Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 54 Berkunjung


__ADS_3

Tepat pukul 5 sore Aruna sampai dirumah. Aruna bersyukur karena Zidane sama sekali tidak rewel. Sesampainya dirumah, Aruna langsung membawa Zidane ke kamarnya.


“Zidane mandi dulu ya.”


“Iya Mami.”


“Oh ya, setelah ini Mami akan pergi menjenguk orang sakit. Kamu dirumah saja ya.”


“Mami, aku tidak mau dirumah tanpa Mami. Aku ikut ya, Mi.”


Aruna menghela. “Baiklah kalau begitu. Ya sudah, kamu mandi dulu ya.”


“Oke, Mami.” Aruna kemudian pergi meninggalkan kamar Zidane menuju dapur. Aruna melihat Bi Tuti sedang memanaskan makanan tadi siang.


“Bi, sudah masak?” tanya Aruna.


“Tidak Nonya. Makanan tadi siang saja masih utuh.”


“Ya sudah Bi, dipanaskan saja ya. Habis Mas Arya tadi menjemput Zidane di sekolah. Mas Arya dan Shella mengajak Zidane untuk jalan-jalan. Setelah itu Zidane menyusul ke kantor, Bi. Dan saat aku ingin mengantarnya pulang, dia memaksa untuk tetap menemani aku, Bi. Maaf ya Bi.”


“Tidak usah minta maaf, Nyonya. Nyonya dan Den Zidane harus bahagia ya.”


“Pasti Bi. Oh ya Bi, setelah ini aku dan Zidane ingin pergi menjenguk orang sakit.”


“Iya Nyonya. Saya dan Lami akan menjaga rumah.”


“Ya sudah kalau begitu saya ke kamar dulu ya mau mandi sekalian siap-siap.”


“Iya Nyonya.” Bi Tuti merasa kasihan pada Aruna dan Zidane. Rumah yang selalu ceria mendadak berubah sendu. Bi Tuti dan Mbak Lasmi pun sampai tidak selera makan memikirkan nasib Aruna dan Zidane.


Setelah selesai bersiap, Aruna dan Zidane segera berangkat menuju rumah Tuan Hutama. Tak lupa Aruna membawa buah dan buket bunga untuk Tuan Hutama.


“Mami, sebenarnya kita mau kemana?”


“Kita mau menjenguk orang sakit, Zidane.”


“Iya Zidane tahu tapi siapa Mami?”


“Namanya Tuan Hutama. Beliau adalah atasan Mami dulu, sebelum Mami menikah dengan Papi. Ummmm lebih tepatnya Tuan Hutama itu adalah Papanya Tuan Daniel.”


“Oh begitu. Jadi kita akan bertemu dengan Om Daniel juga?”


“Sepertinya tidak karena Tuan Daniel sudah punya rumah sendiri, Zidane. Mereka tidak tinggal satu rumah.”


“Kenapa Mami?”


“Mami juga tidak tahu. Kalau kamu bertemu dengan Tuan Daniel, kamu bisa menanyakannya langsung.” Ucap Aruna sambil terus berusaha fokus menyetir.


-


“Bagaimana kabar Papa?” Daniel baru saja tiba dirumah Tuan Hutama. Dan kini ia sedang berada di kamar Papanya.


“Untuk apa kamu peduli? Kamu ingin Papa cepat mati kan? Supaya kamu bisa bebas dan tidak ada yang memarahimu lagi. Dan kamu bebas bermain dengan banyak wanita di luar sana.”


“Ya ampun, Papa ini bicara apa. Daniel kan sayang Papa.” Namun eskpresi wajah Daniel yang slengekan tentu saja membuat Tuan Hutama tidak mempercayainya.

__ADS_1


“Oh ya, aku beli banyak makanan. Ada pizza, ada bebek bakar juga Pah. Terus itu ada nasi goreng, iga bakar, steak juga ada. Papa tinggal pilih.”


“Semua makananmu itu justru membuat Papa cepat mati. Bodoh sekali kamu, Daniel!”


“Mati bagaimana Pah? Itu tidak ada racunnya.”


Tuan Hutama hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepalanya. Melihat kelakuan putranya yang tidak bisa diandalkan.


“Kalau kamu sayang Papa, sebaiknya kamu menikah.”


“Apa ? Menikah?” Mata Daniel membulat dan melotot.


“Papa ini sudah tua. Papa ingin sekali kamu segera menikah. Papa tidak sabar ingin mempunyai cucu.”


Daniel menggaruk kepalanya. Tentu saja ia keberatan dengan permintaan Papanya. “Tidak mau, Pah! Aku masih 25 tahun. Paling tidak tunggu 5 tahun lagi lah. Aku ini seorang pria Pah, jadi tidak ada batasan umur.”


“Bilang saja kamu mau main-main. Iya kan? Sebaiknya kamu pulang, dari pada membuat Papa semakin sakit dan tensi darah semakin naik.”


Tiba-tiba Gino datang dan masuk ke kamar Tuan Hutama. “Permisi Tuan, di luar ada Nona Aruna. Dia datang ingin menjenguk Tuan.”


“Ya sudah, kamu suruh masuk saja, Gino.”


