Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Sebuah Tamparan


__ADS_3

Happy Reading.


***


Sesampai di depan kantor polisi. El berhenti dengan nafas yang tidak beraturan. Ia berhenti sejenak untuk mengambil nafas dalam-dalam. Ia melihat papan tulisan yang bertuliskan sebuah kata polisi. Lalu ia menengok ke samping melihat sebuah dinding kaca yang lebar. Disana terdapat beberapa orang yang sedang mengintrogasi dua orang dan salah satunya adalah.......


Dia.


Dia sedang berbicara dengan salah satu polisi yang menanganinya.


Lalu mobil yang di kendarai oleh Ardi datang. Ardi bergegas masuk kedalam tanpa melihat dirinya yang sedang berdiri di depan kantor polisi.


El melihat Ardi masuk kedalam kantor polisi. Tanpa ia sadari seseorang melihatnya dengan tatapan penuh arti. El lalu melihat lagi kearah dinding kaca dan Sam yang sedang duduk di antara mereka memandang kedua mata El yang sedang berdiri di depan kantor polisi. Mata mereka bertemu. El memandang dalam mata Sam, ia sebenarnya ingin menyapa dan membantu dalam masalah ini. Tapi, ia ragu ingin melangkahkan kakinya masuk kedalam.


Bella yang baru saja datang berdiri di belakang El. Ia tidak mau ikut campur dalam masalah pribadi diantara mereka.


Mobil taksi berhenti tepat di depan kantor polisi. Ia melihat El yang berdiri di depan kantor polisi segera turun dari mobil taksi. "Dasar cewek sialan!",umpatnya yang menghampiri El dan Bella.


El menengok kebelakang, benar itu adalah Laura. Dia berjalan menghampiri diriku.


Pyarrrr....


Satu tamparan berhasil melayang di pipi manis El.


El kesakitan menahan pipinya dengan tangan kanannya.


Bella tidak tinggal diam. Ia segera membela El. Ia merentangkan kedua tangannya supaya tidak disakiti oleh Laura. "Maksud anda apa?. Kenapa anda menampar sahabat saya?",marah Bella.


Laura menyunggingkan senyuman yang licik dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Ini pasti ulah kamu Kan!. Aku sudah bilang berulang-ulang kali untuk menjauhi tunangan saya!. Tapi, sepertinya ancaman saya tidak ada arti apa-apa bagi kamu!",ucap Laura marah.


Bella yang mendengar pengakuan Laura kaget. Ia menengok kebelakang dan melonggarkan kedua tangan. "Kamu kenal El sama wanita ini?",tanya Bella.


El terdiam menahan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Pipinya merah menampakkan tangan si penampar karena tangannya sudah turun di samping paha.


"Kalau kamu ingin hidup damai, jaga jarak dengan tunangan saya jauh sejauh-jauhnya. Kalau perlu kamu pindah sekarang juga ke negara asal kamu!",ancam Laura.


"Aku tidak takut sama ancaman kamu, Laura!. Aku kesini, hanya khawatir sama dia. Tapi, bukan berarti aku masih punya perasaan sama dia!",kata El tegas.


"Aku tidak salah dengar!",sahut Laura. "Bukankah ini semua gara-gara kamu, kamu yang menyebabkan kekacauan ini?",singgung Laura.


"Bukan Laura. Aku tidak ada ditempat kejadian itu!",jawab El membela diri karena ia tidak didalam kejadian.


"Omong kosong!",bentak Laura yang melayangkan lagi tangannya untuk bersiap menampar pipi El lagi.El menundukkan kepalanya takut terkena sebuah tamparan lagi. Tetapi, sebelum melayangkan tangan kepipi El, ada seseorang yang menahannya dengan sempurna. "Berhenti Laura!",pinta Sam.


El tercengang mendengar suara seseorang. Ia lalu mendongakkan kepalanya untuk bisa melihatnya.


"Ini semua tidak ada hubungannya sama wanita ini!",kata Sam mengibaskan tangan Laura dengan kasar.


"Tapi sayang, aku khawatir sama kamu?. Bolehkah sekali saja kamu tidak membuat aku seperti ini?",ungkap Laura sambil memegang luka wajah yang babak belur.


"Ok!",jawab Sam melepaskan tangan Laura. Karena seluruh wajahnya penuh luka. Ia sekilas melihat pipi kanan El, ada bekas tangan Laura yang membentuk warna merah. Ia memberikan sebuah es batu langsung ke tangan El yang sudah terbungkus rapi di dalam sapu tangan. "Itu buat kamu supaya kamu tidak melaporkan Laura dengan tuduhan penganiayaan!",cicit Sam yang langsung mengajak Laura untuk masuk kedalam.


