
Aruna tidak bisa lagi mengutarakan perasaannya kini. Dia terus menangis dan menangis. Semakin lama semakin pilu.
"Aruna ..." lirih Rama cemas.
"Dicko ..." lirih Aruna menyebut namanya. Seraya menatap sorot mata Rama lekat - lekat dengan air mata yang bercucuran.
Deg ...
Rama tertegun.
Finally (akhirnya) Aruna mengenalinya.
Namun belum saatnya Rama mengutarakan perasaan bahagianya kini. Sebab Aruna terlihat menggigil kedinginan. Jika dibiarkan, dia akan jatuh sakit.
"Kamu kedinginan. Sebentar ya, aku ambilkan handuk dulu." Kemudian Rama bergegas mengambilkan handuk, dan baju ganti yang bisa di gunakan Aruna. Lalu cepat - cepat memberikannya pada Aruna.
"Ganti baju dulu. Nanti kamu sakit."
Aruna menurut. Di raihnya handuk dan pakaian ganti itu dari tangan Rama.
"Kamar mandinya disana." Ucap Rama sambil menunjuk kamar mandi di sudut ruangan.
Aruna langsung beranjak ke kamar mandi. Sementara Rama menunggunya di ruang tamu dengan hati berdebar - debar.
Beberapa menit kemudian, Aruna sudah selesai mengganti pakaiannya. Dan melangkah perlahan menghampiri Rama yang masih berdiri menunggunya.
Rama memperhatikan Aruna dari ujung kaki hingga ujung rambut. Menatapnya sendu. Kemudian melangkah perlahan menghampirinya. Dengan hati kian berdebar kencang.
Sama halnya dengan Aruna. Menatap Rama sendu dengan hati berdebar - debar. Dan air matanya pun kembali berderai. Semakin lama semakin deras. Bahkan isak tangisnya pun mulai terdengar.
"Kamu memanggilku siapa?" tanya Rama lirih seraya selangkah lebih mendekat.
"Dicko ... Aku tau, ini kamu." Ucap Aruna di sela isak tangisnya.
Rama tersenyum dengan air mata yang tanpa sadar menetes begitu saja dari pelupuk matanya.
Ada perasaan lega, haru, bahagia, bercampur menjadi satu. Membuat hatinya kian berdebar kencang.
Astaga.
Aruna membekap mulutnya sendiri. Sambil terisak menahan pilu. Rasanya ini bagai mimpi. Satu tahun Aruna berusaha menerima kenyataan kalau Dicko sudah meninggal. Meski hatinya terasa pilu. Sedih yang teramat dalam sebab kehilangan. Satu tahun Aruna menahan kerinduannya.
Dan disaat Aruna mulai bisa menerima kenyataan, bahwa Dicko sudah pergi meninggalkannya. Justru dia kembali. Disaat keadaan akan semakin rumit. Disaat ada orang lain yang telah mengisi hidupnya.
Tuhan, kembalikan dia padaku.
Kembalikan dia padaku.
Jika dia kembali, aku berjanji akan mencintainya sepenuh hatiku.
Kini dia kembali. Dicko telah kembali. Lalu bagaimana dengan janji Aruna?
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Aruna semakin sesenggukan dalam tangisnya. Air matanya semakin deras membanjiri wajahnya. Ingin rasanya menghambur kedalam pelukannya. Tapi entah kenapa, kakinya seakan terpaku di tempat. Rasa tak percaya, kaget, shock, bercampur jadi satu. Namun inilah kenyataan yang ada. Dicko masih hidup. Dan telah kembali. Kembali hanya untuk cintanya. Cintanya yang telah menjadi milik orang lain.
Rama melangkah lebih mendekat. Dengan cepat dia meraih Aruna kedalam pelukannya. Memeluknya erat. Sambil berderai air mata bahagia.
Pecahlah tangis Aruna di dada bidang Rama. Dan Rama semakin mempererat pelukannya. Dengan penuh rasa haru.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." Ucap Aruna di sela isak tangisnya,
"Kenapa? Kenapa baru sekarang kamu kembali? Kenapa?"
"Aku tidak berniat meninggalkanmu. Aku pikir aku tidak akan bisa bertahan hidup. Tapi demi kamu, aku berjuang untuk sembuh. Agar aku bisa memenuhi janjiku. Untuk selalu berada disisimu."
