
Happy Reading.
***
Kak Edwan membopong El keluar dari tempat clubbing. Ia langsung pergi menuju parkiran.
Saga turun dari lantai atas. Ia bergegas mengambil sampel minuman yang El minum tadi. Ia mengajak temannya untuk pergi ke parkiran. Ia meminta kepada temannya untuk mengajak Edwan mengobrol di parkiran nanti. Mereka merencanakan sesuatu untuk menolong El.
Kak Edwan meletakkan El pelan-pelan di tempat duduk penumpang. Setelah meletakkan El, ia memandang El dari atas kepala dan kaki. Kamu akan menjadi milik aku selamanya El?. Bahkan Sam pun tidak akan bisa memilikimu, sedikitpun! batin Kak Edwan bahagia.
Seseorang telah sengaja menabrak pintu mobil itu. "Maaf... Maaf...!",ucap seseorang itu beberapa kali.
Kak Edwan langsung menutup pintu mobil belakang. Ia menatap orang yang ia anggap tidak sengaja itu. "Oke gak masalah!",kata Kak Edwan.
"Maaf mas sekali lagi?",ucap seseorang itu beberapa kali. Supaya Edwan tidak sadar kalau ia cuma berpura-pura.
"Iya gak apa-apa",jawab Kak Edwan.
"Saya bingung mas dari tadi, mencari alamat rumah ini?",kata seseorang itu sambil menunjukkan kertas alamat.
Edwan dengan sigap mengambil dan membaca kertas itu.
Disisi lain Saga berjalan menuju mobil Edwan, ia berusaha menyelamatkan El. Ia membuka pintu mobil dengan sangat pelan-pelan. Ia tidak boleh gegabah dan ketahuan kalau ia akan mengambil El dari mobil Edwan.
Edwan masih sibuk mencari-cari alamat rumah yang seseorang itu tanyakan.
Disaat Edwan lenggah, Saga menarik El keluar dari mobil Edwan dan ia tidak lupa menutup pintu mobil kembali. Saga membopong El menuju mobilnya.
"Mas tahu gak?",tanya seseorang itu.
"Oh...jalan Frangipani no 48 itu mas tinggal lurus dan belok kanan. Nanti selanjutnya mas tanya orang disitu",kata Edwan.
"Jadi lurus dan belok ke kanan mas?",tanya seseorang itu lagi memastikannya sambil menunjukkan tangannya.
"Iya. Maaf mas, saya lagi buru-buru",sahut Edwan cepat dan membuka pintu kemudi.
"Terimakasih banyak mas",kata seseorang itu.
"Hmmmm",jawab Edwan. Ia segera menutup pintu dan menancapkan gasnya. Mobil Edwan dipacu dengan kecepatan tinggi. Ia tidak menyadari bahwa El sudah tidak ada di mobilnya.
Saga langsung memanggil seseorang itu.
Seseorang itu bernama Faisal. Ia berlari menuju dimana mobil Saga berada.
"Thanks ya bro!",ucap Saga yang sudah duduk di mobil pengemudi.
"Sama-sama bro. Memang dia itu siapa sih, sampai kamu rela kayak gini?",tanya Faisal.
"Dia sahabatku yang lagi studi di sini. Dia berasal dari Jakarta",jawab Saga.
"Lalu, dia?",tanya Faisal menunjukkan jarinya kearah jalanan.
"Dia tunangannya. Tapi, aku gak rela kalau dia diperbudak oleh Edwan!. Kamu tahu sendiri Edwan kayak apa?",ucap Saga. "Nih uang buat kamu dan ini tolong kasih ke Dokter gila itu?", perintah Saga memberikan sebuah amplop dan setempel minuman yang El minum tadi.
Faisal menerima dengan senang hati. "Jangan bilang dokter gila dong!. Kalau dia gila, mana mungkin si Hito bisa jadi dokter sampai sekarang!",seru Faisal tertawa.
Saga tersenyum miring. Ada benarnya juga kata Faisal, mana mungkin orang gila bisa jadi dokter. "Aku cabut dulu ya?",pamitnya.
"Oke hati-hati!",jawab Faisal.
Saga lalu menancapkan pedal gasnya, melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Ia memandang dari kaca spion, El sedang tertidur pulas. Andai kamu bisa jadi milikku El, aku gak akan biarin siapapun menyakitkanmu termasuk Sam dan Edwan, adik dan kakak itu yang tidak pernah akur! batin Saga.
Disisi lain Edwan masuk ke basemant untuk memarkir mobilnya. Ia turun dari mobil dan segera membawa El menuju ke tempat surganya. Ia membuka pintu penumpang dan kosong, mata Edwan terbelalak karena El sudah tidak ada di dalam mobilnya. "Shitttt!",umpatnya sambil membanting pintu mobil cukup keras. "Siapa yang membawa El pergi, bukankah tadi dia udah pingsan!",teriak Edwan frustasi.