El memegang es batu itu. Dingin. Iya, dia merasakan sesuatu berubah didalam hatinya maupun hatinya sendiri. "Apa aku salah bila masih khawatir sama dia?",lirih El pelan sambil memegang es yang ia pegang.


"Tidak El. Itulah hati manusia yang masih peduli dengan manusia lainnya. Berarti hati kamu masih tulus belum berubah menjadi kaku",sahut Bella.


Disisi lain Sam yang sudah ada di dalam hanya melihat El dari tembok kaca. Ia harus bisa menunjukkan kepada El bahwa, ia sanggup tanpa dirinya.


"Sekarang kita pulang yuk?. Sudah malam",ajak Bella menggandeng tangan El. El hanya menuruti langkah Bella yang membawanya pulang.


***


Keesokan Hari.

__ADS_1


El masih terbaring di tempat tidur. Ia masih memejamkan kedua matanya.


"El, kamu tidak pergi ke kampus?",tanya Bella tetapi tidak ada sahutan dari El. Tidak biasanya El seperti itu. Ia lalu mendekati El dan sedikit menggoyangkan tubuh El pelan. Panas, ya tubuhnya sangat panas. "Ya ampun El, kamu demam!",panik Bella sambil memegang kening El. Ia segera menghubungi dokter yang bertugas di kampus. "Hallo Dok, teman saya saat ini sedang demam Dok. Bolehkah saya meminta untuk memeriksa teman saya?. Saya ada di kamar!",jelas Bella yang langsung mematikan ponselnya setelah mendengar jawaban dari sang dokter. Ia segera mengambil kain kompres dengan air hangat. Dan meletakkan di kening El. "El bangun El!. Kamu harus kuat!".


Bel berbunyi dari pintu, itu pasti sang dokter. Bella segera menghampiri sang dokter. Ia membukakan pintu menyambut sang dokter dan mempersilahkan untuk memeriksa El.


Dokter masuk dan langsung memeriksa El. "Panasnya tinggi. Kita harus memberikan infus supaya panasnya bisa turun!",kata dokter yang mengecek kondisi El.


"Iya Dok. Tapi, kalau El dirawat disini bisakan Dok?. Tanpa harus ke rumah sakit?",tanya Bella khawatir.


"Bisa. Kita harus bawa dia ke ruang kesehatan di dalam kampus. Supaya mendapatkan perawatan yang baik!",saran Dokter David karena didalam kampus lengkap fasilitas yang diberikan oleh kampus.


"Baik Dok!",jawab Bella.


Dokter David mengendong El dengan sekuat tenaga. Dan Bella bertugas membawa tas dokter.


Sesampai didalam ruang kesehatan. El dibaringkan di ranjang. "Ada pasien!",ucap David memberikan arahan kepada para dokter lainnya. Mereka langsung bertindak dengan cepat dan tepat. Sementara Bella menunggu didepan ruangan.


Bella berjalan mondar-mandir di depan pintu. Ia takut sesuatu terjadi dengan El karena El belum sadarkan diri. "Kamu kuat El. Kamu harus kuat!",ucapnya berkali-kali.


Tring... Tring... Tring...


Ponsel El berdering tanda ada sebuah panggilan. Bella memegang ponselnya bingung. "Kak Saga. Bagaimana ini, angkat tidak ya?",ucap Bella karena bingung harus mencari alasan apa. "Yang penting bukan laki-laki yang tadi malam. Ini sepertinya laki-laki yang beda deh!. Namanya aja sudah beda!",lirih Bella yang kemudian mengangkat telepon. "Hallo?".


Saga bingung dengan suara yang mengangkat ponsel El. Ia melirik sekilas ke layar ponsel melihat nama yang tertera di layar. Ellena. Ya benar nomer yang di tuju adalah nomer Ellena, tapi kenapa suaranya berbeda. "Siapa ini?",tanya Saga bingung.


"Maaf Kak. Saya teman satu asramanya El",jawab Bella takut.


"Lalu dimana El?".


"El sedang sakit dan sekarang di rawat di fasilitas kampus!",jelas Bella.


"Sakit!. Sakit apa?",tanya Saga kaget mengetahui kabar El sedang tidak baik-baik. "Lalu kenapa tidak dibawa kerumah sakit?",lanjutnya.


"Ya sudah. Saya akan segera kesana!",jawab Saga yang langsung memutuskan ponselnya secara sepihak.


Disisi lain El mendapatkan pertolongan pertama dengan infus. Ia terbaring lemas di ranjang. Ia memanggil nama seseorang. "Sam... Sam... Sam...!",panggil El dengan mata yang masih tertutup.


Dokter David memeriksa El. Ternyata El sedang meracau karena efek demam terlalu tinggi. Setelah memeriksa El keseluruhan, ia keluar dari ruangan untuk mengabarkan kepada Bella.


