
Melihat Aruna yang sudah benar-benar mabuk, Daniel kemudian merangkul Aruna dan mengajaknya pergi meninggalkan acara itu. Beberapa kali Aruna hampir terjatuh karena mabuknya semakin parah. Namun Daniel sekuat tenaga menahan tubuh Aruna supaya tidak terjatuh.
Sambil berjalan, Aruna terus mengoceh.
''Tuan, berhentilah menyakiti hati wanita. Rasanya sangat sakit Tuan disakiti. Belajarlah setia pada satu wanita. Apa anda mengerti? Karena bukan hanya hati yang sakit tapi juga mental mereka.''
''Sedang mabuk, masih saja bisa ceramah.'' Gumam Daniel dalam hati.
''Ingat ya Tuan, karma itu ada. Jadi berhenti mempermainkan hati wanita. Apalagi Tuan juga terlahir dari seorang wanita. Kalau anda menyakiti wanita, sama saja seperti anda menyakiti ibu anda.''
''Wanita itu mau mendekat denganku karena uangku, bukan karena cinta.'' Daniel masih bisa membantah racauan Aruna.
''Apapun itu, pasti anda juga kan yang memulainya. Kalau anda tidak memulainya, mereka juga tidak akan tertarik apalagi mendekat. Anda sendiri suka tebar pesona. Memang ya semua pria itu sama saja. Sama-sama brengsek dan penghianat. Sepertinya tidak cukup dengan satu wanita. Dasar buaya darat!" Aruna melampiaskan kekesalannya dengan mengguncang tubuh Daniel. Daniel hanya bisa pasarah menghadapi Aruna. Sampai akhirnya mereka sampai di parkiran dan Daniel segera memasukkan Aruna kedalam mobilnya.
Aruna langsung tergeletak tak berdaya di dalam mobil. Daniel kemudian melepas jasnya untuk menyelimuti tubuh Aruna.
''Zidane, maafkan Mami.'' Aruna meracau kembali.
''Maafkan Mami yang tidak bisa menjaga Papi untuk kamu. Maafkan Mami.'' Dengan mata terpejam Aruna melepas tangisnya. Aruna menangis sesenggukan di alam bawah sadarnya. Melihat Aruna menangis, entah kenapa Daniel merasa kasihan dan tidak tega. Daniel membiarkan Aruna melepas tangis kesedihannya, hingga akhirnya Aruna tiba-tiba muntah mengotori baju dan mobik Daniel.
''ARUNA! KAU menyusahkan aku saja!" teriaknya dengan kesal. Teriakan Daniel, sesaat membuat mata Aruna terbuka dan setengah sadar. Melihat mobil dan bosnya kotor, Aruna mengambil tisu dari tasnya. Ia pun menyeka bibir dan juga pakaian Daniel.
''Tuan, maafkan aku! Aku tidak sengaja. Perutku mual, kepalaku pusing. Maafkan aku!" ucapnya dengan panik.
''KAU ini, ihhhhh!" Daniel mengeratkan rahangnya sambil mengepalkan kedua tangannya. Aruna lalu hendak melepas kemeja Daniel. Mata Daniel membulat.
''Apa yang kamu lakukan?''
''Baju Tuan kotor, aku akan melepasnya dan mencucinya.''
''Tidak usah!" bentak Daniel.
''Maa....af." Dan Aruna akhirnya pingsan tepat di dada bidang Daniel.
''Dia sungguh merepotkan. Tidak tahu apa kalau yang dia minum alkohol. Kotor semua bajuku.'' Daniel mendumel dengan kesal. Daniel kemudian menyandarkan tubuh Aruna seperti semua. Ia kemudian melepas kemejanya dan menyisakan kaos putih di tubuhnya.
Akhirnya setelah tiga puluh menit perjalanan, Daniel sampai juga di rumah Aruna. Tidak ada jalan lain bagi Daniel selain menggendong Aruna.
Zidane sendiri sudah tidur. Tinggalah Gita, Bi Tuti dan Mbak Lasmi yang sedang menonton televisi bersama diruang tengah sembari menunggu Aruna pulang.
Ting tung! Ting tung! Suara Bel pintu rumah Aruna berbunyi.
''Biar saya saja Bi yang buka.'' Kata Gita.
''Tapi Non?'' kata Bi Tuti.
