
Happy Reading.
***
Siang hari.
El berpamitan dengan teman yang berganti shift. Siang ini matahari begitu terik, ia berjalan menuju halte menunggu sebuah bus yang akan membawa dia ke kampus. Tidak menunggu lama, bus yang ia tunggu akhirnya datang juga. Ia kemudian masuk kedalam bus, setelah bus berhenti. El duduk di pinggir jendela, ia memandang gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Bagaimana cara menghapus video itu dari ponsel Kak Edwan?. Apa aku bisa melakukannya sendiri?. Dia aja selalu menyembunyikan ponselnya terus di dalam saku?. Lalu bagaimana mungkin, aku bisa?pikir El keras. Ia mengambil ponsel di dalam saku dan membuka sebuah galeri yang memperlihatkan Sam. Sam, kenapa setiap aku sendirian, aku selalu mengingatmu?. Apa aku sudah tidak pantas lagi bertemu denganmu?. Aku ingin sekali tanya sama mama ataupun Kakak kamu, tentang kabar kamu?. Tapi aku gak berani?. Aku takut semua orang nanti jadi salah paham sama aku, aku gak mau itu?. Aku selalu di pihak serba salah, Sam?. Sam, aku sudah bertemu dengan Kak Saga!. Dia juga kuliah disini. Dia bentar lagi wisuda. Ternyata dunia ini sempit ya, Sam?. Tapi hatimu juga sempit buat aku! batin El.
Tring... Tring... Tring...
Sebuah panggilan masuk. El segera menggeser tombol hijau. "Assalamualaikum sayang!",sapa El dengan senang hati.
"Walaikumsalam cinta!",jawab Sella. "Kamu lagi apa?",tanya Sella diseberangsana.
"Lagi di bus. Mau ke kampus. Tumben belum tidur?",tanya El.
"Kerjaan masih banyak sayang!. Susah ya jadi anak tunggal!",seru Sella.
"Makanya cari adik baru, biar bisa bantuin ngehabisin harta kamu!",kata El yang sudah tertawa.
"Enak aja!",jawab Sella sewot.
"Sel, kamu tahu gak, kalau Kak Saga selama ini kuliah disini?",kata El.
"Serius loe!",tanya Sella dengan suara yang begitu keras.
"Serius!. Tadi aku habis ketemu sama dia. Gak nyangka banget, kalau kita satu kampus!",jawab El.
Sella tersenyum tipis. "Benar-benar dunia ini sempit!. Terus apa kabar dengan Sam nya?",tanya Sella penasaran.
"Nihil. Aku belum ketemu sama dia!. Bahkan dia absen pas acara dinner kemarin malam!",jawab El.
"Fiks, dia benar-benar benci sama kamu!",kata Sella. "Buktinya, dia udah gak mau ketemu sama kamu?",lanjutnya.
"Maybe. Ya udah ya, aku ke kampus dulu!. Nih udah sampai. Assalamualaikum?",pamit El yang langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu persetujuan dari Sella.
"Walaikumsalam!. Kok di matiin sih!. Aku kan belum cerita, kalau aku ada meeting di London!",kata Sella yang kesal melihat El asal mematikan teleponnya.
***
Disatu sisi El sudah ada di kelasnya. Ia segera mengikuti mata pelajaran yang akan di ajarkan oleh dosen Pak Robert. Ia duduk di sebelah Jo, karena hanya kursi yang tersisa kosong untuknya.
"Nanti malam gak lupakan?",tanya Jo bisiknya.
El yang fokus memperhatikan Pak Robert membalas dengan menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun El, nanti malam ada seminar. Masak kamu lupa?",kata Jo.
Deg. El langsung melihat ke arah Jo. Seminar, janjian, malam ini! batin El yang berkecamuk.
"Aku yakin, kamu pasti lupa!",kata Jo yang sudah bisa membaca pikiran El.
"Gimana ini?. Aku ada janjian!",kata El berbisik.
"Janjian!",tanya Jo lagi. "Sama siapa?".
"Sama teman lama. Tadi aku gak sengaja ketemu sama dia. Ternyata dia juga kuliah disini!",kata El menjelaskan.
"Siapa?".
"Kak Saga!",jawab El.
