
Happy Reading.
***
Saga menghapus air mata yang menetes dikedua pipi El. "Jangan menangis ya, aku akan selalu ada disamping kamu",kata Saga sayang.
Andai aku bisa jatuh hati kepada Kakak, pasti hidupku tidak akan seperti ini hanya karena seseorang yang selalu Kakak hindari batin El yang memandang Saga dengan tulus merawatnya.
Bella yang ada disamping mereka seperti obat nyamuk yang hanya sebagai penonton kemesraan mereka berdua. El cantik dan Kak Saga sangat ganteng. Mereka cocok bila berpasangan! batin Bella yang melihat suster masuk kedalam.
"Permisi!",kata suster yang ada di klinik kesehatan kampus. Ia mendorong sebuah meja yang tersaji makanan yang bergizi untuk pasien.
Saga langsung melepaskan tangannya dan salah tingkah melihat suster yang masuk.
Dasar suster, tidak punya perikemanusiaan. Mereka tuh lagi mesra-mesraan! umpat Bella di dalam hati.
Suster menyiapkan diatas meja dekat ranjang. "Selamat makan siang Kakak!. Saya pamit dulu. Permisi!".
"Terimakasih ya Sus?",ucap Saga yang tidak lupa mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama Pak!",jawab suster yang langsung keluar dari ruangan.
"Makan sekarang ya?. Keburu dingin!",kata Saga menyiapkan sendok dan garpu.
"Boleh Kak!",jawab El sambil membenarkan posisi untuk duduk.
"Kamu mau ngapain?",tanya Saga bingung.
"Mau makan Kak".
"Biar aku suapin aja!. Kamu pasti masih pusing".
El menolak langsung perintah Saga. Ia tidak mau merepotkannya. "Tidak usah Kak. Aku masih bisa kok. Toh ini sudah membaik!",sahut El cepat.
"Tidak apa-apa".
El menghela nafasnya. "Bel, bantu aku ya?",ucap El sambil memohon pengertian sang sahabat.
"Iya, aku bisa kok!",jawab Bella yang langsung mengambil mangkok dari tangan Saga. "Maaf ya kak, biar aku aja yang menyuapi El!",saran Bella yang kemudian mengambil sendok dari tangan Saga.
Lega. Hati El benar-benar lega. Ia tidak mau merepotkan Saga terlalu banyak, karena selama ini Saga sudah membantunya untuk bertahan hidup di negara lain.
Saga hanya pasrah sup mangkok dan sendok yang ia pegang sudah pindah tangan di Bella. Ia sebenarnya kecewa karena gagal menyuapi El, tetapi ia tetap tersenyum supaya El cepat sembuh.
Bella menyuapi El penuh dengan ketulusan. Sedangkan El menikmati makanannya. El sesekali melihat Saga dengan senyum karena ia tidak mau membuat Saga kecewa.
Saga pamit karena mendapat telepon dari sang sekertaris. Ia pamit untuk keluar ruangan sebentar mengangkat telepon. "Ada apa Tamara?",tanya Saga tegas.
"Bapak dimana?. Saya sudah ada dikantor Bapak",sahut Tamara.
Ya ampun, aku lupa kalau hari ini adalah hari pertama Tamara kerja batin Saga menepuk dahinya karena lupa. "Oh...kamu langsung tanya sama Mbak resepsionis ya, nanti bilang kamu sekertaris baru saya. Nanti dia tahu kok!",jelas Saga. "Soalnya saya ada urusan diluar".
"Ok. Terimakasih sebelumnya Pak!",jawab Tamara sebelum selesai berbicara telepon sudah diputus sepihak oleh Saga. Tut... Tut... Tut...
"Kok dimatiin sih!",kesal Tamara yang langsung masuk kedalam perusahaan milik Saga.
Saga lalu memasukkan ponselnya kedalam saku. Ia masuk kedalam ruangan lagi. "Sudah habis?",tanya Saga yang melihat Bella sudah selesai menyuapi makanannya.
"Aku sudah kenyang kok Kak!",jawab El.
"Ok. Tapi kamu harus makan yang banyak ya, supaya kamu cepat pulih!",saran Saga.
"Iya Kak. Kakak kok tidak ke kantor?",tanya El bingung karena waktu sudah menunjukkan siang hari.
"Nanti juga ke kantor kok".
"Kalau Kakak disini, lalu Mbak Tamara bagaimana?",tanya El. "Inikan hari pertama Mbak Tamara kerja!",lanjutnya.
"Kamu tidak usah khawatir, semua sudah di urus sama orang kantor kok!",jawab Saga memberikan penjelasan.
"Kasihan Kak. Lebih baik Kakak ke kantor saja, aku juga mau istirahat kok Kak. Habis minum obat. Iyakan Bel?",kata El meminta persetujuan Bella supaya Saga kembali ke kantornya karena ia tidak mau membebani Saga.
