apakah mungkin? Sedangkan saat ini dia sedang berada di makamnya Dicko.


"Jika dia kembali, apa kamu akan mencintainya dengan setulus hatimu?" tanya Rama. Dan pertanyaan Rama itu membuatnya teringat kembali janji yang dia ucapkan saat itu. Di depan kuburan ini.


Aruna menggeleng lemah, "aku tidak tau."


"Aku berharap, dia tidak akan kembali." tambah Aruna cepat.


"Kenapa?"


Aruna terdiam sesaat. Air mata itu kembali bercucuran. Tertumpah begitu saja. Membuat Rama ingin sekali membawanya ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, memberinya tempat ternyaman untuk menyandarkan segala kesedihannya, seperti dulu. Namun ini belum saatnya.


"Aku tidak akan sanggup menghadapinya. Aku sudah menyia - nyiakan orang yang paling berharga."


Seketika hati Rama serasa bagai diremas.


Menyia - nyiakan orang yang paling berharga?


Kenapa baru sekarang Aruna menyadarinya? Disaat segala sesuatunya akan sulit diperjuangkan. Terlebih, ada Bram diantara mereka. Jelas Bram akan menjadi aral tersulit untuk dilewati. Ditambah lagi, ikatan sakral diantara Bram dan Aruna. Yang takkan mungkin bisa diakhiri begitu saja.


Sungguh sangat sulit !


"Maaf. Tidak seharusnya aku mengatakan ini padamu." Ucap Aruna menyadari kesalahannya. Kemudian memutar tubuhnya cepat dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Diam - diam Rama mengekor di belakang Aruna dalam jarak yang cukup jauh. Sama seperti saat dia mengikuti Aruna sampai ke pekuburan itu.


Aruna kini sudah berada di trotoar jalan. Di seberang jalan, ada sebuah warung kecil. Aruna bermaksud membeli sebotol air minum untuk menghilangkan dahaganya. Kakinya sudah jauh beberapa langkah menyeberang jalan. Namun tiba - tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Dan Aruna tidak menyadari itu.


Begitu cepat mobil itu melaju hingga Aruna yang baru saja menyadarinya, tidak akan sempat untuk menghindar. Detik itu juga, kakinya seakan terpaku di tempat.


Lima ... empat ... tiga ... dua ...


Tinggal menghitung waktu. Sampai tiba - tiba ...


Hap !


Dengan cepat Rama menangkap tubuhnya dan mereka pun terhempas hingga ke trotoar jalan. Beruntung Aruna ada dalam dekapan Rama, hingga tubuhnya tidak terluka sedikitpun.


Dan Rama, punggungnya yang menghantam trotoar itu terasa sakit. Hingga dia pun hanya bisa meringis kesakitan.


Menyadari itu, segera Aruna melepaskan diri dari dekapan Rama.


"Maaf," seraya bangkit berdiri. Di ikuti oleh Rama.


"Kamu tidak apa - apa kan?" tanya Aruna cemas.


"Kamu masih saja ceroboh."


Deg !


Aruna tertegun. Yang berdiri di depannya adalah Rama. Tapi kenapa, sikapnya saat ini seperti Dicko. Berbeda dari Rama saat pertama kali bertemu. Apa benar kata Bram, bahwa dia masih mengharapkan Dicko?

__ADS_1


"Makasih ya?" ucap Aruna seraya mengulum senyum tipisnya.


Ya ampun, Rama rindu melihat senyum itu. Senyuman Aruna yang selalu membuat hatinya berdebar.


"Aku akan mengantarmu pulang." Tawar Rama.


"Tidak usah. Aku bisa pesan taksi. Nanti malah merepotkan kamu." Tolak Aruna halus.


"Aku tidak suka penolakan. Aku antar kamu pulang. Katakan dimana alamat rumahmu." Meskipun sebenarnya Rama tau di mana alamat rumahnya, tapi Rama harus tetap bertanya. Karena akan aneh jika tiba - tiba saja Rama tau alamat rumahnya. Yang sebenarnya adalah rumahnya juga.


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri pake tak__" belum sempat Aruna menyelesaikan kalimatnya, Rama sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya. Dan membawanya sampai ke mobilnya yang terparkir tidak jauh di seberang.


Rama langsung membukakan pintu mobil dan mendesak Aruna naik ke mobilnya dan di susul oleh Rama yang dengan mengambil posisi di depan kemudi.


Tanpa menunggu waktu lama, Rama langsung menghidupkan mesin mobil lalu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota.


____


Mobil yang di kendarai Rama perlahan memasuki basement apartemennya. Bukannya mengantarkan Aruna pulang ke rumahnya, Rama malah membawa Aruna ke apartemennya. Masalahnya, Rama tidak tega membangunkan Aruna yang sudah tertidur lelap di mobilnya itu.


Rama memutuskan akan menunggunya sampai terbangun dari tidurnya. Dengan membiarkan mesin mobil masih menyala.


Aruna terlihat damai dalam tidurnya. Dan Rama senantiasa menatap wajah damai itu tanpa bosan. Sudah begitu lama dia rindu ingin menatap wajah itu lagi.


Tanpa sadar, titik - titik air bening itu jatuh bebas dari pelupuk matanya. Dan tanpa melepaskan sedikitpun tatapannya dari wajah Aruna.


Wanita yang teramat di cintainya itu telah menjadi milik orang lain. Milik adiknya sendiri. Mungkin salahnya, pergi tanpa memberitahu apapun pada Aruna. Mungkin salahnya merelakannya begitu saja untuk adiknya. Mungkin salahnya tidak memperjuangkan cintanya.