Aruna menarik dirinya dari pelukan Rama. Atau lebih tepatnya Dicko. Karna Dicko sudah kembali, maka Rama tidak ada lagi.
"Kalau saja aku tau kamu masih hidup. Aku tidak akan menikah dengan Bram."
"Jangan berkata seperti itu," sembari mengusap lembut wajah Aruna. Menghapus air matanya,
__ADS_1
"Skarang aku sudah kembali, hanya untuk kamu. Dan mulai skarang, aku tidak akan pergi lagi darimu."
Aruna tersenyum manis menatap Dicko. Masih terasa bagai mimpi Aruna bisa melihatnya lagi. Setelah sekian lama. Pria yang begitu tulus mencintainya. Dan yang paling mencintainya melebihi siapapun.
Sudah lama Dicko tidak melihat senyum manis itu. Bisa melihatnya lagi kini, membuat perasaannya tak menentu. Hati berdebar, dan jantung berdetak lebih cepat. Dan sesaat menghilangkan akal sehatnya.
Perlahan Dicko mendekatkan wajahnya. Semakin dekat, tanpa menyisakan jarak. Sapuan napas hangatnya terasa menyapu permukaan wajah Aruna.
Hening.
Yang terdengar hanya suara detak jantung keduanya yang semakin bertalu. Keduanya terhanyut dalam ciuman hangat nan lembut. Saling mencumbu, saling memagut mesra.
Dan akal sehat itu pun semakin hilang. Saat kini Dicko mengangkat tubuh ramping Aruna ala bridal dan membaringkannya diranjangnya. Keduanya semakin tenggelam dalam hasrat cintanya yang begitu menggebu. Dan sesaat melupakan status apa yang disandang Aruna kini.
Keduanya semakin terhanyut dan semakin terbuai dalam hasrat cintanya. Kekhilafan pun terjadi. Diantara dua insan yang saling mencintai.
.
.
Sementara di tempat berbeda. Bram dengan rasa ingin tahunya dan amarahnya yang mulai menguasai, dengan langkah panjang memasuki rumahnya. Mencari keberadaan ayahnya.
"Bi, Papa dimana?" tanya Bram pada Bi Surti yang sedang mencuci piring di dapur.
"Tuan ada di taman belakang Den."
Tanpa membuang waktu, Bram langsung bergegas ke taman belakang. Di taman belakang itu Papa Danu tengah menerima panggilan telepon.
"Papa ..." panggil Bram seraya menghampiri.
Papa Danu tersentak kaget. Dan langsung menutup panggilan teleponnya.
"Bram? Kamu tidak kembali lagi ke kantor?" seraya bangkit dari duduknya.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Papa."
"Kamu ingin menanyakan soal apa?"
"Papa berhutang penjelasan padaku."
"Maksud kamu apa Bram?"
"Siapa Rama sebenarnya. Aku tau Papa menyembunyikan sesuatu dariku."
Papa Danu ternganga. Jawaban apa yang harus dia berikan untuk menutupi kebohongannya. Apa yang harus dia lakukan agar Bram percaya.
"Rama ... Rama itu adalah ..."
"Kakakku. Dicko. Dia masih hidup."
"Bram, kamu ... kamu tau dari ma__"
"Kenapa Papa melakukan ini? Kenapa Papa membohongiku? Kenapa Pa?" Bram mulai emosi.
Papa Danu pun tergagap. Bagaimana harus menjelaskannya pada Bram. Bram terlihat sangat marah.
"Bram, Pa_Papa minta maaf. Papa tidak bermaksud membohongi kamu. Papa melakukan ini untuk kebahagiaan kamu."
"Kebahagiaanku? Kebahagiaan apa Pa? Apa yang Papa lakukan ini sangat menyakitiku Pa. Untuk apa Papa memalsukan kematian Kakak. UNTUK APA?" hardik Bram.
"Untuk kamu. Apa salah Papa ingin melihat anak Papa Bahagia?"
Papa Danu menghela napas sebentar. Lalu kembali berkata,
"Papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Saat Aruna kecelakaan, Papa lihat kamu begitu frustasi. Kamu, Kakakmu, diantara kalian tidak ada yang mau mengalah. Sejak kecil, kalian berdua selalu menyukai hal yang sama." Kemudian memalingkan wajahnya menghindari tatapan Bram.