Saga berhenti di sebuah gedung yang sangat megah. Ia memarkir mobilnya di basemant. Ia segera membawa El ke tempat tinggalnya. Ia membopong El dan memasuki sebuah lift khusus menuju tempatnya. Semua orang menyebutnya Griya Tawang.
Saga menidurkan El di tempat kamar tamu, dimana tempat tidurnya berukuran size jumbo. "El, bangun?",bisik Saga mencoba membangun El.
Tring... Tring... Tring...
__ADS_1
Ponsel Saga berbunyi, ia langsung mengangkatnya. "Bagaimana?",tanya Saga cepat.
"Minuman ini mengandung obat tidur dan obat perangsang",kata dokter Hito.
"Apa?",teriak Saga kaget, ia tidak menyangka kalau Edwan akan senekat itu. "Sialan tuh orang!", lanjutnya.
"Sebenarnya siapa sih wanita itu?. Sampai-sampai kamu rela melakukan ini semua?",tanya Dokter Hito penasaran. "Aku gak mau kamu ikut campur masalah rumah tangga orang ya?. Apa lagi ngerebut istri orang!",kata dokter Hito memperingatkan.
"Sialan kamu tuh!. Emang aku segila itu apa?. Kamu tuh yang gila!",sahut Saga cepat dan langsung mematikan.
"Kok dimatiin sih!. Dasar gila nih orang!. Gak ngucapin terimakasih, malah ngatain aku gila!",seru dokter Hito.
"Bi.... Bi....!",panggil Saga keras.
Bibi Elis datang tergopoh-gopoh. "Ada yang bisa saya bantu den?",tanya bibi Elis.
"Tolong isikan bathtub dengan air es ya Bi?", perintah sang empu.
"Buat apa ya Den?",tanya Bibi Elis.
"Jangan banyak tanya Bi. Tolong siapkan, sekarang!",kata Saga.
"Baik Den",jawab Bibi Elis yang langsung pergi meninggalkan kamar tamu.
Saga duduk di tepi ranjang sambil menunggu El siuman. "Gak seharusnya kamu kenal sama si bajingan itu, El. Dia laki-laki yang gak baik buat kamu. Aku gak mau kalau kamu dalam situasi yang bahaya seperti ini lagi. Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu",ucap Saga khawatir.
Tiba-tiba El terbangun dari tidurnya. Ia melihat Saga duduk di tepi ranjang. "Kak Saga",ucap El lemas. Ia bingung melihat disekelilingnya.
"Kamu udah siuman. Syukurlah",sahut Kak Saga lega. "Kamu aman, kamu di apartemenku", lanjutnya.
El langsung duduk. Ia merasa kepalanya masih terasa pusing. Tiba-tiba rasa panas datang seketika di tubuhnya.
"Kamu gak apa-apa?",tanya Kak Saga khawatir.
"Kak panas, panas Kak!",ucap El berkali-kali sambil memeluk tubuhnya.
"Pasti gara-gara obat itu!",ucap Kak Saga.
"El, kamu harus sadar!. Kamu habis minum obat perangsang!",bentak Saga.
"Tolong Kak?",teriak El sambil memegang baju Saga. Ia mau melepaskan baju Saga.
"Jangan El!. Kamu harus sadar!",bentak Saga beberapa kali. "Aku gak mau mencari kesempatan dalam kesempitan, aku gak bisa El!",bentak Saga supaya El cepat sadar. Ia memegang kedua bahu El. "Kamu harus sadar El!", lanjutnya.
"Cepat Kak, aku udah gak kuat!",ucap El yang sudah tidak bisa dikendalikan.
Saga langsung membopong El , ia membawa ke kamar mandi dan menceburkan El dalam bathtub.
El berendam di bathtub, ia mencoba melepaskan pakaian.
Kak Saga langsung mencegahnya. "Aku mohon jangan di buka, El!. Aku gak mau merusak masa depan kamu!",kata Kak Saga.
El menatap kedua mata Kak Saga. Disana ada sebuah ketulusan dalam hatinya. "Dingin Kak?",kata El.
"Gak apa-apa. Ini cara paling ampuh untuk menghilangkan rasa panasnya itu!",kata Saga.
El menikmati rasa dingin yang ada. Tanpa ia sadar, ia tertidur di bathtub.
Kak Saga melihatnya prihatin. "Gak seharusnya kamu minum obat itu?. Kalau seumpamanya gak ada aku, lalu seperti apa hidup kamu sekarang, El?",bisik Saga.
***
Pagi hari.
El terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa masih pusing dan berat. Ia duduk di tepi ranjang. Ia kaget, ia sedang memakai handuk kamar mandi. "Haaaaaaaaaa!",teriak El yang sangat menggelegar.
Saga yang mendengar itu langsung membuka pintu kamar tamu. Ia khawatir ada sesuatu terjadi sama El. "El, ada apa?",tanya Saga khawatir.
