
''Zidane, bagaimana sekolahmu? Are you happy?'' tanya Daniel sambil tetap fokus menyetir.
''Yes, I always happy. Must be Happy! Karena aku tidak mau membuat Mami sedih.'' Kata Zidane sambil memeluk Aruna yang duduk disampingnya.
''Good boy!'' Ucap Daniel.
''Oh ya, Om Daniel kenapa tidak menikah?'' tanya Zidane.
''Zidane, tidak seharusnya kamu bertanya seperti itu.'' Ucap Aruna.
''Zidane hanya ingin tahu, Mi. Om Daniel kan tampan dan sudah dewasa. Kalau Om Daniel menikah dan punya anak, aku bisa bermain dengan anaknya.'' Kata Zidane dengan polosnya.
Daniel terkekeh mendengar ucapan Zidane. ''Kamu kritis juga ya pertanyaannya. Baiklah, Om akan menjawab. Bukannya tidak mau menikah tapi belum ingin menikah saja. Ya, Om menginginkan pernikahan satu kali dalam seumur hidup jadi harus benar-benar menemukan seseorang yang mau menerima semua kekuarangan Om. Suatu saat Om juga akan menikah tapi tidak untuk sekarang, Zidane.''
''Kekurangan apa Om? Om sangat tampan jadi menurutku tidak ada kurang-kurangnya. Om baik, tampan dan kaya.'' Ucap Zidane.
''Memang pria seperti dia bisa hidup dengan satu wanita? Aku rasa sulit,'' gumam Aruna dalam hati.
''Om banyak sekali kurangnya, Zidane. Lagi pula yang kaya bukan Om tapi Papanya, Om. Ah sudahlah, jangan membahas tentang Om. Kita bahas yang lain saja.'' Kata Daniel yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
''Hehehe maaf, Om.''
''No problem Zidane.''
Akhirnya mereka sampai juga di sekolah Zidane.
''Om, terima kasih sudah mengantarku.''
''Sama-sama Zidane.'' Jawab Daniel. Zidane kemudian melangkah ke bangku depan tempat Daniel menyetir. Tiba-tiba saja Zidane mengecup pipi Daniel.
''Aku sayang, Om. Sekali lagi terima kasih ya.'' Ucap Zidane dengan tulus. Daniel terkejut mendapaf kecupan dari Zidane.
''Zidane, kamu tidak sopan.'' Tegur Aruna. Daniel kemudian membalas dengan mengecup kening Zidane.
''Sekolah yang pintar ya dan anak jadilah kebanggan Mami Aruna.'' Kata Daniel.
__ADS_1
''Pasti Om.'' Jawab Zidane penuh semangat.
''Tuan, apa yang kamu lakukan?'' ketus Aruna.
''Apa Aruna? Hanya kecupan persahabatan antara aku dan Zidane. Kamu ini sensitif sekali.''
''Iya nih, Mami. Tenang Mami, cinta Zidane hanya untuk Mami. Zidane dan Om Daniel hanya teman saja.'' Kata Zidane dengan gemasnya. Zidane kemudian memberikan kecupan untuk Maminya.
''Muach! Untuk Mami.'' Zidane lalu memberikan pelukan untuk Maminya.
Aruna tersenyum. ''Kamu memang paling bisa menenangkan hati Mami. Ya sudah, ayo turun sayang.'' Aruna dan Zidane yang duduk di bangku belakang pun segera keluar. Sementara Daniel tetap menunggu di dalam.
''Di depan pintu masuk utama, wali kelas Zidane sudah menunggu.''
''Selamat pagi Nyonya Aruna.''
''Selamat pagi, Bu.'' Balas Aruna. Setelah Zidane mengecup punggung tangan wali kelasnya, Zidane kemudian berlalu menuju kelasnya.
''Nyonya, sebelumnya saya mohon maaf, saya turut prihatin tentang perpisahan anda dengan Papi Zidane. Zidane saat itu murung dan dia menangis, lalu dia bercerita kalau Papi dan Maminya sudah tidak bersama lagi. Apalagi Zidane bilang Papi pergi bersama Tante itu. Dia tidak mau menyebut namanya. Maafkan saya ya Nyonya, kalau apa yang saya ucapkan ini lancang. Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi anda. Zidane saat itu melarang kami untuk menelepon anda. Dan sebenarnya hari itu Zidane tidak mengikuti pelajaran. Dia menyendiri di ruang perpustakaan. Maafkan kami ya Nyonya.''
''Tidak Nyonya. Zidane justru sangat semangat karena dia selalu bilang ingin membuat bangga dan bahagia Maminya.''
''Terima kasih ya, Bu.''
''Sama-sama Nyonya. Saya yakin anda pasti kuat melalui semua ini. Anda adalah wanita yang hebat.''
''Terima kasih untuk semuanya Bu. Kalau begitu saya permisi.''
''Iya Nyonya silahkan.''
