
Happy Reading.
***
Flashback On.
Di sebuah restoran ternama salah satu di negara New York, seorang wanita tua sedang menunggu seseorang. Beliau sedang duduk sambil menyeduh minuman yang beliau pesan.
"Tante Violla?",panggil seorang wanita cantik dengan body seperti gitar spanyol dan memakai barang-barang branded.
Violla memandang penampilan seorang wanita itu dari atas sampai bawah dengan teliti. Sempurna. Beliau mengembangkan senyuman manisnya kepada seorang wanita tersebut. Dialah yang bernama Laura "Laura. Silakan duduk!",perintah Violla dengan halus.
"Baik Tante!",jawab Laura dengan manis.
"Mama kamu pasti sudah bilang kan sama kamu, bahwa saya adalah Nyonya besar dari perusahaan XXX yang berkembang pesat di negara ini?",ucap Violla dengan tegas.
"Iya Tante. Mama sudah cerita sama saya",jawab Laura. "Dan pasti Tante sudah tahu kedatangan saya di sini".
"Ok. Tante mengerti maksud dari kedatangan kamu. Bahwa kamu setuju dengan pertunangan kamu dengan anak bungsu Tante!",jawab Violla. Lalu beliau mengambil beberapa foto dari dalam tas. Ia meletakkan foto-foto itu ke atas meja dengan rapi.
"Maksudnya apa ya Tante?",tanya Laura tidak mengerti. Ia mengambil satu foto seorang wanita cantik yang ada di dalam foto tersebut. "Ini siapa Tante?",tanya Laura tidak mengerti dan memperlihatkan kepada Violla.
"Wanita itu bernama Ellena. Dia adalah mantan tunangan dari anak-anak saya. Saya mau, kamu menjauhkan dia dari anak-anak saya. Saya tidak mau anak-anak saya dekat lagi dengannya",jawab Violla tegas.
"Ok Tante. Dia cantik Tante. Tapi lebih cantikkan saya daripada dia!",jawab Laura percaya diri. Ia lalu mengambil lagi satu foto yang bergambarkan laki-laki yang sangat tampan dan sempurna. "Lalu ini?. Anak bungsu Tante?",tanya Laura memperlihatkan lagi.
"Iya. Itu anak Tante".
Laura tersenyum bahagia melihat laki-laki yang ada di foto itu. Laki-laki dengan perawakan yang tinggi, tampan, dan pastinya kaya raya. Inilah kesempatannya untuk meraih apa yang di cita-citakan dari kecil. Mempunyai suami yang mapan dan kaya raya. Apa lagi plus dengan nilai tambahan tampan dan ganteng.
"Bagaimana?. Kamu setuju?",tanya Violla meminta jawaban yang pasti.
"Tentu Tante. Tentu saya sangat setuju!",jawab Laura yakin.
Violla tersenyum mendengar jawaban dari Laura. Ia merasa senang karena mempunyai partner yang bisa di ajak bekerja sama dengan baik.
Flashback Off.
***
"Edwan, Mama pasrahkan Laura kepada kamu untuk bekerja di sini?",perintah Violla.
"Baik Ma. Tapi, untuk sementara Laura bekerja sama dengan Tamara dan El. Karena status El di sini masih sebagai mahasiswa",jawab Edwan bijak.
"Tidak masalah. Tapi setelah El keluar dari sini, Mama ingin Laura menjadi sekertaris satu-satunya yang ada di sini",kata Violla.
Tamara tercengang mendengar pengakuan mengejutkan dari Nyonya besarnya. Ia sudah mengabdi di perusahaan ini hampir 8 tahun tidak ada kendala. Tetapi, sekarang keadaanya berbeda.
"Tidak bisa begitu dong Ma. Perusahaan ini mengandalkan Tamara, tidak semudah membalikkan telapak tangan Ma!",jawab Edwan tidak terima. "Kalau Sam sampai tahu, pasti akan marah besar!".
"Sam tidak akan mengingat Tamara dipikirannya. Nama tunangannya aja dia tidak mengingatnya, apa lagi hanya seorang sekertaris!",kata Violla mengejek.
El melemas. Tubuhnya butuh topangan supaya tidak terjatuh. Ia memegang kuat meja yang ada di hadapannya. Haruskah aku direndahnkan seperti ini?. Tapi, kasihan Mbak Tamara. Statusnya disini tidak jelas. Haruskah aku bilang sama Sam?.
"Tapi Ma?",sahut Edwan lagi.
"Mama tidak akan berubah pikiran!",kata Violla menegaskan.
Tamara mencoba menerima dengan lapang dada tentang keputusan Nyonya besar. "Tidak apa-apa Pak Edwan kalau saya digantikan oleh Mbak Laura. Mungkin Mbak Laura lebih kompeten daripada saya. Saya bisa dipindahkan dimana saja!",kata Tamara angkat bicara.
"Lihat, Tamara aja pasrah apa yang Mama katakan!",jawab Violla senang. "Ya sudah, Mama pamit dulu!. Dan jangan lupa bantuin Laura selama Laura bekerja di sini!",pesan Violla yang langsung meninggalkan ruangan.
