Dont TOUCH Me

Dont TOUCH Me
78


__ADS_3

Tok tok tok...


Min Ho mengetuk pintu belajar ayah nya, dan kemudian memanggila ayah nya tersebut.


"Ayah." Panggil Min Ho.


Terdengar suara dari dalam yang mempersilakan Min Ho untuk masuk.


"Masuklah."


Min Ho membuka pintu pelan dan melihat lurus ayah nya yang sedang duduk di meja kerja nya.


"Ada apa, yah." Tanya Min Ho sambil menutup pintu di belakang nya.


Tuan Ho menghentikan pekerjaan nya dan duduk di sofa yang terdapat di sana.


"Duduklah." Perintah Tuan Ho.


Min Ho hanya menurut dan duduk di sofa sebelah ayah nya.


"Sekarang umur mu sudah 19 tahun bukan." Tanya Tuan Ho dengan nada rendah.


Karena ini pertanyaan sepele, Min Ho pun menjawab dengan cepat.


"Iya."


"Hmm...masih lumayan lama juga." Gumam Tuan Ho yang masih bisa di dengar Min Ho.


"Memangnya kenapa." Tanya Min Ho bingung.


"Aku akan menikahkan mu dengan anak teman kerja ayah."

__ADS_1


Serasa mimpi buruk di siang hari, Min Ho terdiam dengan menyembunyikan kepalan tangan yang sudah mengerat.


"Ayah, bagaimana respon ayah jika saya menolaknya." Tanya Min Ho tegas.


"Kau berani."


Min Hi terdiam mendengar perkataan ayah nya yang entah itu ancaman atau apa.


"Jika aku sudah menyukai orang lain, maka ayah tidak boleh menjodohkan aku dengan anak teman ayah itu, atau siapapun itu tidak boleh."


Jelas Min Ho dengan menatap serius ayahnya.


Tapi walaupun begitu, tercipta senyum sinis di wajah ayah nya itu


"Memangnya gadis seperti apa yang kau sukai."


"Apa fobia mu sudah membaik."


"Iya." Jawab Min Ho cepat, karena memang itu fakta nya. Fobia nya semakin membaik semenjak dia kenal Aria dan merasakan sentuhan Aria.


"Ohh begitu. Apa dia tahu kalau kau punya fobia aneh."


"Tidak."


"Begitu...apa dia juga menyukai mu."


Min Ho terdiam akan pertanyaan ayah nya.


Apa Aria menyukai ku atau tidak aku sama sekali tidak tahu.


Tapi jika melihat cara dia memperlakukan ku besar kemungkinan kalau aku...hanya teman bagi nya.

__ADS_1


Tuan Ho melihat anak nya itu dengan serius. Seperti yang dia duga kalau anak nya itu hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Dengar Min Ho, aku akan memikirkan perjodohan mu ini setelah umur mu cukup untuk membahas nya. Jadi aku anggap pernyataan mu sekarang sebagai pernyataan tanpa pertimbangan atau hanya omong kosong saja. Jika sudah masa nya maka aku akan kembali membicarakan perjodohan mu, dan gadia yang kau sukai itu."


"Sekarang pergilah."


Tuan Ho beranjak dan kembali ke meja kerja menyelesaikan dokumen yang sempat tertunda pengerjaannya.


Sementara Min Ho hanya menatap ayah nya tanpa bicara.


Dan beranjak meninggalkan ruangan itu.


Tanpa Min Ho ketahui kalau ayah nya itu hanya memerhatikan nya saat dia ingin keluar.


Dia melihat sosok belakang Min Ho. Sosok tangguh yang menghadapi segala sesuatu dengan penuh tegas dan wibawa. Beliau juga bertanya pada pihak sekolah bagaimana sikap Min Ho selama tugas nga sebagai ketua osis, dan seperti yang sudah dia duga juga Min Ho menjadi pribadi yang berwibawa dan penuh tanggung jawab pada tugasnya.


Tapi di balik itu semua Tuan Ho juga tak jarang mengingat bagaimana caranya mendidik Min Ho agar menjadi seperti sekarang.


Cara keras yang bahkan pada umumnya tidak layak di terapkan pada anak kecil.


"Apa aku serahkan saja pada nya untuk memilih pasangan. Setidaknya aku ingin membayar segala kesalahan yang telah aku perbuat."


"Sudahlah, aku pikirkan saat masa dimana aku harus berpikir tentang itu, sekarang aku harus menyelesaikan ini. Astaga banyak sekali ehh...."


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung!!!


__ADS_2