
Astaga... kenapa canggung sekali disini.
Aria berusaha tenang di tengah perkumpulan itu. Terdapat Su Mi dan keluarga dan begitu juga calon mertua dan pasangan nya. Dari tadi mereka ini hanya diam saja dan belum mulai berbincang sama sekali.
Aria sampai beberapa kali memberikan kode pada Su Mi agar bertindak lebih dahulu.
"Hei... kenapa kalian diam, cepat bicara." Bisik Aria sambil tetap memotong makanan di depannya.
Aria memang tidak terlalu kaku jika berhadapan dengan orang tua Su Mi karena dia sudah berteman lama dengan Su Mi, tapi keadaan sekarang membuat nya kaku untuk berhubungan seperti biasa, apalagi keberadaan dia disini untuk menolak lamaran.
Apalagi saat mereka sudah mengetahui kebenaran tentang Aria yang saat ini merupakan anggota keluarga Ho, mereka sedikit sopan dan formal kepada nya.
Mohon anda berdua tidak memusuhi ku paman, bibi...
"Ibu."
Akhirnya Su Mi bersuara duluan dan itu memancing yang lain untuk bersuara.
"Jangan dulu, Su Mi, jangan merusak suasana makan dulu baru nanti kita bicara." Ucap ibu Su Mi dengan nada tenang nya.
"Sayang, apa pendapat mu tentang nya." Tanya Nyonya Shi pada anak laki-laki nya.
Sebagai tanda kalau dia senang anak laki-laki itu tertawa dan itu memperlihatkan gigi emas nya.
Pufftt
Aria yang sedang minum seketika tersedak dan terbatuk sampai-sampai membuat semua nya kaget.
"Aria, kau tidak apa-apa." Tanya Su Mi cemas.
__ADS_1
Ahaahahaha... astaga astagaaaa.. aku sakit...perut ku sakit, aaaaa.
Dengan tangan gemetar Aria memegang perut nya dan semakin membuat semua nya khawatir.
"Saya... saya minta maaf sungguh dan jangan... jangan hiraukan saya, saya baik-baik saja. Saya mau ke toilet dulu." Aria pamit dengan tergesa-gesa dan meninggalkan keluarga itu.
"Sungguh dia baik-baik saja." Tanya ayah dan ibu Su Mi.
"Yah.. aku yakin dia baik-baik saja."
Kau lihat kan Aria, bagaimana bisa aku menikah dengan pria seperti ini, hikss.
"Ah iya, ngomong-ngomong bukankah sudah waktu nya kita menjadwalkan kapan pelaksanaan pernikahan nya." Tanya Nyonya Shi dengan nada tidak sabaran nya.
"Kau benar, Nyonya. Lagipula pertemua ini memang di tujukan untuk merundingkan hal itu." Ucap ibu Su Mi.
"Ibu, apa kalian tidak bertanya dulu pendapat ku tentang ini." Ucap Su Mi yang akhirnya angkat bicara.
"Nak, karena ini masih awal kalian bisa berkencan dulu. Kenal lah lebih jauh pasangan kalian pasti lama kelamaan akan tumbuh rasa cinta. Bukankah begitu." Ucap Nyonya Shi dan di angguki oleh yang lain.
"Maaf bibi, tapi saya sudah memiliki orang yang saya suka." Ucap Su Mi dengan serius, dan itu mengejutkan semua orang.
"Apa ini, kalian bilang anak kalian tidak memiliki kekasih."
Dengan nada kesal, Nyonya Shi memarahi ayah dan ibu Su Mi.
"Maaf, Nyonya, saya orang tua nya sendiri tidak tahu kalau dia sudah memiliki kekasih."
"Kenapa kau tidak memberitahu kami." Tanya ibu Su Mi sambil memegang kedua lengan anak nya.
__ADS_1
"Aku ingin fokus sekolah jadi belum mengenal kan nya pada kalian. Jadi apa kalian masih berusaha menjodohkan ku." Tanya Su Mi.
"Ehemm.. Nyonya Su jangan lupa kalau kita punya kontrak perusahaan dan syarat nya kedua anak kita harus menikah." Terdengan seperti ancaman, Nyonya Shi tidak mau melepas keluarga Su Mi.
Dan seperti nya ibu Su Mi termakan ancaman itu.
"Maaf Su Mi, tapi kau harus mengakhiri nya. Jadikan pernikahan ini sebagai hadiah untuk ibu." Ucap ibu Su Mi.
Apa-apaan ini... pernikahan seperti ini, aku membencinya.
Su Mi mengeratkan telapak tangan nya dan mengeluarkan alasan terbesar nya untuk menolak lamaran.
"Ibu... aku, aku hamil."
Brakk
Mendengar bunyi itu, Su Mi spontan berbalik dan melihat Aria yang hampir terjatuh untuk saja dia menahan diri di kursi.
"Kau... kau serius."
.
.
.
.
Bersambung!!!
__ADS_1