
Happy Reading.
***
El sudah memulai aktivitas seperti biasanya. Ia saat ini duduk di depan meja kantor dan mata menatap layar laptop. Ia sedang mengerjakan tugas yang tertunda pada saat ia sedang dirawat dirumah sakit.
Tamara sedang mengoreksi hasil metting kemarin sama koleganya. "Maaf ya El, saya belum sempat menjenguk kamu?",ucap Tamara yang merasa bersalah karena tidak peka apa yang terjadi sama El beberapa hari ini.
"Tidak apa-apa mbak. Mbak Tamara kan gak tahu kalau aku mengalami kecelakaan kecil".
"Iya. Kamu juga gak izin sama saya. Ya udah, saya bilang sama Pak Bos kamu masuk ke kampus!",kata Tamara.
"Iya mbak. Sebelumnya saya terimakasih karena mbak sudah memberikan izin sama Pak Edwan",ucap El.
"Terus bagaimana keadaannya Pak Samuel?. Beliau baik-baik saja kan?", tanya Tamara khawatir.
El menghela nafas panjang. Ia membayangkan kejadian dirinya yang mendapat sasaran dari lemparan bosnya itu.
"Kenapa?. Beliau parah?",sahut Tamara tidak sabar.
"Mungkin bisa dikatakan begitu mbak. Dia mengalami amnesia mbak!",jawab El sedih mengingat kejadian mengenaskan itu.
Tamara menutup mulutnya tidak percaya. "Kamu serius?",bisik Tamara karena ketidak percayaannya.
"Iya mbak. Mungkin Pak Edwan akan lama menjabat jabatan sebagai CEO diperusahaan ini. Karena Pak Samuel tidak bisa mengingat apapun itu!",jawab El sedih.
"Astaga. Kasihan sekali Pak Samuel. Terus bagaimana kita tiap hari harus menghadapi CEO Sementara itu!. Aku malas meladeninya. Apa lagi, pacarnya itu!",ucap Tamara malas.
"Mau bagaimana lagi mbak?. Aku juga malas sekali sama Pak Edwan!",ucap El yang mengingat perkataan Edwan yang tidak akan membiarkan dirinya bersatu dengan Sam.
Edwan keluar dari ruangannya. Ia sedang terburu-buru mengejar waktu karena ada janji dengan Chika.
"Awas, dia datang!",bisik Tamara yang langsung mengalihkan matanya ke laporan.
Edwan berjalan kearah meja sekertaris. Ia melihat jam yang melingkar di tangan kiri. "Tamara, tolong nanti batalkan metting dengan perusahaan Pak James, karena saya tiba-tiba ada acara!", perintah Edwan.
"Baik Pak. Ada lagi?",tanya Tamara.
"Tidak ada!",jawab Edwan yang langsung melihat El yang sedang fokus menatap layar monitor. Ia melihat perban melekat di keningnya. "El, kamu kenapa?",tanya Edwan khawatir dan memegang kening El yang masih diperban.
El dengan cepat langsung mengibaskan tangan Edwan. "Maaf, saya tidak mau luka saya terluka lagi!",ucap El yang melihat ke arah Edwan.
"Kamu dua hari ini kemana saja?. Aku cari-cari di asrama kamu, kata teman kamu tidak ada!. Kamu dimana El?",tanya Edwan khawatir.
Tamara yang melihat tingkah pak bosnya itu penuh curiga.
"Anda tidak perlu khawatir dan cemas terhadap saya!".
"El, aku khawatir tentang kondisi kamu?. Kamu gak lihat tubuh kamu semakin kurus!",sahut Edwan.
"Stop Kak!",bentak El kesal karena ia tidak mau seluruh kantor tahu bahwa ia pernah menjadi tunangan CEO Sementara itu.
Tamara tercengang tidak percaya. Berani-beraninya El membentak Pak bos di perusahaan ini.
"El!. Aku tahu kamu sangat membenciku?. Tapi, bolehkah aku khawatir tentang kondisimu saat ini?",ucap Edwan.
"Buat apa khawatir tentang aku!. Buat apa Kak!",ucap El dengan suara tinggi.
"El...!",ucap Edwan parau. Ia saat ini hatinya terluka ketika El mengatakan hal seperti itu.
"Tolong...biarkan saya sendiri. Masih ingatkan perkataan saya kemarin!",sahut El skakmat.
"Ok. Maaf kalau saya sudah mengganggu kamu!",jawab Edwan yang langsung pergi dari hadapan El.
__ADS_1
Tamara masih tidak mengerti, apa maksud mereka berdua.
