Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Menyesal


__ADS_3

Happy Reading.


***


Malam Hari.


El sedang bervideo call bersama keluarganya. Ia bercerita banyak tentang kuliahnya. Ia selalu bertanya kabar tentang adik bungsunya Dino. Mereka selalu bercanda dan tertawa bersama-sama tentang kelakuan adiknya itu.


"Kakak lagi dimana ?",tanya Dino yang memenuhi kamera ponsel Bundanya.


"Kakak lagi di luar, habis beli perlengkapan. Kamu udah makan belum?",tanya El.


"Udah dong Kak. Kakak kapan pulang sih, lama benar disitunya?",tanya Dino.


El tersenyum manis mendengar pertanyaan dari adik bungsunya itu. "Udah kangen ya?",tanyaku.


"Nanti kalau waktunya pulang, Kakak pasti pulang sayang!",sahut Bunda sambil memeluk anak bungsunya.


"Iya dek. Doain Kakak semoga cepat-cepat bisa pulang ya?",kata El.


"Iya Kak",jawab Dino.


Kak Saga tiba-tiba duduk di depan El. Ia memandang El dengan perasaan yang begitu hangat.


"Udah dulu ya Bun, nih mau ke apartemen. Udah malam juga, ngantuk!",pamit El sambil melihat ke layar ponselnya.


"Ya udah. Buat istirahat ya, jangan main terus?",pesan Bunda.


"Iya Bunda. Assalamualaikum, Bunda. I love u!",kata El.


"I love u too!",bisik Kak Saga menggoda.


"Walaikumsalam sayang. I Love u too!",jawab Bunda dan langsung mematikan ponselnya.


"Kakak Saga!",teriak El.


Kak Saga tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku El yang menggemaskan.


"Kakak gak seharusnya kayak gitu!. Aku jadi malu!",kata El.


"Kenapa harus malu?",tanya Kak Saga.


"Ya udah aku tutup cafenya dulu ya Kak?",ucap El.


"Aku bantuin!",sahut Kak Saga.


"Gak usah Kak. Malah aku jadi ngerepotin Kakak!",jawab El.


"Gak apa-apa kok. Malah nanti cepat selesaikan!",sahut Kak Saga.


Akhirnya El membersikan meja-meja yang di bantu oleh Kak Saga. Adele sudah pulang duluan karena ia harus mengerjakan tugas dari dosen mata kuliahnya. Beberapa menit kemudian akhirnya El siap untuk mengunci kafe. Ia memasukkan kuncinya di dalam tas.


"Kamu gak capek ya kerja separuh waktu kayak gini?. Masih mikirin kuliah lagi?",tanya Kak Saga yang sudah berdiri di sampingnya El.


"Udah biasa kok Kak. Aku jalaninnya dengan rasa bahagia, jadi ya gak begitu capek!",jawab El.


Kak Saga berjalan mendekati mobilnya. Ia membukakan pintunya buat El.


"Gak usah repot-repot Kak. Aku bisa sendiri kok!",kata El melihat Kak Saga membukakan pintu untuknya.


"Gak apa-apa kok. Apa sih yang gak buat kamu!",sahut Kak Saga menggoda.


El menggelengkan kepalanya. Ia langsung duduk di tempat samping pengemudi.


Kak Saga menutup pintu dan langsung berlari kearah pengemudi. Ia menancapkan pedalnya dengan kecepatan sedang. "Kita ke apartemen kamukan?",ucapnya.


"What?",teriak El kaget. "Bukankah kita mau cari bukti tentang kak Edwan?",tanya El melihat ke arah Kak Saga heran.


"Lha tadi pas pamitan sama Bunda kamu, kamu bilang mau pulang ke apartemen dan katanya ngantuk!",goda Kak Saga.


"Saatnya gak bercanda Kak!. Aku serius ?",sahut El.


"Aku malah serius banget lho ini?",jawab Kak Saga tersenyum.

__ADS_1


El langsung mencubit bahu Kak Saga pelan.


"Auwwww...sakit El!",teriak Kak Saga.


"Suruh siapa bercanda!",jawab El kesal.


***


Akhirnya setelah beberapa menit di perjalanan Kak Saga memarkirkan kendaraan di depan club. Ia mengajak El untuk turun bersama. "Ready?",tanyanya.


"Ready, gak ready, kan harus ready Kak?",seru El yang sudah membuka pintu mobil.


