
''Kenapa kamu menghentikan aku untuk memukul orang tua itu? Dia sudah meremehkan aku dan juga kamu,'' kesal Daniel.
''Tuan Daniel, kalau sampai terjadi adu fisik, semuanya akan semakin runyam. Apalagi Tuan Vincent, tentu dia tidak akan tinggal diam. Kalau sampai dia membawa kasus ke jalur hukum, bukan hanya nama anda taruhannya tetapi nama besar Tuan Hutama dan juga nama perusahaan.''
''Memangnya kamu tidak marah dan tersinggung dengan ucapannya itu?''
''Tentu saja aku tersinggung, aku bahkan bisa saja menampar wajahnya. Tetapi aku masih bisa mengabaikannya, selama dia tidak menyentuhku atau melecehkanku. Aku juga tidak bisa gegabah karena harus menjaga nama anda dan juga perusahaan. Apalagi Tuan Vincent punya pengaruh cukup besar dengan perusahaan. Beliau satu-satunya kontributor bahan mentah untuk bahan produksi kita. Sebelum berangkat meeting, Fero sudah memberitahuku tentang klien kita hari ini. Jadi aku juga tahu kalau dia mata keranjang dan suka wanita cantik. Tapi beliau juga tidak pelit dan bisa memberi harga murah untuk perusahaan. Orang seperti dia, tidak suka dikasar, jadi aku berusaha lembut dan tenang. Buktinya dia meminta maaf padaku. Kalau kita bisa membranding diri kita mahal dan terhormat, tentu saja prespektif orang terhadap kita berbeda. Coba saja aku bersikap genit, tentu aku akan dibranding murahan. Itulah pentingnya membranding diri, Tuan. Sama seperti Tuan yang sudah membranding diri anda sebagai Cassanova.'' Jelas Aruna panjang lebar. Daniel semakin kagum dengan Aruna, Aruna begitu dewasa dan bisa membaca situasi, bahkan bisa menempatkan diri.
''Aku tidak menyangka kamu sehebat itu. Sungguh bodoh sekali suami mu Aruna, menyia-nyiakan berlian sepertimu,'' gumam Daniel dalam hati.
''Asal Tuan tahu, aku juga pernah memukul klien, bahkan aku meninju dan menendangnya. Itu dulu saat aku masih menjadi sekretaris Tuan Hutama,'' cerita Aruna dengan tawa kecilnya.
''Memang apa yang di lakukan klien Papa?''
''Dia mencolek pantatku. Langsung saja aku tampar, aku tinju wajahnya dan aku tendang perutnya sampai dia tersungkur di lantai.''
''Memang kamu sekuat itu?'' tanya Daniel dengan senyum meremehkan.
''Tanya saja pada Tuan Hutama. Bahkan saat itu juga Tuan Hutama membatalkan kerja sama tanpa pikir panjang saat tahu aku di lecehkan. Tuan Hutama bahkan rela kehilangan klien demi menjaga kehormatan sekretarisnya. Dan alhasil klien itu di blacklist diamanapun. Tuan Hutama memang sangat tegas.''
''Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan itu. Tapi memang sebenarnya kamu sangat galak sih.''
''Tergantung siapa yang aku hadapi Tuan. Kalau melihat pria kurang ajar yang mengaku suamiku, tentu saja aku akan mengahajarnya.''
''Ya, ya, ya, aku memang kurang ajar dan brengsek. Tentu saja Fero sudah menceritakan semua keburukan ku padamu. Bahkan berapa jumlah wanita yang pernah kencan bersamaku.''
''Tidak masalah! Selagi anda belum menikah, anda milik bersama. Tapi setelah menikah, anda milik istri dan anak anda.'' Ucap Aruna dengan tawa kecilnya, Daniel pun ikut tertawa kecil mendengar ucapan Aruna.
''Milik bersama, memangnya aku apaan.''
''Tuan tampan dan banyak uang, tentu saja banyak wanita yang mau bersama anda. Bukankah begitu?''
Daniel mendecih. ''Ya, kamu benar Aruna. Begitulah sikap wanita.''
Tiba-tiba ponsel Aruna berdering, ada nama kepala sekolah di layar ponsel Aruna.
''Halo! Selamat siang, Bu Nana.'' Sapa Aruna.
__ADS_1
''Selamat siang Nyonya Aruna. Nyonya, saya mohon kehadiran Nyonya di sekolah.''
''Ada apa ya Bu?''
''Ini tentang Zidane, Nyonya. Saya harap, anda bisa ke sekolah.''
''Ba-baik Bu, saya akan segera ke sekolah.''
''Baiklah Nyonya, terima kasih. Saya tunggu ya, selamat siang.''
''Iya Bu Nana, selamat siang.'' Panggilah pun berakhir.
''Tuan, aku minta ijin ke sekolah. Sepertinya masih ada waktu untuk ke tempat relokasi.''
''Memang ada apa?''
''Sepertinya ada masalah pada Zidane. Bisa hentikan mobilnya disini, aku akan naik taksi. Setelah selesai, aku akan segera menyusul ke tempat relokasi.''
''Aku akan mengantarmu sekalian. Kalau naik taksi, akan lama. Karena daerah sini jarang di lewati taksi.''
