
Setelah semuanya rapi, Aruna kembali membangunkan Daniel.
''Tuan, bangunlah. Ini sudah pagi.'' Kata Aruna sambil menepuk bahu Daniel.
''Ada apa sayang, aku masih mengantuk.'' Jawab Daniel asal.
Aruna mendengus. ''Pasti semalam dia mabuk lagi.''
''Tuan, bangun! Pagi ini kita harus rapat untuk membahas bazar.'' Kata Aruna yang menepuk bahu Daniel lebih keras. Dan tiba-tiba saja tangan Daniel meraih tangan Aruna, membuat Aruna berada dalam pelukan Daniel. Aruna mencium bau alkohol yang menyengat.
''Tuan Daniel, lepaskan aku!" Aruna meronta, berusaha melepaskan tubuhnya dari Daniel.
''Aku tidak akan membiarkanmu pergi sayang.'' Ucap Daniel dalam racauannya. Aruna yang kesal, lalu menggigit lengan Daniel dengan sangat keras. Sampai Daniel berteriak dan melepaskan pelukannya itu.
''Aaauwwww!" Daniel perlahan membuka matanya. Ia terkejut melihat Aruna sudah berdiri di hadapannya.
''Ar-Aruna, kamu disini?''
''Iya Tuan.''
''Kenapa tanganku sakit sekali ya? Seperti ada yang menggigit. Aku seperti bermimpi di gigit buaya.'' Ucapnya sambil mengelus lengannya. Kepala Daniel bahkan terasa sangat berat.
''Sepertinya buaya betina itu kelaparan Tuan. Sebaiknya anda bersiap dan bersihkan aroma alkohol dari tubuh anda. Aku dan yang lain akan menunggu diruang rapat, permisi.'' Ucap Aruna dengan tegas seraya belalu.
''Dia memang tidak sadar atau memang suka mengambil kesempatan.'' Gerutunya dalam hati.
Daniel akhirnya memutuskan untuk mandi di kantor. Dan untung saja selalu ada baju ganti disana. Ia pun bersiap dengan terburu, kemudian ia masuk keruang rapat. Pandangannya langsung tertuju pada dua manager terkutuk itu. Semua yang ada di rapat, menatap sinis Daniel karena untuk pertama kalinya Daniel memimpin rapat secara langsung tanpa hadirnya Tuan Hutama. Aruna bisa memperhatikan, kalau mereka memandang Daniel dengan tatapan merendahkan.
''Semuanya sudah aku siapkan, Tuan. Anda tinggal memulainya.'' Bisik Aruna. Daniel mengangguk dan rapat dimulai. Pertama Daniel membahas masalah utama pada produksi furniture yang mengalami penurunan sangat pesat. Aruna sudah menyiapkan semua presentasi yang dibutuhkan Daniel tentang masalah produksi furniture. Mulai data yang akurat, foto dan persentasi yang sangat detail. Sementara Daniel sendiri sudah berhasil menemukan bukti untuk tikus-tikus kantor, terutama kedua manager itu. Namun Daniel memilih untuk mengungkapkannya nanti.
__ADS_1
Semua yang ada di ruang rapat tidak percaya akan kemampuan Daniel. Bahkan presentasi masalah yang Daniel tampilkan diluar dugaan mereka semua. Kedua manager itupun mendadak pucat, ditambah mata Daniel terus menatap kearah dua manager itu.
''Dan untuk menyiasati kerugian dan stok overload, aku akan membuka bazar. Kita akan menjualnya dengan harga yang lebih murah. Tentu saja sasaran kita kali ini bukan mereka yang high class tapi untuk mereka yang menengah kebawah. Kalau memang kalangan high class berminat, kenapa tidak? Aku ingin kalian semua bekerja dengan kompak untuk mengurus bazar ini. Meskipun sudah pasti kita merugi dengam penujualan lebih rendah, akan lebih rugi jika barang-barang kita rusak. Aku juga sudah mencari akar masalah dari ini semua, termasuk pemasok bahan mentahnya.'' Jelas Daniel dengan sorot mata penuh amarah. Mereka semua terkejut dengan sikap arogant Daniel. Apalagi dengan sorot tajam mata Daniel yang tidak seperti biasanya.
''Aku akan mengirim filenya kepada kalian semua dan segera kerjakan event bazar itu, sampai produk dengan bahan campuran itu laku dan habis. Apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi?''
''Tidak Tuan. Kami sudah cukup jelas.'' Sahut Manajer produksi.
