Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 13 Mendua


__ADS_3

Hari ini adalah pengajian tujuh bulanan Aruna. Hanya keluarga dan sahabat terdekat saja yang mendapat undangan. Tak lupa Aruna juga mengundang anak yatim piatu untuk ikut mendoakannya. Setelah acara selesai, Aruna dan Arya berkumpul dengan kedua orang tua mereka.


''Aruna, Mama ada hadiah untuk kamu.'' Kata Nyonya Ratih, mertua Aruna.


''Hadiah apa Mah?'' tanya Aruna. Nyonya Ratih kemudian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan.


''Mama ada hadiah kecil untuk kamu.''


''Apa ini Mah?''


''Kamu buka saja.'' Ucap Nyonya Ratih. Aruna kemudian membukanya.


''Wah cantik sekali gelangnya Mah.''


''Kamu suka?''


''Apapun yang Mama berikan, Aruna pasti suka kok Mah.'' Aruna kemudian memeluk Ibu mertuanya itu.


''Mama doakan kehamilan kamu lancar-lancar sampai hari H-ya sayang. Kamu diberikan kesehatan begitu juga bayi yang ada di perut kamu.''


''Amin Mah, terima kasih ya Mah.''


''Sama-sama Nak. Arya, jaga Aruna baik-baik ya. Awas kalau kamu berani macam-macam dengan menantu kesayangan Mama.'' Ancam Nyonya Ratih.


''Tenang saja Mah. Di hadapan Mama dan Papa juga Mama dan Papa mertua, Arya pasti akan selalu menjaga Aruna sampai kapanpun itu.'' Ucap Arya.


''Ingat ya Arya, pria yang di pegang itu ucapannya,'' timpal Tuan Jodi, Ayah Arya.


''Iya Pah, Arya paham kok.''


''Terima kasih ya Jeng Ratih, Tuan Jodi, kalian begitu menyayangi Aruna dan menganggap Aruna sebagai putri kandung kalian sendiri.'' Sahut Nyonya Galuh, Mama Aruna.


''Siapa yang tidak menyayangi Aruna, Jeng. Putrimu ini bukan hanya cantik di wajah saja tapi hati serta perilakunya membuat orang dengan mudahnya jatuh cinta.'' Kata Nyonya Ratih.


''Mah, Mama terlalu berlebihan. Aruna tidak sesempurna itu.'' Kata Aruna.


''Nah, ini Jeng yang membuat saya begitu menyayangi menantu saya ini. Sikapnya yang seperti ini, Jeng.'' Ucap Nyonya Ratih sambil membelai kepala Aruna.


''Mama dan Papa sepertinya lupa kalau anak kandung kalian yang sebenarnya adalah aku.'' Sahut Arya yang merasa cemburu.


''Kamu ini mau jadi bapak anak dua masih saja cemburu,'' gurau Tuan Jodi.


''Awas ya Mas kalau macam-macam, aku punya banyak malaikat pelindung disini yang akan menjaga aku.'' Ancam Aruna.


''Ampun, sayang! Aku tidak akan macam-macam deh.'' Kata Arya terkekeh sambil mengatupkan kedua tangannya.


Aruna benar-benar merasa hidupnya sangat sempurna. Di limpahi kasih sayang dari suami, orang tua dan juga mertuanya. Kasih sayang yang begitu lengkap dan sempurna. Arya pun melihat bagaimana kedua orang tuanya begitu perhatian dan menyayangi Aruna.


''Bagaimana kalau Papa dan Mama tahu kalau aku diam-diam bersama Shella? Apakah Mama dan Papa akan menerima Shella?'' gumam Arya dalam hati.

__ADS_1


...****************...


Malam harinya, Arya sedang berkemas. Menyiapkan beberapa pakaian untuk pergi berlibur bersama Shella.


''Mas, kamu mau kemana? Kok malam berkemas.'' Tanya Aruna yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


''Kemarilah sayang.'' Kata Arya seraya mengajak Aruna duduk diatas tempat tidur.


''Sayang, aku lupa belum memberitahu kamu. Kalau besok aku akan pergi ke Singapura.''


''Singapura? Untuk apa Mas?''


''Untuk urusan pekerjaan, sayang. Ini proyek rahasia dan atasan aku menyuruhku langsung kesana.''


''Terus kamu perginya sama siapa? Apa sama Lula sekretaris kamu?''


''Aku pergi sendiri sayang. Besok jam 9 aku berangkat.''


''Kenapa mendadak seperti ini, Mas? Kamu berapa hari disana?''


''Ini bukan mendadak sayang, dua minggu lalu atasan aku sudah bilang kalau aku harus berangkat. Kurang lebih aku disana selama satu minggu.''


''Mas, kenapa lama sekali? Aku kan sedang hamil besar.'' Aruna menatap sedih suaminya.


