
Happy Reading.
***
Pagi.
El berjalan di trotoar menuju ke kafe. Ia berjalan dengan hati yang kacau. Karena acara tadi malam yang sangat membosankan.
***
Flashback on.
"Pokoknya Mama mau setelah nanti El lulus pendidikan, kamu harus segera menikah sayang?",ucap Mama Viola kepada Kak Edwan.
El yang mendengar itu langsung tersedak. Bagaiman bisa, Mama Viola bisa bicara seperti itu? batin El sambil mengambil minum.
"Kamu gak apa-apa sayang?",tanya Kak Edwan dan Mama Viola berbarengan.
El menjawab dengan menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak apa-apa.
"Tapi Ma?. Edwan belum siapa!",ucap Kak Edwan.
"Kamu kurang apa lagi?. Pekerjaan sudah mapan?. Apa kamu mau El diambil oleh orang lain?",ucap Mama Viola marah.
"Tapi Ma?".
"Tapi apa sayang?",tanya Mama Viola.
"Tapi, aku belum siap!. Mungkin El mau kerja dulu?",kata Kak Edwan yang memandang El meminta persetujuannya.
El mengerti maksud dari Kak Edwan. "Iya Ma, apa yang di katakan oleh Kak Edwan benar!. El mau kerja dulu!",sahut El.
"Sayang seorang wanita itu butuh kepastian?. Kok kamu malah membela Kak Edwan?",ucap Mama Viola.
"Bukannya El mau membela Kak Edwan ma?. Karena El mau kerja dulu,itu kemauan El. Karena impian El masih banyak!",sahut El sambil memegang tangan Mama Viola supaya mengerti. Karena ia tidak mau menikah dengan orang yang tidak ia cintai.
"Oke sayang, mama mengerti!",jawab Mama Viola. "Tapi Mama heran sama Edwan?. Biasanya dia yang paling semangat kalau kita bahas tentang pernikahan?. Tetapi hari ini beda?",tanya Mama Viola mengintrogasi.
Kak Edwan langsung melihat ke arah Mamanya. Ia bingung mencari alasan, supaya tidak terburu-buru menikah dengan El, karena ia masih punya janji dengan Chika, pacarnya. Ia tersenyum lebar, menghilangkan kegugupan yang ada. "Ya, karena aku ingin mewujudkan cita-citanya calon istriku dulu ma!",jawab Kak Edwan mencoba santai.
Cita-cita dari Hongkong?. Sukanya aja ngancam-ngancam orang! batin El tidak terima atas jawaban Kak Edwan.
"Ya terserah kalian aja, baiknya gimana!",jawab Mama Viola bijaksana.
flashback off
***
Tiba-tiba El menabrak seseorang karena dia sedang tidak fokus dengan didepannya.
Brukkk...
Kopi seseorang jatuh di tanah dan muncrat mengenai lengan El.
"Auhhhhh...panas!",teriak El kepanasan.
Seseorang yang menabrak itu bingung dan mengambil gelas yang berisi kopi yang tumpah itu, ia langsung berjalan ke arah air mancur untuk mengambil air disana.
El kesakitan karena lengannya kena air kopi. "Panas.... Panas...!",ucap El berulangkali.
__ADS_1
Seseorang itu langsung menyiram lengan El dengan air mancur itu. "Gimana udah baikkan?",tanya seseorang itu sambil melihat ke arah El.
"Baikkan gimana?. Panas banget, iya!",teriak El yang langsung melihat seseorang itu.
Deg. Mereka melihat satu sama lain terkejut bukan main. "El....!",kata seseorang itu. "Kak Saga...!",kata El bersamaan.
"Maaf, maafin aku?. Aku benar-benar gak sengaja?",ucap Kak Saga khawatir. "Kita ke rumah sakit ya sekarang?",kata Kak Saga.
"Gak usah Kak!. Aku gak apa-apa, tapi agak panas juga!",jawab El menahan rasa sakit.
"Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang?",ajak Kak Saga.
"Gak usah Kak!. Bentar ya Kak, aku ke toilet dulu?",pamit El yang langsung lari ke Cafe Love Lon. Ia langsung menyirami lukanya dengan air mengalir.
Kak Saga pergi ke apotek untuk membeli salep luka. Saga menunggu di dalam kafe. Ia memesan 2 porsi coffe late. Ia menunggu El dengan perasaan khawatir. Bagaimana El bisa ada di negara ini?. Apakah El kuliah di negara ini? batin Kak Saga bertanya-tanya.
El datang setelah memberikan lukanya dengan air mengalir.
Kak Saga mempersilahkan duduk di sampingnya. "Duduk sini?", perintah Kak Saga.
El duduk disamping Kak Saga.
Kak Saga mengambil salep yang sempat ia beli tadi. Ia membuka salep itu dan mengoleskan ke lengan luka air panas tadi. "Gimana rasanya?",tanya Kak Saga sambil mengoleskan dengan hati-hati.
"Dingin Kak!. Darimana salep itu Kak?",tanya El.
"Disamping sana ada apotek tadi, kata teman kakak, kalau ada luka bakar atau luka air panas langsung disuruh kasih salep ini!",jawab Kak Saga. Cincin? batin Kak Saga yang melihat cincin yang tersematkan di tangan kiri jari manis El.
"Terimakasih ya Kak?",ucap El tersenyum.
"Terimakasih buat apa?. Kalau tadi Kakak gak numpahin kopi, kamu gak akan kesakitan kayak gini?. Kakak yang salah?. Dan yang seharusnya minta maaf itu Kakak?",ucap Kak Saga panjang lebar.