''Bagus! Rapat selesai hari ini, yang jelas minggu depan semua beres dan bazar dimulai. Untuk manajer produksi dan pemasaran, segera keruanganku.''
''Baik Tuan.'' Jawab mereka dengan kompak.
Aruna lalu mengekor Daniel yang keluar dari ruang rapat menuju ruangannya. Sesampainya di ruangannya, Daniel menghela nafas lega, ia melonggarkan dasinya berusaha menurunkan amarahnya.
''Terima kasih Aruna sudah menyiapkan presentasi yang bagus dan sangat detail. Aku sangat terbantu olehmu.''
''Sama-sama Tuan.''
''Baik Tuan. Kalau begitu aku permisi.'' Aruna kemudian meninggalkan ruangan Daniel dan segera mengerjakan apa yang di perintahkan Daniel.
...****************...
''Ada apa kamu kemari Arya?'' ketus Nyonya Ratih.
''Mah, Pah, Arya dan Shella datang kemari untuk meminta restu pada kalian.''
''Restu? Kamu masih bicara soal restu, Arya? Setelah apa yang kamu lakukan pada Aruna selama ini? Tidak punya perasaan kamu, Arya.'' Marah Nyonya Ratih.
''Arya tahu kalau Arya salah tapi perceraian ini juga atas permintaan Aruna.''
__ADS_1
Amarah Nyonya Ratih semakin menjadi. ''Kamu masih bisa seperti itu? Wanita mana yang mau di madu apalagi di selingkuhi seperti itu.''
''Arya, kalau kamu mau menikah dengan Shella, silahkan. Itu sudah menjadi keputusanmu. Apapun yang terjadi kamu harus siap menanggung resikonya. Papa dan Mama tidak mau ikut campur ursanmu lagi. Dan yang jelas kami tidak akan datang keacara pernikahan kalian. Papa dan Mama sudah tidak punya muka lagi dihadapan keluarga Aruna. Kami malu sekali.'' Sahut Tuan Jodi yang berusaha tetap tenang.
''Om-Tante, bukankah kalian sudah mengenal Shella sejak lama. Kalian juga tahu hubungan kami dulu bagaimana, kami saling mencintai.'' Sambung Shella.
''Tapi itu masa lalu, Shella. Kalau posisinya sudah seperti ini, tentu saja kami tidak akan memberi restu. Kamu sudah merusak rumah tangga Aruna. Kamu kan juga seorang wanita, seharusnya kamu juga bisa menempatkan diri sebagai Aruna. Sekalipun Arya merayumu, seharusnya kamu jangan hiraukan dia tapi kamu malah membukakan pintu untuknya. Sebaiknya kalian pergi dari sini, silahkan melakukan apa yang menurut kalian baik.'' Nyonya Ratih kemudian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang tamu begitu saja.
Arya sangat sedih karena kini orang tuanya bahkan tidak peduli padanya tapi ia sudah terlanjur memilih Shella, apalagi Shella sedang hamil.
''Arya, Shella, sebaiknya kalian pergi saja. Kalau kalian mau menikah, silahkan. Toh sebelumnya kalian juga sudah menikah siri di belakang kami. Jadi restu dari kami juga tidak penting bukan? Papa mau ke kebun dulu.'' Tuan Jodi pun ikut pergi begitu saja.
Arya menghela, ia dan Shella kemudian pergi dari rumah orang tuanya. Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
''Sudahlah Mas, tidak usah kamu pikirkan. Nanti kalau anak ini lahir, hati mereka juga akan mencair. Saat ini Papa dan Mama sedang marah dengan kita. Aku tahu mereka sebenarnya sangatlah baik dan menyayangimu.''
''Aku sedih karena sebelumnya Papa dan Mama tidak pernah bersikap seperti ini.''
''Maafkan aku ya, Mas.''
''Maaf untuk apa?''
''Ya, tidak seharusnya aku kembali kesini dan melanjutkan perasaan ini. Kalau kamu memang ingin kita berhenti disini juga tidak apa-apa. Aku akan tetap menjaga anak ini dan akan membesarkannya sendiri.'' Ucap Shella dengan memelas. Shella tahu betul bagaimana cara mengambil hati Arya.
''Jangan bicara seperti itu Shella. Pernikahanku dengan Aruna sudah gagal jadi sebisa mungkin kita jangan sampai berpisah. Kita akan mengurus pernikahan resmi kita secepatnya.''
''Terima kasih ya, Mas. Kamu sudah tetap percaya padaku.''
''Iya, sama-sama sayang.''
__ADS_1
Bersambung.....