"Kak Saga!",teriak El. "Dimana ini Kak?",tanya El yang masih belum sadar.
__ADS_1
"Kamu aman kok. Kamu ada di apartemenku",jawab Kak Saga.
"Apartemen Kakak. Kok bisa?",tanya El sambil mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam.
"Ceritanya panjang. Lebih baik kamu mandi dulu?. Aku tunggu kamu di bawah ya?". "Kita sarapan bareng!",kata Kak Saga lalu pergi keluar dari kamar tamu.
El masih mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Dan kepalanya seperti kaset yang sedang berputar, berputar kejadian tadi malam. "Astagaaaaa!",teriaknya sambil menepuk jidat. Ini terlalu memalukan. Ia segera bergegas ke kamar mandi dan turun kebawah menjelaskan kepada Kak Saga.
Beberapa menit kemudian, El keluar dari kamar tamu. Ia masih memakai baju kimono kamar mandi. Ia berjalan menuju meja makan.
Kak Saga yang melihat dari kejauhan tertawa terbahak-bahak melihat El yang masih memakai baju kimononya.
El dengan malunya menghampiri Kak Saga.
"Kok belum ganti baju?. Bajunya kan udah disiapin sama Bibi Elis?",kata Kak Saga.
El tersenyum terpaksa. "Aduh Kak, apa gak ada lagi pakaian yang terbuka?",tanya El malu.
"What?",kata Kak Saga bingung. "Memang kenapa dengan pakaian yang disiapkan sama Bibi Elis?", tanyanya.
El merentangkan pakaian yang disiapkan oleh Bibi Elis. Pakaian itu berbentuk gaun yang lengannya kurang bahan.
"Bagus?",ucap Kak Saga melihat pakaian itu.
El menggelengkan kepalanya. "Ini bukan fashion aku Kak",bisik El malu.
Kakak Saga tiba-tiba tersenyum. "Bilang dong dari tadi!",seru Kak Saga. Ia berdiri,"ikut aku!",seru Kak Saga berjalan menuju kamar tengah.
El membuntuti Kak Saga dari belakang. "Kita mau kemana Kak?",tanya El penasaran.
Kak Saga tidak menjawab. Ia membuka pintu kamar dan berjalan menuju Walk ini closet.
El tercengang melihat ruangan itu. Ruangan penyimpanan baju, sepatu, tas dan aksesoris mewah.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam.
El masih tidak percaya melihat ruangan itu. Ia berjalan sambil tangannya menyentuh gaun-gaun yang tergantung rapi di almari. "Ini kamarnya siapa Kak?",tanya El.
Kak Saga berhenti di depan kaca besar. "Ini kamarnya Kak Olive. Dia Kakakku",jawab Saga.
"Memang kita boleh ya Kak, masuk ke kamar orang tanpa permisi?. Apa lagi mau mengambil baju milik Kakaknya Kak Saga?",tanya El polos.
"Dia jarang kok kesini. Kalau kita ambil baju pun gak akan ketahuan!",jawab Saga bercanda.
"Sama aja dong Kak, kita maling!",sahut El sambil memilih baju apa yang pantas ia pakai.
Saga cekikikan mendengar jawaban dari El, terlalu kepolosan. "Kalau seumpamanya ada maling secantik kamu, aku gak akan lepasin begitu aja?", goda Kak Saga tersenyum.
"Terus?. Emang Kakak mau apain?",sahut El menantang.
"Aku akan menerkamnya, sampai habis!. Sampai tersisa tulangnya!",ancam Kak Saga menggoda.
"Memang Kakak singa?",tantang El.
"Kalau kamu mau!",sahut Kak Saga yang sudah didepan mata El.
Mata mereka bertemu, saling menatap satu sama lain. Dihati Saga ada rasa yang begitu dalam melihat sorot mata El. Ia merindukan mata itu, mata yang selalu membuatnya nyaman.
El tersadar langsung menengok ke gaun-gaun yang bergantungan itu. Ini tidak boleh terjadi,ini terlalu memalukan. "Kayaknya gaun-gaun ini gak pantas deh Kak di badanku. Kakak lihat aja, terlalu banyak kurang bahan?",ucap El polos.
"Terus kamu mau pakai baju apa?",tanya Kak Saga yang masih menatap El yang ada didepannya. Ia tidak menyangka bahwa masih ada seorang wanita yang menghargai tubuhnya sendiri.
El tersenyum manis. "Mungkin kaos punya Kak Saga?",kata El sambil matanya berbinar-binar.
"What?",sahut Kak Saga tidak percaya. Ia merasa menghadapi El membuatnya kehilangan akal. Padahal didepannya terdapat gaun-gaun yang begitu cantik dan tidak terlalu terbuka, dia malah memilih kaos.
***
Jangan lupa komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.