
Happy Reading.
***
Sam memasuki kantornya dengan langkah yang panjang. Ia segera menyelesaikan proyeknya yang ada di London. Karena ia ingin segera kembali ke New York melanjutkan kuliahnya. Ia berkeinginan kuliah mengejar gelar sarjana 1 paling lama 4 tahun. Ia fokus dengan laptopnya. Tetapi tiba-tiba hati kecilnya ingin berhenti mengetik di laptopnya.
Huft... Not with Me, apa maksud dari El?. Kenapa setelah pertemuan pertama di seminar itu, aku selalu gagal fokus?. Selalu memikirkan dia, Tuhan apa aku belum bisa move on dari dia?. Apa perlu aku mempunyai seseorang kekasih, supaya dunia tahu bahwa aku mampu tanpa dia?. Tapi, hati kecil ini menolak untuk berkenalan dengan wanita lain? batin Sam yang begitu frustasi. "Dia sebentar lagi jadi Kakak iparku, kurang menunggu waktunya aja!",bisik Sam yang mengacak-acak rambutnya frustasi. "Apa benar yang dikatakan William itu?. Aku harus bisa berkenalan dengan wanita lain, selain El?. Aku harus kabari William secepatnya, apakah tawarannya masih berlaku atau tidak?",bisik Sam yang langsung mengambil ponselnya dari saku celana. Ia mencari nama William dan meneleponnya.
Tut.... Tut.... Tut....
"Hallo...",sapa William.
"Hallo Will, ada dimana?",tanya Sam.
"Biasa ada di kampus",jawab William. "Ada apa?", tanyanya.
"Hmmmm... Aku mau tanya soal tawaran itu, apakah masih ada?",tanya Sam sungkan.
"Tawaran yang mana?".
"Itu lho, tawaran tentang teman wanita kamu?",jawab Sam kesal, karena William tidak peka.
"Memang barang apa, tawaran!",jawab William kesal, karena ia tidak terima kalau sahabatnya di bandingkan dengan barang.
"Oke... Maksudku, teman wanita kamu. Aku mau berkenalan dengannya?",ucap Sam tiba-tiba.
"Yesssss.... Akhirnya kamu sadar juga!. Oke, nanti setelah pulang dari kampus, aku kabari kamu ya?. Kita ketemuan di kafe?",jawab William yang begitu semangat.
"Oke. See you!",jawab Sam yang langsung mematikan sepihak.
***
Disisi lain William merasa senang, karena sahabatnya yang resek itu membuka hatinya untuk wanita lain. Ia melihat El baru saja memasuki kelas. "El... El...?",panggil William.
El berjalan menghampiri William dan duduk disampingnya, karena Jo belum ada batang hidungnya. "Ada apa Will?",tanya El.
"Nanti kamu ke kafe?",tanya William.
"Iya. Paling habis dari sini. Emang ada apa?",tanya El.
Gak mungkin kalau aku jawab jujur?. Bisa-bisa El nolak mentah-mentah soal perkenalan ini? batin William. "Gak ada apa-apa",jawab William. "Kok Jo belum datang?. Kemana tuh anak?",tanya William.
"Aku gak tahu",jawab El sambil mengambil buku dari tasnya, karena dosen sudah memasuki kelasnya. "Mungkin, dia terlambat kali!. Oh... Iya gimana kelanjutan seminar kemarin?. Seru gak?",tanya El antusias.
"Seru gimana?. Malu-maluin, iya!",jawab William.
"Kok bisa?. Ada apa emangnya?",tanya El yang begitu penasaran.
"Tanya aja sahabat kamu, Jenifer!",jawab William.
"Jenifer!",bisik El yang tidak menyangka kalau Jenifer bikin ulah.
"Owh...iya, kemarin kenapa kamu buru-buru pulang?. Terus laki-laki yang jemput kamu itu siapa?",tanya William.
"Aku kecapekan Will",jawab El mencari alasan yang masuk akal. "Dia, teman Abang aku",lanjutnya bohong, karena ia tidak mau kalau sampai semua orang tahu, bahwa ia sudah bertunangan.
"Wah...pasti dia tajir melintir tuh!",goda William.
El hanya menjawab tersenyum miring.
***
__ADS_1
Akhirnya pelajaran telah usai. El bergegas untuk keluar dari kampus.
Dret... Dret... Dret...
