
Happy Reading.
***
Laura marah melihat anak buah calon tunangannya seperti ini. Ia lalu mengangkat tangan kanan untuk bisa menampar wajah Tamara, tetapi sebelum ia melayangkan tangannya ke wajah Tamara tiba-tiba seseorang menangkap tangan Laura dengan gesit dan cepat.
Tamara sudah memalingkan wajah yang siap untuk menerima sebuah tamparan.
El tercengang melihat Chika menahan lengan Laura dengan cepat.
Laura mundur beberapa langkah karena Chika mendorongnya mundur. "Kak Chika!".
"Jangan kotori tanganmu sendiri demi wanita brengsek ini, Laura!",kata Chika sengit.
Tamara langsung melihat apa yang terjadi, kenapa Laura tidak jadi menamparnya. Ia melihat Chika dan Laura dengan malas. "Kamu lagi!",ucap Tamara dengan malas.
"Kenapa kalian selalu mengacaukan acara kami?. Apa yang sedang kalian rencanakan!",ucap Chika bermuka masam.
"Kenapa sih, dunia ini begitu sempit!. Dimana-mana selalu ada kalian!. Aku muak melihatnya!",tutur Tamara yang sengit melihat mereka berdua.
"Sudah Mbak Tamara. Lebih baik diam, daripada menanggapi hal yang tidak penting!",ucap El yang mencoba membuat Tamara tetap tenang.
"Kalau kalian membuat kenyamanan saya terganggu. Saya bisa panggilkan security buat kalian keluar dari restoran ini!",ancam Tamara.
Chika tersenyum sinis. "Kamu yakin bisa mengeluarkan kita dari sini!",tantang Chika.
"Kenapa tidak bisa!",sahut seseorang dari kejauhan.
Mereka berempat langsung mencari sumber suara. Samuel.
Sam berjalan kearah mereka berempat. Ia selalu memandang El dari kejauhan sampai didepan kedua matanya tak luput dari pandangan El.
"Halo sayang!",sapa Laura manja yang meletakkan tangannya ke depan dada Sam tetapi Sam langsung menangkisnya.
Tamara yang melihat adegan itu tersenyum puas. Ia ingin melihat Laura dan Chika malu atas perlakuan terhadap dirinya.
Sam memegang lengan El dengan kuat tetapi tidak menyakitinya. "Ayo ikut aku!",ajak Sam.
El hanya tercengang melihat Sam tiba-tiba mengajaknya pergi dari tempat duduk yang dipesan oleh Saga.
"Terbuktikan, bahwa Tuan Samuel memilih Nona El daripada kamu Laura!. Kamu tidak ada apa-apanya dengan El. Bahkan kalian terlalu berbeda, sangat berbeda jauh. El bagaikan putri dari kerajaan sedangkan kamu kurcaci dari hutan yang tidak memahami adab dan sopan santun sama sekali!. Bahkan kurcaci-kurcaci yang dimiliki cinderala saja baik hati dan tulus, tapi kamu, kurcaci darimana ya!",ejek Tamara puas melihat wajah Laura yang sudah berubah menjadi pucat pasi.
Laura menghentakkan kaki beberapa kali melihat Sam dan El masuk kedalam sebuah ruangan.
"Kali ini kalian bisa menang. Tapi, lain kali saya tidak akan membiarkan kalian seperti ini lagi!",ancam Chika yang langsung mengajak Laura masuk kedalam ruangan untuk berganti busana.
Huft... Tamara bernafas lega karena para kurcaci-kurcaci jelek itu sudah tidak ada didepan matanya lagi. Karena mereka berdua merusak suasana hatinya.
Saga melihat dari kejauhan tempat duduk yang ia pesan tadi. Tapi, kenapa El tidak ada! batinnya. Lalu ia menghampiri Tamara.
Tamara terpesona dengan sesosok laki-laki yang berdiri di depan matanya. Dia ganteng, keren dan senyuman yang menawan membuat aku jatuh hati kepadanya.
"Hm... Hm... Hm...!". Saga berdehem untuk menyadarkan lamunan Tamara.
Beberapa detik kemudian Tamara sadar dan tersenyum membalasnya. "Maaf, tempat ini sudah ada yang pesan!",ucap Tamara canggung.
Saga tidak menggubris perkataan Tamara, ia langsung duduk ditempat kursi yang kosong.
"Maaf ya Tuan, tempat duduk ini sudah ada yang pesan!",ucap Tamara sekali lagi.
"Yang pesan atas nama Saga bukan?",ucap Saga dengan wajah yang serius.
"Kok Tuan tahu?",tanya Tamara semakin bingung dan ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Saga mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya sendiri. "Perkenalkan saya Saga!",kata Saga tersenyum manis.
Tamara semakin salah tingkah dan untuk menelan ludahnya sendiripun susah. "Maaf Tuan, maaf. Saya tidak tahu, kalau anda adalah Tuan Saga!",ucap Tamara tidak enak.
"Santai saja. Tidak usah terlalu formal. Anggap saja kita sudah saling mengenal",saran Saga.
