
"Aruna ..." panggil Dicko.
Aruna pun menoleh. Kini, Aruna tengah berdiri diantara dua pria. Kemana seharusnya langkah kakinya tertuju? Kepada Bram atau Dicko?
Aruna tampak berpikir. Dan seketika, ucapan Papa Danu terngiang kembali di telinganya.
Jangan sampai keputusan yang kamu ambil nanti, akan menyakiti kedua putera Papa.
Aruna menghembuskan napasnya panjang. Jujur, saat ini, ingin sekali dia pergi ke pelukan Dicko. Akan tetapi, entah kenapa hatinya mendadak urung saat melihat Dicko sedang bersama Sarah. Seketika dia merasa seakan tertampar. Seakan keberadaan Sarah secara tidak langsung telah membuka matanya. Bahwa dia bukan wanita yang pantas untuk pria itu.
Akhirnya, perlahan Aruna membawa langkah kakinya menghampiri Bram. Dan memberinya tatapan yang tajam.
"Mari kita bicara baik - baik. Aku akan menjelaskan semuanya. Please ..." pinta Bram sambil menatap sayu.
"Semuanya sudah cukup jelas. Mari kita akhiri hubungan kita sampai disini. Aku minta, jangan pernah datang menemuiku lagi." Tegas Aruna berkata.
Dengan mengambil langkah cepat, kemudian Aruna pergi meninggalkan Bram setelah sempat memandangi Dicko dari kejauhan.
Bram hanya bisa diam terpaku. Bram begitu shock mendengar ucapan Aruna. Mendadak semuanya terasa bagai mimpi buruk baginya. Hatinya begitu hancur. Dia tidak menyangka akan seceroboh ini. Dan terperangkap dalam jebakan Mona.
Bram begitu frustasi sekarang. Apa yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan Aruna. Sedangkan video itu secara jelas memperlihatkan perbuatannya. Dan Bram tidak akan bisa mengelak lagi.
Sementara Dicko, ingin rasanya dia menyusul Aruna. Akan tetapi, sikap yang ditunjukkan Aruna tersebut membuat Dicko merasa seakan Aruna mulai menjauhinya. Atau mungkin saja Aruna salah paham dengan Sarah. Aruna mungkin butuh waktu untuk sendiri saat ini. Dan niatnya untuk mengejar Aruna pun urung. Dan justru berjalan menghampiri Bram. Lalu menepuk lembut pundak Bram.
Dicko bisa merasakan apa yang Bram rasakan saat ini. Jelas terlihat ada pertengkaran lagi diantara mereka.
.
.
Bram terduduk lesu di sofa itu. Dicko mengajak Bram ke apartemennya. Saat ini, yang Bram butuhkan adalah support dari orang - orang terdekatnya. Tidak terkecuali Dicko, kakaknya.
"Biarkan dia sendiri dulu." Ucap Dicko sembari mengambil duduk di samping Bram.
"Mungkin saat ini dia butuh waktu untuk menata hatinya kembali." Tambahnya lagi.
Dicko belum tahu masalah apalagi yang menimpa Bram kali ini. Dicko sudah mencoba menahan dirinya untuk tidak menemui Aruna. Agar Aruna bisa menyelesaikan masalahnya dengan Bram dan bisa kembali bersama Bram. Meskipun lagi dan lagi hatinya terluka itu. Sekali lagi dia harus merelakan wanita yang dicintainya untuk adiknya.
"Aku sudah tidak punya harapan lagi. Aruna sangat membenciku skarang. Apa yang bisa aku lakukan? Aruna bersikeras ingin bercerai." Ucap Bram lesu.
"Bram ... Aku minta maaf sudah menjadi penyebab keretakan hubungan kalian. Sesuai permintaan kamu, aku sudah meminta Aruna untuk kembali padamu dan memintanya untuk membatalkan niatnya bercerai. Lalu kenapa skarang seperti ini? Apa kalian sudah saling bicara?"
