
Min Ho hendak membawa Aria berkeliling, tapi tiba-tiba saja seseorang yang tidak di harapkan
menghampiri mereka.
"Hai." Sapa Kim Jaejun.
Wajah Min Ho seketika merengut. Sementara Aria dia tidak berbicara ataupun merubah ekspresi wajah, tapi pandangan nya hanya terfokus pada Jaejun.
Melihat itu Jaejun tersenyum dan mendekatkan wajah nya pada Aria.
Tapi Min Ho dengan cekatan menutup wajah Aria dan menjauhkan nya dari Jaejun.
"Penjagaan mu ketat sekali." Canda Jaejun.
"Ohh ya apa kita tidak boleh berteman. Aku cukup kesepian disini." Ucap Jaejun dengan wajah memelas.
Aria melihat raut wajah Min Ho yang kesal. Sebenarnya kenapa Min Ho bersikap seperti itu. Aria memberi isyarat agar Min Ho bersikap biasa saja.
"Bertemanlah dengannya." Bujuk Aria.
Mendengar bujukan itu, Min Ho langsung melihat Jaejun yang juga sedang melihatnya dengan senyuman.
"Haah terserah saja." Min Ho akhirnya pasrah.
"Bagus. Ayo kita lihat festival ini bersama." Ajak Aria berusaha mencairkan suasana. Dia masih tidak tahu kenapa hubungan dua orang itu buruk, bukannya ini pertama kali mereka bertemu.
Aria, Min Ho dan Kim Jaejun bersama mengelilingi festival. Aria sangat senang bisa menghadiri acara ini tanpa masalah.
Melihat pemandangan bak dongeng itu banyak mata melihat ke arah mereka. Rasa iri tentu nya ada, tapi itu dapat bernilai positif atau negatif tergantung orang yang menilai nya seperti apa.
Setelah lelah karena berjalan cukup lama, Aria Min Ho pun meminta Aria duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia disana.
__ADS_1
"Waaw... benar-benar ramai sekali." Takjub Aria. Dia melihat pemandangan di depannya dimana hanya siswa yang berjalan kesana kesini mengunjungi toko-toko kecil yang disediakan saat festival.
"Kau senang." Tanya Min Ho sambil menyerahkan sebotol air mineral.
"Hmm...." Aria mengangguk dengan senang sampai membuat Min Ho tersenyum.
Melihat itu, Jaejun merasa di abaikan.
"Eehhem...air untuk ku mana." Tanya Jaejun tanpa tahu malu karena Min Ho hanya membawa dua botol. Satu untuk dia sendiri dan satu nya untuk Aria.
"Ambil sendiri. Kau punya kaki dan tangan." Cuek Min Ho dan meminum air nya.
Jaejun hanya bisa tertawa masam, ternyata kelakuan nya di lapangan tadi membuat nya menjadi musuh Min Ho. Ya dia akui itu salah nya, tapi jauh di dalam hati nya dia tidak berniat untuk merebut atau apapun karena dia melihat Aria bagaikan seorang adik.
Tubuh kecil, polos (dia tidak tahu Aria sebenarnya seperti apa), dan juga penyemangat yang hebat.
Saat permainan berlangsung tadi Jaejun cukup tekejut mendengar Aria berteriak. Tapi berkat teriakan penyemangatnya sekolah mereka menang.
Setelah mengambil air rencananya ingin kembali duduk bersama Aria dan Min Ho, tapi....
"...Ahahahahahaha." Jaejun tergelak seketika melihat kursi yang tadi terdapat Aria dan Min Ho sekarang kosong. Bahkan dia mengedarkan pandangan nya tapi tetap saja tidak terlihat sosok dua orang itu.
"Hahaha dasar orang itu."
Jaejun meninggalkan tempat itu dan pergi menuju sekolah. Tapi di setiap langkah nya orang terus melihat nya karena dia masih saja tertawa.
Sementara....
"Apa dia tidak akan mencari kita." Tanya Aria cemas. Dia tidak menyangka Min Ho memanfaatkan kesempatan saat Jaejun tidak melihat mereka dengan meninggalkan nya disana.
"Tidak apa-apa, dia bukan anak kecil dan kemungkinan nanti kita bertemu lagi."
__ADS_1
Ucap Min Ho yang saat ini sedang membawa Aria berjalan santai ke taman.
Aria yang melihat Min Ho terus kesal kepada Jaejun pun penasaran.
"Boleh aku bertanya." Tanya Aria.
"Tanya apa."
"Apa masalah mu dengan orang itu. Aaa aku bahkan tidak tahu namanya." Aria baru sadar kalau dia tidak sempat bertanya.
"Buat apa kau tahu namanya." Gerutu Min Ho.
"Eeh kenapa." Tanya Aria.
"Karena dia musuhku." Jawab Min Ho.
Saat Aria ingin bertanya lagi, Min Ho kembali berbicara.
"Enak saja dia melihat mu begitu, harus nya sekolah ini tidak memiliki pakaian terbuka seperti itu." Gumam Min Ho, tapi masih bisa terdengar Aria.
"Apa." Tanya Min Ho dengan wajah kesal karena Aria melihat nya dengan mata yang membulat.
"Waaah kau cemburu."
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung!!!