Ponselnya berdering tanda ada sebuah pesan masuk.
"Sayang, kamu dimana?".
Kak Edwan.
El langsung mematikan ponselnya. Karena ia tidak mau di ganggu oleh Kak Edwan. Ia memasukkan ponselnya kedalam saku. Ia segera pergi ke halte. Dan setiba di halte ia naik busway. Ia mencari tempat duduk yang kosong. Ia menyandarkan punggungnya. Tuhan, bantu aku untuk bisa lepas dari Kak Edwan?. Aku sudah tidak kuat lagi menahan perasaan yang selama ini mengganjal di hatiku?. Aku ingin bertemu dia, sekali saja!. Sebelum dia pergi meninggalkan aku disini. Aku ingin memeluknya walaupun hanya sedetik saja! doa El dalam hati.
***
Di sebuah kafe sedang sepi pengunjung. El segera keluar dari kamar ganti setelah memakai seragam kafe. Ia tidak lupa mengikat rambutnya tinggi. "Sepi ya?",tanya El yang sudah stay by.
"Iya nih. Oh...iya kemarin malam gimana ceritanya Kak Edwan jemput kamu?",tanya Adele.
"Ceritanya panjang, Del. Aku gak mau ketemu lagi sama dia. Dia benar-benar jahat, Del?",ucap El yang pasrah.
"Maksud kamu apa?. Jahat gimana?",tanya Adele yang sudah tidak sabar.
"Aku gak bisa ceritain sekarang. Tapi, aku janji, aku bakal cerita sama kamu kalau masalah aku udah selesai!",jawab El sambil melihat ke arah pintu masuk. Disana Kak Edwan baru saja turun dari mobil. "Dia datang, jawab aja aku gak kerja ya?",ucap El yang langsung berlari masuk kedalam kantor.
Adele merasa bingung dengan tingkah laku El. Tidak biasanya El akan menghindari dari Kak Edwan.
Kak Edwan masuk dan langsung bertanya ke Adele. "Dimana El?",tanya Kak Edwan yang sudah tidak sabar.
"Kakak tanya sama saya?",tanya Adele balik. Karena ia kesal melihat Kak Edwan tidak punya sopan santun.
"Kalau gak sama kamu, siapa lagi yang ada di hadapanku?",bentak Kak Edwan yang kesal dan marah dengan Adele sahabat dari El itu.
"Kakak pernah sekolah public speaking kan?. Seharusnya Kakak punya tata Krama dan sopan santun dalam bertanya!. Apa lagi Kakak memimpin perusahaan yang besar?",jawab Adele yang menantang.
"Apa?",bentak Adele tidak percaya. "Kuman-kuman kecil?. Seharusnya Kakak sadar diri dengan perkataan Kakak?. Pantas aja El udah muak dengan Kakak!. Sekarang, keluar dari kafe ini!",teriak Adele yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Oke... Aku akan laporkan kamu ke manager kamu?. Supaya kamu cepat-cepat di pecat dari kafe ini!",ancam Kakak Edwan.
"Laporin aja Kak. Aku gak takut!", teriak Adele yang sudah sampai di ubun-ubun.
Kak Edwan langsung pergi keluar dari kafe. Ia marah karena tidak bisa bertemu El di kafe ini. Ia langsung masuk kedalam mobil dan pergi.
"Aku tarik kata-kataku dulu!. Kalau kamu adalah orang baik!. Ternyata, enggaaaakkkkk!",teriak Adele yang kesal.
El keluar dari tempat persembunyiannya. "Adel, kamu terlalu berani?",ucap El.
"Kenapa sih El, kamu bisa betah sama dia sampai tiga tahun?. Tiga tahun El!",teriak Adele yang marah.
"Siapa yang betah Del?. Aku lagi berusaha supaya aku cepat-cepat bisa bebas tanpa dia?. Ini gak seberapa Del yang di lakukan sama dia tadi malam!",jawab El yang kesal melihat Kak Edwan seperti ini.
"Maksud kamu?",tanya Adele heran.
"Aku gak bisa ngebayangin kalau Kak Saga tidak menolongku. Aku tidak mungkin ada di kafe ini?",ucap El.
"Maksud kamu apa sih El?. Jangan buat teka-teki napa?",sahut Adele. "Aku jadi bingung?", lanjutnya.
