
Daniel dan Fero kini tengah duduk berdua menikmati makan siang bersama. Banyak sekali pertanyaan di kepala Fero tentang apa yang di lakukan oleh Daniel hari ini.
''Jadi elo dan Aruna tinggal bareng? Elo benar-benar jatuh cinta sama Aruna? Dan apa Aruna juga udah nerima elo, makanya dia mau tinggal bareng. Atau kalian diam-diam udah married? Dan kenapa dua pembantunya elo pekerjakan di rumah elo juga?'' Fero memberondong Daniel dengan banyak pertanyaan.
''Aruna semalam dapat musibah jadi gue ajak dia tinggal di rumah. Karena mantan suaminya itu merebut rumah milik Aruna dan membalik nama atas istri barunya. Sepertinya mereka sudah merencanakan semua itu. Jadi selama gue temenin Zidane camping, disanalah mereka memanfaatkan momen pengambil alihan rumah. Gue juga nggak tega kali biarin mereka luntang-lantung di jalanan.''
''Wah, bener-bener gila tuh mantan suaminya. Aruna itu wanita yang sempurna. Cantik iya, pinter iya dan body nya juga wihh seksi banget meskipun sudah punya anak. Kalau gue suaminya, gue kurung Aruna di dalam rumah cuma buat nglayani gue.'' Kata Fero dengan segala fantasi liar.
''Hei-hei jaga mulut elo! Awas ya elo jadiin Aruna fantasi gue. Gue congkel otak kotor elo.'' Daniel kesal sekaligus tidak rela jika ada pria lain yang memuji Aruna seperti itu. Fero tertawa melihat wajah Daniel yang memerah karena tersulut rasa cemburu.
''Kenapa ketawa?'' sinis Daniel.
''Memangnya hubungan elo sama Aruna udah sampai mana sih?''
''Yang jelas gue udah nyatain perasaan gue sama Aruna. Meskipun dia belum menjawabnya. Sumpah, susah banget naklukin Aruna.''
''Aruna itu bukan wanita murahan yang mudah terayu, Niel. Apalagi dengan semua bualan elo yang memuakkan itu.''
''Ya, ya, ya, gue tahu Fer. Dan gue nggak pingin Aruna pindah. Dia maksa terus buat cari kontrakan, sedangkan gue pingin dia stay. Jujur aja, gue ngrasa memiliki keluarga yang hangat. Saat sarapan kita bertiga duduk satu meja, belum lagi masakan Aruna yang selalu bikin selera makan gue bertambah. Apalagi Zidane, gue udah sayang banget sama dia.''
''Kayaknya elo benar-benar udah bucin sama Aruna ya, Niel. Jujur sih, gue nggak pernah lihat elo sebucin ini sama cewek. Tapi elo yakin sama Aruna dan dengan segala statusnya?''
''Gue nggak masalah sama status Aruna. Karena Aruna bisa bikin gue merasakan kehangatan keluarga. Dia beda dari wanita yang pernah gue temui selama ini. Meskipun usia gue lebih muda dari dia tapi why not? Janda lebih menggoda, Fer.''
''Hahahaha dan yang pasti janda lebih di depan lah. Bodoh banget emang mantan suaminya Aruna, berlian di sia-siakan.''
''Gue bingung aja sekarang, gimana cara yakinin Aruna supaya dia mau buka hati buat gue? Ya, gue tahu sih, gue emang brengsek tapi kan gue bisa berubah. Dan memang perceraian karena perselingkuhan itu memang berat di terima untuk Aruna. Dia juga pasti mikir seribu kali buat nerima gue, Fer.''
''Hei, masa iya cassanova lemes gini. Elo nggak cocok kali, Niel kayak gitu. Kalau elo emang serius dan cinta, elo kejarlah. Justru disaat dia rapuh begini, elo harus masuk ke dalam hidupnya. Sedikit lebih agresif dan memberinya sentuhan elegan, boleh lah. Dia juga pasti merindukan sentuhan pria, Niel. Kalau itu elo juga pasti paham lah. Masa iya baru begini saja udah lemes.''
''Oke baiklah, gue akan lebih semangat deketin dia. Tapi pantau dia terus ya. Kalau dia mau cari kontrakan, halangi dia. Jangan sampai dia dapat rumah kontrakan.''
''Iya-iya gue paham.''
''Terus sekarang Aruna dimana?'' tanya Fero.
''Dia lagi ngafe sama teman-temannya.''
''Teman-temannya masih single atau udah nikah?''
''Masih single semua. Kenapa?''
__ADS_1
''Mmmm boleh dong minta di kenalin?''
''Ngomong sana sama Aruna sendiri. Gue juga nggak akrab sama mereka.''
''Bikin acara lah Niel di rumah, suruh Aruna bawa teman-temannya itu ke rumah. Gue akan jadi orang pertama yang datang. Biar gue bisa kenalan sama mereka. Party kecil atau barbeque juga boleh.''