''Sudah, tidak apa-apa.'' Gita beranjak dari duduknya dan segera membuka pintu. Gita terbelalak, matanya membulat, melihat Aruna pingsan dan dalam gendongan seorang pria.
''Aruna!" seru Gita dengan khawatir.
''Dimana kamar Aruna?'' tanya Daniel.
__ADS_1
''Ada apa dengan Aruna? Kamu siapa?'' tanya Gita dengan ekspresi menantang. Bi Tuti dan Mbak Lasmi lalu menyusul Gita ke depan.
''Tuan tampan!" kompak Bi Tuti dan Mbak Lasmi.
''Bibi sama Mbak Lasmi kenal?'' tanya Gita.
''Iya Nona.'' Kata Bi Tuti.
''Sudah cepat tunjukkan kamar Aruna. Berat ini!" kata Daniel.
''Diatas Tuan!" kata Bi Tuti. Bi Tuti lalu menunjukkan kamar Aruna, Daniel mengekor dari belakang. Setelah sampai di kamar Aruna, Daniel kemudian merebahkan tubuh Aruna di atas tempat tidur. Daniel juga melepas sepatu Aruna lalu menyelimuti tubuh Aruna.
''Tuan, apa yang terjadi dengan Nyonya?'' tanya Bi Tuti.
''Tadi dia salah minum. Dikira minuman sari buah tapi ternyata minuman beralkohol. Jadi dia mabuk.'' Jelas Daniel.
''Mabuk? Yakin dia mabuk sendiri? Bukan karenamu kan? Sebenarnya siapa kamu?'' Gita menatap penuh selidik. Apalagi melihat Daniel yang hanya memakai kaos ketat putih saja.
''Jangan salah sangka, aku melepas pakaianku karena Aruna muntah dan mengotori pakaianku. Saat Aruna sadar, sebaiknya berikan dia susu hangat dan berikan dia sup untuk menghilangkan pengar. Sampaikan maafku pada Zidane karena tidak bisa menjaga Maminya. Kalau besok Aruna masih pusing, katakan padanya untuk istirahat saja dulu dirumah. Aku permisi.'' Jelas Daniel panjang lebar.
''Terima kasih Tuan sudah mengantar Nyonya.''
''Sama-sama Bi.'' Daniel kemudian pamit dan meninggalkan rumah Aruna.
''Bi, itu siapa? Bibi dan Mbak Lasmi kenal darimana?'' Gita mulai menginterogasi keduanya.
''Jadi Tuan tampan itu adalah atasan Nyonya di kantor, Nona. Namanya Tuan Daniel. Tuan Daniel lah yang menyelamatkan Nyonya dalam kecelakaan waktu itu. Dan Tuan Daniel juga yang membayar semua biaya rumah sakit Nyonya. Apalagi saat kecelakaan itu Tuan Arya tidak bisa dihubungi.'' Jelas Bi Tuti.
''Ya sudah Bi, kalau begitu biarkan Aruna istirahat. Saya akan menginap, memastikan Aruna baik-baik saja. Oh ya Tuan Arya sama sekali tidak pulang?''
''Tidak Nona. Bahkan sejak pergi dari rumah, Tuan sama sekali belum ke rumah untuk menjenguk Den Zidane.'' Kata Bi Tuti.
''Kasihan sekali Aruna. Pasti. sangat berat beban mentalnya.'' Gumam Gita dalam hati.
''Non, saya siapkan kamarnya ya?'' sahut Mbak Lasmi.
''Tidak usah, Bi. Saya tidur disini saja. Saya bisa tidur disofa. Saya akan menemani Aruna malam ini.''
''Baik Nona.''
Keesokan harinya, saat Aruna terbangun, kepalanya terasa sangat berat. Aruna menyugar kebelakang rambut indahnya itu. Ia memijit kepalanya sambil mengingat apa yang semalaman terjadi.
''Run, sudah bangun!" Gita datang membawa nampan berisi segelas susu dan semangkok sup.
''Gita, elo masih disini?''
''Iya, gue nginap. Habisnya gue khawatir sama elo. Dinda sebentar lagi juga bakal kesini.''
''Zidane gimana?''
''Zidane udah kesekolah sama gue tadi.''