Kak Saga turun memakai kaca mata hitam dan ia tidak lupa membawakan El topi. Ia berjalan menghampiri El dan langsung memakaikan topi yang sudah disediakan olehnya.


"Apa ini Kak?",tanya El heran yang memegang topi pemberian dari Kak Saga.


"Supaya penyamaran kamu gak ketahuan disini!",ungkap Kak Saga.


Mereka berdua berjalan beriringan. Suara musik begitu sangat keras di pendengaran. Kak Saga langsung memegang lengan El supaya El bisa mengikuti setiap langkahnya. Mereka melewati orang-orang yang sedang berjoget ria. Kak Saga membawanya diruangan VIP atas, supaya bisa leluasa melihat bawah.


"Kita serius nih Kak duduk disini?",tanya El kepada Kak Saga.


"Menurut kamu?",tanya Kak Saga balik. Ia sudah duduk manis sambil menyandarkan punggungnya. Lalu Kak Saga menarik lengan El supaya duduk disampingnya.


El duduk terpaksa di samping Kak Saga.


"Kamu tenang aja, aku gak akan ngapa-ngapain kamu!",teriak Kak Saga.


"Buat jaga-jaga Kak!. Siapa tahu Kakak khilaf!",goda El tersenyum.


Kak Saga tertawa terpingkal-pingkal melihat keluguan El. "Kalau aku khilaf, aku gak akan bersama kamu Ellena!",sahut Kak Saga. Ia mengambil minuman bersoda yang ia pesan tadi. Ia meneguknya dengan sangat perlahan.


"Kalau kita kesini, emang pacar Kakak gak marah apa?",tanya El.


"Pacar?. Aku belum punya pacar saat ini!. Kalau kamu mau, kamu bisa kok jadi pacar aku sekarang juga?",goda Kak Saga.


El langsung menendang kaki Kak Saga keras.


"Auwwww... sakit El!",teriak Kak Saga menarik kakinya. "Kamu kalau di godain selalu aja nyakitin aku!",ucapnya.


Kak Saga melihat El tersenyum manis. Ia sadar bahwa wanita yang duduk disampingnya ini bukan kekasihnya. Ia melihat jari tangan kiri El yang sudah tidak memakai sebuah cincin permata. "Mana cincin permata kamu?",tanya Kak Saga.


El langsung melihat kearah tangan kirinya. "udah kembali ke asalnya!",sahut El pelan.


Kak Saga mengenyitkan dahinya bingung. "Maksud kamu?",tanya Kak Saga, karena El belum memutuskan pertunangannya sama Edwan, tetapi cincin itu sudah tidak ada. Lalu kemana cincin itu?.


"Cincin yang selama ini aku sematkan dijariku bukan cincin pemberian dari Kak Edwan kok Kak!",jawab El santai.


"Lalu?".


"Cincin pemberian dari Sam",jawab El santai.


"Apa?. Kok bisa?",tanya Kak Saga penasaran. "Bukankah si Edwan curiga tentang bentuknya?",tanyanya.


"Cincinnya sama kok Kak. Gak ada bedanya sama sekali".


"Hebat. Kakak dan adik punya selera yang sama !",kata Kak Saga.


"Aku juga gak tahu kenapa bisa seperti itu?. Yang jelas yang aku pakai selama ini adalah nama Sam, bukan nama Kak Edwan. Dan tadi aku sudah bertemu dengan Sam!",ungkap El.


"Apa?. Kamu udah bertemu dengan Sam?",tanya Kak Saga tidak percaya.


El menganggukkan kepala. "Iya. Memang kenapa?",tanya El balik.


"Gak apa-apa".


"Aku udah mencoba minta maaf sama dia. Gak tahu dimaafin apa gak!",seru El.


Tiba-tiba dua orang saling bergandengan masuk kedalam club dengan wajah yang gembira dan suka cita. Mereka langsung ikut bergoyang mengikuti irama.


El melihat langsung syok. Ia tidak menyangka bahwa kelakuan tunangannya seperti ini. "Kak Edwan!",bisik El pada dirinya sendiri.


Kak Saga melihat orang-orang yang sedang bergoyang di lantai dansa. "Itu yang dilakukan calon suami kamu disini El!",kata Kak Saga. "Dia Chika, dia mantan pacar temanku. Edwan udah berhubungan sama dia semenjak Edwan masih kuliah di Jakarta. Dan sampai sekarang temanku belum move on gara-gara tuh cewek!",ungkap Kak Saga.

