
Keesokan harinya, saat Aruna pergi ke kamarnya, Arya sangat terkejut melihat penampilan Aruna pagi itu.
''Sa-sayang, kamu cantik sekali. Tapi kamu mau kemana?'' tanya Arya tergagap. Ia benar-benar terpukau dengan penampilan Aruna pagi itu.
''Aku secantik ini masih kamu selingkuhi, Mas. Bagaimana kalau aku buruk rupa?'' sindir Aruna. Arya terdiam, tidak bisa berkutik.
''Sayang, tolong pakaikan dasiku.'' Pinta Arya. Tanpa banyak bicara dan langsung membantu Arya memakaikan dasinya.
''Sarapan sudah siap, aku mau mengantar Zidane ke sekolah.''
''Tapi kenapa harus dandan seperti ini?'' tanya Arya.
''Aku ingin mencari kerja.''
''Kerja? Untuk apa? Apa uang yang aku berikan kurang sayang?''
''Bukan Mas. Aku bisa gila kalau harus terlalu lama di rumah. Aku dan Zidane berangkat dulu.'' Ucap Aruna seraya berlalu meninggalkan kamarnya.
''Kenapa Aruna berubah?'' gumamnya.
''Wah, Nyonya cantik sekali seperti gadis.'' Kata Bi Tuti saat Aruna tiba di ruang tengah. Karena Zidane sudah menunggu Aruna disana.
''Iya lho Nyonya. Saya sampai pangling. Nyonya harus bahagia.'' Sahut Mbak Lasmi.
''Nyonya, apapun yang terjadi, kami akan ikut Nyonya.'' Sambung Bi Tuti.
''Maksudnya Bi?'' selidik Aruna.
''Maafkan kami Nyonya. Pertengkaran hebat malam itu, kami benar-benar mendengar semuanya dengan jelas.'' Kata Mbak Lasmi. Aruna menunduk berusaha menyembunyikan rasa sedihnya. Ia lalu mengangkat wajahnya dengan tetap berusaha tersenyum.
''Terima kasih ya untuk dukungan kalian.''
''Nyonya harus semangat ya. Kami bersama Nyonya.'' Ucap Bi Tuti.
''Mi, Bi Tuti dan Mbak Lasmi saja tidak mau punya Nyonya baru. Begitu pula dengan Zidane tidak mau punya Mami yang lain.'' Ucap Zidane.
''Sudah, sebaiknya kita berangkat ke sekolah Zidane.''
''Iya Mami.''
''Bi, Mbak, kita berangkat dulu ya.''
''Iya Nyonya. Nyonya hati-hati ya.'' Kata Bi Tuti.
''Iya Bi.''
__ADS_1
Aruna dan Zidane pun segera berangkat. Mendapat dukungan dari orang terdekat membuat Aruna mendapat semangat baru.
-
Setelah mengantar Zidane ke sekolah, Aruna mengunjungi klinik praktek Gita. Gita sangat terkejut dengan kedatangan sahabatnya.
''Wah-wah, gonjreng amat bajunya Buk? Seperti orang jatuh cinta saja.'' Goda Gita.
Aruna menghela. ''Pura-pura senyum dan kuat itu sangat menyakitkan Dokter Gita.'' Kata Aruna seraya duduk di sofa. Gita lalu beranjak dari tempat duduknya dan beralih duduk di sofa bersama Aruna.
''Elo cantik banget, Run. Elo itu cantik, masih muda, jadi elo emang nggak boleh lemah. Gue heran mata Mas Arya juling apa ya, punya istri secantik ini masih aja jelalatan. Terus apa yang mau elo lakuin sekarang, Run?''
''Sesuai rencana awal, bantu gue cari pengacara untuk mengurus perceraian ini, Git.''
''Elo serius, Run? Nggak mau di pikir-pikir lagi?''
''Udah deh jangan suruh gue buat nerima poligami ini. Elo ini nyebelin.'' Kesal Aruna.
''Hehehe sorry-sorry. Gimana ya gue susah banget move on sama keluarga kecil kalian yang bahagia. Padahal keluarga kecil kalian panutan gue sama Dinda.''
''Mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau gue bertahan, gue bisa makan hati, Git. Elo bayangin lah, elo harus berbagi suami sama wanita lain dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Yang ada gue makin gila. Apalai semalam gue denger obrolan Mas Arya sama Shella, kalau Mas Arya akan mengajak Shella bertemu orang tua gue dan orang tua Mas Arya. Mas Arya ingin meminta ijin untuk mempoligami gue di hadapan keluarga. Bahkan Mas Arya rela menerima resiko apapun demi ijin itu.''
''Nekat juga ya Mas Arya. Ya udahlah gue bantu cari pengacara handal buat elo. Terus elo dandan sekeren ini mau kemana?''
''Gue mau cari kerja, Git. Gue nggak mungkin ngandelin Mas Arya. Gue mau merestart diri gue menjadi Aruna yang dulu. Aruna yang ceria, berani dan pekerja keras.''
