
....
Kapan aku sampai nya, dan...kenapa mereka berdua...
Sekarang Aria berada di antara Min Ho dan Jin Ho yang sedari tadi saling berpandangan tak suka.
Apa rumah ku lari ya, kenapa rasanya sudah berjam-jam berjalan kaki, di tambah kedua orang ini membuat ku hampir gila.
"Haaah kalian berdua sudah cukup, ternyata kalian saudara yang saling menyayangi ya, berpandangan terus." Aria menghela napas lelah.
"Tidak."
"Iya."
Keduanya menjawab berlawanan, dan menghentikan permainan tatapan mereka.
"Kenapa kalian harus jalan kaki juga, Jin Ho mobil mu mana." Tanya Aria mulai kesal.
"Itu." Dengan wajah tak berdosa nya Jin Ho menunjuk ke belakang dimana mobil nya berjalan perlahan mengikuti langkah kaki mereka.
"Haa...apa kalian waras."
"Kalian membuat sopir nya kelelahan kalau begitu. Naik sana."
Aria merasa saat ini dia sedang memarahi anak-anak yang masih berusia 5 tahun.
Kenapa mereka ini...aku terlalu lelah untuk murka sekarang.
Kedua saudara itu saling pandang dan tanpa Aria duga kedua nya menarik tangan nya dan memasukan Aria ke mobil.
__ADS_1
"Hei apa yang kalian lakukan."
"Kau bilang tadi sopir nya akan kelelahan jika berjalan pelan seperti tadi, maka nya jika tidak ingin sopirnya kelelahan kau juga harus menghargai nya dengan naik ke mobil." Jelas Min Ho.
Dan Jin Ho mengiyakan penjelasan Min Ho, tapi tidak Aria dia merasa ini tidak masuk akal.
"Tapi...."
"Iya nona jika anda menghargai saya, tolong ikuti saja." Ucap pak sopir paruh baya sambil tersenyum ramah.
Bantulah saya nona, kedua orang ini membuat saya sengsara.
"Mmm baiklah, anda sudah tahu kan alamat saya." Tanya Aria.
"Sudah nona." Pak sopir pun melajukan mobil nya.
Beliau masih ingat dimana alamat Aria karena terakhir kali juga pernah mengantar Aria pulang.
"Hmm. Beberapa hari saat aku mulai sekolah lagi, dialah yang mengantarku pulang."
Mendengar perkataan Aria, Min Ho menatap tajam pada Jin Ho yang pura-pura tidak peduli.
"Aaa akhirnya sampai." Entah kenapa saat ini Aria merasa bahagia telah sampai di rumah nya. Sudah cukup merasa tertekan di jalan tadi, dia juga harus selalu berada di antara kedua orang itu yang selalu beradu mulut.
"Sampai jumpa, Aria." Dengan riang nya Jin Ho mengucapkan salam perpisahan untuk Aria, tapi Min Ho tidak terbiasa sehingga ucapan nya terkesan biasa dan datar.
"Sampai jumpa." Ucap Min Ho dengan kaku nya.
Ya ya ya terserah kalian berdua.
__ADS_1
"Baiklah kalian juga hati-hati dan sampai jumpa. Terima kasih pak." Aria memiringkan kepala dan melihat kursi depan dimana sopir berada.
"Sama-sama, nona." Dengan senyum ramah nya pak sopir tujukan pada Aria. Benar-benar baru kali ini beliau mendengar ada yang mengucapkan terima kasih pada nya.
"Hei, kau hanya mengucapkan terima kasih padanya, kami berdua." Tanya Min Ho.
Aria tersenyum sinis mengingat dia tidak sukarela ikut mobil tadi.
"Tidak." Aria berbalik dan menaiki tangga apartemen nya.
"Apa." Min Ho tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu, tapi ternyata dia mendapat serangan tak terduga.
Aria kembali berbalik melihat ke arah mobil yang belum pergi.
"Terima kasih ya." Ucap Aria setengah teriak dengan senyum nya yang cerah terlihat mempesona di mata orang yang melihat nya, tak terkecuali Jin Ho dan Min Ho yang wajah nya serempak memerah saat melihat Aria tersenyum.
Kedua nya saling pandang dan mengalihkan pandangan secara berlawanan.
"Jalan, pak." Perintah Jin Ho saat melihat Aria telah masuk ke apartemen nya. Didalam mobil, Min Ho menutup wajah merah nya, begitu juga Jin Ho mengalihkan pandangan nya ke luar jendela.
Pak sopir yang melihat reaksi kedua tuan muda nya itu tertawa kecil.
Apa akan terjadi hal bagus ya, hehe...
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung!!!