Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Pindah Dadakan


__ADS_3

Happy Reading.


***


El menyampirkan tas selempangnya di tempatnya. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang. Darimana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu? batin El sedih. Ia mengambil rekening dibawah bantal dan melihat isi rekening itu. Baru Rp 75.000.000,00, kurangnya dari mana coba? keluh El. Ia melihat ranjang Bella, kosong. Pasti dia sedang sibuk bekerja.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu terdengar sangat nyaring dan keras.


"Siapa sih itu?",lirih El kesal.


"Aku tahu kamu ada di dalam. Cepat buka pintunya!. Atau aku akan mendobraknya!",teriak dari luar.


"Itukan suaranya si Sam!",kata El berbisik. Ia langsung duduk dengan tegak. "Ngapain dia kesini?",kesal El.


"Cepat, buka pintunya!",teriak Sam sambil menggedor-gedor pintu.


El dengan malas berjalan untuk membuka pintu. "Bisa gak sih jangan ganggu orang pada istiraha!",kata El marah. Ia melihat ke sekeliling kamar. Para penghuni kamar semua keluar dari kamar mereka. El sungkan dan meminta maaf atas kejadian yang mengganggu kenyamanan asrama.


"Cepat ikut aku!",ajak Sam yang langsung memegang lengan El.


"Bisa gak sih, kamu punya sopan dan santun!. Dan kenapa kamu bisa masuk ke area asramaku?. Bukankah di depan sana ada security?",kata El kesal sambil mengibaskan tangannya.


"Urusan security itu gampang. Dan yang terpenting kamu harus ikut dengan ku. Karena kamu mempunyai hutang banyak sama aku!",kata Sam tidak mau kalah.


"Ok... Ok... Aku akan ikut denganmu. Tapi ada tiga syarat?",sahut El mencari celah supaya bisa terbebas dari hal-hal yang tidak diinginkan.


"Apa?".


"Pertama, kamu tidak boleh memasuki kamar wanita".


"Hm".


"Kedua, kamu tidak boleh mengganggu privasiku!".


"Hm".


"Dan yang ketiga, aku tidak mau tinggal di griya tawang kamu!",kata El untuk permintaan yang terakhir.


"Kok kamu tahu griya tawangku?",tanya Sam curiga.


Deg. El lupa kalau ia harus pura-pura tidak mengenalnya. "Mungkin. Mungkin kamu punya sebuah griya tawang, kamukan orang kaya!",lanjut El mencari alasan supaya Sam tidak curiga tentang dirinya.


"Ok. Aku akan setuju itu!",jawab Sam santai.


"Lalu kita akan tinggal dimana?",tanya El.


"Aku mempunyai sebuah apartemen yang sangat luas. Mungkin kamu akan betah!",kata Sam.


"Ok. Besok aku akan mengemasi barang-barangku. Jadi kemungkinan besar, aku akan pindah besok sore!",jawab El santai.


"Tidak bisa".


"Kenapa tidak bisa?",tanya El balik.


"Aku mau sekarang!".


"Tapi barang-barangku?".


"Nanti biar pelayanku yang membawanya pindah ke apartemen!",jawab Sam santai. Ia segera menyeret El dengan paksa.


"Kok gitu. Aku gak mau!",sahut El tidak terima atas sikap Sam yang semena-mena.


"Mau jalan sendiri atau....?".


"Aku gak mau Sam!",teriak El.


Sam langsung menggendong El dengan paksa. Ia segera berjalan menuju mobil.


El tidak terima. Ia memukul punggung Sam dengan sangat keras dan kasar. "Sam!".


"Kalau kamu teriak terus menerus, aku akan menghukum kamu!",ucap Sam marah.


Seketika El terdiam. Ia tidak habis pikir, apakah kalau seseorang amnesia akan seperti ini?. Beda 100 derajat dari kebiasaan sebelumnya.


Sam memastikan El ke dalam mobil mewahnya. Ia segera pergi meninggalkan asrama itu.


El dengan kesal dan marah memandang keluar jendela. Ia mengambil ponselnya di dalam saku. Untung ponselnya masih ada di dalam saku, kalau tidak. Ia segera memgirim pesan kepada Ardi, asisten pribadinya Sam.


"Apa maksud dari semua ini Pak?". El.


"Maaf mbak, ini semua perintah dari mas Sam. Mas Sam yang meminta semua ini. Maafkan saya yang telah membuat kekacauan ini terjadi!". Ardi.


***

__ADS_1


Flashback On.


El sedang duduk diruang tunggu bersama Sella. Ia sedang menunggu Saga yang mengurusi administrasi rumah sakit.


"Serius kamu gak pinjam dulu?",tanya Sella yang duduk disamping El.


"Terimakasih sebelumnya Sel. Tapi, Kak Saga ingin menanggung semua biaya rumah sakit ini. Mungkin aku akan mencicil bila uangku sudah terkumpul banyak!",jawab El.


"Tapi El?. Kak Saga orang lain El, sedangkan aku, aku adalah sahabat kamu!".