__ADS_1
''Thanks banget ya. Gue nggak tahu nih, kepala gue berat banget. Tapi malam ini gue bisa tidur nyenyak banget. Masalah itu hampir bikin gue susah tidur.''
''Ini minum dulu susunya dan setelah itu makan supnya. Setelah itu elo bisa ingat-ingat lagi deh kejadian semalam.''
''Thanks ya.''
''Iya sama-sama. Sambil makan, gue mau tanya nih. Sedekat apa elo sama si Tuan tampan?'' goda Gita.
''Tuan tampan? Siapa Tuan tampan?''
''Tuan Daniel. Superhero penyelamat Aruna.'' Ucap Gita dengan tawa lebarnya.
Aruna mendecih. ''Apaan sih? Nggak ada hubungan apa-apa, Git. Gue kerja juga untuk bayar hutang dia kok. Dan sebenarnya Tuan Daniel itu putra dari Tuan Hutama, bos gue yang dulu.''
''Hah? Serius lho?''
''Iya Git. Gue sebenarnya juga nggak nyangka. Dan pas gue lagi cari kerja, gue ketemu sama Tuan Hutama. Dan beliau menawarkan untuk bekerja diperusahaannya. Gue juga nggak nyangka kalau Tuan Hutama meminta gue untuk menjadi sekretaris anaknya.''
''Tapi kayaknya dia juga dekat sama Zidane.'' Gita semakin tertarik mendengar cerita Aruna.
''Sebenarnya pertemuan awal kami di supermarket. Waktu itu dia merebut snack kentang kesukaan Zidane. Gue sebel banget karena dia kekanakan bahkan sampai tega berebut makanan dengan anak kecil. Ya hanya itu saja. Tapi setelah itu, kita beberapa bertemu kembali dengan situasi yang benar-bejar menjengkelkan.'' Cerita Aruna dengan tawa kecilnya.
''Oh begitu ceritanya. Eh tapi baik juga ya, baru ketemu udah bayarin biaya rumah sakit. Jangan-jangan kalian jodoh lagi,'' goda Gita.
''Gita, sidang putusan cerai aja belum deal udah mikirin jodoh. Apalagi untuk saat ini, Git. Memulihkan hati dan mental itu yang paling utama. Terutama untuk Zidane. Zidane kemarin membuat masalah disekolah dan ini karena gue. Gue merasa bersalah banget sama Zidane. Sebenarnya semalam di pesta itu, gue ketemu sama Mas Arya. Ya, disana kita berdebat karena Mas Arya menuduh gue dan Tuan Daniel yang tidak-tidak. Dia meminta membatalkan perceraian tapi saat gue minta buat ninggalin wanita itu, dia tidak bisa.''
''Emang ya keterlaluan banget si Arya. Benar-benar egois.''
''Dan akhirnya gue melipir lah menyendiri. Ada pelayan lewat, gue minum tuh delapan gelas sari buah sampai habis.''
''Itu minuman alkohol Aruna. Elo semalam pulang dalam keadaan mabuk dan diantar sama Tuan tampan itu. Bahkan elo muntahin bajunya.''
''Hah? Apa? Gue muntah?'' mata Aruna membulat.
''Gawat, gawat! Gue pasti di pecat nih. Aduh, ini jam berapa Git?''
''Jam 10 Aruna!"
''Gue telat dong!" Aruna mulai panik. Ia mencari ponselnya utnuk menelepon Daniel.
''Semalam Tuan tampan pesan kalau elo masih pusing, disuruh istirahat aja. Jadi dia tahu kalau elo nggak mungkin bangun pagi, Aruna. Pantesan aja elo teler, delapan gelas habis.''
''Ya ampun! Pantesan minuman itu pahit. Gue udah sumpek aja semalam ketemu Mas Arya. Jadi pas ditawarin minum sama pelayan, gue habisin aja.''
''Pokoknya elo jangan lemah sama Mas Arya ya, Run. Sidang perdana lusa, Run. Sudah pasti elo bakal menang dalam sidang ini.''
''Thanks ya, Git. Elo udah bantu gue.''
''Sama-sama Aruna. Seharusnya elo jangan kerja dulu kemarin, mending liburan dulu.''
''Zidane harus sekolah, Git. Jadi mana bisa. Gue lebih seneng kerja, dengan gue sibuk, gue bakal lupain semuanya.''
__ADS_1