
Happy Reading.
***
Beberapa menit mata mereka saling bertemu. Sam memandang bibir seksi El yang berwarna merah muda. Bibir yang ingin ia kecup setiap hari.
El merasa risih Sam memandangnya dengan intim. "Kenapa kamu lihatin aku seperti itu!. Ada yang salah?",tanya El.
"Ha....!".
"Lepasin aku!",bentak El yang sudah tidak sabar.
Sam otomatis melepaskan El begitu saja.
Bruk... Tubuh El terjatuh di lantai. "Aduh.....!",teriak El sambil memegang punggungnya. "Sakit Sam!",ucap El sambil meringis kesakitan.
"Katanya nyuruh lepas, ya udah aku lepaslah!",sahut Sam tidak mau salah.
"Ih..., Maksudnya jangan lepasin aku seperti itu!. Jadi sakit kan tubuhku!",lirih El kesakitan. Lalu ia berdiri sendiri berjalan menuju kamarnya.
"Eh...mau kemana?",tanya Sam cepat sebelum El hilang dari peradaban.
Dor!.
Suara pintu terdengar sangat keras. El menutup pintu tanpa ampun.
"Woi....!",teriak Sam karena merasa kaget dengan tingkah laku El.
Beberapa menit kemudian.
El keluar dari kamar dengan suasana hati yang sudah segar. Ia berjalan menuju dapur untuk membuat sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.
Sam tiba-tiba keluar dari kamar menuju ke ruang tengah untuk menonton televisi. "Tolong buatkan saya kopi!",perintah Sam yang fokus dengan televisi.
Huft... El kesal karena selalu di perintah. Ia terpaksa membuat kopi buat sang majikannya. "Pakai gula gak?",tanya El yang mencoba membuka perlahan-lahan memori Sam.
"Tidak. Saya tidak suka gula!",jawab Sam.
"Kenapa?",tanya El yang masih meracik kopi.
"Karena hidup tidak seindah gula yang selalu manis!",jawab Sam singkat.
"Namanya juga hidup. Pasti selalu ada lika-liku dalam kehidupan dan tidak semua berjalan dengan mulus".
"Saya tahu itu. Justru itu sekarang saya sedang berjuang mengingat semua memori yang telah hilang".
El sudah selesai membuat kopi, ia menyiapkan kopi di meja ruang tengah tepat di hadapan Sam. "Mau sandwich?",tawar El yang membuat sandwich untuk mengganjal perutnya. Ia duduk di kursi single samping Sam.
"Tidak. Saya tidak boleh makan sembarang. Apa lagi dari orang yang gak saya kenal!",jawab Sam sadis.
Apa, orang yang gak kenal!. Lalu kenapa dia mempercayai aku untuk tinggal di apartemen mewah ini dan menyuruhku untuk membuat kopi!. Dasar si Sam aneh!. Kalau aku kejam sama dia, bisa ku kasih sianida tuh kopi! batin El kesal.
Sam melempar sebuah amplop coklat di atas meja.
"Amplop apa itu?",tanya El penasaran.
"Kalau kamu penasaran, kamu bisa kan buka sendiri!",jawab Sam dingin.
"Kalau aku tidak penasaran?",tantang El.
"Tidak mungkin. Karena di amplop itu ada sesuatu tentang kamu!".
"Aku!",kata El sambil menunjukkan dirinya sendiri. Apa-apaan ini?. Kenapa dia selalu main teka-teki, yang susah untuk ditebak!.
Sam acuh tak acuh. Ia masih fokus kepada layar televisi yang sedang menayangkan berita politik.
El melirik sekilas. Ia melihat amplop yang tergeletak di atas meja. Apa ya isi amplop itu?. Kenapa aku jadi penasaran banget!.
"Yakin gak mau buka?",tanya Sam mengalihkan perhatian kepada El.
"Kalau nanti aku membukanya, apakah mungkin hatiku bisa sakit?",tanya El ragu.
__ADS_1
"Bisa iya, dan bisa tidak",jawab Sam singkat. "Dan itu juga tergantung dari kamu nya!".
El sudah tidak sabar untuk membukanya. Ia segera mengeluarkan beberapa lembar kertas yang cukup tebal ukurannya.
Dan...
El tercengang melihat isi kertas yang cukup tebal itu. Ia tidak percaya bahwa Sam melakukan hal seaneh ini. "Kamu ikutin aku?",tanya El marah. Ia melempar foto-foto itu di atas meja. Ia mengusap wajahnya kesal melihat tingkah laku Sam yang tidak bisa menepati janjinya.
"Dia siapa?",tanya Sam menyilangkan kakinya dan menyandarkan punggung di sofa.