Saga berlari kecil untuk menghampiri Bella yang sedang mondar-mandir didepan ruangan kesehatan. "Dimana El?",tanya Saga khawatir setengah mati.


"Dia sedang di periksa oleh tim dokter Kak. Kita harus menunggu keputusan tim dokter dulu!",jelas Bella.


David keluar dari ruangan kesehatan. Ia melihat Saga ada di depan ruangan. "Saga".


"David". Ucap mereka bersama-sama. Ia menghampiri teman lamanya itu. "Kamu yang memeriksa Ellena?",tanya Saga.


"Iya. Kamu kenal sama El?",tanya David balik.


"Iya. Dia temanku. Bagaimana keadaannya?".


"Dia demam tinggi. Tapi kita sudah memberikan pertolongan pertama sama El. Semoga dia lekas membaik!",ungkap David.


"Semoga".


"Tapi?",ucap David menggantung.


"Tapi kenapa?",tanya Saga mengenyitkan dahinya bingung.


"Tapi dia selalu meracau nama seseorang. Dia terus memanggil namanya".


"Siapa?",tanya Saga. Ia berharap bukan nama Sam yang El sebut.

__ADS_1


"Sam!".


Deg. Saga tercengang atas jawaban dari David. Ia tidak menyangka bahwa El masih menyebut nama orang yang membencinya.


"Siapa dia?. Apa hubungannya El sama yang bernama Sam ini?",tanya David penuh selidik.


"Dia mantan tunangannya Dok",sahut Bella. "Tadi malam El bertengkar dengan Laura di depan kantor polisi karena Sam dan salah satu pengunjung bar ditangkap polisi. Mereka membuat kekacauan di kafe tempat saya bekerja!",jelas Bella.


"Laura. Tunangan Sam itu?",tanya Saga memastikan.


"Iya Kak. Laura kira semua ini gara-gara El, maka El mendapat tamparan yang cukup keras di pipinya. Sampai-sampai pipinya El memerah",sambung Bella.


"Maksud kamu Sam itu, Samuel, Ga?",tanya David.


"Iya. Kamu bukankah Dokter pribadinya?",kata Saga sarkas.


Bella semakin tercengang mendengar kata dokter pribadi dari Sam.


David menerka-nerka dengan semua perkataan Saga dan Bella. "Jadi, El itu adalah tunangan dari Sam yang kemarin melakukan konferensi pers itu?",tanya David tidak percaya.


"Iya".


"Dia lebih cantik daripada yang aku kira!",ucap David tanpa sadar.


"Kamu mau mati!",bentak Saga.


"Oops!. Maaf-maaf, aku hanya keceplosan!",kata David tidak enak.


"Awas saja kalau kamu mau macam-macam sama dia!. Pangkat dokter kamu!",ancam Saga sambil menunjuk papan nama yang ada baju jas yang dikenakan oleh David. "Tidak segan-segan aku cabut!",lanjutnya


yang langsung menyelonong masuk kedalam ruangan yang di ikuti oleh Bella.


"Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya!",lirih David kesal yang mengikuti mereka masuk kedalam.


Saga mendekati ranjang El yang masih terpejam. Ia duduk di dekat ranjang. "El...bangun!",kata Saga lembut.


El mengerjapkan kedua matanya pelan. Ia melihat Saga yang ada di samping. "Kak Saga",panggil El lemah.


"Kita kerumah sakit saja ya. Aku takut sesuatu terjadi sama kamu",ajak Saga pelan.


El menggelengkan kepalanya lemah. "Aku sudah mulai membaik Kak. Kakak tidak usah khawatir. Aku pasti kuat Kak".


"Kakak yakin kamu pasti kuat!",sahut Saga memberikan semangat. Ia melihat pipi El yang sebelah kanan masih memerah. Ia mengelus pelan pipi yang sakit itu. "Masih sakit ya?",tanyanya.


"Lumayan Kak. Kakak pasti sudah mendengar dari Bella ya?",kata El lemah.


"Maafkan aku El, aku sudah cerita semua sama mereka!",sahut Bella.


El memandang Bella lemah. Ia sebenarnya tidak mau kalau Kak Saga sampai tahu masalah tadi malam. Karena akan membuat dampak buruk buat mereka berdua.


"Kenapa kamu tidak cerita sama Kakak. Kakak khawatir kalau kamu disakiti sama mereka!",kata Saga.


El memegang tangan Saga memastikan bahwa ia akan baik-baik saja dengan mereka.


"Aku takut El, mereka akan menyakiti kamu melebihi ini. Lebih baik kita segera pergi ke London ya, supaya kita tidak bertemu mereka lagi!",saran Saga.


El mengangguk kepala menandakan setuju bila mereka segera pergi dari negara ini. Air matanya tidak terasa menetes dengan sendirinya.


***


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2