Aruna pun pamit dan segera masuk ke dalam mobil Daniel. Daniel tanpa banyak bicara segera melajukan mobilnya.
''Kenapa lama sekali Aruna?'' protes Daniel.
''Namanya juga bertemu wali kelasnya Zidane, Tuan. Jadi ya sudah pasti kita ada obrolan.''
__ADS_1
''Apa guru Zidane tahu masalah tentangmu?''
''Ya, tentu saja. Zidane sendiri yang bercerita. Karena saat itu Zidane mogok tidak mau mengikuti pelajaran. Dia menyendiri di perpusatakaan tapi dia meminta gurunya untuk tidak bilang padaku karena tidak mau membuatku sedih.
''Memang berat menjadi Zidane. Karena dia dewasa sebelum waktunya. Lalu bagaimana mantan suamimu? Dia masih bertanggung jawab pada Zidane kan?''
''Masih Tuan.'' Singkat Aruna. Tidak mungkin juga Aruna menceritakan masalah pribadinya pada Daniel.
''Baguslah,'' singkat Daniel.
Sesampainya di kantor, Aruna pun langsung menuju ruangannya. Ia berusaha memusatkan perhatiannya pada pekerjaan hari ini.
...****************...
''Arya, aku mendengar desas desus tentang perceraianmu, apakah itu benar?'' tanya Tuan Derry, atasan Arya.
''I-iya Tuan.''
''Maaf, bukan maksudku mencampuri urusanmu tapi kabar perceraianmu dan penyebabnya sangat menganggu telinga dan pekerjaan. Entah kenapa aku benci sekali dengan pria yang tidak setia, Arya. Kamu sendiri juga tahu kalau aku pernah memecat Wilman karena dia ketahuan selingkuh? Dan dia akhirnya meninggalkan istrinya?''
''Iya Tuan, saya masih ingat itu. Apa Tuan akan melakukan itu pada saja juga?''
''Sangat disayangkan sekali, Arya. Keluargamu begitu bahagia tapi kenapa kamu tega melakukan itu pada istri dan anakmu? Dia yang mendampingimu sampai posisimu ada disini sekarang. Anak dan istrimu lah yang membawa rezeki untuk kehidupanmu, Arya. Aku akui kinerjamu sangat bagus, kamu leader yang hebat dalam perusahaan tapi ternyata kamu tidak bisa menjadi leader dalam keluargamu. Aku bukan manusia yang suci tapi aku sangat benci dengan laki-laki seperti itu. Ya, apalagi Ibuku sendiri juga pernah merasakan apa yang dirasakan istrimu. Dimana hati nuranimu, Arya? Aku kecewa sekali padamu. Bahkan aku tidak menyangka denga apa yang kamu lakukan. Aku juga tahu kamu mengambil cuti ke Maldives tanpa mengajak istri dan anakmu. Karena saat itu, aku bertemu dengan mereka di mall. Mereka bilang kamu mendapat tugas dariku pergi ke Singapura selama satu minggu. Astaga Arya, kamu bahkan melibatkan aku untuk menutupi kebohonganmu.''
Arya hanya bisa menunduk, raut wajahnya menunjukkan kecemasan.
''Maafkan saya, Tuan. Maaf saya menyesal mengatas namakan perusahaan demi keegoisan saya. Tolong jangan pecat saya.''
''Berita ini sudah menyebar, Arya. Apalagi kamu punya jabatan penting diperusahaan tapi kamu malah merusaknya. Bukan hanya reputasimu tapi juga reputasi perusahaan. Kalau aku tidak memecatmu, aku akan di anggap pilih kasih. Kamu juga tahu kalau aku mengangkatmu menjadi wakil direktur untuk menggantikan, Wilman. Dan sekarang hal ini terulang lagi. Kamu selesaikan saja kontrak pekerjaanmu yang tinggal beberapa bulan kedepan ini, Arya. Setelah itu kamu silahkan angkat kaki dari perusahaan ini.''
''Tolong Tuan Derry, jangan pecat saya. Saya minta maaf. Tidak masalah jika jabatan saya di turunkan tapi jangan pecat saya. Apa ini ada hubungannya dengan Sky Group?''
''Sky Group? Apa maksudmu? Semua ini tidak ada hubungannya dengan Sky Group. Ini adalah peraturan perusahaan, sekalipun Sky Group sudah menyuntikkan dana diperisahaan, tetap saja mereka tidak bisa ikut campur. Karena itu adalah aturan yang sudah aku buat selama bertahun-tahun. Bahkan sejak perusahaan ini berdiri. Jadi jangan asal bicara kamu, Arya. Sekarang kembali keruanganmu dan selesaikan sisa kontrak pekerjaamu.''
''Baik Tuan, saya permisi.'' Dengan wajah lesu Arya keluar dari ruangan Tuan Derry. Kini Arya tidak tahu lagi harus bagaimana, sebentar lagi dia akan kehilangan pekerjaannya.
__ADS_1
Bersambung....