
Happy Reading.
***
Sam berhenti tepat di depan apartemen XXX yang di tempati oleh Kakaknya itu. Ia turun dari mobil berjalan menuju lift dengan amarah yang begitu besar. Ia tidak menyangka bahwa Kakaknya melakukan hal selicik itu. Terkadang ketidaktahuan lebih baik, daripada memenuhi rasa penasaran yang ujung-ujungnya sangat menyakitkan. Ia sungguh-sungguh tidak percaya apa yang terjadi selama ini.
***
Flashback on.
"Aku terpaksa menerima tunangan itu Sam. Karena aku gak mau kalau keluarga aku kecewa sama aku dan kamu akan disalahkan atas semua ini. Aku gak mau, Sam?",ungkap El menangis. Hiks... Hiks... "Aku mohon, biarkan aku menolong Kak Saga, dia orang yang baik Sam. Dia selalu menolongku disaat aku susah. Dia juga menolongku disaat Kak Edwan mencoba memberiku obat tidur dan obat perangsang!",ungkap El.
"Apa obat tidur dan obat perangsang?",tanya Sam tidak percaya.
"Iya Sam. Aku gak tahu apa yang akan terjadi sama hidupku kalau sampai Kak Saga tidak menolongku, aku akan mencari wanita paling kotor dan paling hina yang ada di keluargaku. Kak Saga yang selalu menolongku Sam. Aku mohon, ijinkan aku membawa Kak Saga ke rumah sakit. Aku gak mau sesuatu terjadi sama Kak Saga cuma gara-gara aku, Sam?. Aku mohon Sam?",mohon El memelas.
"Kamu tidak perlu minta ijin atas hidup kamu sama aku. Aku sudah bilang sama kamu pada saat di apartemennya, kalau aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Sekarang keluar dari mobilku?",ucap Sam memberi El peluang untuk bisa menolong Saga. Ia membuka kunci mobilnya.
"Maafin aku Sam. Aku harus pergi sekarang!",sahut El membuka pintu mobil. "Kak Saga membutuhkanku saat ini. Maafin aku Sam?",kata El sambil keluar dari mobil. Ia merasa bersalah atas ungkapan yang menyakitkan ini. El segera memberhentikan taksi dan meninggalkan Sam sendiri di dalam mobilnya.
Sam memukul setir mobil. Ia tidak habis pikir apa yang di lakukan Kakak kandungnya terhadap El. Apa maksud dan motif semua ini. "Shiittttttttttt!",umpatnya.
Flashback off
***
Sam memencet tombol bel apartemen Kakaknya berulang-ulang kali. Ia sudah tidak sabar untuk mempertanyakan kebenaran yang ada. Karena hal ini sangat menyayat hatinya.
Clek.
Pintu terbuka memperlihatkan sesosok wanita yang sedang memakai baju tidur.
Sam langsung masuk kedalam apartemen tanpa tuan rumah mempersilakannya.
"Kak Edwan udah tidur, Sam",ucap Chika ketakutan.
Sam tidak memperdulikan perkataan Chika. Ia langsung membuka kamar Kakaknya itu. Brakkkk....suara pintu terbuka sampai terpental ke tembok. Ia berjalan menghampiri Kakaknya yang sedang tidur pulas. Tangannya sudah mengepal. "Kurang ajaaaaaarrrrrr!",teriak Sam memegang krah baju Kakaknya.
Edwan kaget mendengar seseorang memegang krah bajunya. Ia terbangun dari mimpi indahnya.
Sam menyeret Kakaknya keluar dari kamar dengan paksa. Ia melemparkan Kakaknya di atas kursi sofa.
Bruk....
__ADS_1
Edwan terpental di kursi sofa. Ia begitu kaget dengan kejadian ini. "Apa-apaan ini Sam!. Apa yang kamu lakukan!",teriaknya.
Sam maju beberapa langkah mengambil krah baju Kakaknya lagi. Ia mendekatkan wajahnya ke depan wajah Kakaknya. "Kakak masih tanya apa yang aku lakukan?",bentak Sam dengan senyum menyeringai.
"Lepasin!",kata Edwan.
"Seharusnya aku yang tanya sama Kakak. Apa yang Kakak lakukan sama El?",tanya Sam dengan amarah yang sangat luar biasa.
Edwan berusaha melepaskan tangan Sam dari Krah bajunya, tapi hasilnya sia-sia. "Apa maksud kamu?. Kakak gak ngerti?",sahut Edwan.
"Kalau Kakak selama ini ada masalah sama aku, bilang Kak sama aku. Bukan malah melampiaskan perasaan orang lain. Apa lagi sama El, Kak!",bentak Sam yang sudah marahnya di puncak kepala.
"El... !",tanya Edwan pura-pura tidak tahu. "El, udah tahu kalau aku selama ini bohongin dia tentang Chika, tapi dia fine-fine aja!. Kenapa kamu jadi yang marah!",sahut Edwan mencoba santai dan menyembunyikan perasaan takutnya.
Sam sudah muak dengan ketidaktahuan yang di buat oleh Kakaknya. Ia lalu menekan sekuat tenaga sampai Edwan bingung bagaimana caranya bernafas.
Chika yang ada disamping Sam mencoba melerainya. Ia tidak mau kalau Sam sampai menyakitkan Edwan, orang yang ia cintai. "Tolong hentikan semuanya Sam",tangis Chika pecah. Hiks... Hiks...
