Dont TOUCH Me

Dont TOUCH Me
100


__ADS_3

Di halaman rumah besar yang didominasi warna abu-abu itu, terparkir mobil hitam yang pastinya membawa orang, tetapi itu bukan Min Ho, ayah nya ataupun sanak saudara.


Melainkan seorang wanita dan seorang anak yang kira-kira berusia 9 tahun.


Di depan rumah nya, Min Ho dan ayah nya berdiri seakan menyambut kedatangan kedua orang itu.


"Ayah, mereka siapa." Tanya Min Ho dengan suara khas anak kecil, tapi terkesan datar.


"Mereka bagian dari keluarga kita." Jawab Tuan Ho membuat Min Ho bingung.


Min Ho yang sekarang masih berusia 9 tahun, tapi sebentar lagi hari ulang tahun nya yang ke-10 tahun.


Terlepas dari rasa penasaran, Min Ho melihat ayah nya yang melangkah maju menghampiri kedua orang itu.


Min Ho tanpa sengaja bertatapan dengan anak yang dibawa wanita itu.


"Ayo masuk." Ajak Tuan Ho.


Min Ho pun memasuki rumah nya dan melihat perlakuan ayah nya yang lembut kepada dua orang itu. Jujur saja saat itu Min Ho merasa risih apa lagi saat wanita itu melihat nya dari atas sampai bawah.


"Hoho sayang, apa ini anak mu." Tanya wanita itu dengan tawa manja nya.

__ADS_1


"Iya. Min Ho, kesini." Jawab Tuan Ho dan meminta Min Ho untuk mendekat ke arah mereka.


"Perkenalkan dia Nona Yan Bi sekaligus calon ibu tiri mu dan dia calon saudara mu Jin." Ucap Tuan Ho. Beliau sama sekali tidak pernah cerita hal seperti ini, bagaimana pendapat Min Ho sendiri tentang memiliki ibu dan saudara yang tak sedarah.


"Kenapa ayah tidak memberitahuku terlebih dahulu soal ini? Apa ayah tidak pernah menganggap ku ada?.


Dari pada menerima dengan hati lapang, Min Ho lebih merasa kalau hal seperti ini lebih baik dibicarakan dengan serius.


Kenapa datang-datang membawa tamu dan memperkenalkan mereka sebagai anggota keluarga. Apa ayah nya itu tidak pernah mau mengerti sama sekali tentang dirinya.


Mendengar apa yang Min Ho katakan seketika suasana mencekam, bahkan para pelayan yang sedang bekerja disana merasa kalau hawa sekarang benar-benar membuat susah bernapas.


"Hehe... benar, entah kapan pendapatku bisa di terima oleh mu, ayah." Ucap Min Ho sambil tertawa mengejek.


"Ya sudah, tidak ada guna juga aku disini. Toh, semua keputusan di tangan mu, mau melakukan atau tidak itu terserah mu, tapi satu hal yang harus ayah ketahui, kalau aku tidak akan pernah menerima mereka."


Min Ho pergi meninggalkan Ayah nya, Nona Yan Bi dan Jin yang masih berada di ruang tamu. Semua pelayan yang mendengar ataupun melihat itu memilih menutup mulut dan mata mereka akan masalah mendatang dalam keluarga ini.


Tapi tentu saja mereka menyayangkan sikap terlalu tegas majikan mereka itu pada anak nya sendiri, bahkan beliau tega mengurung Min Ho dan tidak memberi nya makan selama beberapa hari hanya karena masalah sepele.


Selepas kepergian Min Ho yang sudah masuk ke kamar nya itu Tuan Ho merasa geram, tapi entah sihir apa di dalam diri Nona Yan Bi itu sampai membuat Tuan Ho luluh dan menenangkan Tuan Ho calon suami nya.

__ADS_1


"Tenang, sayang. Tidak apa-apa, perlahan dia akan menerima kami, aku juga akan berusaha mendekatinya agar dia merasa nyaman dan aman. Jin juga anak yang penurut dan pengertian, dia pasti memahami situasi sekarang walaupun dia masih anak-anak, jadi bersabarlah." Jelas Nona Yan Bi dengan kata-kata penuh makna nya itu, Tuan Ho benar-benar meleleh di buat nya.


"Haha, betapa buruk nya aku, seharusnya aku yang meminta mu bersabar agar tidak tersakiti dengan perkataan Min Ho, tapi sebaliknya malah kau yang menyemangati ku. Memang aku tidak salah memilih. Baiklah kalau begitu kalian istrahat lah, pelayan akan menunjukkan kamar nya."


"Jin." Panggil Tuan Ho.


"Kau jangan sedih ya, suatu hari pasti saudara mu itu mau menerima dan bermain dengan mu. "


Jin hanya mengangguk, tapi pandangan nya terus melihat ke arah kamar yang Min Ho masuki tadi.


"Pelayan, antar mereka ke kamar nya." Pinta Tuan Ho dan dengan sigap dua pelayan wanita dan dua pelayan laki-laki mengantar kedua orang itu kamar yang telah di siapkan.


.


.


.


.


Bersambung!!!

__ADS_1


__ADS_2