El memegang lengan Adele. "Aku gak bisa cerita sama kamu sekarang!. Doain aku ya, supaya aku bisa buktikan kalau Kak Edwan tidak pantas untuk di perjuangkan!",kata El.
"Aku akan selalu dukung kamu, El!. Aku akan selalu ada buat kamu. Kamu tenang aja!",sahut Adele.
"Terimakasih ya, Del!",ucap El yang memeluk Adele. Adele seperti Kakak buat El. Ia merasa aman dan nyaman saat bersama sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya sama-sama",jawab Adele yang membalas pelukan dari El. "Kalau kamu belum siap untuk cerita gak apa-apa!. Aku akan selalu ada buat kamu!", lanjutnya.
"Ya udah, buruan ke kampusnya?. Nanti kamu terlambat lagi?",kata El kepada Adele.
"Hari ini pak dosen gak hadir kok. Dia ada tugas di luar kota. Ya udah deh, tugasnya lewat email",jawab Adele.
"Oh...gitu!. Jadi aku ditemenin nih?",goda El.
"Iya, aku temenin sampai malam!",cicit Adele.
"Makasih Adel ku sayang!",kata El di buat semanja mungkin.
Tiba-tiba William masuk ke dalam kafe. Ia melihat El sedang memeluk Adele. "Mbak, bisa pesan kopi Flat Whitenya?",ucap William yang sudah berdiri didepan meja kasir.
Adele dan El kaget. Mereka langsung melihat kearah sumber suara. "William!",ucap mereka berdua kompak.
"Kalian ngapain peluk-pelukan ?. Kalau peluk-pelukan aku juga mau ikutan?",goda William.
"Enak aja kamu, Will!",teriak Adele.
"Kamu sendirian aja?",tanya El.
"Aku janjian sama teman kok. Nanti juga kesini orangnya!",jawab William.
"Oh... Ya udah, aku buatin dulu ya kopinya?",kata El yang berjalan kebelakang membuat pesenan William.
Seseorang membuka pintu kafe. Ia berjalan menuju meja pemesanan. Ia berjalan dengan kharismatik yang tinggi.
Adele yang melihat seseorang itu berjalan menghampirinya. Ia menggangga tidak percaya kalau bintang tamu yang kemarin ada di seminar sekarang berkunjung di kafenya. "Samuel!",kata Adele.
William yang mendengar kata Samuel langsung menengok kebelakang. Benar, Sam sudah tiba di kafe ini. "Hallo bro!",sapa William.
"Hallo.... Kirain aku salah kafe",sahut Sam yang sudah berdiri disamping William.
Adele tidak percaya lagi kalau Samuel ketemuan sama William disini. Adele bisa mencium bau minyak wangi milik Sam, karena Sam berdiri tepat di depan Adele. Wangi banget! batin Adele.
"Kan aku udah bilang. Kamu mau pesan apa?",tanya William.
"Kopi pahit aja deh!",jawab Sam.
"Del, kopi pahit satu ya?",kata William.
"Iya. Segera saya buatkan!",seru Adele yang begitu semangat membuat kopi buat sang pujaan hati.
"Mana orangnya?. Jangan bilang, yang tadi?",tanya Sam.
"Enggak dong. Bentar, dia lagi buat pesanku!",jawab William.
El keluar dari tempat pembuatan kopi pesanan William. Ia berpapasan dengan Adele, ia heran kenapa Adele sangat bersemangat sekali. Ia kemudian berjalan kemeja kasir dan ternyata....
Deg. Mata El langsung menuju ke seseorang yang sedang berbincang-bincang dengan William.
Sam merasa ada yang memperhatikan. Ia langsung melihat seseorang yang berdiri di depannya. Deg. El.
Pyarrrr..... Gelas yang berisi kopi pesenannya William jatuh.
William langsung melihat kearah El. Ia kaget. "Ada apa El?",tanya William. "Kamu gak apa-apa?", lanjutnya panik.
Mata El masih tidak berkedip. Ia masih melihat Sam berdiri di depannya. Mata mereka bertemu. Ada sebuah kerinduan yang mendalam. Ia tidak menyangka kalau Sam bisa ada disini, di depannya saat ini. Tuhan, bolehkah aku memeluknya walau hanya sedetik?.
***
__ADS_1
Jangan lupa komen, like dan vote.
Terimakasih.