"Kamu tidak berhak mengikuti aku seperti itu Sam!",sahut El tidak terima. "Kamu sudah janji sama aku, kamu tidak akan ikut campur dalam urusan pribadiku. Dan sebaliknya, aku juga tidak mau ikut campur dalam urusan kamu. Tapi, kenapa kamu memata-matai aku disaat aku diluar!. Kamu tidak berhak untuk itu!",lanjut El marah.
"Dia istimewa bagimu?",tanya Sam yang tidak menggubris pertanyaan dari El.
"Kenapa kamu sekarang egois?. Kamu seakan-akan aku milik kamu, padahal itu tidak kenyataannya. Sam, aku tahu sekarang kamu sedang sakit. Aku akan menolong kamu. Tapi bukan seperti ini",kata El dengan nada tinggi.
"Kamu tidak perlu menolongku. Para tim dokter terhebat yang akan menangani kasus ini. Dan sekarang pertanyaannya, siapa dia?",tanya Sam tegas.
"Aku tidak akan menjawabnya. Kamu sudah melanggar privasiku!",jawab El marah. Ia berjalan meninggalkan Sam sendiri.
"Dia, Saga Pramana. CEO dari perusahaan Sagara Caesar",kata Sam tiba-tiba.
Langkah El terhenti setelah mendengar nama Saga di sebut. Ia kemudian menghadap Sam lagi. "Aku yakin, pasti kamu sudah tahu tentang siapa laki-laki itu tanpa harus aku beritahukan",sahut El menyilangkan tangan di depan dada.
"Apa kamu sekarang berkencan dengannya?",tanya Sam.
"Berkencan atau tidak, itu bukan urusan kamu!. Seharusnya, kamu urusi calon tunangan kamu, Laura Kiehl",jawab El yang sudah tidak punya rasa sabar.
"Apa?",tanya Sam kaget. Ia tidak menyangka bahwa El akan tahu tentang calon tunangannya itu. "Kamu tahu tentang Laura Kiehl?",lanjutnya.
"Iya. Hari ini dia datang ke kantor bersama Mama kamu!",jawab El menjelaskan kejadian di kantor.
"Kantor. Kamu bekerja satu kantor sama Mamaku?",tanya Sam bingung.
Deg. El salah berucap, ia secara tidak sengaja sudah membuka sedikit demi sedikit tentang Sam. "Iya. Mama kamu memperkenalkan Laura sebagai calon tunangan kamu!",ucap El dengan hati yang begitu hancur. Tapi, ia harus mempertahankan hatinya supaya tidak runtuh.
"Tapi aku tidak cinta sama Laura. Entah mengapa, aku tidak punya perasaan apa-apa sama dia".
Sam menggelengkan kepala, tidak tahu jawabannya.
"Karena ada seseorang yang bilang, kalau kita minum kopi tanpa gula berarti kita sedang dalam masalah. Rasanya pahit dan tidak enak".
"Siapa yang bilang?",tanya Sam penasaran tentang kata-kata itu.
"Seseorang yang sangat spesial di hatiku!",jawab El. Yaitu kamu Sam.
Sam terngiang-ngiang perkataan El. Kepalanya terasa sangat sakit. Ia seperti terkena pukulan bertubi-tubi di kepalanya. Kedua tangannya memegang kepala yang terasa amat menyakitkan ini.
"Sam... Kamu baik-baik saja?",tanya El khawatir mendekati Sam yang kesakitan.
Sam menutup matanya menahan rasa sakit yang luar biasa. Semakin ia menutup mata semakin ada bayangan yang terlihat sangat nyata di pikirannya.
El dengan cepat dan sigap menolong Sam. "Sam, kamu jangan diam aja!. Tolong jawab pertanyaan ku!. Kamu baik-baik saja kan?",ucap El yang sudah meneteskan air mata. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud memaksa kamu!",lirih El khawatir.
"Kepalaku sakit!. Ambilkan obat di kamarku!",perintah Sam sambil menahan sakit.
"Ok!",kata El yang berlari kearah kamar. Ia lalu mencari obat yang dimaksud Sam. Dan obat itu ada di atas nakas. Ia segera mengambil dan memberikan kepada Sam. Ia tidak lupa mengambil air putih.
Sam dengan cepat meminum obat penahan sakit.
"Sam, aku telepon Pak Ardi ya?. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu!",ide El yang menekan tombol hijau.
Sam dengan sigap mengambil ponsel El yang menempel di daun telinga. Ia melempar ponsel itu ke sembarang tempat.
Duar.