Saga melihat jam yang melingkar ditangannya. "Tidak apa-apa Kakak tinggal?",tanya Saga berharap El mempertahankan ia ada disampingnya.
__ADS_1
El mengangguk-angguk kepala tanda setuju. "Aku baik-baik saja kok Kak. Kan ada Bella, sahabat aku!",sahut El.
"Ya sudah, aku kekantor dulu ya!. Nanti ada apa-apa segera hubungi Kakak!",pesan Saga kepada El dan Saga.
"Kok hubungi Kakak?. Sejak kapan Kakak jadi dokter?",goda El.
"Sejak hari ini. Kalau perlu Kakak akan sekolah kedokteran lagi. Supaya bisa merawat kamu daripada kamu di rawat sama dokter gadungan!",ucap Saga asal.
"Gadungan?",ucap El dan Bella bersamaan.
"Udah lupakan saja!. Aku pergi dulu ya?. Assalamualaikum!",pamit Saga.
"Walaikumsalam!",jawab El dan Bella bersamaan dan dengan itu Saga pergi dari ruangan kesehatan.
"Sempurna!",ucap Bella yang masih memandang kepergian Saga.
"Kenapa?. Suka?".
"Kalau boleh milih laki-laki, dia yang akan aku pilih!",sahut Bella tanpa sadar.
"Dia belum punya pacar. Tenang saja!".
Bella senyum bahagia melihat El yang sedang memandang layar ponselnya. "Kamu serius?".
"Serius kok. Dia baik, pengusaha, jujur dan yang pasti dia tidak sombong!",jelas El.
"Ih... Boleh daftar tidak sih untuk jadi pacarnya!",gemas Bella meleleh.
"Mungkin!",jawab El singkat.
"Lalu kenapa kamu tidak pacaran atau menikah sama dia?. Kok malah pilih laki-laki yang kamu kejar dikantor polisi itu?",tanya Bella kesal melihat El seperti dilema.
"Sudahlah Bel, aku lelah. Aku mau istirahat dulu!",ucap El yang meletakkan ponselnya di nakas lalu memejamkan kedua matanya.
"Ok. Selamat istirahat El!". Bella memperbaiki selimut yang menyelingkap. Ia kemudian pergi ke kamar dulu mengambil bukunya untuk masuk kuliah siang.
David membuka pintu kamar rawat El. Ia melihat El sedang tidur dengan lelapnya. Ia lalu menghentikan niatnya untuk memeriksa El dalam keadaan tertidur. Kemudian ia menutup pintu kembali dengan perlahan supaya tidak terdengar. Aku harus memberitahukan kabar ini kepada Sam. Tapi, kalau aku memberikan kabar, mereka merajut kasih lagi bagaimana?. Terus aku tidak bisa pepet terus dong! batin David dilema.
Dret... Dret... Dret...
"Dimana?".
"Biasa di kampus. Ada apa?".
"Sekarang ke Griya Tawang, aku membutuhkan mu!",perintah Sam dari seberangsana.
"Tumben kamu telepon sendiri. Mana sekertaris kamu yang baru?",goda David.
"Kamu mau mati!. Ha!",gertak Sam.
"Boleh. Tapi, kamu tidak penasaran apa yang terjadi saat ini di klinik kampus kalau kamu mau membunuh ku?".
"Memang ada apa?. Apa urusannya dengan ku?. Aku sudah menyumbang puluhan tahun tapi aku tidak membutuhkan kabar yang tak masuk akal".
"Dia sedang aku rawat!",sahut David.
"Maksud kamu?",tanya Sam bingung.
"Tunangan kamu memang kurang ajar!. Gara-gara tamparan tunangan kamu, dia sampai demam yang harus aku larikan ke klinik!",jelas David sarkas.
"Apa?".
"Aku penasaran sama tunangan kamu yang baru. Sampai-sampai membuat anak orang menderita. Seberapa kuatnya tenaga tunangan kamu itu!",lanjut David tanpa kontrol lagi.
"Jaga mulut kamu!".
"Aku baru sadar, bahwa dia lebih cantik aslinya daripada di konferensi pers itu!",ucap David menggoda.
"Jangan sentuh dia!",bentak Sam dengan tangan mengepal dan rahang yang sudah mengeras.
"Itu mau mu. Bukan mau ku!",jawab David yang langsung mematikan secara sepihak. Lalu ia tersenyum bahagia karena telah mengerjai sang Bosnya.
Sam langsung berlari ke anak tangga untuk turun ke lantai bawah. Ardi sedang duduk di ruang tengah sambil memeriksa dokumen. Ia melemparkan kunci mobilnya kepada Ardi supaya Ardi menyiapkan mobil secepatnya.
