Dont TOUCH Me

Dont TOUCH Me
41


__ADS_3

Ziinggg....


Kenapa suasana nya seperti ini...


Seluruh anggota osis saling berpandangan. Karena suasana nya terlihat suram bahkan tidak tercipta suara apapun hanya detikan jarum jam dan bunyi berdenging di telinga.


"Ekheem...Min Ho apa rencana mu." Tanya wakil ketua osis. Jika dia tidak juga berbicara maka sampai kapan suasana tadi berlangsung.


"...."


Min Ho hanya melihat ke arah wakil nya tanpa berbicara.


"Kenapa kau mengumpulkan kami, ketua." Tanya anggota lain.


Mendengar pertanyaan ini barulah Min Ho berbicara.


"Apa aku jelek."


Pffttt...


Seakan-akan pertanyaan Min Ho adalah ejekan bagi anggota lain.


Kenapa kau bertanya hal seperti ini. Apa hanya ini alasan mu mengumpulkan kami.


Mungkin kata hati ini perwakilan bagi semua anggota yang laki-laki.


"Maksud nya."


"Apa aku jelek." Dengan pandangan yang berharap Min Ho bertanya pada anak buah nya.

__ADS_1


"Anda tidak jelek sama sekali, ketua. Anda merupakan yang tertampan di sekolah ini." Jawaban sekretaris mewakili anggota perempuan, tapi bagi anggota yang laki-laki merasa pernyataan Mi Na si Sekretaris.


"Benarkah." Tanya Min Ho lagi.


Dan di tanggapi dengan anggukan dari para anggota nya.


Sudah kuduga. Tapi kenapa saat bersama ku dan bersama Jin Ho dia berbeda sekali, apa aku terlalu memberikan tekanan pada nya.


Tunggu...


Benarr...dia punya hutang padaku, akan ku tagih saat waktu nya tepat.


Semua anggota nya merasa merinding melihat senyuman tipis Min Ho, karena jika berada di ruangan osis ini dia tidak pernah terlihat tersenyum, tapi bukan cuma di ruangan ini saja bahkan pertama kali dia ada di sekolah ini dia sama sekali tidak pernah tersenyum.


Tapi dia memiliki pesona tersendiri, walaupun dingin semua orang menyukai sikap nya yang tegas.


Sungguh pribadi yang terbentuk dengan sempurna.


Min Ho beranjak pergi meninggalkan para anggota nya yang masih kebingungan.


Setelah Min Ho pergi, para anggota yang masih di ruangan saling pandang.


"Musim panas." Tanya wakil ketua osis.


"Apakah kita pernah merayakan nya."


Pertanyan si wakil di tanggapi dengan gelengan anggota nya.


"Ada apa ini." Serempak semua orang bertanya-tanya pada para anggota, kecuali Mi Na karena seperti nya dia tahu dalang di balik ini semua.

__ADS_1


Apa ini karena 'dia' lagi.


Mi Na mengepal erat tangan nya menahan amarah.


.


"Selesai. Kenapa rasa nya jenuh sekali ya kalau tidak ada Su Mi, apa ini artinya aku telah menerima nya." Tanya Aria pada dirinya sendiri.


Aria berada di luar sekolah berjalan sendiri dengan santai nya. Sedikit demi sedikit banyak siswa yang telah pulang dengan jemputan mereka.


Aria tidak punya sepeda lagi makanya jika tidak ada Su Mi pulang nya Aria harus jalan kaki.


"Enak juga jalan kaki sendiri. Ini juga termasuk olahraga, oh ya ngomong-ngomong sebentar lagi masuk musim panas. Apa aku harus mengajak Su Mi untuk ke pantai ya."


Aria terus berbicara pada dirinya sendiri sampai-sampai tidak mengetahui jika ada seseorang yang dari tadi mengikuti di belakang nya.


"Kalau teman sedang sakit bukan nya sebagai teman nya aku harus menjenguk nya, tapi nomor nya saja aku tidak ada, alamat rumah nya, ini saja bukan termasuk teman jika nomor ponselnya saja aku tidak punya. Bodoh sekali." Aria mendengus pada dirinya sendiri, tingkah konyolnya ini sayang nya disukai seseorang yang mengikuti nya.


"Ya...ya...ya, kau memang bodoh bagaimana orang seperti mu bisa terus mendapatkan penghargaan."


Aria merasa kesal dengan pernyataan itu dan berbalik ke arah sumber suara.


"Haah kau."


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung!!!


__ADS_2