"Gak apa-apa kok. Nih udah baikkan, tadi udah dikasih salep sama Kak Saga!",kata El memuji.
"Apaan sih?. Ini semua gara-gara Kakak, kamu jadi kesakitan kayak gini!",sahut Kak Saga tidak terima atas pujian dari El.
"Udah-udah, gak usah saling berebutan?. Aku yang salah!",seru Adele tersenyum ke arah Kak Saga.
"Apaan sih!",sahut Kak Saga.
"Kamu tahu gak El, Kak Saga ini Kakak senior kita?",ucap Adele.
Ha.... El langsung terbelalak mendengar ucapan Adele. "Kok bisa?",tanya El tidak yakin.
"Iya. Serius!",jawab Adele. "Tahun ini, Kakak wisudakan?", tanya Adele memastikan kepada Kak Saga.
"Jadi kamu juga kuliah di Universitas xxx?",tanya Kak Saga tidak percaya.
El mengangguk kepalanya tanda iya.
"Tapi kok kita gak pernah bertemu?",tanya Kak Saga heran.
"Mungkin akunya yang sibuk Kak!. Soalnya aku kerja sampingan, sebagai penjaga kafe ini!",jawab El.
"Haa... Penjaga kafe ini!",sahut Kak Saga kaget. "Kakak sering lho nongkrong disini?",ucap Kak Saga.
"Disini kerjanya shift Kak!. Mungkin pada saat Kakak kesini, aku gak ada!",jawab El.
"Kamu udah kenal El sama Kak Saga?",tanya Adele melihat keakraban mereka.
__ADS_1
"Udah. Dia teman aku di Jakarta!",jawab El sambil melihat kearah Kak Saga.
"Jadi Kakak kenal dong dengan Edwan?",ucap Adele tiba-tiba.
"Edwan?",tanya Kak Saga balik, karena nama itu tidak begitu asing baginya. Ia berpikir keras dengan nama itu.
"Adel, gak ada hubungannya dengan Kak Edwan!",seru El memperingatkan.
"Ada apa dengan Edwan?. Bukannya dia Kakaknya Sam?",tanya Kak Saga menebak.
"Dia tunangannya El, Kak!",teriak Adele yang langsung lari setelah berteriak.
"Apa?",sahut Kak Saga kaget mendengar teriakkan Adele.
"Adele!",teriak El. "Lebih baik kamu kerja dulu, nanti aku nyusul!",lanjutnya.
"Tunangan?. Sama Kak Edwan?",tanya Kak Saga berusaha mencernanya. "Kok bisa?. Bukankah yang suka itu Sam?. Kok bisa Kakaknya yang melamar kamu?",lanjut Kak Saga panjang lebar dengan pertanyaan yang meragukan.
"Maaf ya Kak, aku harus pamit kerja dulu!. Bentar lagi manager aku datang?. Aku gak mau nanti manager aku marah-marah sama Kakak?",pamit El yang langsung berdiri.
"Kamu gak mau menjelaskan semuanya?",tanya Kak Saga yang tidak sabar menunggu penjelasan dari El. "Kita udah tiga tahun lho El gak bertemu ?. Apa kamu gak rindu sama aku?",lanjutnya.
"Nanti aku akan menjelaskan semuanya Kak?. Tapi gak sekarang?. Nanti malam Kakak bisa nunggu aku di taman kota?",kata El.
"Kenapa aku gak boleh menjemput kamu disini?",tanya Kak Saga penasaran.
"Aku gak mau Kakak dalam masalah. Ya udah, aku kerja dulu ya Kak!",pamit El yang langsung berjalan meninggalkan Kak Saga yang masih duduk di kursinya.
Tunangan sama cowok brengsek itu?. Kok bisa?. Aku gak habis pikir kalau El bisa tunangan sama dia?. Kemarin malam Edwan aja bersenang-senang dengan wanita lain?. Apa itu yang dinamakan tunangan dengan El? batin Kak Saga yang sedang bingung.
***
Flashback on.
Suara musik berdentum dengan sangat keras di gedung club malam. Semua berjoget-joget ria dengan senang dan semangat. Mereka tidak lupa memesan minuman alkohol.
"Bro, sendirian aja kamu?",tanya Brian dan teman-teman yang baru datang. Mereka langsung ikut berkumpul bersama menikmati malam yang indah.
"Lagi boring nih aku!. Capek kerja mulu!",sahut Saga. "Tumben kamu sendiri aja?. Mana pacar bule kamu itu?",tanya Sam pada Jhonny sahabatnya.
"Dia udah ada yang baru!. Malah tajir melintir calon suaminya!",sahut Brian, karena Jhonny sedang tidak fokus diajak bicara.
Saga tersenyum miring mendengar sahabatnya sedang patah hati. Ia menepuk bahu sahabatnya itu. "Udah, sikat aja kalau ketemu tuh cowoknya!",kata Saga.
"Dia ada disini kok!",jawab Jhonny lemas.
"Mana?",tanya Saga clingak-clinguk.
"Tuh!",kata Brian memegang kepala Saga untuk melihat jari telunjuknya yang di tujukan kepada Chika dan Edwan.
Mata Saga terbelalak. Ia tidak menyangka kalau Edwan ada di negara ini.
Disana Chika dan Edwan sedang tertawa lepas tanpa beban yang ditemani segelas minuman alkohol yang mereka pegang. Edwan mencuri-curi kesempatan untuk selalu menciumi tubuh sang pujaan hatinya.
Flashback off
***
Jangan lupa komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.