
Berada di taman sekolah, dengan suasana yang sepi tanpa ada siapapun yang lewat. Aria dan Min Ho duduk di kursi yang disediakan di taman itu.
"Acara nya." Tanya Aria, Min Ho merupakan ketua osis saat acara belum selesai dia tidak boleh meninggalkan tempatnya, tapi kenapa Min Ho sebebas ini.
"Sudah selesai." Jawab Min Ho singkat sambil mengecek ponsel nya.
Situasi kembali sunyi, Aria merasa canggung jika bersama Min Ho.
Kenapa bersama dua bersaudara ini rasa nya berbeda-beda ya.
Aria melirik Min Ho dan saat Min Ho seperti akan melihat nya, Aria memalingkan wajah nya.
Kenapa dia juga tidak bicara apa-ap....
"Kenapa kau menangis." Tanya Min Ho, mendengar ini Aria terkejut.
Aria melihat ke arah Min Ho yang ikut menatap nya balik.
"Apa terdengar sejelas itu." Tanya Aria cemas.
"Tentu saja, bahkan saat kau menarik ingus mu itu saja terdengar." Seolah itu bukan apa-apa Min Ho dengan santai berbicara seperti itu, tentu saja mendengar hal memalukan itu muka Aria langsung memerah.
Aaaaaaakhhhh...mati aku mati aku...
__ADS_1
Rasanya mau mati saja. Yang benar saja kau Aria di...di telinga seluruh penonton dan tamu penting kau...aaaaa pasti terdengar menjijikan.
Aria menutup wajah nya menutup malu, di balik tangan nya itu terdengar teriakan kecil yang masih bisa di dengar Min Ho.
Melihat tingkah Aria, Min Ho tidak bisa menahan tawa nya walaupun hanya Aria yang bisa mendengar nya.
"Hahaha...kau percaya yang aku katakan hahaha." Min Ho terus tertawa pelan, sementara Aria langsung melihat ke arah Min Ho dengan tatapan kesal.
"Maksudmu." Tanya Aria menatap tajam pada Min Ho.
"Tentu saja itu tidak benar, hanya satu hal saja yang benar." Min Ho menghentikan tertawa nya dan menatap balik pada Aria.
"Isakan mu itu terdengar jelas. Apa masalah mu."
"Tidak ada masalah apa-apa, aku hanya memberikan efek agar penampilan kami sempurna." Aria menatap langit yang membiru tanpa ditutupi segumpal awan pun.
Min Ho menatap Aria dengan tatapan yang entah apa arti nya, dia tahu kalau Aria berbohong dia bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan dimana tangisan palsu atau benar-benar tangisan yang mengandung derita.
Min Ho menghela napas panjang, bagaimanapun dia tidak berhak memaksa Aria untuk menceritakan kisah sebenarnya.
"Kau tahu, semua orang punya penderitaan nya masing-masing, dan tipe manusia itu berbeda-beda, ada yang bisa menceritakan kisahnya pada orang lain atau ada yang tetap merahasiakan nya untuk dirinya sendiri, karena manusia itu berpikir dia bisa kuat jika menanggung semua nya sendiri, tapi disisi lain manusia itu bisa semakin terpuruk karena banyak nya kisah yang dia pendam tanpa bisa menceritakan nya pada orang lain." Min Ho menghentikan kata-kata nya, dia melihat Aria sebentar yang sedang melamun.
"Aku bukan nya mau menasehati mu, hanya...menyampaikan saja." Min Ho mengangkat kedua bahu nya.
__ADS_1
Issh dia cerewet sekali, kalau saja aku tidak punya perasaan bersalah pada nya mungkin saja aku sudah pergi dari tadi.
"Kenapa kau peduli." Tanya Aria sarkas.
"Kita bahkan belum mengenal dengan baik, kita kenal karena satu atau dua hal saja." Tanya Aria lagi yang membuat Min Ho terdiam.
Benar juga, kenapa aku seperti ini.
Min Ho terus diam dan tiba-tiba beranjak dari duduk nya.
"Aku pergi dulu." Ucap Min Ho sambil berlalu meninggalkan Aria.
Aria kebingungan, apa dia salah bertanya tapi itu fakta kan kalau mereka tidak mengenal satu sama lain untuk berbagi kisah.
Tapi karena ada sesuatu yang terus mengganjal pikiran Aria selama ini dia pun mengejar Min Ho yang masih belum jauh.
"Tunggu."
.
.
.
__ADS_1
Bersambung!!!