
Setelah mengantar Zidane pulang, Aruna kembali bekerja menemani Arya menuju lokasi pembangunan hotel.
''Aku lelah sekali hari ini. Sungguh, aku tidak bisa main-main bersama dengan Aruna. Biasanya aku menghabiskan waktuku di bar tapi hari ini Aruna membuatku bekerja.'' Gerutu Daniel dalam hati.
Sembari menemani Daniel berbincang dengan klien membahas pembangunan hotel, tangan Aruna tidak bisa berhenti untuk memotret lokasi pembangunan itu. Tak lupa, Aruna juga merekam perbincangan antara Daniel dan kliennya. Aruna memang sangat teliti dan cerdas dalam bekerja. Sehingga apabila terjadi suatu masalah di kemudian hari, semua data yang ia kumpulkan bisa menganalisa masalah-masalah itu.
''Tuan, yang jelas saya ingin bahan bangunannya yang terbaik.'' Jelas Tuan Viktor.
''Tenang saja Tuan. Kami selalu memberikan bahan yang terbaik. Dan pembangunannya sesuai dengan konsep yang sudah kita sepakati.''
''Bagus sekali. Tapi tumben anda yang datang, Tuan Hutama sehat-sehat saja kan?''
''Papa baik-baik saja. Hanya saja sebagian besar proyek, saya yang menangani.''
''Ya, semoga anda juga bertangan dingin seperti Tuan Hutama.''
Daniel hanya tersenyum kecil merespon ucapan kliennya. Lagi-lagi ia diremehkan, ingin rasanya melawan. Namun kali ini ia benar-benar tidak bisa berkutik karena ada Aruna. Coba saja bersama Fero, pasti Fero tidak bisa mengendalikan Daniel.
Sementara itu di kantor, Tuan Hutama tampak sumringah.
''Apa yang sedang anda pikirkan Tuan? Sepertinya anda sedang bahagia,'' tanya Gino yang kebetulan berada diruang Tuan Hutama.
''Tentu saja aku bahagia karena Daniel tidak membuat masalah. Kamu tahu kan, setiap kali aku suruh dia terjun ke lapangan, pasti ada saja telepon dari klien yang membatalkan kerja sama atau bahkan menuntut kerugian. Bahkan aku harus merendah untuk membujuk mereka karena ulah Daniel yang pemarah dan malas-malasan itu. Dan juga cenderung mengambil keputusan seenaknya.''
''Iya juga ya, Tuan. Saya baru menyadari, kalau saya hari ini merasa sangat santai dan tidak panik seperti biasanya,'' kata Gino terkekeh.
''Sepertinya Daniel lebih menurut pada Aruna daripada Fero. Karena Fero tidak bisa mengendalikan Daniel, bahkan Fero dibuat pusing karena ulah Daniel.'' Tuan Hutama tidak bisa membohongi rasa bahagianya. Setidaknya hari ini ia tidak bersi tegang dan di buat stres oleh sikap Daniel.
Fero sendiri tampak santai diruangannya.
''Oh, ternyata rasanya bahagia sekali hidupku tidak di usik oleh Daniel. Sikap pemarah dan asal-asalannya itu, suka membuatku kuwalahan untuk menenangkan klien. Bagaimana Aruna ya? Pasti Aruna kuwalahan menghadapi Daniel. Semoga Aruna bisa mengendalikan kegilaan Daniel. Dan memang sebaiknya stay di kantor lebih nyaman. Daripada di luar tapi Daniel lebih sering membuatku pusing.''
...****************...
Setelah meninjau lokasi pembangunan, Daniel dan Aruna kini sedang dalam perjalanan kembali ke kantor.
''Tuan, sekali lagi maafkan aku. Tidak seharusnya anda melihat pertengkaran ku dengan suamiku.''
__ADS_1
''Tidak masalah, namanya rumah tangga bukankah itu hal yang wajar. Tapi kalau aku boleh tahu, apa benar kamu akan bercerai?''
Aruna menundukkan pandangannya sambil mere...mas jemarinya. ''I-iya.''
''Apa ada hubungannya denganku?''
''Ti-tidak Tuan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan anda. Namanya juga rumah tangga pasti ada saja ketidak cocokan.''
''Kamu masih saja melindungi suami mu yang brengsek itu, Aruna.'' Gumam Daniel dalam hati.