Dan kini, disaat dia ingin berjuang, semuanya terasa begitu berat dan sulit. Bahkan teramat sulit.


Cintanya pada Aruna membuat hatinya tidak akan pernah bisa menerima wanita manapun dalam hidupnya selain Aruna. Aruna adalah cinta dan hidupnya. Aruna adalah segalanya baginya.


Buru - buru Rama menarik kembali uluran tangannya dan menghapus air matanya sebelum Aruna melihatnya.


Aruna kini mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mengamati keadaan di luar mobil. Namun dahinya mengerut saat menyadari mereka sedang berada di tempat yang belum pernah Aruna kunjungi sebelumnya.


"Kita ada di mana?" tanya Aruna cemas.


"Di parkiran."


Aruna menatap Rama dengan kernyitan di dahinya.


"Parkiran?"


"Kita ada di apartemenku. Tadi kamu tertidur, aku hanya tidak tega membangunkan kamu."


Aruna menundukkan wajahnya. Sebab merasa malu tak bisa menahan rasa kantuknya.


"Kita mampir dulu sebentar. Aku buatkan kamu minum. Setelah itu aku antar kamu pulang." Tawar Rama.


Awalnya Aruna tampak ragu. Namun akhirnya dia pun menerima tawaran Rama. Entah kenapa hatinya tidak bisa menolak.


Sejurus kemudian, kini mereka terlihat memasuki unit 273 lantai 13, apartemennya Rama.


"Silahkan duduk."


Aruna pun lantas mendudukkan dirinya di sofa. Sementara Rama berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil jus kemasan dari dalam sana lalu menuangkannya ke dalam gelas.


Entah apa yang ada dalam pikiran Aruna saat ini. Berada dalam satu apartemen bersama pria asing sungguh diluar perkiraannya sebelumnya. Entah kenapa dia tidak bisa menolak ajakan Rama. Dan sesaat melupakan Bram. Yang kerap mewanti - wantinya agar menjauhi Rama. Kalau Bram tau apa yang Aruna lakukan saat ini, entah seperti apa kemarahan Bram nanti.

__ADS_1


Aruna bangun dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah jendela kaca dan melihat - lihat pemandangan di luar sana. Saat Rama datang dan menaruh segelas jus di meja sofa itu.


Saking terlalu asik menikmati pemandangan di luar sana dan larut dalam pikirannya yang menerawang, hingga Aruna tidak menyadari Rama kini telah berdiri di sampingnya.


___


Sementara itu, Papa Danu saat ini tengah berada di ruang kerjanya Rama. Mencari - cari keberadaan Rama. Yang sejak tadi belum juga menampakkan batang hidungnya. Dan hal itu jelas membuat Papa Danu semakin cemas.


Bahkan semakin cemas lagi tatkala dia menemukan foto Aruna terpajang indah di sudut meja kerja Rama. Selama Rama kehilangan ingatannya, Papa Danu sudah berusaha menyingkirkan segala sesuatu yang bisa mengingatkan Rama pada Aruna. Bahkan mengganti sudah ponselnya yang tersimpan begitu banyak foto Aruna di dalamnya. Lalu bagaimana bisa foto itu ada di ruangannya.


Andre yang datang mengantar sebuah dokumen yang harus di pelajari Rama itu pun tidak bisa menemukan keberadaan Rama. Bahkan Andre sudah mencoba menghubungi ponselnya, namun ponsel Rama malah nonaktif.


.


Saking terlalu asik menikmati pemandangan di luar sana dan larut dalam pikirannya yang menerawang, hingga Aruna tidak menyadari Rama kini telah berdiri di sampingnya.


"Apa yang membuatmu cemas?" pertanyaan Rama sontak mengagetkan Aruna. Lalu memalingkan wajahnya, menatap Rama.


Aruna tersenyum hampa. Sembari menggeleng lemah, "entahlah."


"Apa aku begitu mirip dengan orang yang kamu kenal?"


Aruna cukup menganggukkan kepalanya.


"Seperti apa orangnya? pribadinya mungkin?"


Namun kini Aruna tersenyum manis menatap Rama. Membuat hati Rama semakin berdebar.


"Dia tidak akan pernah bisa disamakan dengan pria manapun."


Melihat senyum manis Aruna membuat Rama semakin terhanyut. Hingga tanpa sadar tangannya mulai terulur menyentuh wajah Aruna.


Sama halnya dengan Aruna, yang tanpa sadar semakin terhanyut dengan tatapan sendunya Rama. Tatapan mereka masih saling bertaut, saat Rama perlahan mulai mendekatkan wajahnya. Semakin dekat, hingga sapuan napas hangat Rama terasa menyapu wajahnya.


Ya ampun. Aruna sangat rindu tatapan itu. Tatapan itu sangat mirip dengan cara Dicko menatapnya dulu. Sangat dalam.


Perlahan wajah Rama semakin dekat. Bahkan tanpa menyisakan jarak sedikitpun. Hanya tinggal beberapa inci saja, bibir Rama akan menyentuh bibir Aruna. Hingga tiba - tiba ...


Ting Tong ... Ting Tong


Bunyi bel pintu menyadarkan mereka dari kekhilafan yang hampir saja terjadi.


Rama pun berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu itu. Saat pintu terbuka, sesosok pria paruh baya berdiri menatapnya penuh selidik.


Papa Danu.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Kabar baik kan readers 🤗


Jangan lupa tetap jaga kesehatan biar ibadahnya lancar.


Saranghae ❤️

__ADS_1


Otor Kawe


__ADS_2