
Happy Reading.
***
Mereka masih di bawah bukit. Mereka tidak pantang menyerah mencari seseorang yang sangat berharga baginya.
"Sam....!",panggil El histeris.
"Udah El udah. Tim SAR belum menemukan mereka. Itu baru puing-puingnya!",kata Saga mencoba menenangkan.
"Tapi Kak, puing-puing itu sudah tidak berbentuk dan warnanya hitam. Pasti jet Sam terbakar Kak!",kata El sambil terisak.
"Kita berdoa aja El, supaya Sam dan para kru selamat!",kata Saga. "Ya udah, kita tunggu di atas aja ya?. Kita kembali ke mobil?",ide Saga.
"Enggak Kak. Aku mau mencari Sam ke sana. Kita jauh-jauh dari atas, dan sampai dasar kita kembali Kak, sama aja bohong Kak. Aku akan tetap mencari Sam Kak!. Aku yakin, Sam masih ada di sana!",kata El keras kepala.
"Oke kita akan lanjut mencari Sam. Tapi kamu harus janji, tidak membuat masalah di sana?",kata Saga.
"Iya Kak. Aku janji!",jawab El.
Lalu mereka melanjutkan perjalanannya untuk bisa mencapai ke titik koordinat.
***
Para tim SAR mengumpulkan puing-puing yang sudah tidak berbentuk. Lalu salah satu dari tim SAR menemukan tiga korban yang sudah tidak bernyawa dan sudah tidak bisa dikenali karena mereka sudah terbakar. Mereka memasukkan korban ke kantong yang berwarna oranye yaitu kantong jenazah.
El dan Saga baru sampai di titik koordinatnya. Mereka melihat tiga kantong yang siap di ambil oleh helikopter untuk di lakukan evakuasi.
"Kak, aku mau melihat isi dari kantong itu. Aku gak mau kalau salah satu kantong itu ada Sam?",pinta El.
"Tapi El, nanti mereka akan melakukan identifikasi kepada para korban. Sebelum korban diserahkan kepada pihak keluarga",jelas Saga.
"Tapi Kak, El mau melihat sendiri kak. El mohon?",mohon El meminta supaya Saga membantunya untuk bicara kepada tim SAR.
"Oke. Tapi, kamu harus kuat ya?. Aku gak mau kalau kamu kenapa-kenapa nanti?",pesan Saga.
El mengangguk kepalanya yakin.
Lalu Saga berjalan untuk meminta izin kepada tim SAR. Dan tim SAR mengiyakan permintaan Saga.
"El sini?",kata Saga memanggil El.
El segera berjalan pelan-pelan menghampiri Saga. Ia yakin akan melihat korban-korban kecelakaan ini.
El berdiri di samping kantong jenazah. Ia berjongkok sambil membuka ritsleting kantong itu. Ia membukanya perlahan-lahan.
Dan....
Deg. Di dalam kantong jenazah itu ada seseorang yang tidak ia kenali. Dia sudah terbakar sampai gosong. El menutup mulutnya tidak percaya. Separah itukah korbannya?.
Saga yang melihat El terdiam, tidak ambil diam. Ia segera menutup ritsleting kantong itu. Ia tidak tega melihat korban yang terbakar itu. "Kamu gak apa-apa?",tanya Saga yang memegang kedua bahu El.
"Aku gak apa-apa Kak. Aku cuma syok melihat korbannya!",jelas El yang sudah tidak bisa berkata apa-apa.
"Lebih baik tidak usah di buka semuanya ya?. Kakak gak mau nanti kamu pingsan",saran Saga.
"Tidak apa-apa kok Kak. Lanjut aja. Aku yakin aku kuat!",tekad El yang sudah mulai pucat pasi.
"Kita lanjutkan ya pak?",ucap Saga.
"Baik mas. Silahkan!",jawab salah satu tim SAR.
"Ya udah. Kamu berdiri aja. Biar aku yang buka satu persatu kantong ini!",saran Saga.