__ADS_1
"Kita mau kemana Mas?",tanya Ardi bingung.
"Cepat siapkan mobil!. Aku mau membunuh orang!",perintah Sam dengan lantang yang mengikuti arah Ardi menaiki lift.
Ardi mengambil mobil di basemant. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ia melihat Sam sudah menunggu di depan basement. Setelah Sam masuk kedalam mobil, Ardi mengendarai kecepatan tinggi. "Tujuan kemana Mas?",tanya Ardi fokus mengendarai mobil.
"Ke universitas XXX".
Bukankah itu kampusnya El?. Ngapain Mas Sam mengajak ke sana? pikir Ardi penasaran.
"Berapa tahun David bekerjasama sama kita?",tanya Sam.
"Maksud Mas, Dokter David?". Apa hubungannya dengan dokter itu.
"Siapa lagi!. Memangnya orang yang terpenting menangani keluarga Dirga yang bernama David itu berapa orang?",sahut Sam kesal terhadap sang sekertaris.
"Sudah lama Mas. Sekitar tiga tahunan. Memang ada apa ya Mas?",tanya Ardi balik.
"Sekarang kalau bisa pecat sekarang dari universitas XXX, daripada membuat masalah terus menerus!",tegas Sam.
"Masalah. Masalah apa Mas?",tanya Ardi bingung.
"Dia sudah berani menantang ku. Aku paling membencinya!",jawab Sam asal.
Dan mobil pun melaju dengan kencang.
***
Akhirnya mobil sampai di universitas XXX. Sam segera keluar dari mobil dan berjalan ke arah ruang kesehatan.
Ardi yang baru saja turun dari mobil di buat bingung oleh sang majikan. "Dia mau berbuat apa disini!",lirih Ardi memandang punggung Sam yang semakin menjauh. Ia tidak lupa menutup pintu mobilnya sebelum mengejar sang majikan.
Sam membuka ruang kesehatan. Disana ada beberapa dokter dan suster yang sedang bekerja. "Dimana dokter David?",tanya Sam tegas.
"Dokter David ada dikantornya Pak. Silahkan!",jawab suster sambil mempersilahkan Sam untuk masuk kedalam. Ia menunjukkan ruangan David yang terletak di ujung. Ia mencoba membuka pintu namun Sam langsung menghentikannya.
"Jangan!. Biar saya yang akan membuka pintunya. Terimakasih sudah mengantar saya!",ucap Sam kepada suster itu.
"Sama-sama Pak. Saya permisi dulu Pak!",pamit suster itu.
"Iya". Sam memandang pintu itu penuh dengan emosi. Awas saja kau David, tamat riwayatmu!.
Cekrek...
Pintu terbuka dengan cukup keras. David terperanjat melihat Sam sudah berdiri di depan pintu kantornya.
Sam berjalan pelan menghampiri David. "Bagaimana dengan kata-kata terakhir kamu?. Mau kamu sampaikan kepada siapa?",ancam Sam yang duduk di sofa sebagai ruang tamu.
David menyunggingkan senyumannya yang telah berhasil membuat Sam marah dan datang ke kantornya. Ia segera berdiri menyambut sang sahabat plus sang majikan. "Akhirnya kamu datang juga ke kantorku!",seru David. "Penasaran dengan apa yang aku katakan tadi?",sambung David yang suka menggoda Sam.
"Aku kesini bukan karena keinginan ku atau karena ada wanita itu. Aku kesini hanya ingin berobat. Kamu tidak lihat wajahku babak belur seperti ini?",kesal Sam mencoba mencari alasan.
"Aku bersyukur wajah kamu seperti ini. Jadi, satu habitat laki-laki ganteng jumlahnya akan berkurang!",goda David.
"Ish... Sepertinya kamu sedang memancing kemarahan ku saja kan!",seru Sam meredakan emosinya.
Hahahaha....tawa David menggelegar disetiap ruangannya.
Sam saat ini benar-benar mati kutu. Ia seperti mendapat balasan yang menyakitkan hati dari orang-orang kepercayaannya.
"Kalau aku mau memancing, tinggal pergi ke sungai atau tempat pemancingan. Buat apa, aku harus memancing kemarahan kamu!",sahut David. Ia segera mempersiapkan perlengkapan buat mengobati luka Sam. "Mau diobati di tempat ini atau di ruangan lain?",tanya David yang sudah menenteng perlengkapan.
"Aku mau yang higienis tapi bukan di ruangan ini!",kata Sam yang keluar dari kamtor David.
David menghela nafas kasar. "Kalau kamu bukan pasien ku, aku sudah menendang kamu!",umpat David.
"Aku masih mendengar!",teriak Sam yang sudah dikejauhan mata David. Ia menaikkan kedua tangan supaya David berhenti mengumpat.
"Ish.... !", kesal David yang mengikuti langkah Sam.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.