"Kalian berdua mencintai satu wanita dengan begitu dalam. Papa tau, Kakakmu sedang berjuang untuk kesembuhannya, demi cintanya. Sementara kamu, begitu terobsesi dengannya. Sampai - sampai kamu begitu takut kehilangan. Dicko kehilangan ingatannya setelah operasi tumor di kepalanya. Papa hanya memanfaatkan situasi ini."
"Papa pikir, dengan keadaan Dicko yang amnesia, keadaan akan berjalan seperti biasa. Kamu bisa hidup bahagia dengan Aruna. Tapi sepertinya Papa salah. Meski dia kehilangan ingatannya, hanya ada satu yang membekas dalam ingatannya. Aruna."
"Untuk kebahagiaanku, Papa mengorbankan kebahagiaan Kakak?"
__ADS_1
"Lalu Papa harus bagaimana?"
"Aruna ... dimana dia?" kemudian Bram bergegas ke kamarnya, mencari Aruna. Namun Aruna tidak ada di kamarnya.
Bram pun mencarinya di setiap ruangan, tapi tetap saja hasilnya sama. Bahkan Bram sudah menelpon Tante Novi, Shanti, Alika, Teddy, hasilnya pun sama saja.
"Bi ... Bi Surti ..." panggil Bram panik seakan telah terjadi sesuatu.
Bi Surti pun datang dengan tergopoh - gopoh.
"Iya Den. Ada yang bisa Bibi bantu?"
"Aruna dimana?"
"Non Aruna tadi keluar. Tapi Bibi tidak sempat menanyakan kemana Non pergi. Maaf Den." kemudian Bi Surti pun kembali ke dapur.
Aruna pergi dan memberitahu kemana dia pergi. Aruna sudah berani membantah perintahnya. Bram sudah melarangnya keluar rumah. Tapi Aruna malah menganggap remeh perintahnya.
"Aku tau kamu dimana skarang." Kemudian Bram bergegas ke mobilnya lalu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota. Jalanan yang licin karena habis diguyur hujan itu, membuat Bram harus sedikit berhati - hati untuk menghindari kecelakaan. Tujuannya saat ini, adalah apartemen.
.
.
Sementara itu, Dicko menghentikan aksinya yang hampir saja membuatnya kehilangan akal. Hasrat cintanya yang begitu dalam terhadap Aruna hampir saja membuatnya kehilangan kendali.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukan ini." Ucap Dicko ditengah deru napasnya yang memburu. Tubuhnya berada diatas tubuh Aruna. Hampir saja dia lupa diri. Dan nyaris kebablasan.
"Aku memang sangat mencintaimu. Tapi ini salah. Tidak seharusnya kita melakukan ini." Sembari bangkit dan turun dari ranjang.
Aruna hanya menatapnya sendu. Kemudian bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ditariknya selimut itu untuk menutupi tubuhnya yang nyaris polos. Hanya tinggal menyisakan tank top saja.
Dicko pun kemudian mengambil kembali kaos oblongnya yang tergeletak di lantai dan memakainya. Setelah itu mengambil kaos oblongnya yang lain, yang dipakai Aruna. Diberikannya kaos itu pada Aruna untuk dipakainya.
"Bram pasti sedang mencarimu saat ini." Ucap Dicko seraya mengambil duduk di sisi ranjang, menghadap Aruna.
Aruna menatap Dicko datar. Seakan Aruna sedang tidak ingin membicarakan tentang Bram. Kemudian satu kecupan hangat mendarat di keningnya.
"Aruna, badan kamu panas sekali. Kita ke dokter ya?" tawar Dicko sembari menempelkan punggung tangannya di kening Aruna.
Kehujanan tadi membuat Aruna demam.
"Tidak perlu. Istrahat sebentar juga pasti sembuh."
"Ya sudah. Begitu kamu baikan, aku antar kamu pulang."
Aruna pun tersenyum.
Ting Tong ... Ting Tong
Terdengar suara bel pintu. Yang kemudian di susul dengan suara ketukan keras bahkan menggedor - gedor pintu apartemen.
Dicko segera bangkit dan beranjak ke pintu. Saat pintu terbuka, Bram sudah berdiri di depan pintu itu dengan wajah penuh amarah.
.......
.......
.......
🤧🤧 Duh, hampir aja mereka khilaf dan kebablasan. Kalau gk, pusying mah otor 🙈
Tetap semangat ya readers 🤗
Bentar lagi lebaran ☺️
Saranghae ❤️
Salam hangat
Otor Kawe
__ADS_1