Edwan mengusap wajahnya gusar. Ia sebenarnya tidak enak hati dengan El, tapi apa yang bisa ia buat. Nyonya besarlah pemenangnya. "Maafkan saya Tamara, saya tidak bisa memutuskan apa-apa selama Pak Samuel tidak ada di sini. Maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk memindahkan posisi kamu!",ucap Edwan menyesal.
"Tidak apa-apa Pak Edwan. Saya memaklumi status Bapak di sini. Saya akan menyelesaikan tugas saya sebaik mungkin!",kata Tamara yakin dan menundukkan kepalanya menghormati snag atasannya.
__ADS_1
"Terimakasih kamu sudah mengerti status saya di sini Tamara. Dan untuk kamu El, mohon kerjasamanya dengan Laura!",kata Edwan.
"Baik Pak!",jawab El dengan senyuman manis.
"Laura, saya mohon kerjasamanya sama kamu. Kamu bisa berkenalan dengan mereka dengan baik dan ramah!",pesan Edwan.
"Baik Pak. Terimakasih!",ucap Laura sopan. "Tapi, saya minta satu permintaan!",lanjutnya.
"Permintaan. Apa?",tanya Chika yang langsung mengintimidasi Laura. Karena ia tidak mau kalau Edwan sampai terpesona dengan anak baru.
"Untuk saat ini, saya tidak mau satu ruangan dengan mereka!",jawab Laura percaya diri.
Semua orang tercengang mendengar pernyataan Laura. Mereka tidak menyangka bahwa hal itu sebagai permintaannya.
"Laura. Saya tahu, kamu adalah calon tunangan dari Adik saya. Tapi, bukan berarti kamu minta dengan sesuka hati kamu. Karena di sini tidak ada yang di istimewa kan. Termasuk kamu!",jawab Edwan kesal.
"Saya hanya meminta hal yang simpel. Tapi kamu terlalu terbebani ya, dengan permintaan saya!",kata Laura merendahkan Edwan.
El menutup matanya tidak percaya. Bisa-bisanya Mama Violla mencari calon tunangan buat anaknya dengan kepribadian yang sangat tidak pantas dijadikan pemimpin.
"Memang itu hal yang simpel buat kamu!. Tapi, buat perusahaan ini, itu terlalu berlebihan. Karena kita mau team yang solid, bukan hanya karena keegoisannya!",jawab Edwan.
"Tidak apa-apa Pak. Kita yang akan mengalah. Kita bisa bekerja di ruangan lain seperti ruangan HRD, karena di sana ruangannya cukup luas!",sahut Tamara turun tangan.
"Tamara, saya tahu posisi kamu saat ini tidak aman. Tapi, tolong pertahanan posisi kamu sampai El selesai KKN di sini. Karena itu perintah dari Pak Samuel!",kata Edwan melihat mata El yang merasa bingung dan kecewa atas tindakan Mama Violla.
El menatap mata yang selama ini menjadi mantan tunangannya itu. Ia berharap supaya Edwan bisa berubah dengan sendirinya tanpa sebuah keterpaksaan.
"Tapi Pak, Nyonya besar sudah memutuskan bahwa sekertaris tunggalnya adalah Mbak Laura. Saya hanya karyawan biasa dan apa lagi Mbak Laura adalah calon tunangan dari Pak Samuel",sahut Tamara menjadi penengah.
"Baru calon Tamara, bukan tunangannya!",jawab Edwan tidak terima. "Ok kalau gitu, saya akan mengambil kesimpulannya. Laura, kamu boleh ambil posisi kamu sekarang. Kamu bisa duduk di tempatnya Tamara. Dan untuk Tamara dan El, kalian untuk sementara bekerja di ruangan saya. Paham semuanya!",kata Edwan yang merasa pusing memikirkan hal-hal yang tidak penting. Lalu ia pergi ke ruangannya.
Sementara Chika terkejut dengan tindakan yang diambil Edwan. Ia langsung mengejar Edwan masuk kedalam ruangannya. Ia langsung menutup pintu karena ia tidak mau di dengar oleh orang lain. "Kamu apa-apaan sih sayang?. Kamu gak seharusnya bantuin El. Kamu masih sayang sama dia?",tanya Chika yang sudah terbakar oleh cemburu.
"Aku gak bantuin dia!",jawab Edwan membela diri.
"Apaan sih sayang!. Kenapa kamu berpikir seperti itu!",tanya Edwan.
"Wanita mana yang tidak berpikir seperti itu!. Dia mantan tunangan kamu lho, sayang!. Kamu seharusnya menghargai aku, yang sekarang menjadi calon istri kamu!".
"Kapan aku tidak menghargai kamu!. Kapan sayang?. Aku dan El putus baik-baik. Dia jauh-jauh mengejar cita-cita sampai di negara ini. Memang aku membencinya, tapi bukan berarti aku harus menghalanginya buat KKN di sini. Kurang satu bulan lagi, dia ada di negara ini. Dan Samuel lah yang membantu El selama ini, dia sedang sakit. Lalu siapa yang akan membantu El, buat menghadapi Mama!",ungkap Edwan.