"Baik. Maafkan saya yang terlalu gugup saat ini!",ucap Tamara polos. Ia tidak tahu kenapa jantungnya berdetak tidak karuan seperti ini.
__ADS_1
"Tidak masalah. Bukankah kamu teman yang diceritakan oleh El?",tanya Saga.
Tamara hanya mengangguk sekali.
"Lalu mana El?".
"Tadi El masuk kedalam. Paling sebentar lagi akan keluar!",ucap Tamara yang sangat gugup.
Saga melihat kearah dalam restoran. Banyak orang yang lalu lalang menaiki lift.
***
Disisi lain Sam mengajak El masuk kedalam sebuah ruangan yang dikhususkan untuk kaum mempelai laki-laki.
"Kamu mau ngapain Sam?. Aku ada urusan dibawah!. Jadi tolong lepaskan aku!",mohon El karena tangan Sam masih memegang lengan El dengan kuat.
Sam tidak menggubris apa yang dikatakan oleh El. Sam melepaskan genggamannya setelah mereka berdua ada diruangan Sam.
El melihat ke sekeliling ruangan. Kosong. Tidak ada satupun orang. "Kamu mau ngapain Sam?. Kenapa kamu mengajakku masuk keruangan ini!. Apa yang kamu inginkan sekarang!",ucap El yang tidak ada henti-hentinya bertanya tujuan Sam. Ia takut kalau Sam berbuat nekat.
Sam terdiam hanya memandang El dengan senang.
"Kamu hari ini mau bertunangan dengan Nona Laura, Sam!. Lalu buat apa kamu dan aku ada disini!",tanya El yang tidak mau semua orang berburuk sangka padanya.
Sam melonggarkan dasinya yang membuat ia sulit untuk bernafas. Ia melemparkan kesembarang tempat.
El ketakutan setengah mati. Ia percaya Sam tidak akan melakukan hal-hal yang membuat ia berfikir negatif. Ia memundurkan langkahnya untuk menjaga jarak dengan Sam. Ini tidak baik untuknya karena setan selalu ada dipihak ketiga.
"Kamu kenapa takut?. Bukankah tadi aku ke apartemen kamu, kamu tenang-tenang saja!. Lalu kenapa sekarang berubah?",tanya Sam bingung.
El menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi.
"Aku hanya ingin malam ini kamu temani aku disini, El!",ucap Sam lemah.
El mendongakkan wajahnya untuk bisa leluasa melihat Sam yang sedang lemah. "Tapi, aku hari ini ada sebuah janji, Sam. Aku harus datang. Mereka pasti menungguku!",ucap El sopan.
"Kalau aku biarkan kamu keluar, sekarang?. Apakah nanti kamu akan kembali lagi?",tanya Sam tidak yakin.
"Aku tidak bisa selalu bersama kamu, Sam!. Kamu sebentar lagi akan menjadi tunangan dari Nona Laura!".
El tercengang dan terkejut akan respon Sam yang terlalu cepat. "Auw....!",lirih El kesakitan karena cupangan yang diberikan Sam. Ia mendorong Sam supaya Sam tidak berbuat senekat ini lagi. "Kamu gila ya, Sam!",teriak El tidak percaya.
"Iya!. Aku sudah gila karena kamu!",kata Sam dengan nada yang tinggi.
Deg. El lemas tidak berdaya.
Sam mendekat lagi memegang kedua tangan El. "Dulu aku ingin kamu menjadi pacarku!. Lalu aku ingin kamu menjadi tunangan ku!. Tapi, kita selalu ada masalah yang tidak akan ada habisnya. Tapi kali ini aku sudah tidak peduli tentang status itu!. Sekarang yang aku inginkan, kamu menjadi istri sah ku. Menjadi ibu buat anak-anakku kelak!. Menikahlah dengan ku, El!',ucap Sam tulus dari hati. Matanya berkaca-kaca mengungkapkan isi hati.
El tidak bisa membendung rasa yang ada dihatinya. Ia meneteskan air matanya. Sam mengungkapkan isi hati yang tidak ada orang yang tahu. Tapi, kali ini Sam benar-benar menunjukkan rasanya itu terhadap El. "Tapi kamu sedang sakit Sam. Aku tidak mau menjadi beban dalam hidup kamu lagi. Cukup kemarin orang tua kamu menghina aku!",ucap El terbata-bata karena rasa sakitnya terhadap Mama Violla.
"Aku akan berjuang seluruh nyawaku. Walaupun aku sakit atau tidak, aku tetap mencintai kamu seutuhnya!",ungkap Sam tulus. Lalu ia memeluk El dengan erat.
El menangis dipelukan Sam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia sudah terlanjur mencintai Sam.
***
Disisi lain semua orang menunggu kedatangan Samuel sang calon tunangan dari Laura. Mereka kebingungan karena batang hidung Sam tidak terlihat.
Violla bertanya kepada para WO untuk mencari keberadaan Samuel.
"Dimana Samuel Ma?",tanya Dirga.
"Mama juga belum tahu Pa. Bagaimana kalau Sam tidak hadir dalam acara ini. Kita harus bagaimana?. Para wartawan sudah menunggu di depan!",ucap Violla ketakutan.
