
{1 tahun kemudian}
"Apa kalian senggang minggu ini." Tanya Aria sambil mengibas-ngibaskan kertas yang ada di tangan nya.
"Memangnya kenapa, apa kau mau mentraktir daging." Tanya Hou Gae antusias membuat saudara nya dan Bunny berdecak.
"Apa...apa kalian tidak mau daging, dan kebetulan anak ini jarang mentraktir orang selalu dia yang di traktir." Keluh Hou Gae membuat Aria kesal dan memukul kepala pria itu dengan kertas yang dia pegang.
"Mau merasakan lagi." Tanya Aria dengan wajah sangar.
Hou Gae mengangkat tangan tanda menyerah.
"Aria, itu apa." Tanya Bunny yang sudah sedari tadi penasaran dengan kertas yang di pegang Aria.
"Ooh lihat ya... Taraaa. Pesta pernikahan." Aria meletakkan kertas di meja agar ketiga teman nya bisa melihat, tapi Hou Gae hanya menebak dan tidak memperhatikan nama yang tertera di undangan itu."
"Apaaa..kau menikah hei kau masih anak kecil bagaima aww sakit..." Rintih Hou Gae sambil memegang kepala nya.
"Kau mau mati ya, lihat itu baca kalau tidak nanti mata mu yang ku cabut." Ancam Aria membuat bukan hanya Hou Gae tapi seluruh siswa kelas yang mendengar bergidik ngeri.
"Ancaman anak ini makin hari makin parah, ya." Goda Hou Gae lagi membuat Aria ingin kembali memukuli nya.
"Oh, bukan nya ini teman mu ya." Ucap Bunny mengalih perhatian Aria agar Hou Gae selamat.
"Hmm~ Kalian bisa hadir kan." Tanya Aria bersemangat.
"Tentu." Serentak ketiga teman Aria itu menjawab dan tertawa karena diri sendiri.
.
.
.
.
{1 minggu kemudian}
Di gedung yang besar dan hiasan mewah berbalut warna putih serta bunga-bunga elegan. Meja dan kursi para tamu sudah tersusun rapi. Dan para tamu juga sedikit demi sedikit sudah mulai berdatangan.
Entah kenapa Aria gugup padahal bukan dia yang menikah. Melihat teman sendiri memakai dress cantik di pernikahan mereka, tersenyum bahagia, bahkan sulit di bayangkan jika nanti nya mereka akan menangis.
Membayangkan hal itu air mata Aria keluar sendiri nya membuat Su Mi terkejut.
__ADS_1
"Eh..ehhh Aria kau..kau kenapa menangis." Su Mi berusaha menenangkan Aria.
"Kenapa juga kau yang menangis bodoh, aku yang menikah bukan kau hahahha." Gelak Su Mi.
"Hanya saja aku mengingat bagaimana saat awal pertemuan kita, kau selalu ada untuk ku, tapi sekarang kau sudah milik laki-laki itu." Gerutu Aria saat melihat Min Hyuk memasuki ruangan khusus mempelai wanita.
"Lihat dia, bagaimanabisakaukesinisaat mempelaiwanitamasihbersiap." Ucap Aria cepat sampai Min Hyuk tidak dapat mendengar jelas.
"Kau ngomong apa sih, berbicara itu harus menggunakan jeda yang tepat biar pendengar mu bisa merespon dengan baik. Okee."
"Kalau saja tidak kasihan kepada penata busana mu, kau sudah ku..."
Kretek...kretek
Aria memainkan tangan nya sehingga berbunyi patahan.
Dengan cepat Min Hyuk pergi dan meninggalkan dua sahabat nya itu.
"Hahhaa, oh ya mereka berdua itu akan datang kan. Aku ingin sekali kita bisa berkumpul sebelum aku menempuh kehidupan baru." Pinta Su Mi pada Aria.
"Mm.. mungkin Min Ho masih bisa di usahakan, tapi untuk Jin Ho sepertinya sulit kau..tahu kan." Aria pun sebenarnya ingin berkumpul, dia rindu dengan kehangatan saat bersama orang-orang yang pernah ada di kehidupan nya.
Walaupun keadaan sekarang menjadi sulit, tapi dia harap ini tidak berlangsung lama.
"Hehe, terima kasih."
"Hei, apa kami juga boleh masuk." Tanya Hou Gae meminta izin.