''Tapi gue sama Aruna belum nikah kali, mau acara apa? Yang ada Aruna malah nggak nyaman.''
''Udah, coba aja dulu. Siapa tahu Aruna bisa happy juga. Dia pasti butuh hiburan.'' Fero terus merajuk.
''Ya, nanti gue obrolin sama Aruna. Ah, udah kayak suami istri aja apa-apa mesti diskusi.'' Selorohnya dengan senyum malu. Malu dengan ucapannya sendiri.
''Nanti kalau jadi, gue ajak keponakan gue deh, biar bisa main sama Zidane. Nggak mungkin juga kan Zidane ikut sama orang dewasa.''
''Ide bagus juga.''
Setelah selesai makan siang, tepat jam 2 siang, Daniel sudah kembali ke kantor namun ia melihat meja Aruna masih kosong.
''Kemana dia?'' gumam Daniel. Daniel mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan segera menekan nama Aruna. Tak butuh waktu lama Aruna mengangkat ponselnya.
''Kamu dimana Aruna? Kenapa belum kembali?''
''Mmmm maaf Tuan, ini mobilnya Dinda tiba-tiba mogok di jalan.''
''Iya-iya, bawel.'' Gerutu Aruna mengakhiri panggilannya.
"Sok perhatian banget," gerutunya.
"Siapa Run?" tanya Dinda.
"Tuan Daniel."
"Memangnya kenapa?"
"Dia mau kesini sekalian mau panggil orang bengkel."
"Tuh kan apa gue bilang, Tuan Daniel emang udah bucin sama elo, Run." Timpal Gita.
"Bener banget kata si Gita," Dinda ikut menimpali.
"Apaan sih kalian ini, namanya playboy wajarlah ngejar-ngejar nanti kalau udah dapat dan bosen juga di hempasin." Ucap Aruna.
__ADS_1
"Ibarat pepatah nih, tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu dan tidak ada pula orang jahat yang tidak punya masa depan. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik. Daripada tuh si Mas Arya dari baik malah jadi jahat dan raja tega." Nasihat Gita untuk Aruna.
"Iya gue terima nasihat elo tapi nggak usah nyambungin ke Mas Arya deh, males banget," kesal Aruna. Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya Daniel datang bersama orang bengkel yang membawa mobil derek.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Daniel seraya mendekat ke arah Aruna.
"I-iya tidak apa-apa, Tuan." Jawab Aruna.
"Perkenalkan, Dinda." Dinda mengulurkan tangannya dan Daniel menerimanya.
"Aku Gita." Gita pun melakukan hal yang sama.
"Setidaknya sekarang kita bisa kenalan secara official." Imbuh Dinda.
"Ya, senang sekali bertemu dan berkenalan dengan kalian. Oh ya, biar mobil Dinda di bawa ke bengkel dan aku yang akan mengantar kalian. Bagaimana?"
"Mau-mau!" sahut Dinda dengan semangat. Siapa sih yang tidak terpesona dengan ketampanan dan aura casaanova yang begitu menggoda. Gita mencubit lengan Dinda memperingatkab supaya tidak genit dan mengganggu waktu Aruna pendekatan dengan Daniel.
"Tidak usah Tuan. Kebetulan saya sudah memesan taksi online juga, sebentar lagi juga datang. Sebaiknya bawa Aruna saja." Ucap Gita.
"I-iya benar-benar. Soalnya arah kita berbeda. Saya ke salon dan Dinda ke klinik, pasti akan terasa jauh sekali untuk kembali ke kantor. Dan terima kasih untuk bantuannya." Ucap Dinda.
"Oh begitu, ya sudah. Tapi kalian yakin?"
"Yakin kok. Kita kan bisa ikut mobil derek juga, hehehe. Jadi tidak usah repot-repot." Sambung Gita.
"Gita, Dinda tapi kan.....,"
"Sudah lah Aruna, cepat naik. Kamu masih jam kerja jadi jangan aneh-aneh." Desak Gita.
"Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu."
"Iya Tuan, hati-hati. Titip Aruna ya jangan sampai lecet," pesan Dinda.
"Pasti." Jawab Daniel.
"Ayo Aruna!" Daniel lalu menggandeng tangan Aruna dan Aruna tidak menolak. Sorot mata tajam Daniel lagi-lagi tampak menyeramkan dan sulit bagi Aruna untuk menolaknya.
"Mereka serasi banget ya," kata Dinda.
"Ya, semoga Aruna mau membuka hati. Mending jahat dulu baru baik daripada si Arya yang sok baik seperti malaikat tapi ternyata devil." Gita memang amat sangat geram dan juga marah jika mengingat bagaimana Arya tega menyakiti Aruna.
__ADS_1
"Dan semoga Tuan Daniel benar-benar berubah." Timpal Dinda.