"Kak Saga, kayaknya nama itu gak begitu asing bagiku!",kata Jo yang sedang memikirkan nama Saga. "Oh...iya, aku ingat, dia ketua tim basket!. Kok kamu kenal?",tanya Jo yang sudah mengingatnya.
"Kita kenal secara gak sengaja. Dia musuh sahabat aku!",jawab El.
"Musuh?. Kok kamu malah bersahabat sama dia?. Bukankah sahabat itu harus saling mendukung, kok malah kamu temenan sama dia?",kata Jo yang pusing.
__ADS_1
"Memang harus ya, kalau kita benci sama seseorang, sahabat kita harus juga benci sama seseorang itu?".
"Gak juga sih!",jawab Jo polos.
"Terus, alasan apa kita membenci dia!",jawab El.
"Udah. Jangan ngobrol terus!",bisik William yang duduk di belakang mereka.
Akhirnya mereka fokus memperhatikan Pak Robert yang sedang mengajar di depan sana.
***
Akhirnya mata kuliah yang di berikan oleh Pak Robert telah usai. Pak Dosen itu langsung meninggalkan kelasnya.
"El...?",panggil William.
"Hmmmm!",jawab El sambil memasukkan buku kedalam
"Aku punya teman, kamu mau kenalan sama dia?",tanya William.
El menghentikan aktivitas memasukkan kedalam buku, setelah mendengar perkataan dari William.
"Gak usah mau El, temannya William pada brengsek!",sahut Jo yang mendengar perkataan William.
"Sialan kamu Jo!",sahut William tidak terima.
"El juga gak mau, karena dia udah punya tu-?",kata Jo yang keceplosan berbicara.
El yang mendengar itu langsung membungkam mulut Jo dengan tangannya.
William yang melihat kelakuan mereka jadi kesal sendiri.
"Jangan sembarang bicara Jo!", bisik El dekat pada telinga Jo.
Jo mengerti dan mengangguk. Karena ia sudah berjanji sama El, kalau ia tidak akan membocorkan tentang pertunangannya dengan Kak Edwan.
El tersenyum dan melepaskan tangannya yang membungkam mulut Jo. "Maaf ya Will, kayaknya gak bisa!. Kamu tahu sendiri, betapa sibuknya aku kuliah sambil kerja!",tolak El halus.
"Kadang banyak lho orang cuma melihat dari casingnya aja, tapi tidak memikirkan isinya!",sahut Jo.
"Kamu lebih baik diam deh Jo!. Gak usah ikut campur!",bentak William sudah kesal melihat kelakuan Jo yang selalu ikut campur urusan dia dengan El.
"Aku gak ikut campur kok!. Aku cuma mengambil faktanya aja!",goda Jo.
"Sudah...sudah, gak usah bertengkar!. Aku jalan dulu ya?. Bye...!",pamit El yang sudah berlari keluar. Ia menghubungi Adele karena ia ingin sekali meminta nomer telepon Kak Saga. Setelah menyambung El segera meminta Adele mengirim nomer telepon Kak Saga.
Dret... Dret...
Sebuah pesan masuk dari Adele, dia mengirimkan nomer telepon Kak Saga.
El dengan sigap langsung memanggil nomer tersebut.
Tut... Tut... Tut...
"Hallo?",ucap Kak Saga.
"Kak Saga ya?",tanya El.
"El!",jawab Kak Saga kaget. "Ada apa?",tanya Kak Saga heran, dia tidak menyangka kalau El menghubungi dirinya dahulu.
"Kak, maaf untuk nanti malam,aku gak bisa Kak!. Aku lupa kalau ada seminar nanti malam?. Maafin aku ya Kak?",ucap El yang tidak enak hati, karena ia yang berjanji, ia yang mengingkarinya.
Yang ada diseberangsana tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan El yang merasa tidak enak hati.
"Kok malah tertawa Kak, aku serius Kak?",sahut El yang tidak terima dapat ejekan dari Kak Saga.
"Kalau aku ada disamping kamu saat ini, kamu pasti udah aku acak-acak rambut kamu?",goda Kak Saga sambil tertawa.
El yang mendengar itu otomatis memegang rambutnya. "Dari dulu sampai sekarang, Kakak gak pernah berubah?",ucap El sambil tersenyum.