''Zidane bahkan diam-diam sudah tahu masalah gue. Pertengkaran malam itu, Zidane mendengar semuanya. Bahkan semalam Zidane bilang, Mami harus bahagia dan Zidan akan ikut Mami.'' Menceritakan tentang Zidane, membuat bulir air mata Aruna menetes kembali.
''Kalau gue di rumah terus, yang ada gue keingat Zio terus, Git. Ibarat pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga. Gue kehilangan anak gue, sekaligus gue kehilangan cinta suami gue. Elo bisa bayangin kan sakitnya seperti apa?'' ucap Aruna dengan terisak. Gita kemudian memeluk sahabatnya itu.
''Run, hari ini elo udah cantik. Jadi jangan nangis lagi dong. Katanya mau cari kerja, tar make upnya luntur.'' Kata Gita yang berusaha menghibur Aruna. Mendengar ucapan Gita, Aruna pun tersenyum. Gita mengambil tisu lalu menyeka air mata Aruna.
''Semangat Aruna!"
''Iya Git, thanks ya. Elo ada info loker nggak?''
''Mmmm kemarin ada pasien gue yang butuh sekretaris, coba aja datang ke PT Sentosa. Gue kirimin alamatnya. Siapa tahu masih ada.''
''Ya udah kalau gitu gue berangkat ya. Doain gue supaya cepat dapat kerjaan.''
''Amin. Semangat ya, Run!" kata Gita.
''Iya.'' Aruna lalu meninggalkan klinik Gita dan segera pergi untuk mencari kerja.
Namun saat sampai di perusahaan tersebut, lowongan kerja itu sudah terisi.
''Yah, udah terisi. Nyari kemana lagi ya?'' gumam Aruna. Dengan wajah sedih, Aruna meninggalkan kantor itu. Namun tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.
__ADS_1
''Aruna!" Tuan Hutama-lah yang memanggil Aruna. Tuan Hutama sendiri baru saja selesai meeting dengan perusahaan tersebut. Mendengar suara yang tidak asing, Aruna menghentikan langkahnya lalu berbalik.
''Tuan Hutama!" gumam Aruna.
''Aruna, kamu ada disini? Kamu bekerja disini?''
''Tuan, apa kabar?'' Aruna menjabat tangan Tuan Hutama.
''Seperti yang kamu lihat, Aruna. Aku masih bugar seperti terakhir kali kamu bekerja denganku. Sebaiknya kita mengobrol di mobil saja.'' Ucap Tuan Hutama dengan tawa kecilnya. Aruna lalu mengikuti Tuan Hutama menuju mobilnya.
''Saya senang melihat Tuan sehat. Kebetulan saya sedang mencari pekerjaan, Tuan.''
''Pekerjaan? Apa suami mu mengijinkanmu bekerja? Kamu kan baru saja melahirkan kan?'' kata Tuan Hutama yang melijat perut rata Aruna.
''Anak kedua saya meninggal. Beberapa minggu yang lalu, saya sempat mengalami kecelakaan dan anak yang masih dalam kandungan saya tidak terselamatkan.''
''Aruna, aku turut berduka ya. Pasti kamu ingin bekerja untuk membuang kesedihan itu. Tapi suamimu apa mengijinkannya?''
''Iya Tuan.'' Singkat Aruna. Namun Tuan Hutama bisa membaca kalau Aruna sedang dalam masalah.
''Kenapa kamu tidak datang ke perusahaanku saja? Aku kan sudah berjanji untuk menerimamu kapan pun kamu ingin kembali.''
''Iya tapi saya tidak enak, Tuan. Itu juga sudah lama sekali. Pasti juga masih banyak karyawan yang memiliki kinerja yang lebih bagus dari saya.''
''Aruna, aku tidak pernah ingkar janji. Berikan nomor ponselmu, aku akan mencari posisi yang pas untukmu di perusahaanku.''
''Tapi Tuan...?''
''Tidak usah sungkan Aruna. Aku akan memenuhi janjiku. Setelah ada posisi yang pas untukmu, aku akan meneleponmu langsung.'' Tuan Hutama kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia meminta Aruna untuk memasukkan kontaknya.
''Sudah Tuan.''
''Oke baiklah, terima kasih.''
''Seharusnya saya yang berterima kasih pada anda. Kalau begitu saya permisi ya, Tuan. Karena satu jam lagi, saya harus menjemput anak saya.''
''Iya Aruna. Kamu hati-hati ya.''
''Iya Tuan, permisi.'' Aruna lalu keluar dari mobil Tuan Hutama. Setelah Tuan Hutama pergi, Aruna segera mencari taksi.
''Gino, cari informasi tentang wanita tadi ya.'' Kata Tuan Hutama pada asisten pribadinya.
''Baik Tuan.''
''Aku tunggu informasimu malam ini. Aku tidak mau menunggu besok.''
''Siap Tuan.''
__ADS_1
Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya yaaa, makasih 🙏❤️