"Baik Kak. Kakak gak apa-apa kan?",tanya El memastikan.
"Tidak apa-apa. Kamu tenang aja!",sahut Saga. Lalu ia duduk berjongkok. Ia mencoba membuka ritsleting pelan-pelan.
Dan...
El dan Saga melihat korban yang sudah tidak berbentuk kepalanya.
El syok berat sambil menutup mulutnya tidak percaya. Para korban sungguh sangat mengerikan. Ia tidak bisa membayangkan kalau nanti akan terjadi sesuatu sama Sam. Ia meneteskan air mata.
Saga menutup kembali kantong itu. Ia kemudian beralih dengan kantong satunya lagi. Ia mencoba membuka pelan-pelan, ia berharap semoga di dalam kantong itu bukan orang yang ia kenali.
Dan....
El menutup matanya tidak kuat. Ia tidak mau melihat orang yang ia sayangi ada pada kantong itu.
Saga melihat dengan teliti. Ia mengamatinya dengan seksama. "Bukan, dia bukan Sam!",ucap Saga yang langsung menutupnya.
__ADS_1
Lega. Seseorang yang ia sayangi tidak ada di dalam kantong itu. Lalu, dia ada dimana?.
Saga berdiri dan langsung mengucapkan terimakasih banyak kepada tim SAR karena sudah memberikan izin kepada kita.
"Bagaimana ini Kak, lalu Sam ada dimana?",tanya El lemas.
"Tim kita akan mencari Pak Samuel mbak. Para tim akan mencarinya sekuat tenaga!",sahut salah satu kepala tim SAR.
"Terimakasih banyak pak. Saya mohon segera temukan Pak Samuel!",kata El.
"Baik mbak!",jawab Tim SAR.
"Kita tunggu kabar ya?. Kita istirahat dulu!",ide Saga memegang lengan El mengajaknya untuk berteduh di bawah pohon karena cuacanya sangat terik.
Mereka berdua duduk di bawah pohon sambil minum air mineral.
"Aku takut Kak, kalau nanti terjadi sesuatu sama Sam!",kata El sedih.
"Aku yakin Sam pasti selamat. Aku tahu kalau dia adalah orang yang kuat. Kamu tenang ya?",kata Saga memberikan semangat.
"Mana tenang sih Kak, aku. Tadi malam dia baru telepon untuk segera pulang menemui aku, tapi apa?. Dia....!",kata El sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya. Andai waktu bisa aku putar, aku tidak akan izinkan dia untuk pulang. Andaikan waktu itu.... Tapi waktu dan takdir tidak bisa di rubah oleh manusia. Tapi, kenapa harus dia Tuhan? batin El menangis. Ia tidak henti-hentinya mengeluarkan air matanya.
Saga menenangkan El dengan memeluknya. Ia tidak tega melihat orang yang ia sayangi menangis seperti ini.
Suara helikopter sudah terdengar. Para tim SAR memberikan arahan untuk turun kebawah membawa para korban jet naas itu. Dan akhirnya helikopter turun dengan sempurna membawa para korban.
"Tolong... Tolong...!",lirih terdengar di telinga El. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Ia langsung berdiri mencari sumber suara.
"Ada apa El?", tanya Saga yang penasaran El seperti orang bingung.
"Aku mendengar suara orang yang minta tolong Kak. Ayo, kita cari sumber suara itu!",ajak El sambil menarik lengan Saga. "Siapa tahu itu Sam Kak!", lanjutnya.
"Semoga begitu!",sahut Saga berharap.
"Sam... Sam... Sam...!", panggil El beberapa kali. "Sam, kamu dimana Sam!",teriak El frustasi.
"El, kamu jangan frustasi kayak gini dong!. Kamu harus semangat!",kata Saga.
"Aku bingung Kak. Aku masih tidak percaya bahwa Sam akan mengalami ini semua. Aku masih tidak percaya dan aku berharap semoga aku cepat bangun dari mimpi buruk ini!",oceh El yang sudah merasa lelah.