"Labil!",jawab Chika yang marah besar. "Apa jangan-jangan kamu masih cinta sama dia?",lanjut Chika yang langsung keluar dari ruangan.
Edwan mengusap wajahnya gusar. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi buat Chika percaya terhadapnya.
***
Tamara dan El sedang sibuk menyelesaikan tugasnya. Mereka berdua fokus dengan apa yang mereka kerjakan.
Tiba-tiba Chika keluar dari ruangan CEO dengan wajah yang muram. Ia sambil menatap tajam El yang tidak melihatnya. Dan keluar menuju lift.
Tamara yang melihat Chika sekilas hanya pasrah. Kenapa sekarang di perusahaan ini tidak nyaman, semenjak mereka hadir disini!. Apa lagi Chika dan Laura yang membuat suasana hati panas ingin marah memaki mereka berdua! batin Tamara kesal.
El yang melihat Tamara melamun sambil melihat lift terbuka merasa curiga. "Ada apa Mbak?",tanya El yang berhenti mengetik.
"Hm... Gak ada apa-apa!",jawab Tamara tersenyum terpaksa. "El, kenapa sih kamu bisa kenal sama mereka!. Aku baru kenal sama mereka aja, selalu panas nih hatiku!. Apa lagi lama!",kata Tamara menjelaskan isi hatinya.
"Mereka sebenarnya baik banget kok Mbak. Tapi, sekarang mereka berubah semenjak Pak Samuel kena musibah naas itu. Mungkin lebih tepatnya lebih hati-hati aja!",jelas El.
"Tapi kena kami kena imbal baliknya. Aku tahu kamu dulu mantan tunangan Pak Edwan, tapi kenapa sikap mereka berubah juga!. Apa lagi Chika seakan-akan dia yang mempunyai segalanya!",kata Tamara.
"Jangan menilai seseorang dari luarnya aja Mbak. Mungkin Chika mempunyai sisi baiknya juga!",sahut El yang tidak mau membuka aib Chika.
"Oke-oke. Kita harus selalu berpikir positif!. Karena sikap itu yang membuat hidup kita bahagia!. Bukan begitu!",saran Tamara.
__ADS_1
"Mungkin. Mungkin seperti itu mbak!",jawab El sambil tersenyum.
Dret... Dret... Dret...
Sebuah pesan masuk di ponselnya El.
"El, besok sore ada waktu gak?. Aku mau ketemu dan ingin mengadakan pesta kecil. Besok aku udah pulang ke London buat promosi desainku!".
Sella.
"Ok sayang. Dimana?".
El.
"Monarch rooftop".
Sella.
"Serius kamu!. Itu tempat termahal Sella. Selain disana aja!".
El
"Aku yang traktir".
Sella.
"Ya udah. Terserah kamu!".
El.
"Ok. Sampai bertemu besok sore. 😘😘😘!".
Sella.
"Dasar!",kata El yang membaca percakapan dengan Sella.
***
Malam Hari.
El baru saja masuk ke dalam apartemen. Ia sambil melemaskan otot-otot di kepalanya. Hari ini adalah jari yang sangat melelahkan. Lelah pikiran dan lelah tubuh. Ia menjatuhkan badan ke sofa ruang tengah. Ia menutup mata dan memijat pelipis dengan sangat lembut.
Seseorang berdiri di dekat lemari sambi meneguk jus jeruk. "Baru pulang!",tanya Sam.
El kaget. "Astaghfirullah!",teriak El yang langsung membuka mata dengan kaget. "Sam, kamu ngagetin aja!",kata El yang kesal dibuat Sam.
Sam melihat jam yang terpasang di tangan kiri. "Kamu gak tahu apa, jam berapa sekarang!",tanya Sam lagi.
"Aku lelah Sam. Tadi habis metting sama Pak bos dan sekretarisnya",jawab El dengan muka yang sudah tidak bisa dikondisikan.
"Kamu sebenarnya di kantor sebagai apa sih posisi kamu?. Sampai-sampai harus ikut metting, kayak orang penting aja!", sahut Sam.
"Kamu ingin tahu statusku apa disana?",tanya El dengan penuh penekanan.
"Apa?".
"Sebagai asisten sekertaris Pak Bos!. Puas kamu!",kata El dengan nada tinggi. Lalu ia mengambil tas dan memilih pergi dari hadapan Sam, karena ia tidak kemarahannya semakin besar. Ia berjalan melewati Sam, tapi tiba-tiba kakinya terpeleset karena lantai masih licin sehabis di pel. "Auw....!",teriak El yang tidak bisa menjaga keseimbangan.
Sam dengan cekatan langsung menangkap tubuh El dengan cepat.
El melihat Sam sangat dekat dan begitu dekat. Jantungnya berdetak tidak karuan.
Sam memandang wajah dan mata El yang sudah tidak asing ia pandangi. Wajah yang selalu ia rindukan. Sam semakin erat memegang tubuh El, entah mengapa ia takut El pergi dari hidupnya. Karena jantungnya sudah tidak bisa di kondisi semenjak dekat dengan El.
***
__ADS_1
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.