Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 66


__ADS_3

"Aruna ..." Lirih Dicko memanggil namanya. Di iringi air mata yang mulai bercucuran.


"Kakak. Sebaiknya Kakak istrahat dulu. Mari Kak, aku bantu." Bram mulai membantu kakaknya berjalan, membawanya kembali ke ruangannya.


Di ruangan itu, Bram membantu mendudukkan Dicko di tepian ranjang. Kemudian Bram hendak keluar untuk memanggil dokter. Tapi secepat kilat, tangan Dicko menahan pergelangan tangannya. Hingga niat Bram pun urung.


"Kak, aku harus panggil dokter dulu untuk memeriksa keadaan Kakak." Ucap Bram.


"Katakan padaku, apa yang terjadi dengan Aruna. Lalu dimana dia skarang?" Tanya Dicko lesu.


"Maaf Kak, soal itu aku kurang tau. Keluarganya sudah membawanya pulang."


"Tidak mungkin! Tidak mungkin kamu tidak tau tentang dia. Aku tau, kamu masih peduli padanya. Jadi tidak mungkin kamu tidak tau apa - apa tentang dia."


"Maaf Kak." Sesal Bram sembari menatap sendu kakaknya.


"Bram, jangan sembunyikan apapun dariku."


"Sekali lagi maaf Kak. Maafkan aku." Sesal Bram.


Cklek ...


Bunyi decitan pintu terbuka pun mengalihkan perhatian mereka.


Randa dan Sarah datang untuk menjenguk keadaan Dicko. Yang sudah seminggu lamanya tidak sadarkan diri.


"Kamu sudah sadar? Syukurlah. Akan aku hubungi dokter Anton. Dokter yang menangani kamu." Ucap Randa sembari mengambil ponselnya. Kemudian mulai menghubungi dokter Anton.


"Kamu pulih dengan cepat. Sungguh suatu keajaiban kamu bisa pulih secepat ini. Sekarang, kamu hanya perlu istrahat yang banyak. Agar kesehatan kamu pulih dengan benar." Ucap Sarah memberi perhatian. Sungguh miris melihat kondisi Dicko saat ini.


"Trima kasih." Ucap Dicko singkat menanggapi perhatian Sarah. Bahkan tanpa menoleh sedikitpun.


Tak berapa lama, dokter Anton pun datang. Dan mulai memeriksa keadaan Dicko.


"Dokter ... Pasien lain yang sedang bersamaku. Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Dicko ingin tahu. Dicko benar - benar cemas. Tidak ada satu orang pun yang memberitahunya mengenai kondisi Aruna.


Dokter Anton pun menghentikan pemeriksaannya. "Pasien yang itu?"


"Calon istriku. Bagaimana keadaannya dok?"


Raut wajah dokter Anton seketika suram. Hingga membuat Dicko semakin cemas di buatnya.


"Keadaannya sangat kritis saat itu. Tapi dia sempat bertahan hidup."


"Apa maksud dokter? Dia sempat bertahan hidup? Jangan bilang kalau dia ..." Rasanya Dicko hampir gila mendengar kalimat itu.


Jangan lagi Tuhan.


Biarkan kali ini mereka berbahagia.


"Maaf. Saya sudah berusaha semam__" Belum sempat dokter Anton menyelesaikan kalimatnya, Dicko sudah lebih dulu turun dari ranjang itu. Dan bergegas keluar dari ruangannya dengan langkah terseok - seok. Tanpa mempedulikan lagi kondisinya saat itu.


"Kakak ..." Panggil Bram sembari menyusul langkah kaki kakaknya.


"Dicko sangat mencintai Aruna. Bertahun - tahun lamanya. Wajar jika dia merasa sangat kehilangan." Ucap Randa lirih. Sebab melihat kekecewaan di wajah Sarah.


Sarah pun hanya bisa menghembuskan napasnya panjang. Sekarang dia menyadari kenapa Dicko menolak mentah - mentah perjodohan mereka waktu itu.


.

__ADS_1


.


Dicko masih dengan langkah terseok - seok keluar dari gedung rumah sakit itu. Bram pun masih berusaha mengejarnya.


"Kak ... Kakak. Tunggu Kak."


Bram berusaha mengejar. Hingga akhirnya Bram pun berhasil menyusul langkah Dicko. Lalu menarik kencang lengan Dicko.


"Kakak! Kakak sedang sakit. Kakak mau ke mana?" Hardik Bram merasa kesal dengan keras kepala kakaknya itu.


"Aku mau bertemu Aruna. Aku tau, dia masih hidup. Tidak mungkin dia pergi meninggalkanku. Tidak mungkin."


"Tapi Kak. Kakak se__"


"Antar aku untuk bertemu dengannya. ANTAR AKU!" Hardik Dicko sekencangnya.


"Apa Kakak sadar dengan kondisi Kakak saat ini. Aku tidak bisa menuruti keinginan Kakak."


"Baiklah. Skarang, beri aku uang. Biar aku naik taksi. Cepat! Mana uangnya." Desak Dicko dengan paniknya.


"Baik! Baik! Akan aku antar Kakak ke rumah keluarganya. Tunggu disini, aku ambil mobil dulu."


Bram pun bergegas menuju tempat parkir. Tak berapa lama, dia kembali dengan mobilnya. Dicko bergegas naik ke mobil itu. Dengan dibantu Bram. Dan Bram kemudian memacu mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit itu.


.


.


Hanya butuh waktu beberapa menit, mereka telah sampai di rumah Tante Novi. Bram dan Dicko pun bergegas turun. Dengan cepat Bram menghampiri Dicko dan membantunya berjalan.