__ADS_1
"Maksudnya berubah jadi apa nih, jadi Doraemon yang punya kantong ajaib, jadi power ranger yang bisa jadi super hero!",goda Kak Saga.
El tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan dari Kak Saga. "Cukup jadi diri sendiri Kak, itu udah cukup!",sahut El.
Kak Saga tersenyum manis mendengar ucapan El, ia merasa senang karena orang yang sempat ia cintai dulu, pergi, sekarang sudah ada di tempat dan di negara yang sama. Ia tidak menyangka bahwa takdir berpihak pada dirinya sendiri.
***
Malam hari.
Semua para tamu sudah duduk di tempat yang sudah disediakan. El dan kawan-kawan duduk bergerombol supaya bisa berbisik-bisik mengenai mentor yang akan tampil nanti.
Para Dosen, Dekan, Rektor dan para staf yang berkepentingan sudah siap di tempat mereka. Acara di sambut oleh ketua panitia.
"Aku gak sabar deh mau lihat mentornya!",kata Adele yang duduk disamping El.
El yang sedang memegang ponselnya tersenyum sendiri karena ia sedang berbalas pesan dengan Kak Saga.
"Kirain setelah telepon aku tadi, nomernya langsung di blok?".
Kak Saga.
"Memangnya Kakak mau apa, kalau nomer Kakak aku blok lagi?".
El.
"Jangan dong!".
"Aku gak nyangka kalau kita bakal ketemu lagi sama kamu, El!".
Kak Saga.
"😁😁😁".
El.
Tiba-tiba seseorang lewat di depan El dan membuat ponsel El terjatuh.
"Maaf... Maaf, gak sengaja!",ucap seseorang itu meminta maaf yang langsung mencari tempat duduk yang kosong.
"Mbak, kalau lihat tuh pakai mata mbak!",ucap Jo yang marah melihat seseorang itu berjalan dengan seenaknya sendiri.
"Gak apa-apa kok, Jo!",jawab El.
"Mari kita sambut mentor yang sangat cukup muda, tampan, berkharisma dan....!",ucap panita pembawa acara.
El membungkuk mencari ponselnya yang jatuh. Ia melihat kesana dan kemari. "Mana sih ponselku!",bisik El kesal.
"Pengusaha yang sangat sukses. Inilah diaaaa.....!",lanjut pembawa acara.
"Itu dia!",kata El yang berhasil menemukan ponselnya dan menggapai dengan kedua tangannya.
"Inilah diaaaa..... Samuel Praja Natawijaya!",panggil pembawa acara dan semua tamu undangan bertepuk tangan sangat meriah.
Deg. El masih bisa mendengar jelas nama yang di panggil oleh pembawa acara itu, ia memanggil nama yang ia rindukan selama ini. Sam ! batin El yang kaget setengah mati melihat Sam berdiri di atas mimbar yang disediakan oleh panitia.
Suara tepuk tangan dan riuh masih bergema di ruangan aula di kampus ini. Semua orang memuji dan memuja atas kesuksesan yang di raih oleh anak muda yang sedang berdiri disana.
Sam berdiri dengan gagah dan perkasa di atas mimbar. Senyumannya tidak luput dari perhatian para tamu undangan. Memuji ketampanan dan kharismatik yang keluar dari dirinya.
El yang duduk di jajaran tamu undangan melihat Sam sangat berbeda dari tiga tahun yang lalu. Sekarang, Sam sudah menjadi seseorang yang di segani oleh kaum hawa. Dulu pada saat sekolah, ia selalu di segani dan menjadi rebutan para cewek-cewek cantik satu sekolahan. Apa lagi saat ini, seakan-akan dunia berhenti melihat orang-orang yang menyanjungnya dan menghormatinya lebih dari apapun.
Adele dan Jenifer yang ada disampingnya berteriak histeris melihat ketampanan sang mentor sambil berdiri.
El melihat para sahabatnya itu seperti kesurupan sesuatu. Kalau saja kalian tahu, dia adalah orang yang selama ini aku rindukan, pasti kalian akan pingsan!. Dan kalian pasti tidak akan percaya sama aku! batin El sambil melihat Adele dan Jenifer yang masih berteriak-teriak.
***
Jangan lupa komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.