''Ketidak cocokan? Siapapun pasangan kita, pasti tidak akan pernah ada yang cocok. Kalau kita mencari yang cocok dan sempurna, tentu kita tidak akan menemukannya. Berapa kali pun ganti pasangan, pasti ada saja ketidak cocokan itu. Yang ada dalam sebuah hubungan itu saling melengkapi kekurangan pasangan.''
Mendengar apa yang diucapkan oleh Daniel, justru membuat Aruna tertawa.
''Hahahaha!" tawa Aruna dengan begitu renyahnya.
''Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?'' Daniel menaikkan alisnya sebelah.
''Seorang playboy seperti anda bisa bicara seperti itu juga. Lalu anda sendiri bagaimana? Kenapa sering ganti-ganti pasangan?''
Aruna masih saja tertawa. ''Baiklah Tuan cassanova, nasihat anda memang benar. Menasihati orang lain sungguh mudah tapi menasihati diri sendiri sangat sulit, bukankan begitu Tuan cassanova?''
''Ya, ya, ya, terserah apa katamu. '' Kesal Daniel.
''Setidaknya apa yang aku ucapkan menghiburmu, Aruna.'' Gumam Daniel dalam hati.
''Oh ya Tuan, jangan sampai anda lupa ya nanti jam 7.''
''Bagaimana kalau kamu temani aku datang kesana?''
''Hah? Ak-aku?''
''Iya lah. Kamu kan sekretarisku, Aruna. Jadi kamu juga harus ikut datang.''
''Tapi bagaimana dengan Zidane? Tapi ini perintah bos. Sudah sewajarnya aku menemaninya apalagi ini haru pertamaku kerja,'' gumam Aruna dalam hati.
''Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan langsung datang kehotel.''
__ADS_1
''Nanti biar aku yang menjemputmu. Pulangnya juga pasti malam jadi aku harus tanggung jawab penuh terhadap karyawanku. Supaya Zidane tidak khawatir juga.''
''Iya Tuan.'' Ucap Aruna.
Sesampainya di kantor, Aruna segera menuju ruangannya dan menyalin semua hasil meeting hari ini. Sementara itu Daniel memilih menuju ruangan Fero.
''Aduh, gue capek!" Daniel langsung membanting tubuhnya di atas sofa.
''Cape habis ngapain?'' tanya Fero seraya tertawa.
''Sumpah ya gue nggak bisa berkutik. Emang bener ya si Papa.''
''Ah gue juga lebih tenang kalau elo sama Aruna sih. Soalnya elo suka bikin pusing. Dan hari ini Tuan Hutama wajahnya sangat sumringah. Karena tidak ada komplain atau telepon dari klien yang elo temui.''
''Ya emang, padahal hari ini gue bisa nonjok dua orang sekaligus. Eh elo nanti temenin gue gala dinner ya?''
''Ah bosen! Gue sekali-sekali mau istirahat dan tidur dengan tenang tanpa direcokin elo. Lagian sudah ada Aruna kan?''
''Sialan lo ya! Elo nggak pro sama gue lagi?''
''Bukannya nggak pro tapi bertahun-tahun bahkan sejak kita sekolah, gue selalu menjadi tameng buat nyelesein semua masalah elo. Elo pikir nggak capek apa gue. Elo yang rusuh tapi gue yang nyelesein semuanya. Ya ijinin gue istirahatlah. Gue malam ini mau istirahat dirumah, nonton film, makan sendiri, pokoknya gue mau me time. Gue bersyukur ada Aruna sekarang. Dan elo nggak bisa berulah lagi.''
''Oke, karena gue lagi baik jadi elo bisa istirahat.''
''Terus mana si Aruna?''
''Diruangannya. Merekap semua data meeting hari ini.''
''Wah, keren si Aruna.''
''Iya lah dia emang cerdas dan pekerja keras. Tanpa gue suruh, dia tahu apa yang harus dilakuin.''
''Sekarang ada yang baru di puji-puji, yang lama di lupain.'' Sindir Fero.
''Hahahaha elo tetap yang pertama di hati gue. Udah ah ambilin gue minum dong. Setidaknya kita minum dulu lah, ada wine kan?''
''Beginilah nasib istri pertama, dibutuhkan saat sedang capek saja. Kalau lagi happy sama istri kedua.'' Seloroh Fero yang mengibaratkan dirinya sebagai istri pertama. Daniel hanya tertawa mendengar ocehan sahabatnya itu.
__ADS_1