"Bagaimana kalau kita pulang aja?. Kita nunggu hasil dari tim SAR?",saran Saga karena ia melihat El yang sudah mulai lelah.
"Enggak Kak. Aku gak mau. Aku akan terus menerus mencari Sam sampai ketemu!",tekad El lagi. Lalu ia melihat ke dasar sungai yang sangat curam. Ia melihat sesuatu yang bergerak di atas batu.
"Itu apa ya Kak?",tanya El sambil menunjuk ke arah sesuatu itu.
Saga langsung menghampirinya ia melihat seseorang yang tergeletak di dasar sungai yang curam. Ia lalu memanggil salah satu tim SAR untuk melihat itu.
Tim SAR langsung beralih ke seseorang itu. Mereka mengerahkan dua orang untuk turun mengecek seseorang itu.
"Aku yakin itu Sam Kak?",kata El sambil melihat tim SAR turun ke dasar sungai.
"Semoga!",jawab Saga.
Dengan susah payah tim SAR akhirnya bisa turun di titik lokasi. Tim SAR memberi kabar kepada ke tua tim SAR bahwa ada orang yang terluka di dasar sungai itu dengan walkie talkie. Lalu tim SAR yang ada di atas mengulurkan tali untuk bisa membawa korban naik ke atas.
El dan Saga berharap semoga ada keajaiban dari sang Maha Pencipta kalau itu adalah Sam.
El tidak henti-hentinya berdoa dalam hati semoga Sam selamat dari kejadian naas ini.
Tim SAR berhasil membawa satu korban yang masih selamat namun terluka di sekujur tubuhnya. Ketua tim SAR menelepon dengan walkie talkie untuk memberikan kabar bahwa ada korban yang selamat. Dan helikopter segera menjemputnya.
El yang melihat tercengang karena korban yang selamat bukan orang yang ia kenali. Sam, aku mohon bertahanlah! ucap El berdoa.
Tim SAR kembali menarik tali yang sudah di ikat ke korban dari sungai yang curam itu. Mereka menarik dengan sangat pelan-pelan namun pasti.
Dan....
El melihat Sam yang baru saja sampai di atas bukit dengan luka yang sangat serius. Darah segar masih mengalir dari kepalanya dan sekujur tubuhnya penuh dengan luka.
"Sam....!",panggil El tidak percaya sambil menangis. Hiks... Hiks...
Saga yang ada di samping El langsung memeluk El dari belakang. Ia tidak mau kalau El menganggu tim SAR dalam evakuasi korban.
"Sam, aku mohon bertahanlah!",kata El yang terisak-isak.
Para tim SAR membopong Sam dengan sangat pelan-pelan. Mereka langsung memberikan pertolongan pertama.
El dan Saga menghampiri Sam yang tergeletak di tandu dengan bantuan oksigen.
"Alhamdulillah, Pak Samuel masih bertahan. Kita segera membawanya ke rumah sakit!",kata ketua tim SAR.
__ADS_1
El menyentuh wajah Sam yang penuh dengan luka dan memegang tangan Sam untuk memberikan kekuatan. Ia tidak henti-hentinya menangis. "Sam, aku mohon buka mata kamu!",lirih El dengan lembut. "Aku yakin kamu pasti kuat!",lanjutnya.
Akhirnya helikopter turun di bukit. Dan para korban yang selamat langsung di bawa ke dalam helikopter.
"Saya boleh ikut masuk ke dalam helikopter pak, saya mohon pak!",mohon El yang memelas.
"Tapi mbak, kita sedang melakukan evakuasi. Tolong jangan ganggu rombongan kita!",jawab ketua tim SAR.
"Saya mohon pak?. Pak Samuel adalah tunangan saya?",mohon El.
Ketua tim SAR lalu memberikan izin untuk mendampingi Pak Samuel.
