
Happy Reading.
***
El tercengang dan membulatkan matanya dengan sempurna.
Sam melihat ekspresi keterkejutan El tertawa terbahak-bahak dalam hatinya. Lalu ia bergegas untuk keruangannya. Ia tersenyum dengan puas melihat tingkah laku El yang sangat menggemaskan ini.
El meruntuki kebodohnya karena menuliskan nama Sam dalam tulisan laporannya. Bego...bego...bego banget aku nih! batin El sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
Tamara datang melihat El seperti orang sedang memaki dirinya sendiri. "Kenapa kamu, El?",tanya Tamara penasaran.
El merengek seperti anak kecil yang sedang meminta permen. "Bagaimana nih mbak!. Taruh mana mukaku ini?",rengek El memandang laptop.
"Ya taruh muka kamulah. Lalu mau ditaruh mana lagi?",tanya Tamara balik.
"Boleh tidak sih Mbak, aku minta di kirim ke planet lain supaya tidak melihat dia lagi disini!",kata El tidak jelas.
"Ngomong apa sih kamu, El. Aku kok malah bingung sendiri?",kata Tamara sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
El menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Ia saat ini tidak mau bertemu dengan Sam.
"Ada apa sih?. Apakah ada hal yang tadi sempat aku lewatkan?",kata Tamara yang dibuat bingung oleh El.
"Tadi aku tidak sengaja menulis isi hati aku di laporan kuliahku mbak. Dan itu tentang Sam!",rengek El yang masih dengan muka ditutupi.
Tamara tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan El. "Berarti kamu masih sayang dan cinta sama dia. Kamunya aja yang terlalu jual mahal!",ucap Tamara.
"Bukan begitu mbak".
"Lalu apa, buktinya kamu nulis isi hati kamu di laporan kuliah kamu. Dia juga tidak akan pernah tahukan!",tebak Tamara.
"Tidak tahu bagaimana mbak?. Jelas-jelas tadi dia mengambil laptopku dan membacanya!",rengek El lagi.
"Apa?",tanya Tamara tidak percaya. Lalu ia melanjutkan tawanya lagi.
El bertambah malu karena di ledek oleh Tamara.
Sam tiba-tiba keluar dari ruangannya. Ia melihat El yang sedang merengek dan Tamara sedang tertawa. "Ada apa ini?",tanya Sam.
Tamara dan El langsung mengalihkan perhatian kepada Sam yang baru saja keluar ruangan. Mereka berdua tersenyum dengan paksa.
"Tidak ada apa-apa kok Pak. Kita sedang bercanda",jawab Tamara asal.
"Ya sudah, tolong bawa laporan kemarin ke meja saya. Saya mau keluar sebentar!",kata Sam yang langsung menuju lift.
Tamara dan El saling pandang satu sama lain.
"Tumben Pak bos keluar dari ruangannya. Biasanya kan anak buahnya yang datang!",cicit Tamara sambil menyiapkan berkas hasil metting kemarin.
Ada apa ya, sepertinya dia sedang buru-buru? pikir El yang melihat pintu lift yang masih tertutup.
***
Jam istirahat sudah tiba. Seluruh karyawan pergi ke kantin maupun makan siang diluar kantor.
El dan Tamara sedang membereskan berkas-berkas yang sudah selesai ia koreksi. Lalu pintu lift terbuka dan Edwan dengan lancang langsung masuk ke ruangan CEO.
Tamara dan El bingung atas sikap mantan CEO sementara itu. Tamara dengan cepat langsung lari mengikuti langkah Edwan yang panjang itu, karena ia berkewajiban menjaga privasi dan data-data perusahaan. "Bapak tidak berhak main masuk kedalam ruangan Pak Samuel!",cegah Tamara yang sudah ada di depan pintu ruangan Sam.
"Kamu jangan banyak ikut campur dengan urusan saya!",sahut Edwan yang sudah masuk kedalam ruangan Sam. Ia mencari berkas-berkas di laci-laci dan lemari.
__ADS_1
"Saya tegaskan lagi Pak, tolong bapak tunggu diluar ruangan Bapak Sam, karena Bapak sudah tidak berhak ikut campur dalam urusan perusahaan ini. Apa lagi Bapak Samuel sedang tidak ada diruangannya!",kata Tamara memberi peringatan.