"shut up and sit down, *****!",bentak Sam yang tidak mau mendengar Chika berbicara.
Edwan mencoba melepaskan Krah baju dari cengkeraman tangan Sam yang kuat. Ia tidak terima kalau orang yang ia cintai di sebut dengan julukan *****.
Hiks... Hiks... Chika terduduk karena ketidak berdayanya menjadi seorang wanita. Ia tidak menyangka akan mendengar sebutan itu di telinganya.
Chika menggelengkan kepalanya berat. Ia tidak mau mendengar sesuatu yang sangat menyakitkan hatinya.
"Orang ini mencoba memberikan minuman obat tidur dan obat perangsang kepada tunangannya!",teriak Sam dengan memandang wajah Chika.
Deg. Chika semakin lemah. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak menyangka bahwa Edwan akan melakukan hal yang selicik itu.
Edwan sudah tidak bisa bersabar lagi. Ia menendang sesuatu yang sangat berarti bagi Sam.
"Auwwww!",teriak Sam kesakitan dan otomatis tangannya langsung melepaskan Krah baju Edwan.
Edwan langsung mendekati Chika. "Jangan percaya apa yang di bilangnya sayang?. Percayalah padaku!",lirih Edwan menggengam tangan Chika.
Chika langsung mengibaskan tangannya. Ia tidak mau disentuh lagi dengan Edwan orang yang telah membohonginya. "Lepasin!. Kamu jahat Ed, kata kamu, kamu cuma sayang dan cinta sama aku, tapi apa!. Semua hanya bulshit!. Kamu pembohong!",teriak Chika sambil menangisi nasibnya.
"Sayang, percaya sama aku. Aku gak mungkin bohong sama kamu. Kamu tahu sendiri, aku cuma melakukan itu cuma sama kamu!",ucap Edwan mencoba menjelaskan.
Sam tertawa terbahak-bahak mendengarkan omong kosong kakaknya itu. Ia tidak menyangka bahwa ia mempunyai Kakak kandung seperti itu. "Bagaimana Kak, Kakak juga merasakan sakitkan!",kata Sam tiba-tiba. "Saat orang yang kita cintai membenci kita. Itu seperti aku Kak. Kakak gak tahu bagaimana aku sangat menyayangi El begitu dalam, tetapi Kakak menikungku dari belakang bahkan Kakak bertunangan dengannya karena ancaman. Bahan ancamannya yang dilakukan oleh adik kandungnya sendiri",lanjutnya. "Seharusnya Kakak menghancurkan hidupku sekalian, supaya Kakak bisa menguasai perusahaan yang ingin Kakak pegang itu. Aku gak ingin ini semua Kak. Aku ingin menjadi manusia biasa yang merasa dicintai dan disayangi oleh orang yang aku cintai. Tetapi Kakak menghancurkan semuanya demi obsesi kakak itu!",kata Sam merasa hatinya hancur.
"Ini semua gara-gara kamu!",bentak Edwan yang langsung berlari ke arah Sam. Ia lalu memukul wajah Sam tanpa ampun.
__ADS_1
Brakkkk....
Brakkkk....
Brakkkk....
Brakkkk....
Brakkkk....
Sam menerima setiap pukulan tanpa melawan. Ia tidak membalasnya. Ia masih tersenyum menyeringai melihat Kakak kandungnya menghajar tanpa ampun.
Brukkkkk...
Sam tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Ia lalu terjatuh di lantai dengan darah yang bercucuran dimana-mana termasuk bajunya penuh dengan darah segar.
Chika yang melihat kejadian itu menangis histeris. Ia tidak menyangka orang yang ia cintai berbuat senekat itu dengan adik kandungnya. Hiks... Hiks...
Sam melihat disekelilingnya dengan samar. Ia tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Dan ia pingsan di tempat.
Chika merangkak menghampiri Sam yang tergeletak di tempat. "Sam.... bangun.... Sam.... Sammmmmmmm!",kata Chika mencoba menolong Sam sambil terisak-isak.
Edwan dengan paksa langsung memegang lengan Chika untuk berdiri. Ia tidak terima kalau ia menolong adiknya itu.
"Lepasin Ed, kamu jahat!. Dia adik kamu!",teriak Chika. "Aku gak nyangka kamu sejahat itu sama adik kamu. Kita yang salah, bukan adik kamu ataupun wanita itu. Lepasin....!",kata Chika mencoba membela Sam.
"Kamu gak tahu apa-apa. Jadi diam aja. Ayooo....ikut!",sahut Edwan menarik paksa Chika untuk meninggalkan apartemennya.
"Gak mau. Lepasin!",bentak Chika mengibaskan tangannya.
"Kamu mau menolong dia!. Tadi kamu mendengar sendirikan dia ngatain kamu apa?",sahut Edwan mencoba mencari kebenaran.
"Tapi dia babak belur, Ed?. Itu semua gara-gara kamu?. Aku gak tega meninggalkan dia sendiri disini?",kata Chika menangis.
"Babak belur atau gak, itu bukan urusanku. Ayo, sekarang kita pergi dari sini!",jawab Edwan memaksa Chika untuk segera pergi dari apartemennya.
Chika tidak bisa berbuat apa-apa. Ia begitu tunduk dengan Edwan. Maafin aku Sam, maaf!. Semua gara-gara aku. Maafin aku Sam? batin Chika meminta maaf.
***
Maaf ya baru bisa update...😀😀😀😀
Jangan lupa komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.