“Baik, kalau begitu saya permisi.” Ucap Gino seraya undur diri.


“Aruna ternyata kemari juga?” gumam Daniel dalam hati.


“Kamu yang bilang pada Aruna kalau Papa sakit?”


“Iya Pah. Karena kan hari ini aku harus menggantikan semua tugas Papa.”


“Apanya yang bagus, Pah?”


“Tidak apa-apa. Mau tahu saja kamu,” ketus Tuan Hutama.


Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara ketukan pintu dan itu adalah Aruna.


“Masuk!” sahut Tuan Hutama.


“Selamat malam Tuan Hutama.” Sapa Aruna dengan ramahnya.


“Aruna, ayo silahkan masuk.”


“Tuan Daniel ada disini juga?” tanya Aruna.


“Iya. Aku membawakan makanan tapi tidak ada satupun yang mau.” Ucap Daniel sambil mengarahkan pandangannya pada meja yang penuh dengan bungkusan makanan.


“Aruna, tidak usah dengarkan dia.” Kata Tuan Hutama. Pandangan Tuan Hutama lalu tertuju pada Zidane.


“Aruna, apa dia putramu?”


“Iya Tuan. Namanya Zidane.”


“Tampan sekali kamu ya.” Kata Tan Hutama sambil mnegelus kepala Zidane.


“Jadi ini ya Mami, Papanya Om Daniel?” tanya Zidane dengan polosnya.

__ADS_1


“Iya sayang. Ayo salim dulu.” Kata Aruna. Zidane lalu mengulurkan tangannya pada Tuan Hutama.


“Selamat malam Tuan.”


“Kenapa Tuan? Panggil saja Kakek, Zidane.” Ucap Tuan Hutama.


Zidane tersenyum. “Baik Kakek.”


“Hai Om!” Sapa Zidan sambil melambaikan tangannya pada Daniel.


“Hai Zidane,” jawab Daniel dengan malas. Mood Daniel seketika berubah saat Tuan Hutama menyinggung soal pernikahan.


“Oh ya Tuan, ini buah untuk Tuan. Dan bunga ini, aromanya begitu menenangkan.”


“Iya Aruna, terima kasih. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot. Tolong letakkan dimeja ya.”


“Iya Tuan, tidak apa-apa. Bagaimana kabar Tuan? Dan sebenarnya Tuan sakit apa?”


“Sakit tua, Aruna. Biasalah kalau sudah tua begini, kalau tidak darah tinggi, kolestrol, ya jantung.” Tuan Hutama masih bisa tersenyum, meskipun ia sedang sakit.


“Seharusnya Tuan jangan terlalu memforsir tenaga, Tuan Daniel bisa menyelesaikan semua tugas yang Tuan berikan.”


“Iya tapi aku belum percaya padanya. Oh ya, bagaimana putramu bisa kenal dengan si begundal itu?” tanya Tuan Hutama sambil menatap kesal kearah putranya.


Aruna tersenyum melihat hubungan Ayah dan anak yang unik itu. Aruna kemudian menceritakan bagaimana pertemuannya dan Zidane dengan Daniel.


Saat Aruna dan Tuan Hutama sedang berbincang, mata Zidane tertuju pada pizza yang ada di meja. Daniel rupanya memperhatikan Zidane yang sedari tadi mengamati pizza itu dari kejauhan. Daniel kemudian dengan sengaja membuka pizza itu dan memakannya satu potong. Zidane terus melihatnya sambil mengelus perutnya karena Zidane sendiri belum sempat makan malam. Zidane dengan wajah memelasnya mendekat kearah Daniel.


“Om, boleh bagi sedikit pizzanya.” Ucap Zidane dengan pelan. Ia tidak ingin Mamanya mendengar.


“Aruna! Zidane ingin meminta pizzaku.” Daniel justru dengan sengaja mengadu pada Aruna.


“Zidane, nanti kita makan di rumah saja ya.”


“Mami, maaf. Aku sudah lapar dan aku ingin pizza itu.” Ucap Zidane dengan wajah memelasnya.


“Huft, Tuan Daniel mana mau berbagi? Waktu itu saja dia tidak mau mengalah pada Zidane,” gumam Aruna dalam hati.


“Daniel, masa iya kamu tidak mau berbagi dengan anak kecil. Ayo bagi makanannya! Kasihan Zidane kan?” sahut Tuan Hutama.


“Kamu belum makan malam?” tanya Daniel pada Zidane.


“Belum Om. Mama juga belum makan. Karena pulang kantor kami langsung datang kemari.” Jelas Zidane.


“Ayo, kalau begitu kita sama-sama. Daniel juga sudah membawa banyak makanan. Aruna, kamu bantu Daniel membawa makanan menuju ruang makan ya.” Seketika Tuan Hutama menjadi semangat.


“Tapi Tuan ….,”


“Sudah, jangan sungkan.” Tuan Hutama kemudian turun dari atas tempat tidur. Aruna lalu menggandeng lengan Tuan Hutama menuju ruang makan.


“Biar aku saja yang membantu Om Daniel, Mi. Mami bantu Kakek saja.” Sahut Zidane yang begitu pengertian.


“Baiklah sayang.” Jawab Aruna.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2