El memandang kepergian Edwan yang menuju ke lift terdekat.
"Aku heran sebenarnya kamu ada hubungan apa sih sama Pak Bos?",tanya Tamara sambil meletakkan dagu di tangan kanannya.
"Masa lalu mbak!",jawab El yang langsung kembali fokus ke layar monitor.
"Masa lalu. Jadi kamu dan Pak bos mempunyai sebuah hubungan dan kalian bisa di katakan MANTAN?".
El mengangguk kepala pelan.
"Serius El?. Jadi kamu dulu pacarnya Pak bos?",tanya Tamara yang penasarannya setengah mati.
"Mbak Tamara, tolong dong suaranya dipelankan sedikit!",ucap El yang menggerakan tangannya.
Tamara menggoyangkan badan El karena sangat penasaran dengan cerita masa lalu El dan Pak Bos. "Habisnya aku penasaran banget!. Memang sikap dia dingin seperti ini atau bagaimana sih!. Serius nanya!",ucap Tamara seperti anak kecil yang sedang minta permen.
"Malas mbak cerita soal dia. Tidak ada yang istimewa!",jawab El malas.
Tamara kecewa dan cemberut mendengar jawaban El. Karena ia membutuhkan penjelasan secara detail, bagaimana rasanya mempunyai kekasih seorang bos besar. "Masa sih, dia itu ganteng, cool, tinggi dan mapan El?. Kurang apa lagi coba!",ungkap Tamara.
"Terus kalau kita gak jodoh, harus ya di jodoh-jodohkan!",sahut El membenarkan.
"Iya sih. Kamu benar. Tapi, kenapa kalian putus?. Pasti ada orang ketiganya kan?. Maklum pasti banyak wanita-wanita penggoda jaman sekarang!",kata Tamara santai.
"Ya gak seperti itu mbak. Semua itu sudah jalan takdirnya. Mau bagaimana pun kita bersatu, kalau bukan jodoh kita, ya sudah!. Anggap aja kita tidak di takdirkan bersatu!",kata El bijak.
"Kalau aku di posisi kamu, aku lebih baik pilih Pak Samuel. Beliau tidak sombong, rendah hati apa lagi karismanya itu lho, bikin para wanita-wanita klepek-klepek di buatnya!",ucap Tamara senyum-senyum.
"Dan mbak Tamara gak tahu, bagaimana kalau Pak Samuel sedang cemburu!",sahut El yang ingin bernostalgia pada saat Sam sedang cemburu buta.
"Memang kenapa?. Dia pernah cemburu sama kamu?. Kalau dia pernah cemburu sama kamu, berarti Pak Samuel suka dong sama kamu!",tanya Tamara beruntun.
"Ayolah El, cerita sama aku. Aku benar-benar penasaran, bagaimana sih kehidupan para pesohor di perusahaan ini?. Soalnya aku bekerja di sini bertahun-tahun , belum pernah tuh Pak Samuel bawa seorang wanita masuk, seperti Pak Edwan gitu!",kata Tamara jujur.
"Mbak Tamara serius?. Lalu Mbak Arneta yang bekerja di perusahaan lainnya, itu siapa?",tanya El mencari jawaban yang pasti.
"Mbak Arneta itu sekertaris Pak Samuel yang ada di Jakarta. Dia kemarin juga habis tunangan kok sama teman aku",jawab Tamara.
"Serius mbak?",tanya El lagi karena ia masih penasaran sama hubungan Sam dan Arneta, setahunya ia adalah sekertaris pribadi Sam di perusahaan Jakarta, tetapi kenapa Sam memperkenalkan mbak Arneta sebagai pacarannya.
"Iya serius. Mbak Arneta kemarin-kemarin juga habis dari sini kok. Dia diminta oleh Pak Samuel buat datang kesini, entah mau ngapain!",jawab Tamara.
El tersenyum terpaksa, bisa-bisanya dia berbohong soal ini.
Dret... Dret... Dret...
Ponsel berdering menandakan ada sebuah pesan masuk.
"El, kamu segera pulang!. Ada seseorang yang mencari kamu!".
Bella.
El membaca dengan cermat. "Seseorang?. Siapa?".
"Siapa Bel?".
El.
"Itu lho yang nolong kamu pada saat di bar!. Tapi, dia seperti orang yang berbeda!".
Bella.
__ADS_1
"Samuel?".
El.
"Iya. Dia kesini sama seseorang. Entah itu siapa?".