''Sayang tapi aku juga tidak bisa menolaknya. Kalau pekerjaan aku bagus, aku bisa diangkat menjadi direktur sayang. Siapa tahu ini ujian diam-diam untukku, makanya atasan aku menyuruhku berangkat kesana. Kalau kamu keberatan aku bekerja seperti ini, apa aku perlu resign?''


''Jangan Mas. Ini adalah karir yang sudah kamu bangun dengan penuh perjuangan jadi aku tidak mau kamu mengorbankannya begitu saja.''


''Mas tapi aku khawatir sama kamu. Satu minggu itu lama buat aku.''


''Sayang, cuma di Singapura. Kita juga masih bisa teleponan dan vidio call-an. Kamu doakan aku baik-baik saja ya.''


''Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, Mas.''


''Sudah ya kamu jangan sedih. Aku juga pasti akan sangat merindukan kamu.'' Arya kemudian memeluk erat istrinya.


''Kamu janji ya Mas jangan lama-lama. Aku dan Zidane membutuhkanmu.''


''Iya sayang, aku pasti akan pulang secepatnya.'' Arya lalu memberikan kecupan di kening Aruna.


-


Keesokan harinya, Arya sudah berada di dalam pesawat bersama Shella.


''Aku senang sekali karena kamu benar-benar menepati janjimu.''


''Aku tidak pernah ingkar janji, Shel. Kamu yang ingkar janji meninggalkan aku.''


''Sudahlah jangan membahas masa lalu itu. Kamu juga sudah tahu apa yang aku alami sebenarnya. Oh ya kenapa ke Singapura? Aku kan ingin kita ke Maldives.''

__ADS_1


''Shella, aku ke Singapura kebetulan sekali ada pekerjaan. Jadi aku selesaikan pekerjaanku dulu di Singapura tiga hari, setelah itu kita transit ke Maldives. Aku sudah bilang pada Aruna kalau aku satu minggu di Singapura.''


''Oh kamu memang terbaik, sayang. Jadi aku ikut kamu ke Singapura juga?''


''Iyalah. Aku bisa mati kesepian kalau tanpa kamu. Sekarang kita aman dan bisa menghabiskan waktu bersama tanpa aku harus menyamar.''


''Aku senang sekali akhirnya kita bisa bebas seperti ini. I love you Arya, aku menyesal pernah meninggalkan kamu.''


''Kita tebus waktu kita yang terbuang selama ini ya. Dan kamu juga janji jangan tinggalin aku ya.''


''Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu untuk ke dua kalinya. Tapi justru aku yang takut kehilangan kamu sekarang.''


''Kamu tidak akan kehilangan aku dan aku tidak akan meninggalkan kamu juga, percayalah.''


''Iya aku percaya denganmu, Arya.''


...****************...


Setelah mengantar Arya ke bandara, Aruna pergi menuju salon milik Dinda. Tak lupa Aruna membawakan hadiah kecil untuk Dinda.


''Hai bumil, tumben nih jam segini udah ke sini. Mau nyalon lagi?'' Dinda menyambut Aruna dengan pelukan dan cipika-cipiki.


''Nggak sih, cuma mampir aja. Mas Arya lagi pergi juga.''


''Pergi kemana?'' tanya Dinda seraya mengajak Aruna duduk.


''Biasa tugas negara, Din. Oh ya gue ada hadiah buat elo.'' Aruna memberikan paperbag warna orange pada Dinda.


''Dalam rangka apa nih?''


''Dalam rangka habis dandanin gue. Jadi pas habis dari salon, malamnya gue di unboxing sama Mas Arya,'' seru Aruna dengan tawa kecilnya.


''Yaelah pakai di ceritain segala. Nggak tahu apa kalau gue ini jomblo.''


''Makanya nikah, Din.''


''Cariin jodoh dong yang kayak Mas Arya lah. Jadi gue bisa tenang kemanapun dia pergi tanpa ada rasa resah dan gelisah.''


''Dasar elo ya, jangan-jangan elo suka ya sama suami gue.''


''Ya ampun, ya nggak lah! Ah jangan buruk sangka dong, gue jadi nggak enak sama elo. Ya udah deh gue cari suami idaman lain aja deh, jangan Mas Arya. Jangan marah ya.'' Dinda memohon supaya Aruna tidak marah.


Aruna pun tertawa melihat ekspresi memelas Dinda. ''Serius amat, Bu! Becanda lagi, Din. Dinda dengerin gue, yang namanya pernikahan apalagi pasangan, tidak ada yang bakal cocok 100%. Yang ada kita harus saling mengisi kekurangan itu, bukannya sibuk mencari kecocokan dan kesempurnaan.''


''Iya sih, elo bener juga. Elo makin bijak aja, Run. Kangen deh sama Aruna yang ceria kayak dulu.''


''Yah Din, gue kan udah emak-emak. Apalagi bentar lagi anak gue mau dua.''


''Tapi elo tetap cantik seperti dulu, Run. Gue doain ya semuanya lancar dan sehat-sehat.''

__ADS_1


''Amin, makasih ya Din.''


Bersambung....


__ADS_2