Bram menggeleng lalu mengacak kasar rambutnya. Kalau dia jujur pada Dicko, sebenarnya dia juga malu. Hal seperti ini pernah menimpanya sebelumnya. Tetapi saat itu ada Dicko yang membantunya. Dan sekarang, Bram sendirian. Dan kali ini lebih parah dari kejadian waktu itu bersama Hanna.
"Aku di jebak."
"Di jebak?" Dicko terkejut, "maksud kamu?"
Baram pun akhirnya menceritakan perihal kejadiannya dengan berat hati. Ulahnya sendiri, kenapa harus berpura - pura menjalin hubungan dengan Mona. Dan kenapa juga, mau - mau saja diajak Mona ke Bar dan minum - minum. Dan akhirnya, begini kan hasilnya.
.
.
__ADS_1
Sementara itu. Hari mulai beranjak malam. Di sebuah kafe, Aruna tengah duduk termenung seorang diri. Dia tidak tahu harus kemana. Ke rumah Om dan Tantenya, rasanya tidak mungkin. Dia tidak ingin membuat keluarganya cemas. Setelah kabar tentang kegugurannya dia tidak ingin lagi menambah kecemasan mereka.
Di seberang mejanya ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya. Sejak Aruna tiba di kafe itu sampai detik ini Aruna hanya duduk diam. Bahkan jus yang di pesannya sejak tadi belum tersentuh sama sekali.
Sudah hampir dua jam Aruna duduk di kafe itu. Karena pengunjung kafe semakin banyak berdatangan, dan membutuhkan meja. Aruna pun memutuskan pergi dari kafe itu. Dengan langkah gontai dan pandangan kosong, Aruna mulai melangkahkan kakinya keluar dari kafe. Dan sepasang mata seseorang masih mengawasinya.
Tidak tahu harus kemana, Aruna berjalan tanpa arah menyusuri trotoar. Dia terus berjalan. Tiba - tiba, dia hendak menyeberang. Entah kenapa dan entah mau kemana. Pikirannya saat ini sedang kosong.
Dari kejauhan, tampak sebuah mobil sedang melaju kencang ke arahnya. Dan Aruna sudah hampir berada di tengah jalan. Aruna tidak menyadarinya sebab pikiran dan raga yang tidak sinkron.
DIIIN ... DIIIIN ... DIIIN ...
Berkali - kali terdengar bunyi klakson, tetapi Aruna seakan tidak mendengarnya sama sekali. Dia terus saja berjalan, bahkan sudah sampai di tengah jalan. Dan mobil itu semakin mendekat kearahnya. Bahaya pun mulai mengintai. Aruna masih saja belum menyadarinya.
DIIIN ... DIIIN ... DIIIN ...
Terdengar bunyi klakson sekali lagi. Masih saja Aruna belum menyadarinya. Bahkan pejalan kaki lain terdengar meneriakinya.
"Neng ... awas Neng ... ada mobil."
Tapi Aruna terus saja berjalan. Dengan pandangan kosong dan pikiran menerawang.
Sampai tiba - tiba, sepasang tangan kekar menangkap tubuhnya dan membawanya menghindari mobil yang sedang melaju kencang kearahnya.
Bugh !
Terdengar suara hantaman keras saat tubuh mereka mendarat mulus di aspal jalan. Seketika Aruna pun tersadar. Sekali lagi dia terhindar dari bahaya. Dan seseorang telah menolongnya lolos dari maut malam ini.
Aruna bergegas bangun dan di ikuti seseorang yang menolongnya.
"Apa kamu mau mati?" hardik pria yang telah menolongnya. Sebuah suara yang sangat familiar.
Sontak Aruna pun mengangkat wajahnya. Dicko tengah menatapnya tajam. Lagi - lagi pria itu yang telah menolongnya.
"Kalau bisa, aku ingin mati skarang juga."
"Kamu__" amarah Dicko tertahan.
Untung saja Andre menelponnya dan memberitahunya dimana Aruna berada saat ini. Andre yang malam itu sedang makan malam bersama pacarnya di kafe yang sama, tanpa sengaja melihat Aruna sedang duduk termenung seorang diri. Andre terus mengawasi gerik Aruna. Hingga saat Aruna keluar dari kafe itu dalam keadaan melamun, timbul kekhawatiran Andre. Dan langsung berinisiatif menghubungi Dicko. Entah kenapa, tapi hanya Dicko yang terlintas di pikirannya saat itu.