"Aku tahu itu Sel. Tapi, kemarin malam Kak Saga sudah bilang sama aku. Dia akan menutup administrasi rumah sakit. Dan aku tidak bisa menolaknya. Karena aku gak mau kalau Kak Saga terluka atas penolakanku. Maafkan aku ya Sel, maaf bukannya aku tidak menghargai kebaikanmu, tapi aku tidak enak sama Kak Saga!",jelas El.


"Tidak masalah kok El. Yang penting kamu cepat sembuh dan sehat. Aku yakin, dibalik musibah ini pasti ada hikmahnya!",kata Sella memberi semangat.


"Iya Sel. Terimakasih banyak ya, udah banyak menolongku!",ucap El memeluk sahabatnya itu.


"Sama-sama. Kalau ada apa-apa langsung bicara ya sama aku, gak usah sungkan. Kayak siapa aja kamu!",pesan Sella.


"Iya Sel. Karena kamu sudah aku anggap saudara aku!",kata El memeluk Sella dengan erat.


Saga berjalan kearah ruang tunggu. Ia melihat El dan Sella sedang berpelukan.


Sella melihat Saga berjalan kearahnya. Ia langsung melepaskan pelukannya. "Bagaimana Kak?",tanya Sella.


"Katanya dokter semua biaya rumah sakit sudah ada penanggung jawabnya",jawab Saga pasrah.


"Kakak tidak mencoba menanyakan siapa yang menjadi penanggung jawabnya?",tanya El penasaran.


"Kakak udah coba. Tapi, pihak rumah sakit tidak memberitahukannya. Kakak sudah coba membujuk suster dan pegawai administrasinya, tapi nihil El",kata Saga.


"Lalu siapa Kak yang melunasinya?",kata El memikirkan seseorang. "Lalu berapa pengeluaran yang harus aku bayar!",pikir El.


"Udahlah El, kamu tidak usah memikirkan hal-hal itu",ucap Sella.


"Tapi Sel, aku tidak enak sama orangnya. Masa aku yang dirawat, orang lain yang bayar!",sahut El.


"Lalu bagaimana lagi El, kita tidak bisa mengetahui siapa yang membayarnya!",kata Saga.


"Iya juga ya!".


"Ya udah sekarang kita pulang yuk!. Aku lapar!",ajak Sella yang sudah tidak sabar lagi untuk pulang.


"Ok!",jawab El. Ia duduk di kursi roda. Ia di dorong oleh Saga. Suatu saat mungkin aku tahu, siapa yang membantuku membayar biaya rumah sakit ini.


***


Saga menaiki tangga gedung asrama El. Ia dengan berjalan tergesa-gesa menuju kamar El. Setelah sampai di depan kamar asrama El, ia segera mengetuk pintu. "El... Maafkan aku!. Maaf sudah membuat kamu menunggu terlalu lama di restoran!",kata Saga dengan suara agak keras. "El... Aku tahu kalau kamu ada di dalam kamar, aku mohon keluarlah!",lanjutnya.


Kosong.


Saga frustasi. Ia mencoba menghubungi El beberapa kali, tetapi nihil ponselnya tidak diangkat.


Disisi lain Sam duduk disamping El. Ia melihat El sudah tertidur pulas, mungkin dia lelah.


Ponsel El berbunyi beberapa kali, tetapi El tidak meresponnya.


Sam mencoba mengambil ponsel El dari dalam tas. Ia mengambil secara perlahan-lahan. Akhirnya berhasil ia ambil. Ia melihat ponsel El masih tetap berbunyi. Di layar menampilkan sebuah nama, Kak Saga. "Siapa dia?",tanya Sam pada dirinya sendiri. Lalu ia mematikan ponsel El.


Saga berjalan kekanan dan ke kiri, ia bingung kenapa El tidak mengangkatnya apakah dia sedang marah? pikir Saga berkecamuk. Ia lalu duduk di lantai menunggu El membuka pintunya.


Bella baru saja turun dari bus. Ia berjalan kearah kamar asramanya. Ia melihat ada seseorang duduk di lantai bawah.


Saga duduk dengan frustasinya. Ia menutup matanya, andai saja mettingnya tidak diulur-ulur mungkin ia masih bersama El saat ini.


"Kamu bukan temannya El?",tanya Bella yang memandang wajah tampan Saga.


Saga mendongakkan wajahnya kearah Bella. Ia segera berdiri. "Iya. Kamu satu kamar sama El?",tanya Saga.


"Iya Kak. Ada apa memangnya Kak?",tanya Bella balik.


"Tolong, tolong cepat buka pintu kamarnya!",perintah Saga tidak sabar.


"Maksudnya Kakak?".


"Nanti aku jelaskan!. Cepat buka pintunya, aku mohon!",mohon Saga.


Bella segera membuka pintunya. Tangannya bergemetar karena ada orang tampan disampingnya. Ia segera menyalakan lampu kamar. Dan....


Kosong.


Saga segera masuk kedalam. Ia melihat dua ranjang yang terdapat di kamar sana. Satu yang masih ada barangnya dan satu ranjang sudah kosong.


Bella berjalan menghampiri ranjang El. Di meja barang-barang El sudah tidak ada. "Dimana El?",tanya Bella bingung. "Dimana barang-barangnya?",lanjutnya.