__ADS_1


El langsung berdiri marah. Ia harus melakukan sesuatu, contohnya melabrak mereka berdua.


Kak Saga langsung memegang lengan El kuat.


"Buat apa kamu mau nyamperin dia?. Yang penting kamu udah punya buktinyakan?. Terus tinggal ngancam dia balik?. Bereskan?",cicit Kak Saga.


"Tapi Kak, ini gak benar?. Kelakuannya buat aku muak, dan aku ingin dia merasakan malu yang amat sangat!. Karena selama ini hidup aku dikekang olehnya?",ucap El yang merasa kesal.


Kakak Saga menyuruh El untuk duduk dengan tenang. Ia tidak mau kalau El mengambil keputusan dengan gegabah.


"Aku menyesal karena selama ini percaya gitu aja sama dia?. Padahal dulu aku pernah melihat dia bermesraan sama tuh cewek di kamar Kak Edwan, pada saat aku bermain ke rumah Sam?. Tanpa aku sengaja aku melihat itu Kak?",kata El tiba-tiba.


"Dan kamu menerima begitu aja lamarannya kan?",sahut Kak Saga.


"Ya karena aku terpaksa Kak!",sahut El cepat. "Karena tidak ada jalan lainnya. Walaupun jalan itu buntu, aku pasti akan terjebak juga oleh ancamannya!", seru El.


"Tapi kalau kamu jujur sama Sam, kemungkinan hal terburuk tidak akan menghampiri kamu, El?",kata Kak Saga.


"Tidak menjamin Kak. Pokoknya aku harus membongkar skandal mereka!",tekad El.


Beberapa jam kemudian, mereka berdua masing membuntuti tingkah Edwan dan Chika. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mereka merekam aksi tak senonoh yang Edwan dan Chika lakukan. Kadang-kadang Kak Saga menutup mata El dengan kedua tangannya. Karena Kak Saga tidak mau kalau El melihat kegiatan yang tak pantas ia tonton.


Akhirnya Edwan dan Chika keluar dari tempat yang mereka berdua pesan tadi. Kak Saga dan El mengendap-endap pelan-pelan mengikuti kemana Edwan dan Chika akan pergi.


Edwan dan Chika berjalan sempoyongan karena habis minum-minuman keras sambil tertawa-tawa sendiri. Mereka berdua naik mobil.


Kak Saga dan El langsung naik mobil mengikuti mobil milik Edwan.


"Kamu serius mau ngikuti mereka berdua?",tanya Kak Saga yang fokus melihat kedepan.


"Iya dong Kak. Aku harus punya bukti yang kuat!",jawab El.


Akhirnya mobil Edwan berhenti disalah satu gedung apartemen yang super-super VVIP. Mobil Edwan terparkir rapi di depan gedung itu. Mereka berdua segera turun dari mobil dan masuk ke gedung itu.


Kak Saga dan El tidak mau ketinggalan jejak. Mereka berdua segera lari mengendap-endap mengejar Edwan dan Chika.


Edwan dan Chika berdiri di depan pintu lift. Mereka menunggu pintu lift terbuka.


Ting... Pintu lift terbuka Edwan dan Chika langsung masuk kedalam lift.


Kak Saga dan El berhenti didepan pintu lift dan melihat angka mana mereka akan tuju. Karena El belum pernah ke apartemen yang di tempati oleh Kak Edwan itu. Mereka berdua sabar menunggu angka.


10


11


12


13


14


15


16


17


18


Angka berhenti di angka 18. Kak Saga langsung menarik lengan El untuk masuk ke lift sampingnya. Kak Saga tidak lupa memencet angka 18.


"Jangan pernah menyesal ya?",ucap Kak Saga.


"Aku gak akan pernah menyesal Kak!",sahut El yang masih memegang kamera yang masih on.


Ting. Pintu lift terbuka. Kak Saga dan El buru-buru keluar dari lift. Mereka menengok kesana-kemari tidak ada seorangpun. Nihil.


"Kita kehilangan jejaknya!",kata Kak Saga.


Ckkkk.... El langsung menyandarkan punggungnya di dinding. Ia merasa kelelahan karena pukul sudah menunjukkan jam 4 pagi buta. Lalu ia duduk di lantai dengan perasaan campur aduk. Ia menyesal telah membuat hatinya hancur sendiri. Ia bingung bagaimana ia akan menjelaskan kepada keluarga besarnya?.


***

__ADS_1


Jangan lupa komen, like dan vote.


Terimakasih.


__ADS_2