"Aku antar kamu pulang. Bram sedang menunggumu sekarang. Bicaralah dengannya baik - baik. Dengarkan semua penjelasannya."
"Aku tidak mau pulang."
"Lalu kamu mau kemana?"
"Aku tidak tau."
"Maaf, kali ini aku tidak bisa membawamu ke apartemenku."
Aruna pun berbalik dan hendak pergi. Tapi dengan cepat Dicko meraih pergelangan tangannya. Lalu membawanya menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat itu. Dicko mendesaknya masuk.
Di dalam mobil itu Aruna suasana hening untuk beberapa saat. Aruna mengarahkan pandangannya keluar jendela mobil. Sementara Dicko tengah memperhatikannya.
__ADS_1
"Aku tau apa yang terjadi. Bram sudah cerita." Ucap Dicko memecah keheningan.
Hening. Tidak ada tanggapan dari Aruna.
"Kali ini Bram benar - benar terjebak. Tapi setidaknya, kamu dengarkan dulu penjelasannya. Kasih dia kesempatan." Sambung Dicko.
Masih belum ada tanggapan juga dari Aruna. Pandangannya masih tertuju ke luar jendela.
Perlahan Dicko mengulurkan tangannya, meraih jemari Aruna ke dalam genggamannya. Akhirnya Aruna pun memalingkan wajahnya. Dan menatap Dicko yang tengah menatapnya.
"Apa boleh aku meminta. Tolong pertimbangkan kembali keputusan kamu." Pinta Dicko sungguh - sungguh.
Aruna menggeleng pelan, "tidak bisa."
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Jika itu yang kamu inginkan."
"Oh ya, saat kamu datang menemuiku di apartemen, kenapa kamu pergi begitu saja?" tanya Dicko tiba - tiba.
Aruna menarik tangannya dari genggaman Dicko. Lalu kembali memalingkan wajahnya. Memandang ke luar jendela.
Dicko memperhatikan gelagat Aruna yang terlihat berbeda dari biasanya. Dan sedikit mengundang rasa penasarannya.
"Aku hanya tidak ingin menjadi pengganggu diantara kalian." Jawab Aruna tanpa memalingkan wajahnya.
"Kalian? Maksud kamu?" Dicko mengerutkan dahinya.
"Kamu dan Sarah. Kalian terlihat sangat cocok. Sarah wanita yang baik dan sangat cantik. Dia__" kalimat Aruna terhenti karena Dicko mengulurkan tangannya menyentuh wajahnya dan membawanya bertatapan dengannya. Begitu dekat.
Tatapan Dicko begitu dalam.
"Kenapa?" Dicko terlihat serius. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum.
"Kamu cemburu?"
Apa? Cemburu? Aruna terlihat salah tingkah. Dia hendak kembali memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Dicko yang mulai membuatnya gugup. Tapi kini Dicko malah mendekap wajahnya dengan kedua tangannya. Dan menatapnya lebih dalam.
"Aruna ... kamu cemburu dengan Sarah?" tanya Dicko lagi.
"Cemburu? Ti_tidak." Aruna tergagap. Dan Dicko makin tersenyum lebar.
"Aku senang kamu cemburu. Ini pertama kalinya kamu cemburu padaku."
"Siapa yang cemburu?" Aruna ngambek. Tetapi Dicko malah tersenyum. Seakan tengah mengejeknya.
Aruna pun menurunkan kedua tangan Dicko uang mendekap wajahnya. Lalu kembali berpaling. Untuk menutupi rasa malunya. Sementara Dicko masih tersenyum - senyum.
Perasaan diantara mereka malah membawa mereka ke dalam hubungan yang aneh. Entah seperti apa jadinya hubungan ini. Benar - benar aneh.
.......
.......
.......
__ADS_1
...-Bersambung-...