El langsung duduk di samping Sam memegang tangan Sam dengan kuat.
"Kamu hati-hati ya?",pesan Saga.
"Iya Kak. Terimakasih sudah mengingatkan!",jawab El.
Lalu pintu helikopter tertutup dan helikopter langsung terbang menuju rumah sakit.
"Sam, aku mohon bertahanlah!",lirih El sambil memegang erat jari jemari Sam dengan kuat.
***
Di rumah sakit.
Para korban yang selamat langsung di bawa ke dalam ruangan IGD. Dokter dan suster menangani dengan sangat hati-hati.
El duduk di ruang tunggu. Karena, ia tidak boleh masuk ke dalam ruangan itu. Ia berjalan mondar-mandir dengan perasaan cemas. Ia sudah memberikan kabar kepada orangtua Sam dan Saga rumah sakit mana yang di rekomendasikan. Aku mohon Sam, bertahanlah! doa El dalam hati.
Para suster bolak balik mengambil kantong darah. Karena dua korban yang selamat membutuhkan banyak darah.
Dret... Dret...
Suara ponsel El berdering pertanda ada sebuah panggilan. Ia langsung mengambil dari saku. Abang.
"Assalamualaikum bang!",sapa El terisak.
"Walaikumsalam sayang. Bagaimana keadaannya Sam?",tanya Satria khawatir.
"El tidak tahu bang. Sam tidak sadarkan diri. Dan sekarang Sam sedang di tangani oleh dokter",tangis El.
"Sabar ya dek. Mungkin ini ujian dari Tuhan. Abang cuma bisa mendoakan dari jauh!",kata Satria.
"El takut kalau terjadi apa-apa sama Sam bang!".
"Kamu jangan takut sayang, Sam orangnya kuat kok. Pasti dia akan bertahan. Kita berdoa yang terbaik bagi Sam!",kata Satria.
"Iya Bang",jawab El. "Ya udah bang, nanti El kabarin lagi ya, ini para dokter sudah keluar!",pamit El.
"Iya dek. Kabari secepatnya ya, kalau ada apa-apa!",pesan Satria. "Assalamualaikum!",pamit Satria.
"Iya bang. Walaikumsalam bang!",putus El yang langsung mengejar dokter yang menangani Sam.
"Dok, bagaimana keadaannya pak Samuel?",tanya El yang sudah tidak sabar menunggu kabar baiknya.
"Ada dua kabar dari pak Samuel. Mbak ingin kabar baik atau kabar buruk dulu?",tanya dokter meyakinkan.
Deg. Tubuh El melemas. "Kabar buruk dulu dok",jawab El lemas. Ia tidak tahu harus memilih kabar apa dulu. Karena ia berharap selalu mendapatkan kabar baik.
"Kabar buruknya, pak Samuel mengalami gagar otak karena terkena benturan yang cukup parah!",jelas dokter.
Deg. El tidak bisa berkata-kata. Ia merasa syok mendengar kabar buruk ini. "Lalu kabar baiknya?",tanya El.
"Kabar baiknya, pak Samuel masih selamat dalam kecelakaan naas ini. Dan beliau akan segera di pindahkan di ruang ICU. Kemungkinan pak Samuel bertahan 40%",lanjut dokter menjelaskan.
El meneteskan air matanya. Ia tidak sanggup menghadapi ini semua. "Sam...",panggil El.
"Sabar ya mbak. Semoga pak Samuel bisa bertahan!",kata dokter sebelum pergi meninggalkan El yang sedang rapuh.
Tuhan, kenapa harus seperti ini?. Apakah ini adalah takdirku?. Aku baru saja menemukannya. Menemukan sahabat dan cinta sejati ku, tapi apa yang ku inginkan tidak sesuai dengan harapan ku. Kenapa Tuhan?.
***
Jangan lupa komen, like dan vote.
Terimakasih.
Mana nih jempol dan komennya?.
Lama tidak nongol.
__ADS_1
😁😁😁