Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Bila Nanti


__ADS_3

Happy Reading.


***


Sam berhenti di depan sebuah gedung yang tinggi. Ia memarkir mobilnya tepat di depan gedung. Ia memandang dengan leluasa El yang sedang tertidur dengan lelapnya. Kapan aku bisa membenci kamu, El. Kapan?. Kapan aku tidak akan melihat kamu ada disampingku lagi?. Kapan aku melupakan semua kenangan tentang kamu?. Setiap langkah yang aku jalani selalu ada kamu, kamu yang membuat aku bersemangat dalam menjalankan hidup. Tapi, sekarang kini berubah menjadi benci. Kamu sangat membenciku. Andaikan Mama sudah memberikan restu, aku akan menikahi kamu secepatnya. Karena, itu adalah janjiku kepadamu batin Sam dalam hati.


El merasa ada yang mengamati tidurnya. Ia segera membuka matanya. Ia terkejut dan langsung membuka kedua matanya lebar-lebar supaya cepat sadar. "Kamu ngapain disini?",tanya El bingung. Ia belum sadar kalau ia masih di mobilnya Sam.


Sam masih memandang El dengan senang dan bahagia karena El belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


El melihat sekeliling. Ia ada di dalam mobil. Ya ampun, aku tertidur di mobilnya Sam! teriak El dalam hati. Ia memukul jidatnya supaya cepat segera sadar dan menutupi ***********. "Maaf Sam, aku benar-benar tidak ingat kalau aku masih ada di dalam mobil kamu",ucap El bingung harus menutupi ***********.


"Tidak masalah!",jawab Sam santai. "Ya sudah, aku sudah mengantarkan kamu pulang!",lanjut Sam.


"Hm....!",jawab El bimbang. Ia lalu melihat sebuah gedung yang tidak asing baginya. "Kamu mengantarkan pulang ke sini?",tanya El bingung lagi.


"Iya. Bukankah kamu masih tinggal disini?".


"Aku sudah tidak lagi tinggal disini. Aku sekarang pindah ke asrama!", jelas El.


"Apa?. Lalu apartemen kamu?".


"Kosong!",jawab El singkat. Karena aku tidak mau mengingat kamu lagi, Sam. Banyak sekali kenangan di apartemen itu. Dan aku ingin pergi dari kamu.


"Terserah kamu. Itu hak kamu kok!",sahut Sam kecewa. Karena ia ingin membuat El nyaman di apartemen itu.


"Ya sudah, kamu sudah mengantarkan aku sampai disini. Terimakasih, Pak Sam. Saya akan turun disini!",kata El membuka pintu mobil.


"Lalu kamu akan bermalam di apartemen?",tanya Sam.


"Iya!",jawab El melihat jam tangannya. "Ini sudah tengah malam. Saya tidak akan mungkin pulang ke asrama. Karena akan memakan waktu yang lama!",jelas El.


"Ok. Terserah kamu!".


El kemudian keluar dari mobil Sam dan menutup pintu mobilnya. El mencoba membungkuk badannya sebagai tanda terimakasih.


Sam langsung menancapkan pedal gasnya.


El menghela nafas lega. Akhirnya ia bisa keluar dari rasa nyaman terhadap Sam. Ia kemudian berjalan ke trotoar untuk menunggu sebuah taksi yang lewat. Ia berkali-kali menguap dengan lebar. Rasa kantuknya kembali melanda. "Mana sih taksinya?. Kok tidak ada yang lewat!",oceh El kesal. Ia lalu menunggu di sebuah halte dekat dengan apartemen. Ia duduk sambil menundukkan kepalanya. Rasa dingin mulai menyelimuti dirinya. Ia mencoba menghangatkan tubuhnya dengan menggosokkan kedua lengan di depan dadanya.


Tiba-tiba seseorang datang menyelimuti punggung El dengan mantel yang cukup besar.


El mendongakkan kepalanya agar melihat seseorang itu. Deg. Jantungnya berdetak dengan cepat dan tidak seirama pagi. Mata mereka saling beradu dengan tatapan yang penuh kasih sayang. "Sam!".