Tampak keadaan rumah itu seakan tengah dalam suasana berduka. Ada beberapa orang yang sedang melakukan pengajian dengan beralaskan karpet di ruang tamu rumah itu. Para tamu yang hadir, semuanya menggunakan pakaian serba putih.


"Permisi ..." Sapa Bram sopan dan pelan. Seorang tamu pun datang menghampiri Bram dan Dicko yang berdiri di depan pintu rumah itu.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang tamu itu keheranan. Sembari memandangi Dicko yang masih mengenakan pakaian rumah sakit dengan perban di kepalanya.


"Maaf jika kedatangan kami mengganggu. Kami hanya ingin bertemu dengan tuan rumah."


"Oh ... Bu Novi dan Pak Heru?"


"Iya. Benar."


"Mereka sedang berada di pemakaman. Mereka saat ini sedang berduka. Karena keluarga mereka baru saja meninggal dunia."


"Apa?" Dicko pun semakin panik. Jantungnya seakan telah berhenti berdetak detik itu juga.


Tidak. Tidak.


Ini tidak boleh terjadi. Tolong, jangan sekarang. Tolong, jangan terulang lagi.


Tanpa mempedulikan Bram dan kondisinya saat ini, Dicko pun bergegas hendak ke pemakaman. Entah di pemakaman mana saat ini mereka berada. Dicko tidak peduli. Dia terus saja berjalan terseok - seok tanpa arah. Saat ini dalam benaknya hanya Aruna. Aruna, dan Aruna.


"Kakak. Ayo ikut aku." Bram pun menuntun Dicko naik ke mobil.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di pemakaman. Untung saja Bram sempat menanyakan lokasi pemakaman itu.


Dari kejauhan, tampak orang - orang dengan pakaian serba putih. Tengah berdiri mengelilingi sebuah makam yang masih baru.


Di antara orang - orang itu, ada Tante Novi yang sedang menangis. Ada Om Heru, Teddy, Alika, dan Shanti yang tengah menangis tersedu - sedu.

__ADS_1


Melihat pemandangan itu, mendadak Dicko seakan telah kehilangan seluruh tenaganya. Bahkan dia tidak berani untuk mendekat. Dia hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya.


Saat itu juga, seakan Dicko telah berhenti bernapas. Mendadak dadanya terasa begitu sesak. Serasa bagai dihimpit bebatuan besar. Begitu sesaknya hingga isak tangisnya pun tertahan. Hanya air matanya yang terus mengucur deras. Tiada henti.


"Kak ..." Bram memegangi bahu Dicko. Memberinya kekuatan. Atas apa yang disaksikan kedua matanya saat ini. Bram pun hanya bisa ikut menangis melihat kondisi kakaknya saat ini.


Syok luar biasa. Bagai terkena sihir. Diam mematung seketika, dengan air mata bercucuran. Hingga akhirnya, isak tangis yang tertahan itu pun pecahlah sudah.


Bram langsung memeluk Dicko. Dalam pelukan Bram, Dicko menangis tersedu - sedu.


"Tidak mungkin ... Tidak mungkin ..." Ratap pilu Dicko dalam pelukan Bram.


"Kakak harus tabah."


"Tidak. Tidak mungkin dia pergi meninggalkan aku. Tidak mungkin."


"Kak, yang sabar ..." Bram mengusap lembut punggung Dicko.


"Aku sudah memintanya untuk bersabar. Kenapa dia tidak menungguku. Kenapa dia malah pergi meninggalkanku? Aruna ..." Dicko masih meratap pilu.


"Bram ..." Dicko melepaskan pelukan Bram. "Katakan padaku, Aruna masih hidup kan? Dia masih hidup kan? Dia bilang, dia sangat mencintaiku. Tidak mungkin dia meninggalkan aku sendiri. Tidak mungkin. Aruna masih hidup ... Dia masih hidup."


"Sebaiknya kita ke pemakaman itu." Pinta Bram untuk mendatangi kuburan itu.


"Tidak. Itu bukan Aruna. Aku yakin, dia masih hidup. Aku yakin dia tidak mungkin meninggal. Tidak mungkin."


Apa yang bisa Bram lakukan saat ini. Kondisi fisik dan mental Dicko saat ini benar - benar membuatnya cemas.


Akhirnya, Bram pun mengajak Dicko kembali pulang. Dalam perjalanan pulang, sepanjang jalan, Dicko terdiam. Dengan air mata yang masih bercucuran. Sembari bergumam lirih memanggil Aruna.


Bram hanya bisa menitikkan air mata melihat kondisi Dicko yang tampak frustasi. Sesekali terlihat Bram tengah mengusap air matanya. Melihat kondisi Dicko seperti itu, sungguh membuat hatinya luka. Sungguh pilu dan tragis keadaan Dicko saat ini.


"Aruna ... Tunggu aku. Aku akan datang untukmu."


"Aruna ... Aku mencintaimu."


"Aruna ... Aku mencintaimu."


"Aruna ..."


Dicko terus bergumam memanggil Aruna.


Bagaimana jika seandainya aku tiba - tiba pergi dari sisimu.


Kenyataannya, seperti inilah keadaan Dicko tanpa Aruna disisinya. Seperti orang yang telah kehilangan kewarasannya. Seperti mayat hidup. Seperti itulah Dicko saat ini. Mendadak seluruh dunianya hancur lebur.


Kasihan.


.......


.......


.......


...Bersambung...


Thankyou so much guys atas dukungan kalian sampai sejauh ini 🙏


Saranghae ❤️❤️❤️

__ADS_1


Love u so much 😘


__ADS_2