"Tid..." Su Mi memegang lengan Aria dan tersenyum pada nya.
"Tidak apa-apa, masuklah." Ucap Su Mi dan mereka pun menghabiskan waktu bersantai mempelai wanita dengan berfoto ria, sementara Min Hyuk ternyata dari tadi hanya memperhatikan karena takut dengan Aria.
Tingkah laku nya membuat seisi ruangan tertawa.
.
.
Tidak berselang lama, upacara pernikahan akan di mulai, Aria memperbaiki riasan dan mengganti gaun nya karena permintaan Su Mi.
Beberapa saat kemudian, Aria keluar dari dressroom mengenakan mini dress berwarna putih lembut dengan hiasan imut serta rambut yang kepang kan setengah.
Dia melihat dimana teman-teman nya duduk dan ingin menghampiri mereka, tapi tiba-tiba ada yang menarik nya sehingga masuk kembali ke dressroom.
__ADS_1
"Heiii, siap...
Cup..
"..a kau." Aria terkejut melihat siapa yang sudah menariknya dan bahkan mencium nya tanpa izin.
"Hei, yang menikah bukan kita, tapi mereka." Gelak Aria sambil menutup mulut Min Ho yang terus menerobos.
"Aku kira kau pengantin nya, haha." Goda Min Ho.
"Kalau aku pengantin nya berarti aku menikah dengan MinMin." Aria mencoba menahan tawa saat melihat mimik wajah Min Ho yang langsung berubah.
"Baiklah, baiklah jangan merengut begitu nanti ketampanan mu hilang, hahaha." Gelak Aria sekaligus merinding tidak percaya dia mengatakan hal menggelikan begitu.
"Dan kau.. jangan tertawa begitu, aku tidak mau berbagi kecantikan ini dengan orang lain." Ucap Min Ho dengan nada suara yang membuat Aria gugup.
"Hm oh ya, bagaimana kabar Jin Ho. Apa dia baik-baik saja." Tanya Aria mengalihkan topik pembicaraan.
"Yaah dia baik-baik saja, dan masih bisa menggodaku itu salah satu tanda nya. Dan dia juga minta maaf tidak bisa datang karena keadaan ibu nya yang makin mengkhawatirkan." Jelas Min Ho dengan wajah yang sedikit sedih karena kekurangan anggota keluarga yang selama ini selalu ada bagi nya.
Sebenarnya Aria juga sedih karena Jin Ho memilih pergi bersama ibunya 1 tahun yang lalu, dia tidak bisa membuang ibu nya begitu saja walaupun wanita itu sudah membuat banyak kesalahan.
Aria menghela napas panjang karena bagaimanapun Jin Ho adalah salah satu teman terbaik nya dan sekarang sangat jarang untuk bisa bertemu dengan nya.
Aria mendekatkan dahi nya ke dahi Min Ho walaupun harus berjinjit.
"Kita semua telah melewati hari yang berat walau berbeda situasi, tapi takdir membuat kita seperti sekarang, kau bisa menemukan jalan kebahagiaan mu dan aku juga begitu. Bersama kita menutupi kekurangan masing-masing dan menjadi pelindung masing-masing dari kita."
Mendengar perkataan Aria, Min Ho hampir mengeluarkan air mata karena mengingat nasib nya selama ini.
"Hmm.. dan kau adalah bagian dari kebahagiaan itu sekarang, esok, suatu hari, dan sampai tua nanti. Aku mencintaimu, Aria." Ucap Min Ho balas memeluk Aria ringan.
"Yaa, aku juga mencintaimu."
Setelah mendengar acara akan di mulai, Aria dan Min Ho pun memasuki ruangan dan duduk bersama teman-teman mereka.
Saat melihat teman nya di altar, Aria terus mengingat semua yang telah terjadi selama ini.
Tidak pernah ku bayangkan akan seperti ini, yang aku minta hanya pembalasan untuk orang yang telah menyakitiku, tapi yang kuterima adalah orang-orang ini.
Yang menerima diriku apa adanya, tidak peduli secara fisik dan segala kekurangan yang ada.
Dan mereka juga memiliki masalah masing-masing, tapi kita berhasil menyelesaikannya, entah itu berdampak bagi orang lain ataupun teman terdekat kita. Walau jauh kita tetap terhubung karena kita sahabat seumur hidup.
__ADS_1
...Bersambung...