Sam tersenyum manis melihat tubuh El yang gementar. Ia merasa El telah kedinginan, mungkin karena cuacanya sekarang yang sedang dingin. "Kenapa kamu keras kepala seperti ini?",tanya Sam sambil memberikan sebuah cup cokelat yang panas.


El menerimanya dengan malu-malu. "Terimakasih, Sam!. Maaf, karena aku telah merepotkanmu?",ucap El sambil menyeruput cokelat panas.


"Tidak perlu terimakasih dan meminta maaf. Karena kewajibanku sebagai bos kamu merasa bertanggung jawab atas kesehatan para karyawan!",jelas Sam yang sudah duduk disamping El.


Deg. El menatap Sam dari arah samping. Sekarang Sam sedang melihat kearah depan jalan raya. "Aku tahu itu. Dan sebagai karyawan kamu, aku pribadi mengucapkan banyak terimakasih karena banyak membantu karyawan kamu saat ini!",sahut El yang sudah memalingakn wajah kearah jalan raya.


Rasanya berat El harus mengatakan seperti itu!. Dan kamu menjawabnya spontan apakah karena merasa tertekan oleh keberadaanku saat ini! pikir Sam dalam hati.


El melihat sebuah taksi dari kejauhan. Ia segera menghentikan taksi tersebut.


Sam melihat El yang berjalan ke trotoar untuk menghentikan taksi yang lewat. Aku memilih bertahan, tetapi kamu memilih untuk menyerah El!.


Sebuah taksi berhenti tepat di depan El. Ia segera membuka mantel dan tidak lupa memberikan kepada Sam. "Terimakasih sebelumnya, Sam!",ucap El yang langsung bergegas naik kedalam taksi dan taksi melaju. Bukannya aku memilih untuk menyerah, tapi saat ini bertahan belum tentu kamu menjadi milikku Sam! batin El yang melihat keramaian kota.

__ADS_1


Sam memandang sebuah cup yang berisikan cokelat yang baru saja El minum sedikit. Lalu ia memeluk mantel yang ada di genggamannya.


***


Keesokan Hari.


El datang terlambat pagi ini karena tadi malam sampai asrama sudah pukul dua pagi. Ia segera berlari dan bergegas kearah lift untuk menuju keatas gedung. Pintu lift sebentar lagi sudah menutup dengan rapat, ia segera memasukkan jarinya agar pintu itu terbuka dengan sempurna.


Dan....


Seseorang yang ada di dalam lift melihat El yang menghalangi pintu lift tertutup.


El tercengang melihat siapa yang ada di dalam lift. Ia merasa bodoh dan ceroboh atas tingkah lakunya sendiri. Ia kemudian masuk sambil menundukkan kepalanya untuk menutup ******** atas sikapnya pagi ini.


Ting. Pintu lift tertutup dengan sempurna lagi.


"Tumben kamu terlambat masuk kantor?. Apa gara-gara sebentar lagi sudah selesai KKN di sini?",sindir Sam yang melihat El di belakangnya.


"Maaf Pak. Tadi saya bangun kesiangan!",jawab El jujur.


"Kalau kamu mengulangi perbuatan seperti ini lagi di perusahaan lain. Kamu akan mendapat surat peringatan langsung dari bos kamu, itu hukuman pertama buat kamu. Dan hukuman kedua, jari-jari tangan kamu bisa putus melakukan hal yang ceroboh seperti itu!",jelas Sam berbicara panjang lebar.


"Maaf Pak. Tadi saya benar-benar ceroboh melakukan seperti itu. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi, dimanapun saya berada!".


Ting. Pintu lift terbuka.


"Kenapa kamu berjanji dengan saya?. Kamu mau melakukan itu lagi terserah kamu, itu bukan urusan saya. Karena saya tidak butuh janji kamu!",jelas Sam yang berjalan mendahulu El.


El menghela nafas panjang. Ia lalu berjalan keluar sebelum pintu lift tertutup lagi.