El tercengang dan kaget setengah mati. Ponselnya hancur menjadi dua bagian. Ia melihat ponselnya yang sudah terbelah menjadi dua di lantai. Lalu ia mengalihkan perhatiannya kepada Sam yang masih memegang kepalanya. "Kalau kamu tidak mau aku menelepon Pak Ardi, bilang sama aku, aku tidak akan meneleponnya. Bukan seperti ini. Ponselku yang menjadi korbannya!",ucap El lemas.
"Kamu bisa diam gak!. Kepalaku mau pecah!",bentak Sam dengan nada tinggi dan marah.
__ADS_1
El melihat Sam dengan sinis. Ia kemudian pergi ke kamar untuk beristirahat. Ia ingin menenangkan pikiran dan tubuhnya yang lelah.
***
Pagi Hari.
El memulai aktivitas seperti biasanya. Ia sedang sarapan dengan roti yang berisi selai coklat di meja makan. Ia melihat ke sekeliling ruangan tidak tampak seseorang yang sangat menyebalkan itu. Mudah-mudahan dia tadi malam tidak tidur disini.
Ting... Ting... Ting...
Suara bel rumah terdengar.
"Siapa pagi-pagi buta ini bertamu!",tanya El pada dirinya sendiri. Ia lalu berjalan menuju pintu tetapi sebelum membuka pintu, ia mengintip lewat door viewer. Ia melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu sambil membawa kotak. El berpikir positif, ia segera membuka pintu.
"Dengan mbak Ellena Putri Wibowo?",tanya laki-laki itu.
"Iya Mas. Ada apa ya?",tanya El bingung.
"Saya pengirim paket. Ini ada paketan buat mbak Ellena!",kata laki-laki itu menyodorkan sebuah bingkisan yang berbentuk kotak.
"Tapi saya tidak merasa mempunyai paketan mas. Mungkin mas salah orang!",jawab El sambil berdiri di depan pintu.
"Tapi, katanya Mas tadi Kamar ini mbak!",sahut si kurir.
"Mas, mas siapa ya mas?",tanya El lagi.
"Mas yang memberikan paketan ini".
"Siapa?".
"Mas Samuel".
Deg. El tidak percaya bahwa Sam yang mengirim paketan itu. Ia kemudian menerima dan mengucapkan terima kepada si kurir. Ia masuk ke dalam dan meletakkan bingkisan kotak di atas meja. "Buka... Tidak... Buka... Tidak... Buka... Tidak...!",kata El sambil berjalan mondar-mandir. Lalu ia membuka bingkisan itu dan ternyata sebuah ponsel keluaran terbaru yang harganya fantastis. "Ponsel",kata El memegang ponsel itu. Dan ada sebuah surat yang terselip di sana.
Nih ponsel buat kamu. Semoga kamu suka!. Maaf kalau kemarin ponsel kamu hancur gara-gara aku.
Samuel.
"Dia beliin aku ponsel!. Memang aku gak mampu beli apa!",kesal El yang langsung meletakkan ponsel baru ke dalam kardus lagi. Ia segera bergegas pergi ke kantor.
Sampai di depan perusahaan XXX, El berjalan memasuki pintu utama tetapi ada seseorang yang memanggil namanya. Ia segera menengok ke belakang. "Kak Saga!".
Saga segera berlari menghampiri El. Ia sangat senang melihat El dalam keadaan baik-baik saja.
"Ada apa Kak?",tanya El bingung karena tidak biasanya Saga menemuinya di pagi hari.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya khawatir sama kamu. Karena ponsel kamu dari tadi malam tidak aktif!",jawab Saga.
"Oh...maaf Kak. Ponselku terjatuh dan pecah menjadi dua. Ini juga belum sempat untuk beli",jelas El mencari alasan supaya Saga tidak curiga.
"Oh... Bagaimana kalau pakai ponselku dulu, nanti siang baru aku belikan?",ide Saga.
"Tidak usah Kak. Sebelumnya terimakasih banyak. Nanti sore saja, sekalian pulang kerja".
"Kakak antar ya?. Sekalian kita jalan-jalan?",ide Saga.
"Tapi gak ngrepotin Kakak kan?",tanya El tidak enak.
"Tidak. Tidak sama sekali",jawab Saga cepat.
"Ok Kak. Nanti aku tunggu disini!".
"Ok. Ya udah, aku berangkat dulu!. Assalamualaikum!",pamit Saga dengan bahagia.
"Walaikumsalam Kak!",jawab El dengan senyuman.
Saga lalu berjalan ke arah mobil sedangkan El hanya memandang punggung Saga yang semakin lama semakin menghilang.
Kamu orang baik Kak. Semoga kakak mendapatkan pasangan yang terbaik juga! doa El dalam hati.
***
__ADS_1
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.