"Diam kamu!",bentak Edwan. Ia mengambil sebuah pot bunga yang ada di samping meja. Lalu melemparkan ke depan pintu ruangan CEO.
Pyarrrr....
Sebuah pecahan pot terbang ke wajah Tamara. "Auhhhhhhhh!",lirih Tamara kesakitan sambil memegang luka diwajahnya.
El segera menghampiri Tamara yang terluka setelah ia sempat menghubungi keamanan dibawah. "Ya ampun mbak Tamara!", El memberikan sebuah tisu untuk menghentikan darah segar yang terus keluar.
"Sakit El!",lirih Tamara sambil menekan lukanya.
"Maaf mbak!". El melihat sekilas ruangan Sam penuh dengan kertas-kertas yang berserakan. Edwan telah mengacaukan ruangan Sam. "Mbak Tamara disini dulu ya!".
"Jangan El, bahaya!".
"Tidak apa-apa Mbak. Edwan tidak akan menyakitiku, karena itu adalah kelemahannya!",tekad El yang langsung berjalan masuk kedalam ruangan. "Apa yang Kakak cari diruangan ini?",tanya El yang menyilangkan kedua tangan didepan dada.
"Tanpa aku jawab, pasti kamu sudah tahu apa maksud dan tujuan ku membuat kantor ini sampai berantakan seperti ini!",jawab Edwan sambil memcari sesuatu.
"Apa tidak ada cara lain untuk bisa mendapat penghasilan sendiri tanpa harus menjatuhkan lawannya!",cicit El sombong.
Edwan kaget dengan pernyataan El lalu menjatuhkan berkas yang tadi ada di tangannya. "Maksud kamu apa?",tanya Edwan yang mengalihkan tatapannya kearah El.
"Masa kakak tidak mengerti maksud dariku?. Kak, Sam sudah berusaha mati-matian mendirikan perusahaan ini, dan dengan mudahnya Kakak akan menghancurkannya Sam tidak akan tinggal diam Kak. Harusnya Kakak cepat sadar dan bertobat atas kesalahan Kakak. Bukan malah sebaliknya!",kata El.
Edwan langsung berjalan kearah El. Ia kemudian memegang rahang bawah El dengan kencang. "Jaga ucapan kamu, El!. Kamu tahu semua alasan aku berbuat seperti ini. Karena dari dulu Sam mempunyai segalanya daripada aku. Kamu, perusahaan dan kedua orangtua semua mendukung Sam, sedangkan aku hanya sampah bagi mereka!".
El menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak Kak. Mereka sayang sama Kakak, tapi tingkah laku Kakak yang membuat mereka seperti ini!".
"Kalau mereka sayang sama aku, buktinya apa!. Kamu saja sayang sama dia, bukan sama aku!",bentak Edwan.
El meneteskan air mata. Ia tidak menyangka akan berdampak kepada kakaknya Sam.
"Auh....!". El memegang rahangnya, ada sedikit darah yang keluar dari bibir sampingnya karena terlalu kasar Edwan menekan.
"Pasti kamu tidak mau kan?",tanya Edwan dengan nada tinggi.
"Aku tidak bisa Kak!",jawab El tegas.
"Kenapa!. Kenapa kamu selalu menolak ku!. Apa gara-gara kamu lebih cinta sama dia!",tanya Edwan yang masih dengan nada amarahnya.
"Bukan...bukan itu Kak. Aku sayang sama Kakak, tapi bukan berarti aku harus cinta sama Kakak. Kakak ingatkan, kita sudah putus secara baik-baik, aku tidak membongkar kelakuan Kakak ke keluargaku karena aku mau menjaga nama baik Kakak. Tapi, kenapa Kakak masih mengharapkanku ada di samping Kakak?",jelas El.
Edwan mendekat lagi ke El dan memegang rahang bawah El dengan sangat keras. "Kamu ingin tahu?".
El berusaha mengangguk kepalanya walaupun pelan karena merasakan sakit.
"Karena kamu adalah kelemahan hidupnya!",kata Edwan sedikit namun pasti.
Tiba-tiba Sam dan beberapa orang yang bertugas keamanan tiba di tempat.
"Lepaskan El!",teriak Sam.
El dan Edwan melihat Sam yang berdiri di depan pintu. El sangat bersyukur Sam segera datang menolongnya.
Edwan menyunggingkan senyuman dengan licik. Ia kemudian melemparkan tubuh El kesembarang tempat.