Bella
El tercengang membaca isi pesan. Ia kemudian mengambil tas. "Mbak, saya keluar sebentar ya?. Tiba-tiba ada urusan?", pamit El yang langsung berlari ke pintu lift.
"Kamu mau kemana?. Tugas kamu belum selesai El?",sahut Tamara.
***
Di sisi lain Sam mengacak-acak kamar El. Ia ingin mencari sesuatu dari kamar El.
"Tolong jangan di acak-acak kamar kita!. Di kamar ini tidak ada sesuatu yang sangat dicurigai!",teriak Bella.
Ardi menahan Bella supaya tidak menggagalkan aksi sang bosnya. Semoga mas Sam menemukan cincin itu! batin Ardi berdoa dalam hati.
El turun dari taksi. Ia segera berlari ke kamar asramanya. Nafasnya tersengal-sengal karena merasa kelelahan berlari. Ia melihat mobil Sam terparkir rapi di lapangan. "Semoga dia tidak bertingkah semaunya!",lirih El pelan.
"Dimana dia?. Kenapa dia belum sampai!",bentak Sam sudah tidak sabar.
El berhenti di depan pintu kamar asrama. Ia terbengong melihat keadaan kamarnya seperti kapal pecah yang tidak beraturan. "Hentikan Sam!",bentak El yang melihat Sam sedang mengangkat selimut El dan membuangnya.
Sam menengok ke belakang. Ia melihat El berdiri di depan pintu.
El masih mengatur nafasnya supaya bisa bernafas dengan teratur.
Sam tersenyum miring, ia senang melihat wanita itu ada di depan matanya.
El menghampiri Sam yang berdiri tegak di samping ranjangnya. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?. Kenapa kamu ada disini?",kata El dengan marah dan kesal menjadi satu, karena melihat seisi kamarnya sudah berantakan.
"Aku gak tahu apa yang aku cari saat ini!. Tapi, aku ingin ada disini!",jawab Sam.
Mata mereka bertemu dengan kerinduan yang mendalam. Tetapi, ada rasa yang harus El sembunyikan dari siapapun termasuk Sam.
"Maafkan saya mbak El, tapi Pak Samuel ingin pergi ke suatu tempat. Tetapi, saya tidak tahu bahwa yang di maksud dengan beliau adalah tempat ini",kata Ardi menjelaskan.
Deg. El terharu mendengar penjelasan dari Ardi, tetapi apakah ingatannya Sam sudah kembali?.
"Kalau kamu sudah sampai disini dan membuat kamar saya seperti ini, apa yang kamu inginkan lagi?",tanya El.
Sam terdiam dengan pertanyaan El. Ia memikirkan sesuatu. "Saya ingin penjelasan dari kamu. Sebenarnya kamu siapa?. Kenapa kamu berbohong sama saya bahwa kamu adalah perawat saya?. Lalu kenapa kamu mengatakan bahwa nama kamu Ane bukan Ellena?. Kenapa Mama dan Kakak saya tidak mau kalau kita bersatu lagi. Saya butuh penjelasan kamu saat ini?. Saya tidak percaya sama siapapun itu, kecuali sama kamu!",kata Sam marah.
"Buat apa saya menjelaskan semuanya!. Bukankah kamu mengatakan bahwa saya adalah pembohong yang ulung!. Seharusnya keluarga kamu, yang kamu percayai bukan saya!. Saya hanya orang lain yang singgah di hidup kamu sebentar. Aku mohon, jangan ganggu hidupku lagi!. Aku mohon!",ucap El dengan hati yang hancur. Ia menundukkan kepalanya tidak boleh menangis dihadapan Sam.
Ardi dan Bella tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut El.
"Lalu kenapa hatiku mengatakan, bahwa kamu adalah orang terpenting dalam hidup saya!",ucap Sam lemah.
"Itu kata hati kamu. Bukan kata mulut kamu!",sahut El. "Kamu tahu, kamu mengganggu pekerjaan ku saat ini. Butuh setengah jam untuk bisa datang kesini dan kamu menghabiskan dari setengah jam ku, cuma buat melihat kamu menghancurkan isi kamarku!",kesal El.
"Bukankah kata hati itu adalah yang paling utama. Sedangkan hanya bicara itu omong kosong!",cicit Sam yang memandang kedua mata El. "Dan dari setengah jam kamu, ada dua jam di situ yang menunggu kedatangan kamu!",lanjut Sam.
El juga memandang kedua mata Sam. Mata yang selalu dirindukan olehnya yang selalu memberikan kehangatan tetapi sekarang matanya berubah menjadi orang yang sangat dingin dan kaku.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1