''Baiklah, terima kasih.'' Ucap Aruna. Daniel bisa melihat kalau Aruna sangat cemas. Tak lama kemudian ponselnya berdering lagi, ada nama Arya di layar ponselnya. Sejak pergi dari rumah bersama istri sirinya, baru kali ini Arya menelpon Aruna.
''Iya Mas. Apa kamu juga?''
''Iya aku juga. Dan sekarang aku sedang perjalanan ke sekolah. Kamu dimana? Biar aku jemput.''
''Tidak usah, Mas. Karena aku juga sudah di jalan, sampai bertemu disekolah.''
''Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati ya, Aruna.''
''Iya Mas.'' Panggilan berakhir.
Daniel hanya diam mendengar percakapan Aruna dan suaminya. Terkadang diam dan pura-pura tidak tahu itu sangat menyebalkan.
...****************...
Sesampainya di sekolah, Arya dan Aruna tiba di sekolah bersamaan. Yang sangat mengejutkan bagi Arya adalah, Aruna turun dari mobil mewah bersama seorang pria. Mendadak Arya dikuasai rasa cemburu. Ia lalu berjalan mendekati mobil Daniel.
__ADS_1
''Aruna!" seru Arya.
''Mas, kamu sudah sampai?''
''Oh jadi ini alasan kamu meminta cerai. Ternyata benar dugaanku, kalau kamu ada pria lain.''
''Jaga ucapanmu, Mas! Beliau ini atasan aku. Kami baru saja selesai bertemu klien dan kebetulan saat di jalan, aku mendapat telepon dari kepala sekolah.''
''Kamu sudah bekerja?''
''Iya. Aku diterima menjadi sekretaris. Aku malas berdebat denganmu. Sejak kamu pergi dari rumah, kamu bahkan tidak bertanya tentang kabar Zidane. Jadi jangan asal menuduhku, Mas. Koreksi dulu diri kamu.'' Marah Aruna.
''Tuan Daniel, saya permisi ke dalam.'' Pamit Aruna pada bosnya.
''Iya, silahkan.'' Jawab Daniel dengan gaya sok coolnya. Sementara Arya menatap Daniel penuh rasa cemburu, sedang Daniel menatap kesal Arya. Arya kemudian berlalu menyusul Aruna menuju ruang kepala sekolah.
''Ternyata suaminya pergi dari rumah dan mereka sedang proses cerai. Memang pria seperti itu, pantas mendapatkan itu. Tapi kasihan Aruna dan Zidane. Eh, eh, kenapa aku malah kasihan? Bukan urusanku juga.'' Gumam Daniel. Daniel kemudian memilih ikut masuk dan melihat sekolah Zidane.
''Tuan Arya dan Nyonya Aruna, apakah sedang terjadi sesuatu dirumah? Karena Zidane berubah menjadi pemarah dan pembangkang. Bahkan tadi saat di kelas, ada salah satu temannya meminjam pensil, dia sama sekali tidak mau meminjamkannya. Dia membentak temannya dan bilang 'jangan ambil apa yang menjadi milikku, beli saja sendiri' begitu yang terjadi. Dan akhirnya terjadi keributan di kelas, Zidane juga sempat mendorong temannya. Dia juga akhir-akhir ini banyak melamun, bahkan semua nilainya turun. Padahal sebelumnya Zidane tidak pernah seperti itu. Dia selalu ceria dan nilainya juga tidak pernah turun drastis seperti ini.'' Jelas Bu Nana, kepala sekolah Zidane. Aruna menghela nafas panjang, ia melihat kearah Arya yang duduk disampingnya.
''Dirumah baik-baik saja, Bu. Mungkin mood Zidane sedang tidak baik.'' Sahut Arya.
''Mungkin akhir-akhir ini karena kami sebagai orang tua kurang memperhatikannya, Bu. Kami akan lebih memperhatikannya lagi.'' Sambung Aruna.
''Iya Nyonya Aruna, terkadang kondisi di rumah yang tidak baik, bisa mempengaruhi psikis anak. Apalagi untuk Zidane yang masih seusia itu. Kami tadi mencoba komunikasi dengannya tapi Zidane sama sekali tidak mau menjawab, dia hanya diam. Karena perubahannya akhir-akhir ini sangat mencolok. Jadi mohon kerja samanya Tuan-Nyonya.''
''Baik Bu Nana, kami akan lebih dekat pada Zidane. Sekali lagi maafkan kami karena Zidane harus seperti ini.'' Kata Aruna.
''Baiklah karena sudah waktunya pulang, Tuan dan Nyonya bisa langsung menjemput Zidane di kelasnya.''
''Iya Bu, sekali lagi kami mohon maaf dan terima kasih telah mendiskusikannya kepada kami.'' Ucap Aruna.
''Iya Nyonya, sudah seharusnya kita komunikasi membahas tentang perkembangan anak-anak.''
''Kalau begitu kami permisi, Bu.'' Sahut Arya.
''Iya, silahkan.''
__ADS_1
Arya dan Aruna kemudian meninggalkan ruangan kepala sekolah. Mereka berdua lalu berjalan menuju kelas Zidane.
Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️