"Auh!",rintih El kesakitan. Ia jatuh tersungkur ke lantai.
Edwan berjalan mendekati El yang terjatuh. Ia duduk berjongkok sambil memandang El penuh licik. "Inikan pahlawan kesiangan kamu!",kata Edwan mengejek.
__ADS_1
El memandang Edwan penuh dengan kebencian. Ia tahu bahwa kesalahan yang dulu Edwan lakukan padanya belum termaafkan dan dia melakukan kekerasan fisik lagi terhadapku.
"Bawa mereka berdua keluar dari ruangan ini Pak!",perintah Sam kepada para keamanan perusahaan.
"Baik Pak!",jawab para keamanan yang langsung melaksanakan tugasnya. El dan Tamara mereka papah sampai meninggalkan ruangannya.
Kedua tangan Sam mengepal dengan pandangan lurus ke depan. Otot-ototnya semakin terlihat bahwa ia saat ini sedang marah besar. "Kesabaran ku sudah habis Kak!. Aku tidak akan tinggal diam melihat Kakak selalu merecoki hidupku maupun hidupnya El!",kata Sam tegas.
"Hahahahaha!",tawa Edwan menggema seisi ruangan. "Apa!. Kamu mau berantem sama kakakmu ini?",goda Edwan.
"Aku tidak akan mengotori tanganku sendiri untuk melukai kakak kandungku!".
"Hahahaha!",tawa Edwan bergema lagi. "Kamu takut?".
"Tapi, biarkan hukum yang mengadili Kakak!".
Para pasukan polisi masuk ke dalam ruangan CEO.
"Apa!", Edwan tercengang melihat para polisi ada di ruangan ini. "Apa-apaan ini Sam!",teriak Edwan tidak terima.
Para polisi membekuk Edwan dengan borgol yang sudah ada di tangan Edwan.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Sam!",teriak Edwan mencoba melepaskan borgol yang melingkar ditangannya. "Kamu mau bikin aku malu di perusahaan kami... Ha!".
"Aku sudah memperingatkan Kakak dengan sangat baik, tapi Kakak tidak mengindahkan perkataan ku. Kakak selalu saja mencoba untuk menghancurkannya!".
"Sialan kamu, Sam!. Kamu benar-benar durhaka terhadap Kakak kamu sendiri!".
"Ini tidak lagi bisa di toleransi Kak. Kita akan bertemu lagi di meja hijau!",pesan Sam. "Bawa dia Pak!",perintah Sam.
"Baik Pak Sam!",jawab salah satu polisi.
"Jangan Pak!. Saya tidak bersalah!",teriak Edwan dengan nada yang keras dan berkali-kali.
Dan akhirnya Pak polisi membawa Edwan pergi.
Disisi lain El dan Tamara di bawa ke pusat kesehatan yang ada di perusahaan karena itu salah satu fasilitas yang tersedia di sana.
Tamara sedang di jahit di bagian pipinya karena ia mengalami luka sobek yang cukup dalam. Sedangkan El hanya luka di bagian pojok bibir.
Sam membuka pintu di pusat kesehatan. Ia melihat El yang sedang di obati oleh tim kesehatan. "Bagaimana lukanya?",tanya Sam khawatir.
"Nona El hanya sobek di pojok bibir Pak sedangkan Nona Tamara baru di jahit di bagian pipinya karena mengalami luka sobek yang cukup dalam!",jelas Pak Justin yang merupakan salah satu tim kesehatan.
"Ok. Tapi, bolehkan saya mengobati luka Nona El?",tanya Sam yang melihat mereka berdua begitu mesra, karena tiba-tiba hatinya memanas.
El tercengang dan langsung menengok kearah Sam yang berdiri disampingnya.
"Oh...silakan Pak!",jawab Justin yang berdiri dari kursi dan mempersilahkan bosnya mengobati sang karyawan.
Jantung El berdetak kencang melihat Sam duduk tepat di depan wajahnya. Ini tidak bisa di biarkan!.
"Sepertinya saya bisa melakukan sendiri Pak!",ucap El dengan cepat lalu mengambil kapas yang ada di meja.
Dengan sigap Sam langsung mengambilnya satu detik lebih cepat daripada El.
Tangan mereka saling menyentuh satu sama lain. Dan mata mereka bertemu mengisyaratkan rasa rindu yang tidak akan pernah terbalaskan.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.