Tamara melihat Sam dan El baru saja keluar dari lift berbarengan. Ia lalu menyapa Sam dengan ramah sebelum Sam masuk kedalam ruangannya. "Pagi Pak!", sapa Tamara.


"Hm....!",jawab Sam dingin lalu masuk kedalam ruangannya.


El meletakkan tasnya keatas meja.


"Kenapa sih terlambatnya barengan?. Apa jangan-jangan kalian sudah janjian!",goda Tamara yang tidak henti-hentinya menggoda.


"Apaan sih mbak!. Aku lagi malas berdebat dengan Pak bos!. Memang sih aku salah, tapi bukan malah ngomel-ngomel tidak jelas seperti tadi!",jelas El yang duduk disamping Tamara.


"Ngomel-ngomel tidak jelas bagaimana?. Oh...pantesan tadi jawab sapaanku sifatnya dingin banget!",kata Tamara. "Tapi, bukannya lebih baik begitu. Sifatnya dingin dan kaku sama kamu. Itukan mau kamu!",lanjutnya.


"Iya sih mbak. Tapi, kenapa hatiku tidak rela ya, dia bersikap seperti itu!. Terus kenapa tadi malam mbak ninggalin aku sama dia di dalam mobil berdua?. Lalu dimana Pak Ardi?",tanya El mencari jawaban dari Tamara. Gara-gara mereka berdua meninggalkan aku di dalam mobil berdua dengan dia, rasanya begitu canggung bersamanya.


Tamara melebarkan senyumannya.


"Kenapa mbak senyumnya lebar seperti itu?",tanya El heran. "Gara-gara tadi malam, aku jadi pulangnya telat mbak. Mbak tahu, dia nganterin aku sampai ke apartemen. Padahal aku sudah tidak tinggal lagi di sana!",lanjut El menjelaskan.


"Jadi kamu putar balik lagi ke asrama kamu?".


"Hm... Gara-gara itu juga, aku bangun kesiangan. Eh...sampai di kantor malah satu lift sama dia!",kesal El.


"Berarti kalian berjodoh!".


"Jodoh dari mana!. Mbak tahu, dari tadi malam aku sudah mencoba jaga jarak sama dia. Tapi, nasib berkata beda!".


"Maaf deh yang soal tadi malam. Tadi malam itu, aku dan Pak Ardi di usir dari mobil. Katanya Pak bos mau ngantarin kamu sampai apartemen. Ya sudah, kita mah tinggal turun aja dari mobil!",jelas Tamara.


"Aku sudah menduganya dari tadi malam. Kurang besok lagi Mbak, kita kerja di perusahaan ini. Mbak tidak sedih apa?",tanya El.

__ADS_1


"Sedih sih. Yang paling aku sedihkan yaitu kamu akan pulang ke London. Kita tidak akan pernah ketemu lagi!",kata Tamara sedih.


"Mbak kalau kangen sama aku tinggal bilang sama Kak Saga, minta ditugaskan di Indonesia. Pasti Kak Saga akan mengabulkannya",cicit El.


"Serius bisa?",tanya Tamara antusias.


"Coba aja Mbak. Apa lagi dia orangnya baik. Apapun yang aku minta pasti Kak Saga akan turuti kok!".


"Uh... So sweet banget sih kalian!. Lalu kenapa kalian tidak pacaran?".


"Tidak mungkin mbak. Karena Kak Saga sudah aku anggap sebagai Kakakku sendiri. Kalau aku dan kak Saga pacaran, lalu putus, tidak akan lagi ada persahabatan kita",jelas El.


"Kamu beruntung ya El, di kelilingi oleh para laki-laki yang ganteng dan sukses. Kalau aku jadi kamu, sudah aku jadikan suami dari salah satunya!",kata Tamara membayangkan.


El tertawa menanggapi candaan Tamara. Ia sangat bersyukur mempunyai rekan kerja yang sangat baik dan humoris.


Tiba-tiba telepon kantor berbunyi. Tamara dengan sigap mengangkat telepon. "Hallo dengan perusahaan XXX. Ada yang bisa saya bantu?",tanya Tamara.