Saga menutup matanya tidak percaya. Ia ingin sekali memukul tembok yang ada disampingnya. Tetapi, dia tidak mau melampiaskan kemarahannya kepada sebuah tembok. "Disini ada cctv?",tanya Saga.

__ADS_1


"Ada Kak. Tapi hanya di depan pintu aja!",jawab Bella.


Saga segera keluar menuju pos security.


Bella tidak tinggal diam. Ia segera keluar dan tidak lupa menutup pintu. Ia mengikuti kemana langkah Saga pergi.


"Lebih baik kamu istirahat saja!",ucap Saga yang ada didepan Bella.


"Mana mungkin aku bisa menutup mata Kak, bila temanku sedang dalam kesulitan!",jawab Bella.


"Terserah kamu!",sahut Saga.


Akhirnya mereka sampai di pos security. Saga segera minta izin kepada pak security yang berjaga. Berbagai pertimbangan para security akhirnya mau mereka mau bekerja sama dengan Saga dan Bella.


Pak Verrel salah satu ketua security di asrama. Beliau membuka pelan-pelan tentang rekaman cctv yang ada didepan kamar asrama El. Mereka semua mengamati dengan cermat dan teliti.


Di cctv itu menampilkan layar yang gelap gulita pada saat El sedang didatangi oleh Sam dan Ardi.


"****!. Mereka pasti mempunyai anak buah. Tidak mungkin kalau mereka melakukannya seorang diri, pasti mereka akan ketahuan dicctv ini. Terlalu cerdas nih orang!",kata Saga marah.


"Lalu bagaimana Kak, aku khawatir sesuatu terjadi dengan El!",ucap Bella.


"Tolong diputar rekaman ditempat parkiran Pak!",ide Saga.


"Baik mas!",jawab Pak Verrel yang langsung mencari di lokasi parkiran.


Disisi lain mobil yang ditumpangi Sam, Ardi dan El sudah sampai di apartemen XXX. Ardi memarkirkan mobilnya ditempatnya.


Sam melihat El masih tertidur pulas.


Ardi membukakan pintu mobil dan sang majikannya masih diam ditempat duduknya. "Ada yang bisa saya bantu mas?",tanya Ardi sopan.


"El masih tidur Pak. Tolong di bangunkan!",jawab Sam yang memerintahkan Ardi untuk segera membangunkan El.


Ardi langsung berjalan kepintu sebelahnya. Ia melihat El tertidur pulas. Ia mencoba membangunkan dengan suara lembut. Tetapi El masih dengan mimpi indahnya.


Sam keluar dari mobil. Ia melihat Ardi kesulitan untuk membangunkan El. "Dasar cewek cumanya bisa tidur aja!",kesal Sam yang menghampiri Ardi.


"Belum bangun mas, mbak El nya. Mungkin dia sangat kelelahan, jadi tidur dengan pulasnya!",kata Ardi.


"Huft",keluh Sam.


"Ya udah, saya bopong aja ya mas?",tawar Ardi yang bersiap untuk membopong.


"Tidak usah Pak. Biar saya saja!",sahut Sam. Ia segera membopong El yang masih memejamkan matanya.


Ardi berjalan dahulu membukakan pintu lift. Ia tidak mau sang majikan kuwalahan membopong El.


Mereka berdua memasuki lift. Ardi melirik sesekali untuk melihat wajah Sam yang dengan santai membopong El. Mereka patut untuk dipersatukan lagi.


"Nih anak apa gak pernah makan ya?. Kok ringan banget berat badannya!",keluh Sam yang dengan mudah membopong El.


"Mungkin gak pernah makan mas. Atau kebanyakan makan hati, jadi dia terbebani oleh beban hidup yang sengat berat!",sahut Ardi menggoda dengan mudahnya.


"Saya serius Pak!. Mungkin benar, dia kurang gizi. Jadi banyak cacing-cacing diperutnya!",kata Sam.


Ting.


Pintu lift terbuka. Mereka berjalan menuju kamar apartemen yang ditempati oleh Sam.


Ardi membuka pintu apartemen. Dan mengikuti langkah sang majikan menuju kamar. Ardi membuka kamar ruang tamu.


"Kok ruang tamu sih Pak!. Kamar utama!",perintah Sam.


"Iya mas. Maaf!",ucap Ardi. Ia senang karena Sam memilih untuk mengalah dari kamar utama. Ia segera membuka kamar pintu utama. "Ya udah mas, saya pamit dulu!".


"Iya. Jangan lupa tutup pintunya!",jawab Sam.


"Baik mas",jawab Ardi yang langsung bergegas keluar dari apartemen sang majikan.


Sam berjalan sambil memandang wajah cantik El. Tanpa sadar ia tersandung keset yang ada di depan kamar.


Duk...


Mereka berdua terjatuh.


Kepala El kepentok pintu kamar dan Sam jatuh di atas El.


El kesakitan karena kepalanya, ia langsung membuka mata. Ia melihat Sam tidur diatas tubuhnya.


"Haaaaaaaaaaaa!",teriak El yang terkejut.


***


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.

__ADS_1


__ADS_2