Para wartawan sudah menunggu kedatangan sang Tuan Muda Samuel. Mereka semua mendapat pesan bahwa Samuel sedang ada didalam kamar menunggu para wartawan untuk mewawancarainya secara eksklusif. Dan para wartawan berbondong-bondong berlari kekamar yang mereka maksud.
Pintu dikamar itu sengaja tidak dikunci supaya para wartawan leluasa bisa masuk. Dan....
Cekrik...
Cekrik...
__ADS_1
Cekrik...
Cekrik...
Cekrik...
Cekrik...
Para wartawan memotret Sam dan El yang sedang berpelukan.
El terkejut karena banyak kamera yang memotretnya dan melonggarkan pelukannya tetapi Sam semakin memeluk erat El dengan erat.
Terimakasih Pak Ardi telah banyak membantu kisah cintaku ini! batin Sam tersenyum sumringah.
***
Flashback On.
Sam sedang menunggu seseorang di sebuah kafe. Ia sambil menikmati kopi tanpa gula yang ia pesan. Ia tidak lupa memakai kacamata hitam dan topi supaya tidak ada yang mengenalinya.
Ardi berjalan menghampiri Sam dan duduk didepan majikannya. "Maaf Mas, saya terlambat karena tadi masih ada berkas yang perlu saya tanda tangani sama Nyonya!",ucap Ardi sopan.
"Tidak masalah. Mungkin maaf kamu itu tidak cukup untuk memaafkan kesalahan yang saya perbuat sama kamu, Pak Ardi!",kata Sam bijak.
"Saya sudah mengambil konsekuensinya Mas Sam. Jadi mas Sam tidak usah merasa bersalah terhadap saya!",jawab Ardi.
"Kamu boleh keluar dari anggota keluarga Dirga. Tapi, kamu jangan pernah meninggalkan saya. Karena saya masih membutuhkan kamu untuk selamanya bekerja sama saya!".
"Tapi Mas?. Bagaimana kalau Nyonya besar tahu kalau saya masih bekerja sama Mas?",tanya Ardi takut.
"Nyonya besar tidak akan tahu, selama saya masih menutup mulut. Hanya kita berdua yang tahu!", kata Sam.
"Baik Mas. Saya menyetujui apa yang Mas inginkan. Lalu buat apa Mas memanggil saya untuk datang kemari?",tanya Ardi penasaran.
Seseorang pelayan datang membawa pesanan Sam setelah meletakkan langsung pergi.
"Silahkan minum dulu!",perintah Sam sambil menyeruput kopinya.
"Baik Mas. Terimakasih!",ucap Ardi yang siap untuk menyeruput kopi kesukaannya.
"Sebentar lagi acara tunangan saya dengan Laura akan digelar. Kamu tahu sendiri bahwa saya tidak pernah suka sama dia. Saya saja melihat mukanya sudah muak, apa lagi mau bertunangan sama dia",jelas Sam.
"Saya tahu Mas, Mas Sam hanya menginginkan Mbak El seorang. Tapi, apakah Mas Sam sudah memikirkan konsekuensi yang Mas Sam terima, setelah membatalkan pertunangan dengannya?",tanya Ardi meyakinkan.
"Ya paling saya akan dikeluarkan dari kartu keluarga. Lalu saya akan ikut kartu keluarga kamu!",ucap Sam santai.
Ardi tertawa mendengar Sam berbicara seperti itu. Seperti masalah ini tidak ada apa-apanya. "Saya saja kartu keluarga masih ikut orangtua saya Mas!",kata Ardi polos.
"Ya tidak apa-apa!",jawab Sam santai.
"Lalu apa rencana yang akan Mas buat?",tanya Ardi.
"Saya mau pertunangannya diadakan di restoran. Lalu banyak wartawan dan sekalian konferensi pers tentang hubunganku dengan El. Aku akan membawa El keruangan calon tunangan laki-laki, kemudian kamu mengumpulkan para wartawan untuk bisa datang menangkap basah aku dan El didalam kamar!",jelas Sam sambil membayangkan apa yang ia perbuat nanti.
Ardi bingung, kenapa majikannya seperti sudah berpikir secara luas. Apakah ingatan majikannya sudah kembali pulih?.
"Kamu lihatin saya terus ada apa?. Kamu naksir?",tanya Sam tidak percaya.
Ardi langsung bergedik ngeri tentang pikiran majikannya itu. "Saya curiga, Mas Sam sudah pulih ingatannya?",tanya Ardi penuh selidik.
"Menurut kamu?. Memang dulu pada saat saya hilang ingatan, apa yang beda dari saya?",tanya Sam penasaran.
"Kalau saya akan cerita, Mas Sam pasti tidak akan percaya!",jawab Ardi menggoda.
"Sialan kamu!",bentak Sam kesal dengan tingkah laku Ardi. "Kamu mau saya pukul?".
"Jangan dong Mas. Bukankah kita sudah damai!",jawab Ardi senang dan bahagia melihat tuannya sudah kembali pulih.
Flashback Off.
***
__ADS_1
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.