"Dimana Pak Samuel?",tanya Laura.


"Pak Samuel sedang ada di ruangannya Bu. Kenapa Bu, tidak diangkat ya sama Pak Samuel?",goda Tamara.


"Tutup mulut kamu ya!. Sambungkan telepon saya kepada beliau?",perintah Laura.


"Ibu, tadi Pak Samuel berpesan kepada saya bahwa bila ada yang menelepon mencari beliau dan tidak ada kepentingan yang sangat genting, maka untuk tidak menyambungkannya. Ibu sudah pahamkan dengan ucapan saya?",jelas Tamara dengan sopan tapi membuat Laura naik darah.


"Astaga!. Dasar sekertaris gila!. Kalau kamu tidak menyambungkan sambungan telepon saya, saya akan laporkan kamu ke kantor polisi!",ancam Laura.


"Silakan Bu Laura!. Saya tunggu itikad baiknya!",putus Tamara bersorak gembira.


"Astaga Mbak, kenapa mbak iseng banget sama Laura?. Mbak ingin banyak musuh ya sekarang?",ucap El tidak percaya.


"Biarin. Toh Pak Samuel tidak menginginkan Laura ada di kantor ini!",jawab Tamara.


"Terserah mbak!",jawab El. Ia segera menyelesaikan laporan kuliahnya untuk besok. Karena besok adalah hari terakhir ia ada di perusahaan ini. Sebentar lagi aku sudah tidak ada disini Sam. Apakah aku akan merindukanmu nanti?. Apakah kamu juga akan merindukanku?. Bila nanti kamu benar-benar dengan pilihanmu, jatuh kepada Laura, apakah aku nanti akan cemburu dan kecewa dengan keputusanku sendiri? tulis El dalam laptop tanpa sadar. Ia sambil melamun.


Tamara pergi ke pantri untuk mengambil sesuatu di sana.


Sam keluar dari ruangannya. Ia memandang El yang sedang fokus menatap laptopnya. Ia berjalan mendekati meja sekertaris. El masih tidak sadar dan tidak bergerak dari pandangan matanya yang terlalu fokus di layar laptop. Sam heran dan langsung mengambil laptop yang ada di depan El.


El tercengang melihat Sam yang sudah memegang laptopnya. "Pak Sam!",lirih El yang otomatis berdiri dari kursinya. Ia sangat susah untuk menelan ludahnya sendiri.


"Kamu sadar tidak, dari tadi aku panggil-panggil nama kamu, tapi kamu tidak merespon panggilan saya!",kata Sam tegas. Maafkan aku El, aku berbohong sama kamu!.


El menundukkan kepala. "Maafkan saya Pak, saya terlalu fokus dengan laporan kuliah saya!. Dan tidak mendengarkan panggilan dari Bapak!",kata El takut tangannya gemetar.


"Saya paling tidak suka bila karyawan saya teledor dalam segala urusan kantor. Saya tidak mau!",kata Sam dengan suara tinggi. Lalu ia mengalihkan matanya untuk melihat isi laporan dalam kuliah El. Ia membacanya dan tidak percaya bahwa El sedang menulis tentang dirinya di laporan kuliahnya. Ia tertawa dalam hatinya karena El menulis namanya di situ. "Kamu serius mau membuat laporan seperti ini?",tanya Sam menunjukkan beberapa tulisan yang mengenai menyebut namanya.


"Hm....!",lirih El bingung. Lalu ia mencermati setiap tulisan laporannya.


Dan...


El tercengang dan membulatkan matanya dengan sempurna.


Sam melihat ekspresi keterkejutan El tertawa terbahak-bahak dalam hatinya. Lalu ia bergegas untuk ke ruangannya. Ia tersenyum dengan puas melihat tingkah laku El yang sangat menggemaskan ini.


El meruntuki kebodohnya karena menuliskan nama Sam dalam tulisan laporannya.


***

__ADS_1


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.


Terimakasih.


__ADS_2